
Cukup lama Mawan bergulat dengan hati dan pikirannya yang berkecamuk, ia binggung untuk melangkah. Kalau dirinya turun dari mobil, lalu membawa Rio kedalam Hotel, sudah dipastikan hubungan Rio dan Wulan akan berakhir. Itu memang nomor satu tujuannya.
Tapi karena satu hal, yaitu bayi kembar mereka. Sungguh, kali ini membuat Mawan berada diposisi dilema. Ia tak mau kehilangan bayi itu.
Bagaimana jika benar bayi itu adalah anak kandung Rio? Lalu bayi itu meninggal dalam keadaan belum lahir, bisa saja Mawan bukan hanya kehilangan cucunya, tapi kehilangan Rio dan Santi yang sakit hati lalu meninggalkannya. Sudah begitu bagaimana dengan Indah dan dua cucunya? Pasti anak semata wayangnya lebih memilih bersama Santi, ketimbang bersama dirinya yang sudah terkenal akan buruknya di masa lalu.
Jika kali ini ia benar-benar salah jalan, semuanya akan berakhir. Dunianya dan kebahagiaannya. Ah tidak-tidak, rasanya terlalu menyakitkan. Kemaren saat Santi marah dan membawa Indah dan Bayu pergi, betapa prustasinnya dirinya, bagaimana jika suatu hari akan terjadi lagi? Membayangkannya saja begitu mengerikan, Mawan takut ... benar-benar takut.
Melihat Mawan yang sedang melamun, Aji memberanikan dirinya untuk membuka pintu belakang mobil, tepat dimana Rio berada. Ia ingin mengeluarkan Rio dari mobil, namun tiba-tiba lengannya di tarik oleh Mawan.
"Mau apa kau? Jangan lakukan!" cegah Mawan.
"Pak, Bapak ini bagaimana sih? Bapak kenapa tidak tetap dengan pendirian! Bapak sudah bilang akan membawa Rio menjadi suami Mitha, tapi--"
"Tidak, Ji! Aku tidak bisa, ini semua tentang cucuku! Aku akan membawa Rio pulang!" sergah Mawan seraya menutup kembali pintu mobil itu. Ia bergegas masuk kedalam mobil lagi, menancapkan gasnya dengan full meninggalkan Aji yang tengah terselut emosi.
Tangan Aji sudah mengepal, tapi rasa kesalnya seperti sia-sia saja. Rencananya berakhir begitu saja gara-gara Mawan yang berubah pikiran.
"Berengs*k! Kenapa tidak jadi? Padahal sebentar lagi Mitha jadi istri Rio! Pak Mawan benar-benar tidak punya otak!" umpatnya dengan penuh kekesalan. Ia mengambil ponsel pada saku jasnya untuk menghubungi Mitha, tapi putrinya sama sekali tidak menjawabnya.
Aji memutuskan untuk masuk kedalam Hotel, menemui putrinya. Mungkin dirinya akan cerita kalau rencananya gagal dan Rio tidak bisa menjadi suaminya. Aji sudah membayangkan Mitha menangis dalam pelukannya. Ia tau betapa putrinya sangat mencintai Rio, bahkan sejak dulu. Tapi Rio memang pria yang tertutup pada wanita dan susah digapai, ia hanya terbuka pada wanita yang benar-benar ia cintai.
Ting ... tong.
Jari telunjuknya sudah memencet bel kamar Mitha, ia juga sempat diberitahu letak kamar yang Mitha pesan.
Ceklek~
__ADS_1
Aji terbelalak tatkala melihat seorang pria berbadan kekar yang membukakan pintu, ia juga mendengar isakan tangis didalam. Segera Aji menerobos masuk, yang sempat terhalang oleh tubuh pria kekar itu.
"Mitha kamu kena--" Aji mengantung ucapannya, matanya kembali membulat sempurna, melihat siapa saja yang berada didepan matanya.
Ada Mitha tentunya, putrinya tengah duduk di tepi ranjang sambil menangis dengan tangan yang menutupi wajahnya, ia menyelimuti tubuhnya. Tapi Mitha masih memakai pakaian lengkap, pakaian seksi dari Aji.
Yang membuat Aji terkejut adalah melihat wanita paruh baya tengah duduk manis di sofa sambil menyeruput secangkir teh manis hangat, ia adalah Santi. Ada pria berbadan kekar yang lain sedang berdiri berjejer, berjumlah tiga orang. Ia adalah Irwan, Ali dan Aldi.
