
Sebelum pulang ke rumah Hermawan, mereka berempat pergi ke supermarket untuk belanja mainan dan menghabiskan waktu bersama. Reymond lagi-lagi harus mengambil hari libur demi menyenangkan anak dan istri tercintanya itu.
***
Di kantor Rio.
Pria itu tengah menatap layar pada laptopnya, dengan tangan yang memegang mouse, memeriksa semua data yang kemaren dikirim 'kan oleh Irene.
Tak lama terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk," sahut Rio.
Ceklek......
Ternyata yang datang adalah Dion, namun Rio terkejut dengan siapa Dion datang. Gadis cantik dengan rambut merah diwarnai, panjang sepunggung. Ia adalah Riana, anak pertama Andra.
Gadis itu bahkan jarang sekali datang ke kantor ini. Bahkan saat dulu masih dipegang Andra.
"Selamat pagi Pak Rio," sapa Dion dengan sopan.
"Pagi, kok kamu sama Riana? Mau apa dia?"
Riana langsung menarik kursi dan duduk didepan meja Rio.
"Mulai hari ini aku yang akan jadi sekertaris Kakak, aku yang mengantikan Mamah Irene," jelas Riana.
Mata Rio terbelalak. "Kau?!" ia menunjuk wajah cantik gadis didepannya, "Mana mungkin kau bisa jadi sekretaris, kuliah saja sering bolos!" ledeknya.
"Kak Rio ini apaan sih? Enak saja meremehkanku," elak Riana tak terima.
"Aku tidak mau Riana yang jadi sekretarisku, Dion. Dia bahkan belum pernah kerja," tolak Rio mentah-mentah.
Riana memang tidak terlalu dekat dengan Rio, tapi ia kenal betul siapa dia. Sekolahnya memang dulu di luar negeri, tapi dia dikeluarkan gara-gara sering bolos. Riana akhirnya melanjutkan kuliah sampai sarjana di kampus yang sama dengan Rio. Namun sama saja, prestasinya terbilang standard.
"Iya Pak, saya mengerti. Tapi nanti Mbak Riana akan diajari oleh Melly. Biarkan dia bekerja selama satu Minggu dulu. Kalau memang kinerjanya kurang bagus, nanti saya akan mencarikan sekretaris yang baru," jelas Dion.
"Memangnya kau sudah memberitahu Kak Reymond?! Apa dia setuju?"
"Seperti yang saya jelaskan tadi, Pak. Kata Pak Reymond, biarkan Mbak Riana bekerja dulu selama satu Minggu."
Jadi Kak Reymond juga mengizinkan?
Batin Rio.
"Yasudah," ucapnya pasrah.
Dion melangkahkan kakinya untuk keluar, meninggalkan Rio dan Riana didalam.
__ADS_1
Dion ini tidak becus memberiku orang yang bekerja di bawahku.
Pertama Dido, ya ... memang kerjanya bagus, tapi dia mantan pacarnya Wulan.
Sekarang Riana, gadis itu bahkan belum ada pengalaman untuk kerja. Yang ada nanti aku yang pusing! Kenapa tidak cari yang pengalaman saja, sih?!
Gerutu Rio dalam hati.
"Oya Kak, aku dengar ... Kakak menikah dengan OB, ya? Wulan itu seorang OB, kan?" tanya Riana.
"Iya, memangnya kenapa?" wajah Rio terlihat begitu masam.
"Menurutku Kakak tidak cocok dengan Wulan, dia terlalu biasa dengan Kakak yang tampan."
"Aku mengakuinya, kok. Aku memang tampan."
"Kok Kakak bisa sih, menikah dengannya? Memangnya tidak ada wanita lain, ya?" lama-lama pertanyaan Riana berubah mengejek. Tapi ejekannya membuat Rio sangat kesal dan makin membenci pernikahannya. Ingin mengakhiri tapi belum bisa.
"Kau keluarlah, sana kerja! Jangan mencampuri urusanku!" seru Rio mengusir.
Riana bangun dari duduknya, "Kalau Kakak bercerai dengan dia, nanti aku akan kenalkan Kakak pada temanku. Dia wanita yang jauh lebih cantik, bahkan lebih cantik dari Kak Indah."
"Keluar!" pekik Rio dengan lantang, jari telunjuknya sudah menodong kearah pintu.
Gadis itu langsung tersentak kaget, ia berjalan keluar dari ruangan Rio dengan wajah kesal.
