Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 95. Salah kamar


__ADS_3

Steven?! Oh iya, pria itu yang waktu itu Harun katakan. Tapi, apa hubungan antara Steven dan Pak Sofyan?! Pak Sofyan ini Papahnya Nella. Nella yang di maksud itu, Nella temannya Indah atau bukan?! Kenapa aku jadi binggung.


Batin Reymond.


"Sekarang Indah akan jadi calon istriku, Pak. Memangnya Bapak dan Steven itu ada hubungan apa?" tanya Reymond.


"Aku Kakaknya Steven."


Deg.....


Kakak?! Berarti Steven ini Omnya Nella?! Yang dulu sering disebut-sebut orang baik itu?! Cih ... Kenapa aku jadi kesal begini.


Batin Reymond.


Tangannya merangkul pinggul Indah, "Dia calon istriku Pak. Kami juga saling mencintai, tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua."


"Iya, aku juga menghargai keputusan Indah. Oya, bisa tidak. Aku, kamu dan Rizky bicara bertiga?" tanya Sofyan seraya menunjuk meja kosong yang berada disamping meja itu.


"Bisa," sahut Reymond dan Rizky.


Mereka bertiga berpindah posisi duduk dan mengobrol masalah pekerjaan.


Sedangkan Indah mengendong Bayu dan menghampiri Nissa yang tengah berdiri diantara para pengunjung, ia sedang melihat suasana Restoran miliknya.


"Tante Nissa," sapa Indah yang sudah berada didepannya.


"Indah." Nissa terlihat begitu kaget, namun dia seperti senang bertemu Indah.


"Kamu disini ... Wah sama Bayu juga." Tangannya perlahan mengelus rambut Bayu.


"Iya, aku dan Mas Reymond sedang makan disini, Tante."


"Oh Reymond, calon suamimu itu?"


Indah mengangguk. "Iya."


"Sudah lama kamu baru kesini. Ayok kita ke ruangan Tante, Tante ingin ngobrol-ngobrol denganmu," ajak Nissa.


Indah mengangguk, langkah kakinya membuntut mengikuti Nissa masuk kedalam ruangan pribadinya. Di seberang sana mata Reymond masih menyoroti Indah dan Bayu, tapi dia masih sibuk mendengarkan ucapan Sofyan yang tengah membahas masalah pekerjaan.


Indah dan Bayu sudah duduk diatas sofa. Ruangan itu sangat luas, namun sangat mirip seperti kamar. Terdapat bola sepak dan beberapa mainan lainnya, mungkin itu milik anaknya Nissa.


Kedua mata Bayu berbinar-binar. "Bunda, Bayu mau main bola ...," Ia meminta izin seraya menunjuk.


"Kamu turun saja, main disana," ucap Nissa dengan lembut.


Bayu mengangguk dan merosotkan tubuhnya, dia langsung berlari menuju mainan-mainan itu.


"Bayu sayang, mainnya hati-hati ya. Jangan merusak benda-benda yang lain," tegur Indah.


"Iya Bunda." Kaki kecil itu menendang-nendang bola pada tembok.


Nissa duduk disamping Indah.


"Oya, Tante. Wulan masih kerja disini atau tidak, ya?" tanya Indah.


"Wulan? Wulan siapa?" Raut wajah Nissa terlihat binggung, wajar saja. Karena pelayan Restorannya sangat banyak.


"Wulan temanku pas kerja disini. Namanya Wulan Priyanka kalau nggak salah," jelas Indah.


"Oh ... Iya, Tante ingat, dia sudah lama tidak bekerja disini."


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Sudah beberapa tahun yang lalu, waktu itu dia mengundurkan diri."


"Mengundurkan diri? Tadinya dia ada masalah atau bagaimana? Aku rindu ingin bertemu dengannya, Tante."


Nissa tersenyum. "Iya, dia waktu itu berhenti alasannya sih cukup konyol. Awalnya dia sering tidak masuk kerja, selama beberapa hari. Katanya dia sedang patah hati dan habis tertabrak mobil. Tante tau dari temannya yang lain."


Mata Indah terbelalak. "Tertabrak mobil? Apa parah?"


"Tidak. Hanya luka di bagian lutut. Wulan dulu kesini pas mau mengundurkan diri dan bilang sama Tante. Saat itu dia juga sedang patah hati ditinggal pacar yang menikah, jadi tidak fokus kerja. Dia memutuskan untuk berhenti karena ingin berusaha melupakan pacarnya, alasan yang konyol menurut Tante. Tapi Tante menghargai keputusannya," tutur Nissa.


"Apa Tante punya nomornya?"


"Tidak ada, waktu itu ponsel Tante hilang."


