Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 80. Tubuhku kaku dan sakit


__ADS_3

"Yasudah aku mandi didalam situ saja, apa airnya bersih?"


Mata Wulan membelalak. Rio mendekati bak tersebut dan memperhatikan setengah air didalamnya.


"Apa airnya bersih?" tanyanya lagi, Wulan sedari tadi terdiam dan melihat tingkah suaminya.


"Airnya bersih, Mas. Tadi Bibi yang mengurasnya."


"Yasudah, tolong lepaskan pakaianku sekarang. Aku mau berendam didalam sini." Rio mencelupkan ujung jarinya, hendak merasakan air didalam bak itu, namun terasa dingin. Segera ia tarik kembali ujung jarinya. "Lho kok dingin airnya."


Wulan menghela nafas dengan gusar dan geleng-geleng kepala.


"Apa kran ini ada air panasnya?" Rio sekarang memegang kran air pada tembok, tepat diatas bak itu.


"Tidak, Mas. Semua air yang keluar, air biasa."


Rio mengerucutkan bibirnya, ia merasa kecewa dan binggung.


"Yasudah, nanti aku masak air panas dulu. Biar air dalam bak ini hangat."


Mendengar ucapan Wulan, pria itu langsung menarik senyum bahagia.


Wulan segera menarik penutup lubang pada ujung bak dibawah, hendak menguras air itu untuk menggantinya dengan air yang baru. Sembari menunggu air itu terkuras, Wulan masak air panas pada panci.


Rio hanya diam dan duduk di kursi dapur, ia melihat gerak gerik istrinya yang mondar-mandir menyiapkan air untuk mandi.


Coba saja kau mau tinggal ke rumahku, kau tidak akan kerepotan, Wulan. Lagian kau kenapa sih tidak mau pulang ke rumahku? Apa rumahku benar-benar ada hantunya?


Beberapa menit berlalu, Wulan menepuk-nepuk bahu Rio untuk bangun. Rupanya pria itu ketiduran.


"Mas ... Mas Rio, bangun, Mas. Ayok mandi!"


Rio menggerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia melihat tubuhnya sudah polos dan siap untuk mandi.


"Sudah?" tanyanya, Wulan mengangguk pelan.


Kini mereka masuk lagi kedalam kamar mandi, perlahan ujung ibu jari kakinya ia celupkan kedalam bak itu. Ingin mengetahui benar atau tidaknya air itu hangat.


Setelah mengetahui air itu sesuai dengan apa yang Rio inginkan, pria itu langsung memasukkan seluruh tubuhnya. Namun sayang, kakinya tidak bisa berjajar karena ukuran panjang kaki Rio lebih panjang daripada ukuran bak tersebut. Alhasil kakinya harus melengkung. Tapi tidak apa, yang penting ia bisa berendam.


"Tapi menyiram rambut pakai air biasa tidak apa-apa kan, Mas?" tanya Wulan dengan tangan yang memegang gayung berisi air.


"Tidak apa-apa, lakukan saja."


Wulan mengangguk, dan kini ia kembali melakukan peraturan menjadi istri Rio.

__ADS_1


Sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini, terakhir aku di mandikan oleh Kak Reymond dan itu sangat kasar.


Beberapa menit sesi mandi, terdengar suara seseorang dari arah dari dapur.


"Wulan ... Rio, kalian sedang ada di kamar mandi?" tanya Wahyu dengan suara agak tinggi, supaya terdengar dari dalam kamar mandi.


Lho, kok Ayah ada disini? Kalau dia tau Wulan memandikanku bagaimana? Apa dia akan marah?


"Rio! Wulan! Apa kalian dengar Ayah? Kalian sedang apa didalam kamar mandi?"


"Iya, Ayah. Kami sedang mandi bersama!" pekik Rio menjawab.


Mandi bersama? Apa Rio dan Wulan sudah baikan?


Wahyu bahkan sengaja pulang sebentar ke rumah untuk sekedar mengecek keadaan Wulan. Cerita dari Dido dulu seakan terbayang dalam ingatannya. Ia takut kalau Rio memperlakukan putrinya dengan kasar untuk kedua kalinya. Apalagi mengingat mereka hanya berdua di rumah.


"Benar kalian sedang mandi bersama?" tanya Wahyu lagi.


Ceklek~


Kepala Rio nongol dibalik pintu yang ia buka sedikit. "Iya Ayah, kami sedang mandi bersama. Tidak masalah, kan?"


