Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 176. Berani-beraninya


__ADS_3

"Dia cucu Papah, mereka cucu Papah, Mah!" ucap Mawan dengan penuh keyakinan.


"Kita sudah bercerai dan mereka bukan lagi cucumu!" tegas Santi, ia masih berusaha untuk mengambil Rafa dari tangan Mawan. Namun tetap saja begitu susah, Mawan justru bangun dan beringsut ke belakang.


"Kita belum bercerai, Mah. Kita baru daftar dan belum melakukan proses sidang."


Ya, apa yang dikatakan Mawan benar. Mereka baru mendaftar untuk bercerai dan belum melakukan sidang lantaran belum waktunya.


"Minggu depan kita sudah mulai sidang dan itu tanda kita akan resmi bercerai!" balas Santi tegas, ia bangun dan berjalan beberapa langkah menghampiri Mawan.


Mawan tak sengaja menabrakkan punggungnya pada Bibi pembantu, ia segera menoleh dan memberikan Rafa padanya.


Lantas secara mendadak, ia menarik lengan Santi, membawanya masuk ke kamar tamu dan segera menguncinya.


"Apa ini? Kau mau apa?" tanya Santi sambil melotot. Ia mencoba untuk mengambil kunci dari tangan Mawan, namun sayangnya kunci itu sudah Mawan lempar ke kolong ranjang.


Santi membungkuk dan mengulurkan lengannya pada kolong kasur, tapi tiba-tiba tubuhnya sudah Mawan angkat dan menjatuhkannya di kasur. Pria paruh baya itu naik ke atasnya dan memeluk tubuh Santi dengan erat.


"Mamah ... tolong, Papah mohon pada Mamah, maafkan Papah. Kita bisa kembali seperti dulu dan membatalkan semuanya, Papah tidak mau kita bercerai." Tubuh Mawan terasa begitu bergetar, nafasnya sudah tersengal-sengal.


"Aku tidak mau! Lepaskan!" Santi memberontak, ia mencoba mendorong dada Mawan, akan tetapi begitu sulit lantaran Mawan begitu erat memeluknya.


Aroma tubuh Santi tercium pada hidung Mawan, aroma yang begitu ia rindukan selama beberapa bulan terakhir ini.


Selama dirinya hidup sendiri di rumah, Mawan hampir setiap malam menghabiskan malamnya dengan pergi ke bar untuk minum alkohol. Sedikit mabuk membuatnya melupakan Santi. Ya, walau itu hanya sebentar, setelah kembali normal, bayangan Santi tetap ada di hati dan pikirannya.


Jojo juga sering mengenalkan beberapa wanita cantik nan seksi untuk Mawan, upaya untuk membantu sang bos melupakan Santi. Tapi tetap saja, Mawan menolaknya dan usaha Jojo tidak berhasil.


Yang Mawan inginkan hanya Santi. Wanita yang sangat sempurna dalam hidupnya. Kembali bersamanya dan mendapatkan maaf darinya, dan maaf dari Rio juga tentunya. Sebab dosa yang ia torehkan terlalu dalam pada Rio.


Santi terus memberontak dan mencoba melepaskan dirinya dalam dekapan Mawan, tapi semuanya sia-sia. Tubuh dan lengan Mawan yang berada di punggungnya seakan tak bergeser sama sekali.


"Lepas! Kau ini apa-apaan sih? Kenapa memelukku seperti ini, aku sesak nafas!" omel Santi sambil berteriak.

__ADS_1


Mawan meregangkan pelukannya, namun tubuhnya masih menindih tubuh Santi.


Suara isakan tangis tiba-tiba terdengar pada telinga kiri Santi, sudah dipastikan Mawan sedang menangis.


"Mamah ... Papah tidak bisa hidup tanpa Mamah, Mamah boleh menghukum Papah apapun itu. Tapi jangan dengan jalur perceraian," lirihnya. "Kalau Mamah sakit hati sama Papah akibat semua kesalahan Papah, Mamah boleh kok memasukkan Papah ke penjara. Tapi jangan siksa Papah begini. Ampuni ... ampuni Papah, Mah. Papah mohon ... maafkan semua dosa-dosa Papah. Papah sangat mencintai Mamah."


Santi terdiam sedari tadi. Ia mendengar semua apa yang Mawan ucapkan, tetapi hatinya tidak tergugah sama sekali, tertutup oleh kabut kebencian yang amat dalam.


