
Assalamualaikum....
Hai Gays, π€ bagaimana kabar kalian? Semoga baik, ya!
Author datang ingin menyapa sekaligus mau promo novel baru. Apa kalian masih inget yang namanya Steven Prasetyo?π€
Yang dulu suka sama Indah, Omnya Nella dan tentunya adiknya Pak Sofyan? Ya kalau nggak inget nggak apa-apa sih, mampir aja supaya inget lagi ππ
Masih anget kuku, tapi udah 4 bab di sana. Kuy, mampir. Bantu aku supaya cepat dapet kontrak, nanti aku up tiap hari kaya novelnya si Rizky. Eh, kalian juga banyak yang belum mampir di sana. Ayok dong mampir. kode maksa π€£
Ini dia cuplikan bab novel barukunyaππ
*
*
"Apa kamu yang bernama Citra?" Suara berat pria dewasa itu terdengar begitu renyah di telinga Citra.
Gadis yang sudah berkeringat dingin itu langsung membulatkan matanya dengan lebar, saat beradu pandangan dengan pria yang kini berdiri menghadap ke arahnya.
'Astaghfirullah ... apa dia yang bernama Steven? Apa dia calon suamiku? Apa dia perjaka tua yang kata Ayah berumur 35 tahun?'
Citra terkesima dengan tatapan kagum, dia benar-benar tak menyangka jika Steven pria yang sangat sempurna. Tak seperti khayalannya tadi.
Tubuhnya tinggi tegap dan kekar. Kulitnya putih, hidungnya mancung, rambutnya hitam pekat dan yang paling mengagumkan dari pria itu adalah dua lesung pipinya. Sangat jelas terlihat pada saat dia tersenyum menatapnya.
Senyuman itu tampak begitu manis mengalahkan madu. Rasanya dari sekian banyaknya pria di dunia, Steven bisa dinobatkan pria tertampan di hatinya setelah Danu, ayahnya.
'Benar kata Ayah, dia mirip Oppa Korea. Kenapa Ayah baru memberitahuku sekarang kalau dia punya rekan bisnis seganteng ini? Nggak perlu menunggu besok, sekarang saja aku sangat siap menikah dengannya.'
"Nona."
"Ah!" Citra tersentak kaget saat merasakan bahunya di tepuk oleh Gugun. Tepukannya terasa lembut tapi cukup membuatnya sadar atas semua lamunannya itu.
"Ih! Kenapa Om selalu mengagetkanku? Jantungku mau copot!" berang Citra sambil melotot.
"Nona kenapa melamun? Ayok duduk. Saya akan tinggalkan Nona dan Pak Steven berdua."
"Siapa yang melamun? Nggak kok." Citra menggeleng cepat. Dengan rasa yang masih gugup dan debaran jantung, dia perlahan berjalan menghampiri kursinya, lalu dengan hati-hati mendaratkan bokong dan menatap ke arah Steven yang sudah duduk duluan.
__ADS_1
"Apa Oppa ... ah maksudku Om. Apa Om sudah lama menungguku? Aku tadi ke toilet sebentar." Citra tersenyum canggung sambil membereskan rambutnya. Tidak berantakan sebenarnya, hanya saja saat ini dia salah tingkah.
'Apa dia bilang? Opa? Memangnya aku terlihat seperti kakek-kakek?' Steven melirik sekilas pada Citra, dan sejujurnya dia juga paling tidak suka dipanggil dengan sebutan 'om' meskipun memang diusianya sudah pantas.
"Aku baru datang kok," jawabnya dengan suara datar dan anggukan pelan.
Tak lama datanglah seorang pelayan wanita sambil mendorong meja troli. Dia pelayan yang sama saat mengantar Citra ke meja.
Dia menyediakan dua piring di atas meja yang berisi beef steak, kentang goreng dan sayuran untuk Steven dan Citra.
"Selamat menikmati." Pelayan itu membungkuk sopan lalu berlalu pergi meninggalkan mereka.
Steven melepaskan dua kancing jasnya, kemudian memegang garpu dan pisau yang berada di atas tissue di samping piring.
"Kamu doyan daging sapi, kan? Ini steak sapi." Steven bertanya sekaligus memberitahu. Perlahan dia membelah daging itu kemudian melahapnya. "Kenapa bengong? Nggak suka?"
Steven tampak binggung melihat Citra yang sejak tadi melongo ke arahnya dengan mulut yang agak menganga.
Citra langsung tersadar, sejak tadi dia terus memandangi lantaran terpesona dengan ketampanan Steven. Segera dia melipat bibirnya rapat, takut jika air liurnya yang sudah menggenang terjatuh.
