
Indah dengan cepat melepas genggaman tangannya, merasa begitu tidak nyaman. Meski Andra adalah pamannya Rendi. "Apa maksud Om dengan kata dikhianati?" tanya Indah mengerutkan dahi.
Andra meraih secangkir kopi kemudian menyeruputnya, "Ah.. Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku sudah tau, kalau Rendi itu berselingkuh." Ucapnya memiringkan bibir.
Sombong amat, di pegang sedikit saja sudah menepisnya.
Batin Andra.
Jadi Om Andra juga tahu waktu Mas Rendi berselingkuh.
Batin Indah.
Indah menghela nafasnya, "Iya Om, tapi itu dulu. Sekarang Mas Rendi sudah berubah." Kata Indah.
"Berubah?!" Seru Andra terkekeh. "Apanya yang berubah? Aku tahu Rendi bagaimana orangnya, dia tidak gampang untuk mencintai orang lain. Om jadi tidak yakin kalau Rendi beneran mencintaimu," lanjutnya menghasut. Kali ini Andra seperti menjadi jin jahat. Ah maksudku SETAN.
"Tapi aku yakin kok Om, Mas Rendi sudah berubah. Dia sudah berjanji padaku." Sahut Indah meyakinkan.
"Janji? Jambu kali Ndah. Janji busuk." Ucapnya terkekeh. "Hahahaha..." Tawanya terdengar begitu menjengkelkan. "Kalau kau tidak percaya, bisa tanyakan sama Rendi, apa hari ini dia bertemu dengan Siska atau tidak." Ucapnya.
Tiba-tiba hati dan wajah Indah berubah menjadi kesal. Apa kali ini Indah benar-benar terpancing oleh omongan Andra?
Apa benar yang di katakan Om Andra? Tapi bukannya Mas Rendi sudah berjanji padaku untuk setia? Apa janji dia selama ini hanya palsu.
Batin Indah menatap kosong, dia merasa binggung antara percaya atau tidak. Indah hanya diam tanpa kata.
Wah... Gampang juga menghasutnya, baru berbicara sedikit saja wajahnya sudah kesal begitu.
Batin licik Andra.
"Ah ya sudah, obrolan kita sampai di sini saja. Apa kau ingin pulang? Biar aku antar." Ucap Andra menawarkan.
Indah berdiri. "Tidak perlu Om aku di jemput Mas Rendi." Tolak Indah seraya berdiri dan Andra pun ikut berdiri.
Mereka berjalan keluar cafe bersama, tapi bukannya Rendi yang jemput. Malah ada Dion yang di depan cafe, tengah berdiri di samping mobilnya.
"Sore Mbak Indah." Sapa Dion. "Sore Pak Andra." Sapa nya lagi ketika dia melihat Indah yang bersama Andra.
Lho kok Mbak Indah bisa sama Pak Andra?
Batin Dion.
__ADS_1
"Mas Dion kok ada di sini?" tanya Indah. "Dimana Mas Rendi?" tanyanya lagi sambil melihat kaca mobil, berharap Rendi ada di dalam sana. Tapi ternyata tidak ada.
"Iya Mbak, saya di suruh Pak Rendi untuk mengantar Mbak Indah pulang." Sahutnya seraya membukakan pintu belakang mobil, untuk Indah masuk.
"Lho katanya Rendi yang menjemput." Sindir Andra. "Oh iya, pasti dia sangat sibuk. Mana sempat menjemput istri." Celetuknya.
Indah langsung masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberutnya.
"Bukan seperti itu kok Pak, Pak Rendi hanya ada meeting mendadak. Jadi tidak bisa menjemput istrinya," sahut Dion membela.
"Indah hati-hati di jalan." Ucap Andra kearah kaca mobil seraya melambaikan tangan.
Indah hanya mengangguk pelan. Dion langsung ikut masuk dan mengendarai mobil, sesekali dia melihat kaca spion mobil. Melihat Indah tengah menyenderkan kepala di kaca mobil dengan wajah keki.
"Mbak Indah tidak apa-apa?" tanya Dion. Namun Indah tidak menjawabnya, karena memang dia sedang melamun. Memikirkan perkataan Andra di cafe.
