Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 46. Apa dia ada didalam?


__ADS_3

Pagi hari, Santi masuk kedalam ruangan Dokter berdua dengan Rio. Pria itu sudah mengganti pakaian. Memakai setelan jas berwarna biru dongker begitu rapih.


Ia masih mual dan terkadang muntah-muntah. Tapi tidak terlalu parah dari kemarin-kemarin.


Hari ini hasil rontgen itu sudah keluar, mereka begitu penasaran dengan hasilnya.


Dokter memperhatikan hasil rontgen yang sekarang ada ditangannya, kemudian berucap,


"Semuanya normal dan baik-baik saja, Pak ... Bu. Malah yang saya lihat lambungnya sehat. Tidak ada penyakit dalam. Pak Rio bisa langsung pulang sekarang."


"Tapi kenapa perut saya masih mual, Dok? Apa penyebabnya?" tanya Rio.


"Perkiraan saya masih seperti kemarin, Pak. Saya masih penasaran dengan istri Bapak, apa dia hamil atau tidak. Lebih baik, setelah istri Bapak selesai datang bulan, coba periksakan kesini. Banyak kok kasus ibu hamil yang masih datang bulan, jadi tidak ada salahnya kita periksa dulu, siapa tau hasilnya positif," usul Dokter.


Hamil?! Apa mungkin?!


Batin Rio.


"Dokter benar, Rio. Mungkin saja Wulan hamil, setelah ini kau jemput dia untuk pulang lagi ke rumahmu. Tanyakan sudah selesai datang bulan atau belum, kalau sudah selesai lebih baik diperiksa. Siapa tau kau benar-benar akan jadi seorang Ayah," jelas Santi.


Deg......


Mata Rio terbelalak kaget, ia tercengang dengan kata 'Ayah' yang Santi ucapkan.


"Nanti kalau masih terasa mual, obatnya bisa diminum lagi, Pak. Untuk meredakannya saja," tutur Dokter.


Santi mengangkat bokongnya. "Yasudah, terima kasih Dok. Saya dan anak saya permisi."


"Sama-sama."


Rio dan Santi berjalan keluar dari ruangan itu, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Reymond, Indah dan Bayu.


"Rey, Indah. Kalian kesini lagi? Rio sudah mau pulang," ucap Santi.


"Aku kesini mau mengambil hasil tes DNA, Mah," jawab Reymond.


"Oh ... memang hasilnya keluar sekarang?" tanya Santi.


"Iya," sahut Reymond.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya, Mas ...," ucap Indah.


"Iya, Sayang. Kamu tunggu disini saja, biar aku yang menemui Dokter dan mengambil tesnya." Reymond mencium kening Indah dan mengambil Bayu dari gendongan Indah, kakinya melangkah menuju ruangan Dokter.


"Mamah, aku ingin pergi ke kantor, ya? Hari ini banyak sekali kerjaanku yang menumpuk," ucap Rio.


"Kamu ke rumah Ayahnya Wulan dulu Rio, ajak Wulan pulang ke rumahmu," ucap Santi.


"Iya, nanti aku kesana dulu."


"Kau rayu dia, jangan gunakan kata-kata kasarmu! Lembutkan nada bicaramu padanya," tegur Santi.


"Iya, Mah. Mamah tenang saja."


Santi menoleh kearah kanan dan kiri, seperti mencari seseorang.


"Dimana Dido?! Apa dia tidak kesini menjemputmu?"


"Tidak, dia ada di kantor."


"Kau pergi diantar Dido saja. Jangan menyetir Sendiri."

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok Mah. Aku bisa sendiri."


Lagian aku tidak mau kalau Dido ikut. Yang ada dia dan Wulan saling bertatapan.


Batin Rio.


Tiba-tiba ada seorang pria yang berjalan menghampiri mereka berdua, salah satu tangannya memegang plastik putih berisi lembaran obat.


"Selamat pagi Bu Santi, Nona Indah, Pak Rio," sapa Jojo.


"Kau ada disini? Sedang apa? Sakit?" tanya Santi sambil menebak.


"Iya. Saya habis periksa, Bu. Saya kena diare," sahut Jojo seraya memegangi perutnya.


"Sekarang kau sudah baikan belum? Apa kau bisa mengantar Rio pergi?"


"Sudah Bu. Baik, biar saya yang mengantar Pak Rio. Bapak mau pulang ke rumah atau pergi ke kantor?" tanya Jojo.


"Tidak usah, aku ingin pergi sendiri saja," tolak Rio.


"Kau ini! Biar Jojo yang mengantarmu. Nanti kau pingsan dijalan!" seru Santi memaksa.