***


Malam harinya, di rumah Hermawan.


Barang-barang Reymond sudah dipindahkan sebagian dari rumah Rizky, ia ditempatkan pada kamar tamu yang berada paling ujung. Jauh dari kamar Indah dan Mawan.


Reymond sudah bersiap untuk acaranya malam ini, sampai rela mandi lagi. Supaya tubuhnya makin wangi. Ia mengenakan baju tidur namun sudah di semprot parfum, supaya lebih beraroma.


Pintu kamarnya dibuka sedikit, matanya mengintip keadaan di luar. Dia takut ketahuan oleh Mawan. Jadi sebelum menuju kamar Indah ia harus berjaga-jaga dulu.


Kedua jempol tangannya mengirimi Indah pesan, ia takut istrinya disana ketiduran.


...__________________________...


💬


To: Milikku


Sayang ... Apa kau sudah tidur?


💬


From: Milikku


Belum, tapi aku sudah mengantuk, Mas. Apa bisa lain waktu saja?


💬


To: Milikku


23.31 PM


Enak saja! Aku semenjak kamu sakit sudah menahannya, sayang. Sekarang kamu tidak boleh menolaknya. Oya, hadiah dari aku sudah kamu pakai atau belum?


💬


From: Milikku


23.31 PM


Sudah, memalukan sekali, Mas! Sama saja aku seperti tidak memakai pakaian!


💬


To: Milikku


23.32 PM


Hahahaha ... Jangan begitu, itu seksi. Aku jarang melihatnya, sesekali menyenangkan hati suamimu ini. Kan dapat pahala sayang.

__ADS_1


💬


From: Milikku


23.32 PM


Iya, Mas. Yasudah, cepat kesini. Kamu lama sekali! Nanti aku ketiduran.


💬


To: Milikku


23.33 PM


Oke. Aku ke kamarmu sekarang, jangan di kunci pintunya, ya?


...____________________________...


Setelah menurutnya cukup aman, Reymond bergegas keluar dari kamar. Ia menutup pintu secara perlahan.


Semoga Papah tidak bangun, semoga saja.


Batin Reymond.


Layaknya seorang maling, ia mengendap-ngendap tapi dengan langkah sangat cepat. Seperti berlari menuju kamar diseberang sana.


Tangannya sudah memegang gagang pintu dan menurunkannya, ternyata benar. Pintunya tidak di kunci, Reymond langsung menyelinap masuk.


"Sayang ...," panggil Reymond pelan.


Penglihatan didalam kamar sangat gelap gulita, Reymond mencari tombol lampu untuk menyalakannya.


Tek.....


Dia melihat kearah kasur, matanya membulat sempurna kala melihat dua orang tengah bercinta tanpa sehelai benang.


Deg......


Kedua orang yang berada diatas dan dibawah itu menoleh dan menatap tajam kearah Reymond. Dengan rasa emosi pria itu langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan wanitanya itu.


"Reymond!" teriak Mawan dengan lantang.


"Papah," jawab Reymond dengan bibir yang kelu.


Kedua kaki Reymond seakan bergetar, keringatnya juga sudah mengalir. Bisa-bisanya ia salah kamar.


Mawan mengambil bantal dan melemparkannya pada wajah pria yang tengah berdiri mematung.


"Brengs*k kau! Tidak sopan! Pergi ... Atau kubunuh!" teriak Mawan dengan keras dan penuh penekanan.


Dengan rasa ketakutan dan malu bercampur jadi satu. Reymond segera mematikan tombol lampu itu kembali dan keluar membanting pintu.


Ia berlari menuju kamarnya lagi seraya menutup pintu, di kuncinya dengan rapat. Punggungnya masih menempel pada pintu dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Astaga, bodoh sekali! Bisa-bisanya aku salah kamar dan masuk ke kamar Papah dan Mamah ... Mana mereka sedang tempur lagi ... Bagaimana nasibku besok? Apa aku akan di bunuh oleh Papah?!" tanya Reymond pada diri sendiri.


Ia mengusap-usap seluruh wajahnya dengan kasar dan membanting tubuhnya diatas kasur.


"Bodoh! Niat hati ingin ke kamar bidadari. Aku malah masuk ke kandang singa betina dan jantan! Bodoh .... Bodoh!" Reymond terus saja mengumpat diri sendiri dan menepuk-nepuk kedua pipinya.


Tangannya meraih ponsel yang berada di bawah bantal dan segera menelepon Indah. Namun tidak di angkat-angkat.


"Mungkin dia sudah tidur, ya sudahlah ...," dengkus Reymond seraya membanting ponsel diatas kasur.

__ADS_1


^^^Kata:1061^^^


__ADS_2