
Sampainya di rumah sakit. Dengan rasa kepanikan, Mawan berlari tergopoh-gopoh membawa Indah masuk kedalam ruang UGD. Lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur pasien.
"Dokter, tolong putri saya Dok!" ucap Mawan pada Dokter pria yang baru saja mendekatinya.
"Baik, silahkan Bapak tunggu di luar dulu."
"Iya."
Mawan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, bertepatan dengan Reymond dan Antoni yang baru saja datang.
Saat mereka menuju rumah sakit, Santi mengabari mereka berdua.
"Indah kenapa, Pah?" tanya Reymond dengan keringat yang bercucuran pada area dahi, ia merasa cemas saat mendapat kabar Indah masuk rumah sakit.
"Papah tidak tau, tapi dia pendarahan. Papah takut dia akan ...." Mawan mengantung ucapannya saat seorang Dokter keluar dari pintu UGD, menghampiri mereka berdua.
"Kalian semua kerabat pasien?" tanya Dokter itu yang langsung dianggukkan oleh mereka.
"Saya suaminya, Dok," kata Reymond.
"Saya Papahnya," kata Mawan.
"Saya juga Papahnya," kata Antoni.
"Saya Ibunya," kata Santi.
Mereka sampai kompak memperkenalkan dirinya masing-masing.
"Kondisi pasien begitu kritis, terpaksa dia harus segera melahirkan dengan jalur ceasar. Apa pihak keluarga bersedia untuk melakukan prosedur itu?"
"Tapi Dok, istri saya melahirkan anak pertama dengan cara operasi ceasar, apa akan aman nantinya?" tanya Reymond dengan penuh khawatiran, ia tak mau terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.
"Insyaallah, Pak. Kita sambil berdo'a saja. Tapi untuk sekarang, hanya itu jalan satu-satunya demi menyelamatkan bayi didalam kandungan istri Bapak. Kalau Bapak bersedia, silahkan Bapak tanda tangan surat izin operasinya."
Dokter itu menjelaskan dibarengi oleh kedatangan suster yang membawa selembar kertas dan pulpen. Lalu menyerahkan pada Reymond.
Kertas itu langsung Reymond tanda tangani, tanpa ia baca lebih dulu. Menurutnya, penjelasan dari Dokter sudah cukup jelas. Setelah itu, dua perawatan membuka pintu ruang UGD dengan lebar. Brankar yang sudah ada Indah yang tengah berbaring lemah, didorong oleh para perawat pria menuju ruangan bersalin.
__ADS_1
Mereka langsung mengikuti langkah kaki para perawat. Reymond menyempatkan untuk menciumi seluruh wajah istrinya sebelum Indah di masukkan kedalam sana.
"Kamu akan baik-baik saja Sayang, anak kedua kita akan lahir selamat, begitupun denganmu. Semoga Allah selalu melindungimu dan anak kita," kata Reymond dibarengi oleh buliran air yang menetes.
Ruangan itu langsung ditutup rapat-rapat, karena proses operasi segera dimulai. Mereka berempat duduk saling bersebelahan di kursi panjang depan ruangan itu. Mawan dan Santi mengelus-elus pundak Reymond, memberikan semangat padanya.
"Indah dan anak kalian akan baik-baik saja Rey, kamu harus percaya itu," kata Santi.
"Iya ... Indah wanita yang kuat," kata Mawan menambahkan.
"Tapi Mah ... Pah, aku takut Indah kenapa-kenapa. Saat hamil dia begitu lemah, harusnya dia melahirkan normal, jangan caesar lagi," keluh Reymond dengan sendu.
"Mamah juga maunya begitu, tapi ini sudah terjadi. Asalkan semuanya baik-baik saja, kita berdo'a saja Rey."
"Tapi Indah tidak terpeleset atau jatuhkan?" tanya Reymond.
"Tidak, dia tidak kenapa-kenapa awalnya. Hanya tiba-tiba saja mengalami pendarahan," papar Mawan.
Reymond menarik nafasnya dan perlahan membuangnya dengan kasar. Ia baru sadar kalau tidak ada kehadiran Bayu dan tadi pagi sempat ditelepon Indah kalau Mawan berselingkuh. Lantas, kemana Bayu dan kenapa Mawan ada disini barsama ibunya?
"Bayu kemana?" tanya Reymond pada Santi.
"Ngomong-ngomong, katanya Papah selingkuh. Kok Mamah dan Papah terlihat baik-baik saja?"
"Kata siapa Papah berselingkuh? Papah tidak berselingkuh, ini semua ulah adikmu yang tidak tau diri itu!" kilah Mawan sambil mengumpat.