"Kenapa Ibu ada disini?" tanya Aji menatap heran.
"Aku kesini karena ingin menggagalkan rencana kalian. Tapi, dimana Rio dan Mawan?" Santi memiringkan kepalanya, melihat kearah belakang tubuh Aji.
Sebenarnya, setelah Santi datang ke kantor tadi sore dan tidak bertemu Mawan, ia mencari informasi tentang Mitha. Bukan Santi namanya kalau tidak ingin membuat perhitungan, tentu saja ia ingin melabrak Mitha. Namun, Mitha saat itu sudah pulang dari kantor. Santi mengikuti Mitha saat dirinya keluar rumah naik taksi, membuntutinya sampai masuk kedalam Hotel.
Kalau tentang keberadaan Ali dan Aldi, mereka datang kesana justru ingin Santi jadikan bahan untuk ia adu dengan Mawan dan Aji, juga di tambah Irwan. Mungkin 3 lawan 2 tidak sebanding, memang itu yang Santi inginkan, ia ingin Aji dan Mawan babak belur. Tapi kenapa justru yang ia lihat adalah Aji seorang diri? Mawan dan Rio tidak ada.
"Dari putri kesayanganmu itu," sahutnya dengan ketus, Santi menatap puas melihat Mitha yang sedari tadi menangis tak ada hentinya.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa juga Mitha menangis? Aji sama penasarannya, ia segera duduk disebelah putrinya memeluk tubuhnya.
"Mitha, kamu kenapa Sayang? Maafkan Papih, Papih tidak bisa membawa Rio untukmu." Aji melepaskan kedua tangan Mitha yang menutupi wajahnya. Dan saat wajah itu terlihat, Aji terbelalak, pipi kanan dan kiri putrinya sudah lebam dan ada cetakan tangan disana. "Astaghfirullah, pipi kamu kenapa? Siapa yang menyakitimu."
"Aku!" sahut Santi.
Aji langsung menoleh kearah Santi, menatapnya dengan tajam. Tapi sikap Santi terlihat begitu santai, ia justru tersenyum saat bertatapan dengannya.
"Papih ... aku sudah kehilangan segalanya," lirih Mitha yang kembali menangis.
__ADS_1
Aji kembali melihat kearah Mitha yang masih berderai air mata, jempolnya perlahan menyeka air mata putrinya.
"Apa maksudmu? Apanya yang hilang?" tanya Aji binggung.
"Perawanku, aku sudah tidak perawan, Pih!"
Deg!
Aji terbelalak. "Apa? Apa maksudmu? Siapa ... siapa yang melakukan ini? Apa pria-pria itu?" Aji mengedikkan kepalanya, menatap tajam satu persatu wajah Irwan, Ali dan Aldi yang tengah berdiri berjejer.
"Bukan, Pih. Tapi Tante Santi yang melakukannya," sahut Mitha seraya memeluk tubuh Aji dengan erat.
"Apa?" Aji mengerutkan kening, ia benar-benar binggung maksud dari ucapan Mitha. Aji menoleh sebentar pada Santi lagi, lalu kembali melihat kearah putrinya. "Dia 'kan wanita, apa yang dia lakukan memangnya? Apa dia menyewa pria untuk memperk*samu?"
"Tidak, Pih. Tapi Tante Santi sendiri yang melakukannya, dia ... dia ...." Mitha mengantung ucapannya, ia memegangi miliknya yang terasa perih sedari tadi, karena sudah pecah perawannya.
"Dia apa? Jawab Papih!" Aji memegangi lengan Mitha dan mengoyangkan bahu putrinya.
"Aku menggunakan tongkat, untuk menghilangkan perawannya!" seru Santi dengan lantang.
Mungkin terdengar begitu sadis, dengan tangan Santi sendiri ia memaksa untuk memasukkan benda itu kedalam milik Mitha, dengan ukurannya pun hampir sama seperti milik pria, mengoyakkan milik Mitha sampai keluar darah perawan.
Tadinya, ia ingin meminta Irwan, Ali atau Aldi yang memperkosa Mitha. Tapi, Santi tidak sekejam itu, cukup dirinya saja yang berdosa. Ia tak mau membawa orang lain.
Aji langsung berdiri dan menghampiri Santi, ia merasa tak terima, tangannya sudah berayun ingin menampar pipi wanita yang masih duduk manis itu. Namun dengan sigapnya, Irwan memegang lengan Aji, menghalanginya. Ali dan Aldi pun ikut mengunci pergerakan tubuh pria tua itu.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1