Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 96. Seperti mau copot


__ADS_3

Nyatanya Rio tidak bisa memegang omongannya, bukan dia yang mampu memuaskan Wulan. Namun kebalikannya, Rio lah yang merasa puas. Tapi sekarang tubuhnya terkulai lemas.


"Wu-wulan, kita istirahat sebentar, ya ...," rayu Rio seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mereka habis melakukan beberapa gaya dan Rio sudah dua kali pelepasan, mungkin sekarang jadi empat kali dengan saat di mobil.


"Kenapa? Aku belum keluar, Mas!" protes Wulan dengan wajah cemberut.


Rio mengatur nafas yang tersengal-sengal, ia bangun dan menuangkan air minum pada dua gelas, untuknya dan untuk Wulan.


"Minum dulu nih, aku tau kau juga capek." Rio memberikan segelas itu ke tangan Wulan.


Wanita itu segera mengambil dan menenggaknya sampai habis. Ia memberikan kembali gelas kosongnya pada Rio dan mendekati suaminya yang tengah duduk di ujung kasur. Kemudian, ia mendekapnya dari belakang.


"Mas ... ayok! Jangan lama-lama istirahatnya," rengeknya.


Wulan menarik tubuh Rio dari belakang, menjatuhkannya diatas kasur dengan tubuhnya. Namun, ia tak tau jika pria itu tengah memegang segelas air. Alhasil, gelas itu terjatuh ke lantai karena meleset dari tangan Rio.


Prang~


"Astaga! Aku belum minum, Wulan. Aku haus!" Rio memegangi tenggorakannya yang kering kerontang, ia juga memasang wajah memelas. Tapi Wulan sama sekali tidak peduli akan hal itu.


"Mas lama. Cepat lakukan lagi! Katanya mau memuaskan aku!" Wulan kini sudah mendudukkan bokongnya diatas kedua paha Rio, tapi ia binggung harus melakukan apa. Dia saja tidak ada pengalaman soal bercinta.


"Ajari aku main diatas, Mas. Ayok!"


Deg~


Netra Rio membulat dengan sempurna, mulutnya sampai ternganga karena begitu syok dengan apa yang Wulan katakan.


"Kenapa bengong? Ayok!"


Wanita itu benar-benar seperti menagih dan menagih. Itu membuat Rio jadi resah sekarang, tubuhnya benar-benar sudah tak bertenaga. Lutut dan pinggangnya kram.


Padahal aku minum obat kuat, tapi kenapa efeknya kalah dari obat per*ngs*ng yang aku berikan pada Wulan? Masa aku lemah begini? Tapi aku sudah empat kali keluar.


Wulan menjatuhkan dirinya diatas Rio dan langsung mencium bibir suaminya, kali ini dia yang amat rakus. Menciumi dan m*l*mat bibir Rio habis-habisan.


Lima kali, ya ... mungkin lima kali aku masih kuat.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Keesokkan harinya.


Wulan mengerjapkan kedua matanya secara perlahan. Manik matanya seakan mengelilingi isi dari ruang itu.


Ini dimana? Apa Hotel?


Mungkin bisa dibilang inilah kali pertama Wulan berada di Hotel. Pengalaman pertamanya juga bercinta semalam suntuk sampai pagi. Namun sayang, ingatan itu terlihat begitu samar-samar dalam otaknya. Mungkin karena setengah kesadaran.


Apa semalam aku dan Mas Rio bercinta?


Kepala Wulan masuk kedalam selimutnya, tapi tubuhnya masih berpakaian lengkap. Namun, ia memakai pakaian santai lengan panjang berwana hijau toska. Setelah di ingat-ingat, pakaian itu berbeda dengan pakaiannya yang kemarin.


Kapan aku mengganti pakaian? Bukannya aku kemarin memakai jumpsuit?


Jelas sekali pakaian Wulan berbeda, karena Rio sendiri yang mengganti pakaian istrinya saat wanita itu masih tertidur lelap.


Ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun, tapi tiba-tiba ia mendengar suara teriakan.


"Aaww! Sakit bodoh! Pelan-pelan!"


Wulan kenal betul suara menggema milik siapa itu, tapi ia sendiri tidak tau asalnya dari mana.


Mas Rio, kemana dia dan kenapa dia berteriak?


Wanita itu bangkit dari tempat tidur dan berdiri. Ia merasakan daerah intinya nyeri, tapi tidak seberapa dengan rasa kecemasannya pada suaminya itu.


"Aaww!"


"Mas ... Mas Rio! Mas Rio dimana?!" Wulan memekik dan melangkahkan kakinya.


