
Reymond mempercepat laju kendaraannya, supaya segera sampai di Hotel. Dia sudah tidak tahan terus-menerus berakting dan berpura-pura baik didepan Siksa, belum lagi nanti, jika sudah masuk kedalam Hotel. Dia harus lebih tahan dari godaan.
Sampainya disebuah Hotel berbintang lima, Siska duduk dulu di lobby menunggu Reymond check-in, karena Hotel saat ini sangat ramai. Maklum saja, karena hari Sabtu dan menjelang malam Minggu.
Banyak muda-mudi menginap untuk sekedar bersenang-senang dan memadu kasih.
"Selamat sore, Bapak mau pesan berapa kamar?" tanya concierge wanita didepan.
"Satu saja, Bu," sahut Reymond.
"Untuk berapa malam?"
"Semalam."
"Baik tunggu sebentar."
Concierge atau bisa dibilang pelayan Hotel, dia menggeser mouse dan melihat pada layar komputer. Mengecek kamar mana saja yang kosong.
"Oke, Bapak. Silahkan menuju kamar 120. Ini kuncinya," ucapnya seraya menyerahkan card system padanya.
Telapak tangan Reymond terbuka, siap untuk menerima. Reymond berbalik badan dan berjalan menuju lobby, tapi tidak ada Siska.
Dia menenggok ke kanan-kiri, mencari keberadaan wanita itu.
Si Jalang kemana lagi?
Batin Reymond kesal.
Telinganya tiba-tiba mendengar suara teriakan dari ujung lobby, tepat didekat pintu lift. Bola mata Reymond langsung melihat pemandangan itu.
Siska tengah menjambak seorang wanita berambut panjang, usianya seperti seumuran Indah. Raut wajah Siska terlihat begitu kesal, jangan lupakan ada Haris juga disana. Tengah menghalangi amukan Siska.
Pertunjukkan apa ini? Sepertinya seru.
Batin Reymond seraya tersenyum, dia duduk di sofa kecil seraya menyilang kaki. Melihat kejadian didepan matanya.
"Siska! Hentikan! Apa yang kau lakukan!" pekik Haris mencoba menyelamatkan rambut wanita yang berhasil Siska jambak.
Berhasil terlepas, tapi justru tangan Siska berayun pada pipi kiri wanita itu.
Plakkk......
"Dasar Jalang kau! Bisa-bisanya kau menggoda pacarku!" pekik Siska dengan lantang.
Wanita itu meringgis kesakitan, seraya memegangi pipi.
Lengan Siska diremas kuat oleh Haris, salah satu tangannya ikut berayun. Dan kini Siska yang ditampar.
Plakk........
"Aaww."
Siska meringgis kesakitan, matanya terbelalak. Dia benar-benar kaget. Kenapa jadi dia berbalik ditampar? Dan yang menamparnya adalah Haris?
"Mas apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau yang jadi menamparku?" tanya Siska seraya mengelus-ngelus pipi kirinya.
Haris memeluk tubuh wanita berambut panjang itu. "Kau kurang ajar! Berani sekali kau menampar wanitaku!" pekik Haris dengan lantang.
Dia menghentakkan tubuh Siska hingga tersungkur di lantai.
__ADS_1
Deg.....
Apa maksudnya? Wanita? Apa dia punya wanita lain?
Batin Siska.
Siska mencoba bangun dan berdiri sendiri. "Mas apa yang kau katakan? Siapa dia?" telunjuk Siska sudah menunjuk wajah wanita yang sekarang dalam dekapan Haris.
Tangan Haris mengusap lembut lengan wanita itu. "Dia Lia, sekarang dia pacarku," ucap Haris memperkenalkan padanya.
Deg......
Siska memegang tangan Haris dengan lembut. "Mas? Apa yang kau katakan? Aku ini pacarmu?" Dia mengoyang-goyangkan tangan Haris.
"Pacar? Dulu iya! Tapi mulai sekarang tidak lagi!"
Deg....
"Kenapa? Apa salahku, Mas?" lirih Siska dengan mata yang berkaca-kaca.
Haris menepis tangan Siska dan menjauhkan tubuhnya. "Aku bosan padamu! Kau sudah berumur Siska! Aku menginginkan wanita muda!"
Deg.....
Kakinya mulai melangkah, mendekati Haris yang berjalan mundur.
"Aku baru 30 tahun, Mas! Aku masih cantik! Apa kau tidak melihat kecantikanku?" tanya Siska dengan sendu, ini kali pertama dia merasa diselingkuhi. Apakah ini yang dinamakan hukum karma?
