
Indah berjalan ke dapur untuk membuang air es dan mencuci handuk bekas mengompres. Kemudian dia balik lagi ke kamar Rendi terlihat Rendi sedang duduk di tepi ranjang. "Mas apa kau punya salep buat dahi mu?" tanya Indah baru saja masuk.
"Sepertinya ada." Rendi berdiri dan berjalan mencarinya di dalam lemari, setelah ketemu dia membawa kotak P3K itu dan duduk di kasur.
Dia membuka tutup dari atas salep itu. "Sini Mas biar aku saja yang mengolesi." Ucap Indah mendekat sambil menadah tangan, Rendi langsung memberikannya dan Indah mengolesinya secara perlahan-lahan dengan usapan lembut karena takut Rendi merasa kesakitan.
Indah menutup kembali salep itu dan memasukkan ke kotak. "Mas apa aku boleh menaruhnya?" tanya Indah.
Rendi mengangguk dan tersenyum.
Hampir setiap apa-apa yang ingin dia lakukan selalu saja minta izin padaku.
Rendi merebahkan tubuhnya di atas kasur, namun Indah seperti orang binggung yang duduk di atas sofa dan melihat paper bag di samping lemarinya.
Harusnya besok aku kasih Nella hadiah juga kan? Iya benar. Tapi aku nggak punya uang, apa aku kasih salah satu tas itu untuk kado Nella?
"Indah." Panggil Rendi sambil tiduran.
"Ah iya Mas." Indah bangun dan menghampirinya.
"Kamu ngapain duduk terus dari tadi, bukannya tidur." Ucapnya seraya menarik selimut. Namun Indah diam seperti patung.
Aku tidur di mana? Kasur dan tikar nya di bawa ke gudang. Masa iya aku tidur di lantai.
"Mas apa aku boleh tidur di sofa?"
"Jangan, kau tidur saja di sini di sampingku." sahut Rendi menepuk kasur di sebelahnya.
Apa barusan dia mengajakku tidur bareng? Oh my good.
__ADS_1
Indah menutupi mulutnya dengan tangan kanannya, dia masih berdiri saja tanpa gerakan.
"Indah." Panggil Rendi lagi, "Kau sampai kapan berdiri terus di situ." Indah melangkahkan kakinya ke ranjang Rendi. Dia langsung berbaring namun mereka saling membelakangi, Rendi mulai memejamkan mata.
"Mas." Panggil Indah pelan.
"Ya." Sahutnya dengan mata yang masih tertutup.
"Apa kamu yakin ingin kita tidur bersama?" tanya Indah, mata Rendi langsung terbelalak.
Rendi bangun dan menyender di tepi ranjang. "Apa kau sedang menggodaku tadi."
Indah ikut bangun dan menyender di samping Rendi. "Ah nggak Mas, aku nggak ada maksud gitu." Sahutnya menggelengkan kepala sambil menunduk.
"Bukannya pas malam setelah menikah kamu bilang sendiri kalau kita tidak masalah kalau tidur bersama, apa sekarang kamu merasa keberatan?" tanya Rendi namun dia tidak berani memandang wajah Indah.
Masa iya aku menolaknya? Nanti Mas Rendi akan marah. Ah tapi aku belum siap kayaknya.
"Aku belum siap melakukannya Mas." Indah memegang kancing baju.
"Tapi.. Tapi bukan maksud aku menolak Mas, kamu jangan salah paham dulu." Ucapnya sambil menggerakkan kedua tangannya.
"Kamu tenang saja, aku nggak akan melakukan itu dengan orang yang tidak aku cintai." Ucap Rendi menoleh ke arah Indah.
"Oh... Berarti kamu melakukan itu dengan Siska Mas." Indah juga menoleh dan sekarang mereka saling berhadapan.
"Nggak juga." Jawab Rendi santai seraya menurunkan pandangan. "Sudah tidur Ndah aku juga sudah mengantuk." Ucapnya berbaring dan menarik selimut.
Dia pasti berbohong, mana mungkin nggak melakukannya, diakan bucin banget sama Siska.
__ADS_1
Indah merebahkan tubuhnya kembali dan menarik selimut, lalu memejamkan mata.
☀️☀️☀️
Keesokkan harinya, selesai mandi Indah bercermin di meja rias milik Rendi, ya meskipun Rendi adalah pria tapi dia ini selalu menjaga penampilannya, mangkanya tidak heran kalau dia juga punya beberapa merk parfum, hand body, minyak rambut dan beberapa prodak untuk menunjang ketampanannya.
Dia juga punya koleksi sepatu dan jam tangan yang bermacam-macan dan menaruhnya lemari kaca, namun sangking banyaknya semua tempat di lemari itu menjadi penuh.
Indah melihat dirinya sendiri dari cermin, dia perlahan membuka perban di dahinya, kini dahinya sudah benar-benar sembuh. Hanya bekas jahitan yang terlihat sedikit.
Kemudian Indah mengoleskan make up secara natural yang biasa dia pakai setiap hari. Dia memandangi wajahnya sambil tersenyum-senyum di depan kaca.
Apa aku nggak cantik ya? Masa Mas Rendi nggak bisa cinta sama aku.
Ah apa untungnya juga di cintai orang kaya dia.
Indah menoleh ke belakang melihat Rendi yang masih mendengkur.
Ngorok aja cakep banget, nggak adil sih. Kenapa dia selalu terlihat tampan.
Indah kembali menatap kaca dan mengelus-ngelus rambutnya, dia berniat untuk membuat poni depan. Kemudian Indah mencari-cari gunting di laci namun tidak ketemu.
Rendi terisak dan membuka matanya karena mendengar Indah yang berisik membuka tutup beberapa laci. "Kamu cari apa sih berisik amat?" tanya Rendi sambil menguap.
"Apa kamu punya gunting Mas?" tanya Indah.
"Pagi-pagi sudah mau bunuh diri." Jawab Rendi menyender di tepi kasur sambil menempelkan ujung jarinya ke pojok matanya mengambil belek.
"Enak saja kalau ngomong." Sahut Indah sewot.
__ADS_1
...🌺Jangan Lupa Like🌺...
...😍Selamat Menunaikan Ibadah Puasa H+2😍...