"Aku suka kok sama Om. Om ganteng."
"Suka padaku?" Alis mata Steven bertaut. "Kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu?" Wajahnya binggung. Aneh saja, kenapa gadis yang baru pertama kali bertemu dengannya langsung terang-terangan mengatakan suka?
"Tadi bukannya Om tanya kenapa aku bengong? Nggak suka? Itu, kan? Ya aku jawab, aku suka sama Om. Om ganteng, aku mau jadi istri Om."
"Tapi aku bertanya tentang makanan." Steven menurunkan tatapannya ke arah piring. Dan itu membuat wajah Citra merah padam lantaran malu. Gadis itu salah paham.
"Ah, hehehe ...." Mengatasi rasa canggung dan malu, lebih baik dia tertawa kecil saja. Meskipun terdengar aneh. "Aku kira Om tanya tentang perasaan, nggak tahunya makanan. Aku suka steak kok."
Citra mengambil garpu dan pisau seraya mengarahkan pada potongan daging. Namun anehnya saat dipotong daging itu terasa keras dan dia sendiri tampak kesusahan.
'Ini daging apa batu? Kenapa susah sekali?'
Citra makin keras berusaha untuk memotongnya. Tetapi bukannya berhasil terpotong, daging itu malah terlempar ke arah Steven. Dan yang lebih mengejutkannya menghantam gelas yang berisi minuman berwarna hijau hingga isinya tumpah pada kemeja Steven, lalu gelas itu jatuh dan pecah di lantai.
Prang!
"Astaghfirullah!" Refleks Citra menutup bibirnya dengan salah satu tangan, lalu dia pun segera bangun dan menarik beberapa lembar tissue untuk membersihkan kemeja putih pria itu. "Maafkan aku, Om. Aku nggak sengaja," ucapnya panik.
__ADS_1
Wajah Steven tampak merah dan menegang, sepertinya dia marah. Tetapi dia memendamnya dan langsung berdiri.
"Tolong buatkan satu porsi lagi, tapi dagingnya dipotong-potong." Steven berkata pada pelayan pria yang baru saja menghampiri mejanya untuk membersihkan serpihan beling. Kemudian setelah itu dia berlalu begitu saja meninggalkan Citra. Dari arahnya berjalan, sepertinya dia pergi ke toilet.
"Haduh, bagaimana ini? Sepertinya Om ganteng marah padaku." Wajah Citra seketika pucat. Dia ingat betul wajah merah Steven, dan itu membuatnya tak enak hati.
Cepat-cepat Citra mengambil ponselnya, lalu menelepon ayahnya di rumah sakit.
"Halo, Ayah. Gawat!"
"Gawat kenapa?" Suara Danu tampak terkejut.
"Tadi kemeja putih Om ganteng tertumpah jus gara-gara aku. Dan sepertinya dia marah, bagaimana ini? Apa dia nanti nggak akan jadi menikah denganku?"
Bukannya tadi siang dia yang bersikeras tak mau menikah dengannya? Tetapi kenapa sekarang dia justru kelabakan dan takut jika pernikahannya akan gagal.
"Tunggu dulu ... Om ganteng itu siapa?"
"Om Steven. Bukannya Ayah sendiri yang bilang dia ganteng, kan?"
"Oh iya, itu benar. Kamu sudah bertemu dengannya?"
"Ish!" Citra berdecak kesal. "Kan aku sudah bilang kemejanya ketumpahan minuman, berarti sudah jelas aku bertemu dengannya, Ayah."
"Oh, iya. Benar juga." Terdengar suara kekehan Danu. "Terus kamu minta maaf nggak? Kemana sekarang orangnya?"
"Aku minta maaf tadi, tapi nggak dijawab. Dan dia sekarang pergi ke toilet."
"Oh begitu. Ya sudah tunggu dia kembali saja, terus minta maaf lagi. Apa kalian sudah saling mengenal satu sama lain?"
"Sudah dulu ya, Ayah. Orangnya kembali. Nanti aku cerita kalau sudah sampai rumah sakit." Citra cepat-cepat mematikan sambungan telepon itu saat melihat Steven berjalan ke arahnya. Lantas benda pipih itu dimasukkan ke dalam tas.
Silahkan klik profil aku, kalau nggak cari aja di kolom pencarian. Judulnya "Menjerat Cinta Perjaka Tua"
Terima kasih, ditunggu kehadirannya, ya.... ππ₯°
__ADS_1