
Kepala Indah mendongak keatas kearah wajah Mawan. "Tapi benarkan Papah akan bebaskan mereka? Aku tidak mau Papah berbohong padaku!" mata Indah masih menyorot tak percaya.
"Tidak. Papah berjanji padamu, mereka akan bebas. Tapi sekarang kamu pulang sama Papah Antoni, wajahmu sangat lelah," ucap Mawan penuh perhatian.
Bukan hanya wajah saja, tubuh Indah juga sangat lelah. Rasanya dia sudah mengeluarkan banyak tenaga untuk melawan sang Ayah demi membebaskan mereka berdua.
Indah mengangguk dan melepaskan pelukan. "Kamu pulang ke rumah Papah ya."
Indah mencium punggung tangan sang Ayah dan tersenyum pada Reymond dengan pipi yang merona. "Iya Pah, aku pulang ke rumah Papah."
Indah dan Antoni berjalan keluar, meninggalkan kantor polisi.
Setelah Indah dan Antoni menghilang, Rio berjalan menghampiri Mawan.
"Pah ... Aku ingin bicara dengan Papah," ucap Rio seraya menarik lengan Mawan dan mengajaknya berbicara menjauh dari Reymond dan Rizky.
Entah apa yang mereka bicarakan, Reymond tidak mampu mendengarkan nya. Tapi dia begitu penasaran.
"Riz, menurut lu. Papah beneran bebasin kita nggak?" tanya Reymond berbisik pada Rizky.
Rizky mengenggam tangan Reymond.
"Menurut gue sih iya Rey, dia tidak akan bisa menolak permintaan Indah. Indah wanita yang sangat baik dan mencintai lu dengan tulus Rey. Gue sampai terharu lihat perjuangan dan ucapannya barusan, lu jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Setelah bebas, lu yang harus maju dan berjuang mendapatkan Indah. Memang sepertinya agak sulit, apa lagi lihat sikap Om Mawan tadi. Tapi gue yakin, semua ada waktunya, kebahagiaan akan memihak pada elu, Rey."
Ucapan Rizky seperti sebuah motivasi untuk Reymond, dia makin semangat dan berjuang untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya, dan berkumpul dengan keluarga kecilnya itu.
Setelah Mawan dan Rio selesai bicara, mereka kini berdua duduk. Guntur juga sudah kembali, dia meletakkan dokumen di atas meja. Tepat di dekat Mawan, sudah ada bolpoin juga di sana.
"Ini Pak," ucap Guntur.
Mawan membuka tutup bolpoin dan membuka dokumen itu, dia membacanya juga.
"Aku akan bebaskan kalian, tapi ada syaratnya,"
Deg....
Jantung keduanya seakan berhenti sejenak, ada was-was tersendiri. Mereka takut Mawan memberinya syarat yang berat.
"Rizky," Mawan melihat pada wajah Rizky yang sudah berkeringat itu, sama halnya dengan Reymond.
__ADS_1
"Kau harus berjanji padaku, setelah bebas kau tidak usah lagi memperkerjakan Reymond di kantor mu, menampungnya di rumah mu. Dan yang terpenting sekarang, kau jangan berteman dengannya lagi. Mulai sekarang pertemanan kalian cukup sampai di sini saja," baru satu syarat yang dia lontarkan pada Rizky saja sudah membuat mereka tercengang.
"Kau sanggup Rizky?" tanya Mawan menatap tajam pada Rizky.
"Aku sanggup, Om. Tapi masalahnya Reymond punya hutang padaku," Rizky sedikit memberikan alasan.
"Hutang? Hutang apa?"
"Hutang biaya rumah sakit selama dia sakit. Reymond sudah berjanji padaku. Untuk melunasinya ketika dia sembuh, dia akan bekerja denganku," sahut Rizky.
"Berapa milyar hutangnya?" tanya Mawan.
Rendi maafkan gue, bukan maksud gue mengungkit uang yang gue berikan untuk biaya rumah sakit. Gue terpaksa!
Batin Rizky.
Percayalah, sebenarnya dia tidak mau mengatakan hal ini, cuma siapa tahu dengan begini, Mawan tidak menyuruhnya memutus tali pertemanan pada Reymond. Dia juga ingin membantu Reymond sampai masalahnya tuntas.
"Aku tidak tahu berapanya, tapi dia sudah berjanji bekerja denganku selamanya Om," sahut Rizky.