Kak Rio ini. Aku kasih saran, dia malah marah-marah.
Rio menyandarkan punggungnya pada kursi putar, tangan memijit dahinya sendiri. Ia mulai memikirkan cara supaya mampu bercerai dengan Wulan.
Bagaimana caraku supaya Mamah setuju aku bercerai dengan Wulan? Mamah itu mudah sekali terhasut omongan Wulan. Entah apa saja yang dia bicarakan di belakangku selama bersama Mamah.
Dia juga pintar bersandiwara dan sok baik, padahal aslinya aku tidak tau dia wanita seperti apa. Terlebih lagi hubungannya dengan Dido, awal bertemu denganku saja dia seperti terpuruk ditinggal mantan pacarnya itu. Aku yakin sih, dia masih punya rasa sama Dido. Apalagi sekarang sering banget ketemu.
Batin Rio.
Bukannya berhasil mencari solusi untuk bercerai, Rio malah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Wulan. Namun ia mendadak merasakan perutnya begitu sakit, seperti di remas-remas.
"Auw ...," lirihnya sambil meringis.
Tangan Rio sudah memegang perut bagian atasnya, tapi sekarang rasa sakit itu berubah menjadi rasa mual yang tak tertahankan.
Sebelum sesuatu berhasil keluar dari mulutnya, Rio segera berlari menuju westapel kamar mandi, didalam ruangannya.
"Uueekk ... uueekk ...." Seluruh sarapan tadi pagi sudah ia keluarkan semua.
Rio menarik kran air keatas dan membasuh mulut, namun lagi-lagi masih ada yang harus ia keluarkan.
"Uueekk ... uueekk ...."
__ADS_1
"Hhh .. hhh ... hhh ...." Perutnya begitu sakit dan mual, kepala juga ikut sakit.
"Cih! Kenapa aku ini?! Sudah mual dan muntah! Sekarang sakit sekali kepalaku!" serunya Rio sambil memegangi kepalanya.
Ia berjalan pelan keluar dari kamar mandi dengan tangan yang memegangi tembok, karena saat ini pandangan sudah buram tidak jelas.
Rio menggeleng-gelengkan kepala, tetap saja masih terasa buram dan makin pusing.
"Dido! Dido!" Ia berteriak sekuat tenaga, memanggil asistennya. Tapi pria yang ada diluar itu belum mampu mendengarnya.
"Dido! Kau ini tuli atau apa?! Tolong a--"
Brukkk........
Ia tersungkur jatuh di lantai dan tidak sadarkan diri.
Beberapa menit setelah Rio pingsan, Dido mengetuk pintu. Ingin masuk kedalam. Namun sudah beberapa kali diketuk, tak kunjung dapat jawaban.
Tok ... tok ... tok.
"Pak ... Pak Rio."
Tok ... tok ... tok.
Ceklek......
Karena terlalu lama, ia segera masuk kedalam. Tidak ada Rio pada meja kerjanya.
Dido melangkah menuju kamar mandi sambil memanggil nama bosnya itu.
"Pak Rio ... Pak, Bapak ada dimana?"
Deg........
"Astaga Pak Rio!" pekik Dido membelalakkan mata. Ia langsung membungkuk dan menggoyangkan tubuh Rio.
"Pak Rio ... Bapak kenapa, Pak?"
Dido menempelkan jari telunjuknya pada kedua lubang hidung Rio, ingin tau pria itu masih bernafas atau tidak. Ternyata masih.
Merasa panik dan tak karuan, Dido segera memapah tubuh Rio yang seukuran dengan tubuhnya. Namun terasa begitu berat.
Sampainya keluar dari ruangan Rio, ada seorang karyawan yang memanggil dua satpam untuk datang membantu. Mereka mengangkat tubuh Rio dan memasukkannya kedalam mobil. Tapi hanya satu orang satpam yang ikut bersama Dido ke rumah sakit.
Dalam perjalanan Dido menyempatkan untuk menelepon Dion, karena hanya nomor Dion yang dia punya.
"Halo, ada apa Dido?" tanya Dion, ia langsung mengangkat telepon.
"Pak Dion. Pak Rio pingsan, Pak. Saya sedang membawanya ke rumah sakit," jelas Dido dengan suara panik.
__ADS_1
"Apa?! Yasudah, kau hati-hatilah di jalan. Nanti saya akan beritahu keluarga Pak Reymond," jawab Dion.
^^^Kata: 1017^^^