Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 56. Tidak Mau Bercerai


__ADS_3

Gumam Indah.


"Kasih sih tapi kurang." Sahutnya sambil nyengir, "Aku butuh uang buat facial Om."


"Bukannya wajah kamu sudah cantik, ngapain facial-facial segala?" tanyanya sambil mengelus rambut keponakannya dengan lembut.


"Wajah cantik juga butuh perawatan, benarkan Ndah?" tanya Nella menatap ke arah Indah sambil mengangkat kedua alisnya memberi kode.


Indah hanya mengangguk dan tersenyum. "Memang butuh berapa?" tanya Steven.


"10 juta," sahutnya.


"Ya sudah Om transfer sekarang." Ucap Steven dengan santai, kemudian mengambil ponselnya dari saku jas dan mentransfer uang tersebut. "Kamu nggak usah balikin, ini Om kasih ke kamu."


"Wah terima kasih Om tampanku." Ucapnya sumringah dan memuji pamannya.


"Kamu kalau butuh saja memuji." Sahut agak kesal, "Ya sudah Om tinggal dulu ya," Steven pun berdiri meninggalkan Nella dan Indah.


Dion melihat Steven lewat dan tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata bosnya yang menelepon.


🌸🌸🌸


Setelah pulang kerja Rendi keluar dari mobil dia melangkah masuk ke dalam rumahnya terlihat ibu, ayah, Indah, Rio dan mertuanya sedang duduk di ruang tamu. Wajah ibu dan ayahnya terlihat sangat marah.


"Ren kamu duduk!" Perintah Santi dengan tegas ketika melihat Rendi datang, Rendi langsung duduk di antara mereka.


Santi langsung berdiri dan menampar pipi Rendi sebelah kanan, 'PLAKK'. Rendi terkejut, matanya langsung membulat sempurna.


"Mah... Mamah kok tiba-tiba nampar Rendi?" tanya Rendi sambil memegang pipinya.


Kemudian Sarah bangun dan menampar pipi Rendi sebelah kiri, 'PLAKK'. Rendi panik dia binggung apa yang terjadi.


"Mah, kenapa Mamah juga menamparku. Apa salahku?" tanya Rendi dengan nada bergetar.


Hermawan berdiri menghampiri Rendi, "Papah kecewa sama kamu Ren, kamu tega sama Indah anak perempuan Papah satu-satunya,"


Apa mereka sudah tau?


Pikir Rendi dalam hati.


Santi menghela nafasnya, mengatur emosinya yang sudah memuncak. "Mamah sudah putuskan ini Ren, Mamah akan urus semua perceraian kamu dengan Indah."


"Mah.. Aku... Aku nggak mau bercerai, ini semua salah paham."


"Kamu masih berani ngomong kaya gitu?" ucap Santi mencengkeram wajah Rendi, keringat dari dahi Rendi pun bercucuran.


Kali ini Rendi benar-benar ketakutan. "Kamu pikir kamu hebat Ren, bisa sakiti Indah terus-terusan."


"Mah.. Aku bi.. Bisa jelaskan." Jawab Rendi dengan nada putus-putus.

__ADS_1


Santi melepaskan cengkramannya, dia mengambil surat dari dalam tasnya, "Nih kamu tanda tangan sekarang." Ucapnya memberikan kertas dan pulpen di dada Rendi, pulpen itu pun langsung terjatuh di lantai. Tapi tidak dengan kertas yang berhasil Rendi raih sebelum jatuh.


"Aku sudah bilang aku nggak mau cerai Mah." Ucap Rendi lagi yang sudah baca isi surat itu ternyata surat cerai.


Indah berdiri dan mendekati Rendi. "Mas.. Mending kamu turutin Mamah saja, lebih baik kita bercerai."


"Cepat kamu tanda tangan Ren." Teriak Santi. "Setelah kamu bercerai, Mamah akan menikahkan Indah dengan Rio."


Mata Rendi terbelalak. "APA?"


Rendi langsung memeluk Indah dengan erat, "Mamah nggak bisa pisahkan aku sama Indah, aku nggak akan cerai sama dia." Indah diam membatu.


"Lu lepasin Indah nggak." Ucap Rio memegang lengan Rendi, mencoba melepaskan pelukan Rendi. "Sebentar lagi Indah akan jadi milik gue."


Santi, Sarah dan Hermawan juga mencoba melepaskan pelukan Rendi ke Indah, Rendi sekarang berasa sedang di kepung.