"Mamah aku-"


"Rio, maaf. Kamu turuti saja kemauan Mamah, lagian kamu juga baru sembuh, wajar kalau Mamah khawatir," timpal Indah menyela ucapan Rio.


Rio menghela nafas, ia mengangguk.


"Yasudah, aku pergi dulu. Mah, Indah ...," ucapnya pamit.


"Hati-hati dijalan Rio," ucap Santi dan Indah.


"Iya." Rio berlalu pergi meninggalkan Santi dan Indah. Jojo juga ikut membuntut dibelakang.


Santi meminta Indah untuk duduk di kursi panjang, berdua dengannya. Tangannya perlahan meraba perut Indah, merasa begitu gemas karena sudah terlihat buncit.


"Calon cucu Oma, sehat-sehat didalam sana ya, Sayang," ucap Santi.


"Mamah ... aku ingin tanya."


"Tanya apa Sayang?"


"Misalkan Shelly benar-benar Adikku, apa dia boleh tinggal bersamaku di rumah Papah dan Mamah?" tanya Indah.


Deg.......


Mata Santi terbelalak.


Tangan Indah mengenggam punggung tangan Santi dengan lembut.


"Apa nanti Mamah bisa menerima dan menyayanginya, seperti Mamah menyayangiku?"


"Mamah tidak tau Sayang, tapi Mamah sebenarnya ragu. Kamu jangan terlalu berharap dulu, takutnya Siska berbohong dan ternyata Shelly bukanlah Adikmu," tutur Santi.


"Itu tidak mungkin, Mah. Aku yakin kok Siska tidak berbohong."


***


Jojo memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah kontrakan Wahyu. Segera Rio membuka pintu mobil dan berjalan menuju teras depan.


Ia belum sadar kalau rumah itu terlihat sangat sepi, ia mengira Ayah mertuanya mungkin sedang jualan keliling. Sedangkan Wulan dan Clara ada didalam.

__ADS_1


Kepalan tangan itu ia angkat seraya mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok.


"Wulan!"


Tok ... tok ... tok.


"Wulan!"


Tok ... tok ... tok.


"Wulan, Clara ... buka pintunya!" pekik Rio.


Rio merogoh ponsel pada saku jasnya, untuk menelepon Wulan. Namun sudah beberapa kali ditelepon tidak ada jawaban.


"Cih! Wulan ini kemana, sih? Apa dia sengaja tidak mau membuka pintunya?" gerutu Rio.


Ia kembali mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok.


"Wulan!"


"Wulan! Buka pintunya atau aku dobrok!" ancam Rio kesal.


Ada seorang wanita paruh baya menghampiri Rio. Rupanya suara lantangnya sampai terdengar pada tetangga sebelah.


"Maaf, Mas ini cari siapa?" tanya Bu Lina.


Rio menoleh kearahnya. "Aku mencari Wulan, apa dia ada didalam?"


"Wulan?! Dia tidak ada didalam, Pak. Pak Wahyu juga sudah pindah dari kontrakan ini."


Deg......


Mata Rio terbelalak kaget. "Pindah?! Maksud Ibu, Ayah Wahyu pindah?! Lalu pindah kemana?"


"Kalau masalah itu saya kurang tau, Mas."


"Apa dia pindah bersama Wulan dan Clara juga?" tanya Rio penasaran.


"Tidak, dia pindah sendiri. Tapi sekitar dua hari yang lalu ... Wulan datang kesini bersama Adiknya, dia mencari Pak Wahyu juga," jelas Bu Lina.


Dua hari yang lalu?! Oh berarti saat dia pergi dari rumah sakit. Wulan mungkin langsung kesini.


Batin Rio.


"Maaf kalau boleh tau, Mas ini siapa, ya?"


"Aku Rio, suaminya Wulan."


Mata Bu Lina terbelalak kaget. "Maaf Pak Rio. Saya sampai tidak mengenali Anda," ucapnya sungkan.


"Tidak masalah, Bu. Oya ... apa Ibu punya nomornya Ayah Wahyu? Boleh aku minta?"


"Ada, sebentar saya cari dulu." Bu Lina merogoh kantong baju dasternya, kemudian memberikan nomor itu pada Rio.


Aneh, mertua sendiri sampai tidak punya nomornya. Dia juga kenapa tidak tanya Wulan saja?! Apa mungkin Wulan dan suaminya berantem?


Batin Bu Lina.

__ADS_1


Rio langsung menelepon Wahyu. Tapi sayang ... nomornya tidak aktif.


^^^Kata: 1029^^^


__ADS_2