"Tetap saja, milikmu sudah tidak enak tiap aku merasakannya! Aku ini pria kaya raya Sis! Aku bisa mendapatkan segala. Termasuk wanita!"
Deg.....
"Iya! Kau sudah kenyang, bukan? Menghabiskan uangku. Kau bisa gunakan black card yang aku berikan sepuasmu! Tapi mulai besok, kau harus pergi dari rumahku!" pekik Haris mengusir.
"Jahat sekali kau padaku, Mas!" desis Siska sambil menanggis.
Haris tidak memperdulikan Siska, dia langsung menekan tombol lift, setelah pintu itu terbuka. Haris dan pacar barunya masuk meninggalkan Siska.
Selama ini Siska mengenal pacarnya yang bersikap sangat lemah lembut. Tapi justru sekarang jauh berbeda, dia begitu kasar dan menghempaskan Siska begitu saja.
Mampus kau Jalang!
Batin Reymond.
Reymond berlari mengejar Siska yang sudah berlinang air mata. Tangan kekarnya menyeka pipi mulus itu.
"Sudah. Jangan menangis," ucap Reymond dengan lembut, tapi didalam hatinya dia merasa sangat puas melihat kejadian tadi.
Siska memeluk tubuh Reymond dengan erat. "Mas Haris, dia jahat sekali padaku, Rey. Dia mengusirku. Aku binggung, sekarang tinggal dimana?"
Dia seakan mengadu dan meminta perlindungan pada pria yang sudah ia peluk itu. Hatinya begitu hancur dan kecewa, ternyata sesakit ini melihat pacar berselingkuh. Walau dia hanya mencintai uangnya saja.
Ngapain kau binggung mau tinggal dimana, Jalang? Sebentar lagi aku yang akan membawamu ke alam baka.
Batin Reymond tersenyum menyeringai.
Tangannya mengelus rambut Siska. "Ngapain kau bingung. Bukankah ada aku disini? Kau bisa tinggal denganku."
Kepala Siska mendongak keatas, kearah wajah Reymond. Senyuman menyeringai itu langsung berganti menjadi senyuman menawan, Reymond sudah sangat pintar mengubah ekspresi wajah.
__ADS_1
Benar juga, lebih baik aku tinggal dengannya, dia pasti bisa memenuhi semua kebutuhanku.
Batin Siska.
"Memang kau tinggal dimana?" tanya Siska.
Reymond melepaskan pelukan dan mengajaknya masuk kedalam lift yang sudah terbuka, supaya cepat masuk kedalam kamar Hotel.
"Aku tinggal di apartemen, kamu bisa tinggal disana denganku," ajak Reymond.
"Memangnya kau tidak punya rumah?" tanya Siska.
"Punya, aku punya lima malah. Tapi aku 'kan masih sendiri. Kalau tinggal di ruangan besar sendirian, rasanya begitu hampa. Lebih baik aku tinggal di apartemen," keluh Reymond.
"Benar juga." Siska mengangguk.
"Kalau kau tidak mau tinggal denganku juga, aku tidak memaksa cantik. Aku hanya menawarkan."
Siska mengandeng lengan Reymond. "Tidak. Aku mau ikut denganmu saja, Rey."
Ting.....
Pintu lift sudah terbuka lebar, mereka berjalan keluar bersama, mata Reymond sibuk mencari kamar yang dia pesan tadi.
Setelah berjalan menyusuri pintu-pintu kamar, akhirnya dia menemukan kamar nomor 120, tepat berada diujung ruangan itu.
Reymond langsung menempelkan card system dibawah gagang pintu, tidak menunggu waktu yang lama pintu kamar itu terbuka.
Mereka berdua langsung masuk kedalam dan Reymond mengunci pintu.
"Rey, kita mandi bersama, yuk!" ajak Siska seraya menarik tangan Reymond kearah pintu kamar mandi, namun Reymond mencegahnya.
"Kau saja dulu, aku mau pesan makanan buat kita. Perutku lapar sekali, cantik," tolak Reymond beralasan seraya memegangi perut.
Siska melepaskan lengan Reymond. "Oke, deh. Nanti kau juga tolong belikan aku baju ganti ya, Rey."
"Iya, tenang saja," sahut Reymond sambil tersenyum.
"Apa kau tahu ukuran pakaian luar dan pakaian dalamku?" tanya Siska.
"Itu gampang, aku bisa cari di internet dulu. Sudah sana mandi dulu," perintah Reymond.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan hadiah buat yang banyak poinnya, sekuntum bunga mawar juga nggak apa-apa sayang. Author udah seneng banget... Biar Author tambah semangat buat up-nya, terima kasih❤️