Namun Rendi bersikeras tidak melepaskannya, "NGGAK! Aku nggak mau. Indah hanya milikku, milikku, milikku seo...... Rang"


'BRAAKK'


Seketika Rendi terjatuh dari ranjang kasurnya dan membuka mata, dia tersadar kalau tadi hanya lah mimpi.


"Astaghfirullah." Ucapnya duduk dan mengusap-usap wajahnya yang sudah berkeringat.


"Untunglah hanya mimpi, tapi kenapa seperti nyata?" Rendi kemudian bangun dan duduk di atas kasur, dia meraih ponselnya untuk menelepon Dion.


"Hallo Dion kamu ada di mana?" tanya Rendi dari balik telepon.


"Tolong kamu temui Harun dan bilang padanya untuk mengambil rekaman CCTV semalam di Restoran pak Hadi."


"Baik pak, eh maaf pak tunggu dulu." Ucapnya sebelum teleponnya di matikan Rendi.


"Ya."


"Saya tidak sengaja ketemu istri bapak di cafe ini."


"Sama siapa dia?"


"Sepertinya temannya pak."


"Cewek/Cowok?"


"Cewek pak, tapi tadi ada seorang laki-laki yang menghampiri mereka."


"Ya sudah kamu tidak usah temui Harun, kamu telepon saja dia. Lalu jangan pulang dari situ dan ikuti Indah, nanti saya samperin kamu kesana." Perintah Rendi kemudian menutup teleponnya.


Laki-laki? Indah bertemu siapa? Aku harus temui dia dan katakan semuanya.


Gumam Rendi, kemudian masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Setelah selesai mandi dan rapih dia keluar kamarnya, hari ini dia tidak ada jadwal ke kantor jadi dia mengenakan kaos dengan jaket dan celana jeans warna hitam.


Rendi turun tangga dan melihat Santi sedang duduk sembari mengolesi body lation di lengannya, "Mah Indah kemana?" tanya Rendi yang pura-pura tidak tahu.


"Indah katanya pergi tadi pamit mau ketemu Nella." Sahut ibunya.


"Kalau mamah Sarah kemana?" tanyanya lagi sambil melihat sekeliling ruangan.


"Di luar."


Rendi langsung berjalan keluar rumah dan mencari mertuanya, ternyata dia sedang ada di taman, sedang menyirami bunga.


"Mah..." Sapa Rendi menghampirinya, "Kok Mamah nyiram bunga, kan itu tugasnya Hasan."


"Ah nggak apa-apa Ren, Mamah bosen saja." Sahutnya kemudian mematikan keran air. "Mamah bisa bicara sebentar nggak sama kamu." Ucapnya kemudian duduk di taman.


Apa Indah cerita masalah semalam?


Batin Rendi, kemudian ikut duduk.


"Ren, apa di kantormu ada lowongan pekerjaan?" tanya Sarah sambil menyentuh tangan menantunya.


"Buat siapa emangnya?" tanya Rendi mengenggam tangan mertuanya.


"Buat Mamah Ren."


"Lho Mamah ngapain kerja? Mamah mending di rumah saja. Kan ada Rendi." Jawab Rendi, tapi terlihat wajah Sarah murung seperti ada masalah.


"Apa Mamah ada masalah? Bilang sama Rendi."


Apa aku bilang saja ya sama Rendi tapi aku tidak enak rasanya.


Dalam hati Sarah.


"Mah..." Panggil Rendi lagi karena sejak tadi Sarah diam saja.


"Mamah sebenarnya lagi binggung, akhir-akhir ini Mamah sering di telepon dari pihak koperasi karena dulu Indah sempat meminjam uang untuk biaya Mamah berobat, tapi Mamah nggak bilang ke Indah. Karena semalam Mamah lihat Indah seperti ada masalah, Mamah nggak mau menambahnya," Ucap mertuanya menceritakan.


Apa semalam Indah mikirin kejadian itu.


Pikir Rendi dalam hatinya.


"Ya sudah sekarang aku antar Mamah ke koperasi, kita bayar semuanya Mah." Ucap Rendi menawarkannya dengan tulus.


"Jangan Ren, Mamah nggak enak. Mamah tinggal di sini saja sudah merepotkan kamu." Sahut Sarah merasa canggung.


"Mamah jangan kayak gitu ngomongnya, bukannya dulu Mamah bilang sudah menganggap Rendi anak sendiri. Sekarang tugas anak kan membantu orang tuanya," ucap Rendi seketika berfikir dewasa, mendengar perkataan itu Sarah tidak menolak.

__ADS_1


Kemudian Rendi pamit pada sang ibu untuk pergi dengan mertuanya.


...💜Like Dan Beri Vote Ya💜...


__ADS_2