"Biar aku yang melunasinya, kontrak kerjasama kita akan berjalan selamanya Riz. Aku juga akan memberikan mu suntikan dana, berapapun biaya yang kau minta, aku akan berikan," ucap Mawan menawarkan.
Mata Mawan terbelalak. "Lalu apa? Bukannya tadi kau bilang Reymond hutang biaya rumah sakit? Kau jangan coba-coba menipuku! Aku bisa membunuhmu Riz!" bentak Mawan.
"Yang aku butuhkan CEO di perusahaan, aku saat ini butuh tenaga kerja Om. Bukan uang," ide brilian langsung muncul dalam otaknya.
"Kenapa harus Reymond? Masih banyak orang lain, nanti aku yang carikan."
"Iya, Riz. Papah bisa carikan kalau perusahaan mu butuh seorang CEO," sambung Guntur.
"Tidak, Om. Pekerjaan Reymond begitu bagus, dia baru beberapa bulan di kantorku dan semuanya jauh lebih baik. Aku juga sudah membangun proyek baru untuk cabang kedua, itu hasil pekerjaan dari Reymond, Om Mawan tidak bisa membawa urusan pribadi ke dalam urusan bisnis. Itu haram bagi kita, Om. Tidak pantas!"
Mengulas sedikit tentang jiwa mereka yang sama-sama hidup di dunia bisnis, mungkin ada sedikit celah di hati Mawan untuk bisa mengerti.
"Tapi aku tidak peduli! itu bukan urusanku!" pekik Mawan.
"Om Mawan. Apa Om sekarang tidak melihat ku sebagai temannya Rendi lagi, gara-gara aku berteman dengan Reymond, begitu?" tanya Rizky, sedikit masuk ke dalam hati Mawan.
Benar juga, walau bagaimanapun dia temannya Rendi. Rendi adalah anakku juga, aku tidak enak padanya.
__ADS_1
Batin Mawan.
"Ya sudah terserah. Tapi hanya bekerja saja, kau tidak perlu membiarkan dia tinggal bersamamu. Dan yang paling penting sekarang, jangan ikut campur dalam urusan Reymond. Apa lagi menyangkut Indah! Apa kau sanggup Riz?" hatinya mulai luluh sedikit dan menerima bantahan dari Rizky.
"Iya, Om. Aku sanggup," sahut Rizky seraya mengangguk.
Mawan beralih menatap wajah Reymond yang sudah terlihat tertekan itu.
"Aku juga punya syarat untukmu."
Deg.....
Semoga syaratnya tidak memberatkan ku.
Batin Reymond.
"Jauhi anak dan cucuku!" ujar Mawan dengan lantang.
Mata Reymond terbelalak, itu syarat yang paling berat untuknya, apalagi kalau sudah menyangkut Indah dan Bayu.
"Aku tidak bisa, Pak. Aku menyayangi mereka berdua," tolak Reymond.
"Aku tidak minta penolakan yang keluar dari mulutmu! Indah tidak pantas denganmu! Apa lagi hidup bersama denganmu Reymond! Indah terlalu sempurna kalau di banding denganmu yang tidak punya apa-apa, kau hidup menumpang! Kerja dengan orang lain! Dan tidak punya apa-apa! Kau tidak akan sanggup buat anak dan cucuku bahagia!"
Sudah di umpat! Di cela dan di hina. Semuanya Mawan borong untuk Reymond, supaya pria di depannya itu sadar diri.
Tapi Rendi menjadi ingat sedikit tentang dia yang dulu suka menghina istrinya, dia pernah menyebut Indah wanita miskin dalam hati. Sepertinya Rendi mendapatkan hukum karma atas dosa-dosanya itu.
"Kalau aku jauhi Indah ... Tapi kalau sebaliknya, Indah yang mendekati ku bagaimana Pak?" tanya Reymond.
Plakkk.....
Pipi sebelahnya sudah berhasil kembali di tampar oleh Mawan.
"Itu tidak akan pernah terjadi bodoh! Indah tidak akan melakukan hal konyol seperti itu!" bentak Mawan.
Reymond berfikir sejenak dengan helaan nafas panjang.
Yang penting bebas saja dulu, turuti saja permintaan Papah. Aku yakin, aku dan Indah tidak akan bisa di pisahkan, kecuali maut. Ya benar itu! Nanti ada saatnya aku akan ceritakan semuanya pada Papah.
__ADS_1
Batin Reymond.