Ting.... Bunyi notifikasi chat masuk dan membuat lamunan Indah buyar. Dia mengambil ponsel dan membuka isi chat tersebut.
From: Mas Rendi
15.30
Sayang π maaf aku tidak jadi menjemput. Aku ada meeting dadakan, ah sebenarnya bukan mendadak. Hanya saja aku lupa kalau sudah ada janji 3 hari yang lalu. Maklumlah, aku terlalu memikirkan mu sayang π. Jadi lupa dengan kerjaan di kantor. Aku sudah menyuruh Dion menjemputmu, kita ketemu di rumah ya, dan jangan lupa untuk tugas negara kita nanti malam. Hati-hati di jalan sayangku, i love you β€οΈ.
Batin Indah dilema, dia langsung membalas chat dari Rendi.
To: Mas Rendi.
15.33
Iya Mas.
S
K
I
P
Sampainya di rumah Rendi Indah langsung mandi, membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya, dia memegangi jari manis yang sudah terpasang cincin berlian, dia kemudian menciumnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Mas, aku harap semua yang di katakan Om Andra tidak benar." Lirih Indah pelan.
Seperti biasa, kantuknya tiba-tiba datang. Padahal kan sore-sore tidak boleh tidur, harusnya Indah jangan tiduran dulu. Karena mata bantalnya yang sudah mendarah daging. Akhirnya dia tertidur.
Satu jam berlalu, Indah mulai terisak dari tidurnya karena seseorang sedang bermain dengan bibirnya, mata Indah langsung membelalakkan. Dia melihat wajah Rendi yang begitu dekat dengan rambut basah dan aroma wangi sehabis mandi, dia tidak mengenakan sehelai benang pun. Benar-benar sudah bersiap.
Melihat Indah yang sudah bangun Rendi melepas ciumannya, "Mas kau sudah pulang?" tanya Indah menyender di tepi kasur sambil mengucek mata. "Maaf aku ketiduran."
"Tidak masalah sayang." Sahutnya tersenyum manis. Tangannya perlahan lepas tali kimono Indah dari samping.
"Mas...." Ucap Indah menghentikan tangan Rendi, "Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Kita tempur dulu, kita bicarakan nanti ya?" tanya Rendi seraya meraba dan mengelus dua gundukan kembar yang masih berlapis bra, sepertinya dia sudah tidak sabar.
"Mas.... Hentikan..." Desahnya, "Kita harus bicara dulu." Seru Indah menolak, dan memasang tali kimono nya kembali.
Rendi memeluk Indah dengan hangatnya, "Apa sayang? katakan." Tanyanya.
"Apa kamu bertemu dengan Siska tadi pagi?" tanya Indah.
"Kamu kok tahu sayang?" tanya Rendi menciumi kening Indah.
Ah tunggu dulu. Bukannya aku bertemu dengan Siska di kantornya Om Andra.
Batin Rendi.
Indah melepaskan pelukan Rendi dan menyelimuti tubuh polos Rendi. "Kamu sering bertemu dengannya Mas?" tanya Indah kembali, kali ini dia seperti mengintrogasi Rendi.
Rendi menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang. Aku hanya bertemu dengannya tadi pagi, itu juga tidak sengaja berpapasan di kantor Om Andra. Aku juga tidak berbicara sepatah kata pun." Jawab Rendi dengan jujur.
"Kau bohong Mas." Ucap Indah dengan mode ketus.
"Tidak sayang, aku jujur padamu. Semenjak aku putus dengannya, aku tidak pernah mencoba untuk bertemu. Dia tidak penting lagi bagiku."
"Kau bohong!" Seru Indah lagi.
Rendi memegang kedua pipi Indah dan mengelusnya, "Sumpah! Aku tidak berbohong padamu."
"Kau belum bisa melupakannya kan? Jadi kau hanya pura-pura mencintaiku. Kau jahat Mas!" Pekik Indah sambil menanggis. "Hik... Hik... Hik..." Rintihnya.
"Hei siapa yang bilang?" tanya Rendi dengan cepat mengusap dua aliran air mata di pipi Indah. "Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku, kamu harus percaya padaku."
__ADS_1
...πΎπΎπΎπΎπΎ...
Yuk dukung Author dengan cara like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca β€οΈ Jangan lupa favorit kan ya.....