
Dia seolah-olah tengah mengemis tentang uang, tapi Pak Andra langsung menghentakkan tubuhnya hingga ia terjatuh di lantai.
Bruk.......
"Aku tak punya urusan apa-apa lagi denganmu! Pergi dari sini!"
Siska masih tersungkur di lantai, segera aku menghampirinya dengan tangan terulur membantu dia untuk bangun.
"Usir dia Anton! Aku tidak ingin bertemu dengan wanita kotor seperti dirinya!" Pak Andra lagi-lagi berteriak.
"Mbak Siska, sebaiknya Mbak pulang saja."
Setelah dia bangun, kakinya melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Kini hanya ada aku dan Pak Andra didalam, aku berjalan menghampiri untuk duduk di kursi kecil sampingnya.
Pak Andra menoleh padaku. "Anton, apa kau beritahu Rendi aku ada di rumah sakit?"
"Iya, Pak. Saya sudah menghubunginya."
"Sekarang jam berapa?"
Aku langsung melihat jam pada pergelangan tanganku. "Jam 7 malam."
"Coba kau telepon lagi dia."
Aku mengangguk, segera kurogoh ponsel pada saku jas untuk menelepon Pak Rendi. Namun panggilan yang sudah puluhan kali, tidak di respon sama sekali.
"Tidak diangkat Pak."
"Si bodoh itu tidak perduli lagi padaku! Brengs*k! Semua ini gara-gara Indah! Dia menghasut Rendi supaya jauh dariku!" umpatnya dengan kesal.
"Bapak sebaiknya tenang dan istirahat, jangan terlalu banyak emosi."
"Tenang katamu?! Aku akan segera bangkrut Anton! Bagaimana bisa kau bilang aku tenang?! Kau ini bodoh atau apa?! Kantorku akan segera gulung tikar, bisa-bisa Irene berhenti kerja dan meninggalkan!"
Aku menghela nafas dengan gusar, niatku hanya ingin menenangkan. Tapi dia malah marah-marah. Didalam otaknya hanya uang dan wanita saja. Selebihnya tidak ada lagi.
Setelah banyak mengoceh, akhirnya Pak Andra diam. Namun matanya menatap langit-langit ruangan, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Anton."
"Iya, Pak."
"Bagaimana sekarang? Apa kau ada solusi?! Menurutmu Rendi akan membantu kantorku atau tidak?"
"Setelah semuanya terjadi, menurut saya itu tidak akan mungkin Pak. Saya lihat Pak Rendi sangat marah dengan Bapak."
"Bagaimana kalau kita buat rencana."
Deg......
__ADS_1
"Rencana? Rencana apa, Pak?"
"Kita jebak Rendi, bagaimana pun caranya, dia harus bercerai dengan Indah!"
"Jebak Pak Rendi?"
"Iya, kau sewa beberapa orang berbadan kekar. Kita juga butuh Siska, nanti suruh dia ancam Rendi untuk mau menikahinya, kalau Rendi menikah dengan Siska. Dia dalam kendaliku!"
"Mbak Siska?"
"Iya, Siska. Kau telepon dia, bilang padanya jika ingin uang dariku. Turuti semua ucapanku."
"Baik, Pak. Lalu pertama-tama rencana kita apa?"
"Pertama, orang sewaan kita harus mengawasi rumah Rendi, jika dia keluar rumah langsung ikuti mobilnya dari belakang. Setelah itu bawa Rendi di sebuah gubuk, lalu Siska yang beraksi. Rendi tidak akan mungkin menahan godaan Siska, aku tau dulu dia sangat mencintai wanita itu," tutur Pak Andra.
"Baik, Pak."
"Tapi kau terus telepon dia, walau tidak diangkat, biarkan saja. Biar dia makin mencemaskanku," jelasnya lagi.
Aku mengangguk paham, aku segera menelepon orang sewaan berbadan kekar dengan jumlah 6 orang. Aku juga menelepon Siska, dia bahkan langsung setuju dan ikut serta dalam rencana ini.
"Anton." Pak Andra memanggilku lagi.
"Iya, Pak."
"Buat surat perjanjian pernikahan buat Rendi dan Siska. Kau juga siapkan pisau, dirigen minyak tanah dan korek api."
Deg.....
"Alat-alatnya untuk apa, Pak? Apa Bapak akan menyuruh Siska membunuh Pak Rendi?"
"Tidak, alat itu untuk mengancamnya saja. Kau suruh dia menusuk kedua dadanya. Dia tidak akan mati, itu hanya gertakan supaya Rendi mau meninggalkan Indah."