Pertama, ia membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada Rio didalam sana. Kemudian, Wulan beralih menuju dapur, tapi tidak ada Rio juga disana.


"Mas ... Mas Rio ada dimana?!"


"Sakit!" pekik Rio dengan lantang.


Sekarang telinga Wulan sudah mengetahui dimana letak suara itu berasal. Wanita itu langsung berlari menuju outdoor, tepat dimana kolam renang berada.


Ternyata benar, langkah Wulan pergi ke tempat itu. Ia melihat Rio sedang tengkurap pada kursi santai dipinggir kolam renang.


Rio hanya memakai celana boxer dan tengah dipijit oleh pria berambut gondrong yang di kuncir kuda, pria itu memakai seragam putih. Ada Indra juga disana, sedang berdiri dan melihat kedatangan Wulan yang melangkah menghampirinya.


"Selamat siang Nona," sapa Indra sambil tersenyum.


"Siang." Wulan melihat Indra sekilas dan melihat kearah suaminya. Ekspresi wajah Rio seperti tertekan, menerima sentuhan tangan dari pria gondrong yang tengah memijit pinggangnya.


"Mas ... Mas Rio kenapa?"


Rio mengedikkan kepalanya kearah Wulan. "Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu? Apa nyenyak?" tanya Rio seraya tersenyum paksa, menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Nyenyak. Mas Rio kenapa dipijit? Apa Mas Rio sakit?"


"Iya, badanku seperti rontok semua, Wulan."


"Kok bisa?"


"Apa kau lupa? Kau habis memp*rk*saku?"


Deg~


Netra Wulan membola sempurna. "Memp*rk*sa? Kapan aku memp*rk*sa Mas Rio?" tanya Wulan dengan wajah binggung.


Apa ini? Mana ada wanita memp*rk*sa pria?


"Semalam sampai pagi."


"Tapi aku tidak mengingatnya, Mas. Sampai di Hotel saja, aku tidak ingat," papar Wulan.


"Kau tidak mengingatnya? Benarkah?" Wulan menangguk pelan. "Jahat sekali kau, Wulan. Aku bahkan sudah kehabisan tenaga dan dehidrasi. Tapi kau sama sekali tidak mengingat apa yang kau lakukan padaku ...," lirih Rio dengan wajah sedih.


Wulan terdiam dan kembali mengingat kejadian semalam, tapi sungguh begitu samar, hingga ia tidak bisa mencernanya ingatannya.


Obatnya keterlaluan sekali, memang efeknya bagus membuat Wulan agresif. Tapi dia sama sekali tidak mengingatnya, sia-sia dong aku keluar sampai enam kali gara-gara dia.


"Aku benar-benar minta maaf, Mas. Kalau misalkan semalam aku menyakiti Mas Rio. Tapi sungguh, aku benar-benar tidak ingat sama sekali," ucap Wulan dengan polosnya.


"Tidak masalah, aku bisa memakluminya. Sekarang kau mandi dan berdandan, habis itu kita makan siang bareng."


"Iya, Mas." Wulan tersenyum dan berbalik badan. Ia melangkahkan kakinya untuk masuk lagi kedalam kamar.


Rio berhasil mengerjai istrinya, tapi sekarang ialah yang menanggung akibatnya. Rio harus bersabar dan menahan rasa sakit dari tukang pijat refleksi yang ia sewa.


"Bapak dan istri pengantin baru, ya?" tanya pria gondrong itu.


"Iya, memang kenapa?"


"Bapak ini lemah sekali, masa bercinta sampai di pijit begini," ejeknya.


"Apa maksudmu lemah? Aku ini perkasa!" bantah Rio tak terima.


"Hahahaha ... saya bercanda, Pak. Lain kali pakai obat kuat."


"Apa Bapak lupa meminum obat kuatnya?" tanya Indra ikut nimbrung.


"Kau juga, kenapa ikut-ikutan bertanya seperti itu? Kau meledekku?!" bentak Rio dengan tatapan sengit.


"Tidak, Pak. Maaf ... saya hanya bertanya." Indra membungkuk sedikit.


"Aku sudah minum obatnya, tapi obat darimu tidak ada khasiatnya sama sekali," keluhnya.


"Padahal obat itu saya juga sering pakai, Pak. Mungkin di tubuh Bapak tidak cocok. Nanti saya akan belikan obat yang lain, Bapak bisa mencobanya nanti malam. Kita susun rencana lagi, Pak," ucap Indra memberikan ide.

__ADS_1


"Nanti malam, nanti malam. Sekarang saja burungku seperti mau copot Indra!" pekiknya dengan emosi.


^^^Kata: 1083^^^


__ADS_2