
"Alhamdulilah, dia sudah sadar baru saja, Pak. Tapi kondisinya masih sangat lemah," ujar Dokter pria itu.
Wulan mendekatkan tubuhnya, ia membungkuk dan mencium kening sang adik. "Cepat sembuh sayang. Kakak sayang sama kamu. Nanti setelah sembuh ... Kakak akan belikan kamu boneka baru."
Aku juga sayang Kakak.
"Nanti kalau kamu sudah sembuh. Kamu, Kak Wulan, Ayah dan Kakak. Kita akan pergi jalan-jalan, Sayang ...," ujar Rio menambahkan.
Iya, Kak.
Clara hanya menjawab ucapan mereka dalam hati, karena untuk bersuara saja sepertinya sangat susah. Hidung dan mulutnya masih terpasang ventilator.
"Kalian biarkan Clara istirahat dulu, jangan terlalu banyak diajak bicara," tegur Dokter.
'Oya, mengenai tes DNA, nanti aku tanya pada Dokter setelah Wulan pulang saja. Nanti dia banyak tanya-tanya, Wulan juga tidak tau kalau Clara bukan adik kandungnya' batin Wahyu.
"Ayah, aku tidak jadi pulang saja. Aku ingin disini temenin Clara," ucap Wulan.
"Kamu pulang saja, Sayang. Istirahat di rumah, kan baru saja sembuh." Wahyu mengelus rambut Wulan secara perlahan.
"Ayah benar, Wulan. Besok kita kesini lagi jengguk Clara," balas Rio.
Wulan mengangguk dan mencium pucuk kepala Clara dan punggung tangan Wahyu, begitupun dengan Rio.
"Kamu pulang menyetir sendiri? Kok Ayah takut, ya?"
"Aku bersama Dido, Ayah. Dia yang menyetir."
"Oh bagus itu. Yasudah ... kalian hati-hati dijalan." Wahyu mengambil kunci rumah pada kantong celananya, kemudian memberikan pada Wulan.
Apa maksudnya bagus? Sebetulnya aku tidak suka Dido yang mengantar kita, karena nanti dia akan terus memandangi Wulan. Tapi memang aku sendiri merasa trauma menyetir. Apa aku sewa sopir saja, ya?
"Iya Ayah," sahut Wulan.
Keduanya pamit dan berjalan keluar dari kamar inap itu. Rio merasa langkah kaki Wulan begitu lambat dan pelan. Ia jadi tidak sabar, segera ia angkat tubuhnya, membawanya untuk masuk kedalam lift.
Sontak, perlakuannya membuat kedua mata Wulan membelalak kaget.
__ADS_1
"Mas ... kenapa aku diangkat lagi? Aku bisa jalan sendiri."
"Iya, aku tau. Tapi jalanmu begitu lambat, Wulan. Aku tidak sabar."
Apa Mas Rio marah?
Wulan memperhatikan wajah Rio dengan seksama, tapi ia tidak menunjukan ekspresi marah. Memang sebenarnya Rio tidak marah, itu hanya terlintas dari pikiran Wulan saja.
Setelah keluar dari rumah sakit, Rio berjalan menuju parkiran. Tepat dimana mobilnya dan Dido menunggu.
Pria berkumis tipis itu membulatkan kedua matanya, melihat Rio kembali menggendong sang mantan. Didalam dadanya terasa begitu sesak, nyeri sampai ulu hati.
Kenapa Wulan di gendong terus, bikin aku kesal saja!
"Hei bodoh! Buka pintu!" pekik Rio yang sudah berada didepan mata tanpa Dido sadari.
"Baik, Pak." Dido langsung membukakan pintu belakang mobil dan mendudukkan tubuh Wulan disana, ia juga segera masuk kedalam mobil untuk menyetir.
Wulan memperhatikan mobil baru milik Rio. Bukan karena terpesona dengan mobil yang lebih mewah, tapi ia hanya aneh karena terasa asing.
Untuk sekilas Wulan mengingat pertemuannya dengan Rio tiga tahun yang lalu, ia menoleh sebentar pada suaminya. Terlihat Rio tengah sibuk dengan ponselnya sendiri.
Tapi aku merasa kalian itu sama, tidak ada yang baik. Sama-sama menyakitiku.
Dido diam-diam memperhatikan mereka pada spion depan, merasa ada kecanggungan diantara keduanya.