"Baik, Pak."
Tengah malam, saatnya tiba. Mungkin orang-orang suruhanku sedang beraksi, aku memperhatikan layar ponsel. Menunggu Siska menghubungiku.
Pak Andra juga tengah duduk, dia juga menunggu kabar dari Siska.
Tapi, apakah ini tindakan kriminal?! Aku takut rasanya.
"Pak, saya takut. Saya takut rencana kita gagal. Nanti Pak Rendi akan melaporkan kita ke polisi."
Pak Andra menghela nafas dan tersenyum padaku. "Takut?! Kenapa musti takut. Semuanya akan berhasil."
"Kalau misalkan Pak Rendi tetap tidak ingin menikah dengan Siska. Apa yang harus kita lakukan?"
"Bakar saja dia, biarkan menjadi abu!"
Deg.......
__ADS_1
Aku menelan saliva ku begitu kasar, apa yang dia katakan? Bukannya tadi dia bilang tidak akan membunuh Pak Rendi?
"Maaf, Pak. Bukannya tadi Bapak bilang tidak akan membunuh Pak Rendi? Memangnya Bapak tega melakukannya?"
"Kalau Rendi tetap tidak menuruti ancaman Siska, lebih baik dia mati saja! Dia tidak berguna! Padahal sejak Rendi di tinggal oleh Ayahnya, aku berusaha jadi Om yang baik dan dekat denganya. Tapi setelah aku menganggapnya seperti anakku sendiri, dia malah berubah. Kau juga tau, apa rencanaku mengenalkan Siska padanya, kan? Itu semata-mata karena uang Anton!"
Ah, benar juga.
"Tapi, Pak. Nanti jejak kematian Pak Rendi bagaimana? Kalau dia di bakar. Lalu mobilnya?"
"Itu gampang, nanti aku pikirkan lagi. Kau tidak perlu khawatir Anton. Semuanya akan berjalan mulus, tidak akan ada yang curiga kalau Rendi di bakar. Tapi karena kecelakaan dan hilang."
Pak Andra menarik senyum menyeringai. "Kita juga bisa buat Indah menderita karena kehilangan suami. Suruh siapa Ayahnya mencekikku! Kurang ajar!" umpatnya sambil mengepal.
Sudah beberapa menit berlalu, namun Siska tak kunjung menghubungi.
"Anton. Kau coba telepon si Jal*ng lagi, tanyakan bagaimana. Apa Rendi setuju untuk tanda tangan atau tidak."
Aku mengangguk. "Baik, Pak."
Segera aku melepon Siska, tak menunggu waktu yang lama. Dia langsung menjawabnya.
"Halo, Mbak Siska. Bagaimana? Apa Pak Rendi setuju?" tanyaku padanya.
"Dia tidak mau menikah denganku. Bagaimana ini?" Mbak Siska berbalik bertanya.
Apa aku langsung bilang saja rencana selanjutnya dari Pak Andra? Iya, benar. Lagian bukan aku ini yang melakukannya. Siska yang melakukan semua kejahatan ini.
"Tusuk saja kedua dada atas Pak Rendi, ancam dia supaya mau menikah dengan Mbak Siska."
"Kau yakin?"
"Iya, jika dia tetap tidak mau, bakar saja Mbak. Bunuh Pak Rendi sekalian."
"Aku yang melakukannya?"
"Iya Mbak, tapi Mbak Siska tenang saja. Setelah Mbak berhasil membakar Pak Rendi, saya langsung mentransfer uang. Berapapun yang Mbak minta, saya akan memberikannya."
Kalimat terakhirku menutup sambungan teleponnya.
"Kerja bagus Anton," puji Pak Andra sambil tersenyum padaku.
"Tapi, Pak. Setelah Pak Rendi tiada. Kantornya otomatis di pegang oleh Adiknya, tidak mungkin Bapak yang mengambil alih, kan?"
"Apa kau lupa? Rendi membangun cabang kedua. Rio juga masih kuliah, kalaupun dia sudah memegang kantor. Dia masih terlalu bodoh! Biar aku memanfaatkannya, aku bisa memegang kantor yang satunya. Aku akan kembali berjaya Anton! Rendi yang bekerja keras, tapi aku yang menikmati hasilnya. Hahahaha ....,"
Suara tertawanya terdengar begitu lantang dan bahagia, kalau Pak Andra makin sukses bukankah aku juga di untungkan disini? Gajihku bisa saja dia naikkan.
...{Flashback Off}...
^^^Kata: 1044^^^
__ADS_1