"Enak saja aku tidak tau diri, Papah yang tidak tau diri!" Rio tiba-tiba datang bersama Wulan dan Bayu, menghampiri mereka dan langsung menimpali ucapan Mawan. Ia sangat tak terima karena Mawan belum saja mengaku.
Reymond membulatkan netranya saat melihat wajah Rio penuh dengan ruam merah dan membiru. "Kenapa wajahmu? Kok babak belur begitu?"
"Ulah Papah! Dia mau menghabisiku Kak!" ucapnya mengadu.
Reymond bangun untuk mengambil Bayu dari tangan Wulan. Karena anak kecil itu sudah merentangkan tangannya meminta ikut dengannya. Kemudian, ia balik lagi untuk duduk.
"Menghabisi, menghabisi, kau yang kurang ajar lebih dulu! Kau lupa dengan isi surat perjanjianmu, hah?" sembur Mawan.
"Kalian ini! Suasana lagi genting begini, bisa-bisanya kalian masih berantem!" Santi mendengus kesal. "Wulan, kau ajak Rio periksa ke Dokter," titah Santi pada menantunya.
__ADS_1
"Iya, Mah." Wulan menarik lengan Rio untuk meninggalkan mereka.
Keduanya langsung masuk kedalam salah satu ruangan Dokter umum yang kebetulan tidak ada pasien yang mengantri. Rio duduk di ranjang pasien sambil diobati luka dan memarnya oleh Dokter berkacamata itu.
"Bapak habis berantem?" tanya Dokter.
"Iya, Dok."
"Apa rasanya sakit, Mas?" tanya Wulan saat melihat Rio yang tengah meringis, setelah diberi obat merah oleh Dokter pada dahinya.
"Tidak," jawabnya berbohong.
Seusai di periksa, mereka balik lagi menemui keluarganya, ikut duduk menunggu. Namun mereka duduk di kursi yang agak jauh. Rio menatap Mawan dengan tatapan nyalang dari kejauhan, begitupun sebaliknya. Keduanya seperti musuh bebuyutan sekarang.
"Wulan. Aku masih binggung, siapa kira-kira yang kirim bunga untukmu, ya?" Rio memulai percakapannya, siapa tau istrinya bisa memecahkan masalah kebimbangannya.
"Aku juga tidak tau, tapi aku juga binggung, kok Mas Rio mencurigai Papah?"
"Jelas aku curiga. Papah kemaren-kemaren pernah berniat menjodohkanku dengann wanita lain dan meminta kita untuk bercerai. Jadi ... siapa lagi kalau bukan dia orangnya, kan?" Rio masih menebaknya.
"Papah meminta kita bercerai? Tapi, akukan sedang hamil, Mas. Apa Papah tidak kasihan dengan cucunya?" Wulan menatap mata Rio dengan tatapan sedih, tangannya perlahan mengelus perutnya sendiri. Hatinya terasa sakit, saat mendengar ucapan dari Rio tentang Mawan. Berarti, sampai sekarang pun, Mawan masih tidak menyukainya.
"Papah itu tidak waras Wulan, kau jangan pikirkan dia." Rio ikut mengelus perutnya sebentar dan menciumnya. "Aku tidak akan biarkan siapapun menganggu rumah tangga kita, meskipun itu Papah."
"Saat Mas Rio menghubungi toko bunga, memangnya dia bilang sendiri kalau pengirimnya adalah Papah?"
"Tidak, dia bilang pengirimnya namaku, tapi pelayan toko menyebutkan ciri-ciri yang hampir mendekati Papah."
"Hanya ciri-ciri saja? Tapi bukan berarti itu Papah, Mas. Yasudah, lebih baik tidak usah dibahas saja, Mas. Lagian ... itu sudah berlalu. Aku tidak mau hubungan Mas Rio dengan Papah jadi buruk."
Rio menggeleng cepat. "Tidak bisa, aku masih penasaran." Rio bangun dari duduknya dan menarik Wulan untuk ikut berdiri. Lalu mengajaknya menghampiri Mawan, Santi, Reymond dan juga Bayu.
"Pah, apa Papah bisa ikut denganku?" tanya Rio dengan nada merendah.
"Ikut kemana?" Mawan menyahutinya.
"Kita ke toko bunga."
__ADS_1
"Astaga Rio! Kau masih curiga pada Papah? Bukannya Papah sudah bilang, kalau Papah tidak kirim bunga? Lagian ... untuk apa Papah kirim bunga untuk istrimu. Memang kau pikir Papah tidak ada kerjaan?" gerutu Mawan.
...❤️jangan lupa jempolnya untuk kasih like ❤️...