"Tapi kalian tidak berantem, kan?"


"Tidak, Ayah." Wulan ikut menyahut didalam kamar mandi.


"Yasudah, Ayah mau pergi lagi ke rumah sakit. Kalian baik-baik di rumah." Wahyu melangkah pergi dari dapur, meninggalkan mereka berdua di kamar mandi.


'Kok Ayah mengira kita berantem? Apa segitu curiganya dia padaku?' batin Rio.


Malam hari, Rio meminta Wulan tidur sekamar dan satu ranjang bersama. Wulan juga sudah mengganti baju tidurnya, namun tetap saja. Wulan lebih memilih memakai baju tidurnya yang dulu. Ia sama sekali tidak berniat memakai lingerie yang seksi. Rio ingin memaksanya saja tidak enak, ia sekarang merasa takut kalau Wulan kembali marah padanya.


Wanita itu sudah terlelap dari tidur. Sedangkan Rio, kedua matanya tidak bisa merem. Ia merasa panas dan berbaring dengan rasa tidak nyaman.


Kenapa rumah Ayah tidak ada AC? Bagaimana aku bisa tidur kalau begini ceritanya?


Padahal Rio sudah telanjang dada, tapi tetap saja ia merasakan panas. Wajar saja, ia tiap hari merasakan dinginnya AC. Jadi kipas angin baling-baling yang berada diatas, tidak terasa anginnya sama sekali. Padahal, rambut Wulan saja sampai bergerak-gerak karena tiupan dari kipas itu.


Lebih baik aku tidak usah memakai apa-apa, deh.


Rio lantas melepaskan kolor pendeknya, melemparkan dibawah lantai. Kini ia benar-benar polos tanpa sehelai benang. Ia melihat kearah Wulan yang tengah tertidur pulas, wanita itu begitu tenang. Tidak seperti Rio yang grasak-grusuk hanya ingin tidur saja.


Lengan Rio terulur pada meja, ia meraih ponsel untuk menelepon dokternya Wulan.


"Halo selamat malam, Dok. Maaf saya menganggu malam-malam."

__ADS_1


"Tidak masalah Pak. Ada apa, ya?"


"Saya ingin bertanya mengenai kondisi Wulan, Dok. Apa saya bisa menyentuhnya?"


"Bapak benar-benar sudah tidak sabar, ya?" suara dokter itu seperti tengah menahan tawa. "Kalau memang Mbak Wulan terlihat sudah segar kembali, Bapak boleh kok menyentuhnya."


Kapan kira-kira? Apa besok?


"Yasudah, terima kasih Dok. Selamat malam."


"Malam."


Setelah ia mematikan sambungan telepon, Rio langsung mengecup bibir Wulan sekilas.


Cup~


Ponsel itu ia letakkan kembali diatas meja, lengannya perlahan memeluk tubuh Wulan dan mendekatkan kepalanya pada bahu sang istri. Kali ini ia akan mencoba memejamkan matanya dengan rapat-rapat, supaya bisa cepat-cepat tidur.


***


Pagi hari.


Wulan sudah selesai mandi dan memakai dress, tentunya kali ini wajahnya sudah diberi polesan make up. Seperti layaknya seorang istri yang Rio inginkan.


Sebelum mandi ia membuat nasi goreng dulu, supaya nanti pakaian yang ia kenakan tidak tercium bau masakan.


"Mas Rio ... bangun, Mas ...," ucap Wulan seraya menggoyangkan bahu suaminya.


Pria itu masih tidur dengan posisi tengkurap, Wulan menarik selimut untuk menutup bokong polos Rio.


"Mas ... bangun, Mas ..."


"Eemm ...," gumamnya.


"Ayok mandi, aku sudah siapkan air hangat untuk berendam," ajaknya dengan halus.


Rio mencelikkan matanya sedikit dan mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang. Tapi saat melakukan pergerakan itu, ia merasakan seluruh otot-otot pada tubuhnya kaku dan sakit.


"Aaww!" Rio meringis lirih sambil mengusap-usap pinggang.


"Mas kenapa? Sakit?" Wulan ikut memegang pinggang Rio, merasa khawatir.


"Iya, seluruh tubuhku kaku dan sakit. Gara-gara tidur di kasur ini," keluhnya.


Sudah kuduga, dia tidak akan betah tinggal di rumah Ayah. Padahal baru semalam.

__ADS_1


__ADS_2