"Menyetir yang benar! Jangan memperhatikan istri orang!" celetuk Rio. Rupanya ia menyadari pandangan Dido dari pantulan kaca spion. Pria berkumis tipis itu hanya mengangguk dan tersenyum malu karena sudah ketahuan mencuri-curi pandang.
Sial! Kenapa dia bisa melihatku, padahal matanya sibuk pada ponselnya sendiri.
Rio menaruh ponselnya kembali pada saku jas, ia menatap tajam pada spion depan mobil. Merasa kesal dengan tindakan Dido tadi.
"Bukannya aku sudah memperingatkanmu? Apa kau lupa?"
"Saya ingat kok, Pak. Tadi saya hanya melihat Wulan seperti lemas saja, saya takut dia pingsan," ucapnya beralasan.
"Kalau pingsan memang kenapa? Ada aku suaminya disini. Kau jangan kurang ajar ya, Dido! Ingat kau siapa dan jaga batasanmu! Tugasmu hanya asisten, tidak lebih dari itu!" tegas Rio.
__ADS_1
"Iya, Pak. Maafkan saya."
Rio menoleh kearah Wulan yang sedang memalingkan wajahnya pada kaca mobil. Tangannya terulur dan menarik tubuh Wulan untuk lebih dekat dengannya, bahkan sekarang Rio sudah merangkul bahunya.
"Mulai sekarang hapus rasa cinta di hatimu padanya, Wulan hanya istriku dan cuma aku yang berhak mencintainya!" tegasnya lagi.
Deg~
Jantung Wulan berdetak sangat kencang, jangan lupakan kedua pipi yang sudah merona, karena malu dan terkesima dengan ucapan Rio. Sejujurnya ada rasa senang tersendiri dalam hati kecilnya, tapi lagi-lagi rasa itu terhalang oleh rasa takut. Rasa takut karena ia belum percaya seratus persen. Lima puluh persen juga belum ada.
'Kenapa Mas Rio berkata seperti itu? Apa dia serius akan mencintaiku? Tapi ... ah tidak-tidak, aku jangan langsung percaya. Nanti yang ada aku sakit hati' batin Wulan.
'Kalau dia dekat, sudah kucolok matanya! Menyebalkan sekali Dido, tidak tau diri! Aku akan ke kantor Kakak nanti, untuk meminta Dion mencarikan asisten yang baru' batin Rio.
Wulan pikir Rio akan berbohong mengatakan kalau ia akan mengantarkannya ke rumah ayahnya. Ternyata tidak, mereka sudah sampai tepat didepan rumah tersebut dan ada dua koper juga disana. Bukan hanya koper, tapi Bibi pembantunya juga ada disana, tengah duduk didekat teras.
"Kok Mas tau rumah Ayah?" tanya Wulan menoleh kearah Rio.
"Iya, aku diberitahu oleh Mamah. Aku tidak menyangka kamu dan Mamah sering bertemu, Wulan. Tapi kenapa giliran aku ... aku sangat sulit menemukanmu."
"Memangnya Mas Rio mencariku? Bukannya Mas menyuruh orang?"
"Aku menyuruh orang karena aku sudah prustasi Wulan, karena kau susah sekali di temukan. Bahkan saat kau melamar kerja di kantor Papah ... aku tidak berhasil menemukanmu."
Jadi dia tau aku melamar kerja di kantor Papah.
"Mulai sekarang ... jangan pernah pergi lagi dariku, Wulan. Tetaplah bersamaku." Rio memegangi kedua pipi Wulan yang sudah merona, perlahan ia membungkuk dan mendekatkan kepalanya untuk bisa membenamkan ciuman.
Cup~
Mata Wulan membelalak. Pria tampan itu sudah memejamkan matanya dan memagut bibir atas dan bawah istrinya, menikmati permainannya tanpa peduli ada orang lain, selain mereka berdua.
Mas Rio?! Dia mengajakku berciuman?! Tapi kenapa harus didalam mobil? Dan disini ada Kak Dido, aku malu.
Luapan emosi dan api cemburu sudah menjalar pada seluruh tubuh Dido. Karena merasa tak sanggup untuk melihatnya dari spion depan, Dido segera keluar dari mobil, meninggalkan mereka yang tengah asik bercumbu.
Padahal bisa saja Rio masuk dulu kedalam rumah untuk bisa berciuman dengan Wulan. Tapi rupanya Rio juga sengaja melakukannya didepan Dido.
__ADS_1
'Menyebalkan sekali Pak Rio! Sengaja berciuman di depanku' gerutu Dido seraya meremas celana bahan miliknya sendiri.
^^^Kata: 1046^^^