Aku harus mendapatkan Santi kembali, bagaimanapun caranya, aku tidak boleh bercerai dengannya. Aku tidak bisa hidup tanpanya.


Tapi, aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana cara untuk meluluhkan hatinya? Apa dengan bercinta?


Mawan menopang tubuhnya dengan kedua lutut, kedua tangannya langsung memegangi kedua pipi Santi, mengarahkan wanita itu supaya saling menandanginya.


"Lihat Papah! Lihat mata Papah!" pinta Mawan sedikit mendesak, sebab manik mata Santi sama sekali tak menatap ke arahnya. "Apa sedikit saja tidak ada rasa cinta di hati Mamah untuk Papah? Apa rasa cinta itu sudah hilang dan tak tersisa?"


Belum mendapatkan jawaban, lantas Mawan langsung mencium bibir Santi hingga membuat wanita yang berada di bawahnya melotot.


Apa-apaan dia? Tidak tau diri sekali! Kenapa menciumku!' gerutu Santi dalam hati.


Brak!


Pintu kamar itu terbuka secara paksa alias didobrak, dan ternyata yang mendobraknya adalah Rio.


Sebelumnya, Rio memang sudah beradake kantor bahkan sudah melakukan meeting selama satu jam. Tapi hati dan pikirannya begitu tak tenang, ia terus memikirkan orang yang berada di rumah.


Karena rasa mengganjal itu terus saja menghantui pikirannya, Rio memutuskan untuk pulang. Dan saat dirinya sampai di halaman rumah, keberadaan mobil Mawan menjawab semua rasa gundah di hatinya.


Rio berlari masuk ke rumahnya dan langsung menaiki anak tangga. Langkahnya menuju kamar utama terhenti lantaran terdengar suara teriakan dari kamar tamu yang berada tepat di sebelah kamar utama.


Suara Santi walau terdengar samar, Rio mampu mengenalinya. Rio langsung menghampiri kamar itu dan menarik turunkan handle pintu.


Pintu itu terkunci dari dalam dan Rio mendengar suara pria di dalam sana. Sudah pasti ia adalah Mawan, Rio menebak kalau Mawan dan Santi berada si sana.

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi, Rio memundurkan tubuhnya, berancang-ancang ingin mendobrak. Satu benturan pada punggung yang Rio hantam pada pintu, dua benturan dan sampai ketiga benturan, akhirnya berhasil ia dobrak pintunya.


Brak!


Rio terbelalak saat melihat sang mamah tengah ditindih oleh Mawan dari atas, rasanya begitu tak terima. Biarkan saja dibilang tidak sopan, yang terpenting Rio mampu melepaskan Santi dari cengkraman Mawan.


Rio naik ke atas kasur dan mendorong tubuh Mawan dari samping sekuat tenaga. Hingga pria paruh baya itu terjungkal ke lantai.


Bruk!


Krek!


Tulang pinggang Mawan sampai berbunyi lantaran bokongnya menghantam lantai begitu keras.


"Aaww!" pekik Mawan seraya memegangi pinggangnya, merasa linu bercampur nyeri.


Rasa kombinasi itu kian menjadi saat Rio menubruk tubuhnya dari atas, pria tampan itu duduk di atas perut Mawan dengan sekali hentakan dan membuat tulang pinggangnya kembali berbunyi kretek.


"Aaww!" rintih Mawan.


"Brens*k! Berani-beraninya kau mencium Mamah!" merasa geram dan tersulut emosi yang memuncak, Rio segera menghajar Mawan habis-habisan.


Bug ... bug ... bug ... bug.


Kedua pipi Mawan Rio tonjok secara bolak-balik, hingga membuat Mawan kembali merintih kesakitan.


"Aaww!"


"Aku akan membunuhmu, Mawan!" murka Rio. Telapak tangannya baru saja hendak mencekik leher Mawan, namun pria paruh baya itu sudah pingsan duluan lantaran menahan sakit pada pinggangnya.


"Rio! Apa yang kau lakukan?" Santi terbelalak. Ia langsung turun dari tempat tidur untuk menarik lengan Rio supaya tidak menindih tubuh pria paruh baya itu.


Setelah Rio berdiri, Santi berjongkok seraya menepuk-nepuk kedua pipi Mawan yang sudah memerah bekas tonjokan Rio. "Papah ... bangun, Pah!" panggil Santi.

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


__ADS_2