
Wulan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Semenjak masalah Clara yang kekurangan darah dan Mawan sama sekali tidak memberikan darahnya, saat itu pula ia tak suka dengan Mawan. Baginya Hermawan bukan orang yang baik, sekaligus bukan ayah yang baik untuk Clara.
"Wulan ... aku mohon padamu, bukankah kita ini berteman? Apa kamu setega itu padaku?" tanya Indah dengan wajah memelas seraya memegang tangan Wulan yang sudah berkeringat.
Pintar sekali kamu Indah, bawa-bawa pertemanan kita didalam urusan pribadi. Apa kamu tidak tau, betapa jahatnya Papah Mawan pada Clara, saat dia hampir tak tertolong? Apa mungkin kamu sudah tau, tapi pura-pura tidak tau.
Wulan menoleh kearah Wahyu, ia ingin ayahnya aja yang menjawab pertanyaan dari Indah.
"Yasudah Wulan, turuti saja omongan Nona Indah dan Pak Reymond, kamu ikut mereka. Tapi menginapnya di rumah Rio, hanya semalam tapi.
'Ah ya sudahlah, hanya semalam ini. Tidak masalah, Wulan. Lagian aku juga ikut' batin Wulan.
Jawaban terakhir dari Wahyu seolah memberikan jalan keluar bagi mereka yang tidak ada yang mengalah. Mungkin dengan begitu, keduanya tidak akan berantem.
Reymond bisa menghela nafas dengan lega, saat Wulan ikut mengangguki ucapan dari Wahyu.
'Jangan sampai hubungan pertemanan mereka jadi rusak hanya karena Clara adalah adik kandung Indah. Aku tau Indah dan Wulan saling menyayangi, mereka juga sama-sama wanita yang baik, tidak pantas rasanya kalau mereka sampai berantem terus menerus. Aku juga harus mencari jalan keluar bersama Rio, biar mereka saling mengerti satu sama lain' batin Reymond.
***
Sepulang kerja, Rio membawa rasa capek yang begitu banyak pada sekujur tubuhnya. Ingin rasanya ia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur dan meminta wulan untuk melayani kewajiban sebagai istrinya. Entah itu membantunya mandi atau yang lainnya.
Rio sudah berdiri didepan rumah Wahyu, rumah itu begitu sepi sekali, seperti tanpa penghuni. Salah satu tangannya mengepal dan ia angkat kearah pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Wulan ....," panggil Rio seraya mengetuk pintu.
Ceklek~
Melihat Wahyu yang membuka pintu, Rio segera mencium punggung tangan mertuanya.
"Kau baru pulang Rio? Kok malam sekali?" tanya Wahyu.
Walau sekarang ia benar-benar merasa letih dengan wajah yang kusut. Namun Rio masih berusaha untuk menampilkan senyuman terindah didepan pria paruh baya itu.
"Iya, Ayah. Mulai hari ini dan beberapa hari kedepan aku lembur pulang malam."
__ADS_1
Jujur, ingin rasanya ia segera masuk kedalam, kakinya sudah kesemutan saat ini. Tapi Wahyu sedari tadi berdiri diambang pintu, seolah tidak mengizinkan menantunya untuk masuk kedalam.
"Oh iya, Ayah sampai lupa. Kok kamu malah pulang kesini? Tidak pulang ke rumahmu?"
Apa maksud Ayah? Dia melarangku untuk tinggal disini lagi?
"Kok Ayah bicara seperti itu? Ayah mengusirku dari rumah Ayah?" tanya Rio dengan wajah pilu.
"Bukan, bukan itu maksud Ayah. Memangnya kamu tidak diberitahu oleh Wulan, kalau dia dan Clara malam ini tidur di rumahmu?"
Wajah sedih Rio berubah menjadi berseri sekarang, ia tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.
Apa ini berarti Wulan akan kembali tinggal denganku? Apa Ayah sekarang sudah percaya padaku?
"Kalau begitu Rio pamit, Ayah. Rio pulang ke rumah. Terima kasih ... terima kasih, Ayah."
Bertubi-tubi Rio mencium punggung tangan Wahyu sebelum ia beranjak pergi dari rumah. Padahal Wahyu belum sempat menjelaskan padanya, kalau kedua putrinya itu hanya menginap satu malam saja di rumah Rio.
Namun, Rio keburu kegirangan duluan. Ia pulang ke rumahnya dengan menaiki mobil taksi. Ia tidak mungkin membawa mobilnya tanpa kehadiran Indra.
"Pak, memangnya Wulan sudah kembali ke rumahku?" tanya Rio pada satpam rumahnya yang sedang membukakan gerbang untuk dirinya masuk.
"Iya, Pak. Nona Wulan dan Nona Clara ada didalam, tapi ada ...."
Ucapan satpam rumah terabaikan begitu saja. Kehadiran mobil Reymond pada halaman depan rumahnya juga sama saja ia abaikan. Otaknya hanya berisi penuh oleh Wulan dan Wulan.
Ia melangkah cepat menaiki anak tangga, karena saat ini rumahnya begitu sepi. Hanya Bibi pembantu yang menyapanya saat membukakan pintu untuk dirinya masuk kedalam.
Ceklek~
Rio membuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak di kunci. Lampu kamar itu juga sudah padam, penglihatannya sekarang remang-remang. Namun yang Rio tangkap dari matanya, ada seseorang yang tengah tidur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sudah pasti yang Rio pikirkan dia adalah Wulan.
Rio menutup pintu dan berjalan perlahan sambil menurunkan jasnya ke lantai. Ia merangkak naik keatas tempat tidur. Dengan cepat memeluk tubuh orang itu dan menciuminya dari balik selimut.
"Ish! Apa-apaan sih!" pekik orang itu seraya memberontak dan mendorong tubuh Rio hingga jatuh ke lantai.
Bruk!
__ADS_1
"Aaww!" Rio membulatkan kedua matanya saat tau orang itu bukanlah Wulan, melainkan Reymond. Pria kekar itu membuka selimut dengan wajah bantalnya. Ia baru saja tertidur dan Rio membangunkannya.
"Kakak!"
"Bodoh kau! Aku masih normal ya, Rio! Jangan mentang-mentang kita sudah akrab lalu kau kurang ajar padaku!" bentaknya.
Rio mengangkat tubuhnya untuk bangun dan naik lagi keatas kasur. "Kok Kakak ada di rumahku? Dan kenapa juga harus tidur di kamarku?"
"Memangnya Wulan tidak memberitahu, kalau aku, Indah dan Bayu ikut menginap disini?"
"Tidak, dia tidak memberitahuku. Aku hanya tau dari Ayah, kalau dia dan Clara ada di rumahku, Kak."
"Huh!" desis Reymond.
"Terus kenapa Kakak ada di kamarku? Bukannya rumahku banyak kamar tamu?"
"Itu dia masalahnya." Reymond menarik tubuh untuk bangun dan menyandarkan punggungnya di sisi ranjang. "Tadi sore mereka berantem gara-gara ...." Reymond menceritakan kejadian tadi sore pada Rio, supaya adiknya ikut tau.
"Kok mereka bisa sih berantem hanya karena Clara?"
Reymond menoyor kepala adiknya. "Kau ini bodoh! Mereka itu sama-sama iri. Takut Clara lebih menyayangi salah satu dari mereka, Rio!"
"Tapi Clara masih kecil, Kak. Aku lihat Indah dan Wulan memang sayang padanya. Clara juga pasti menyayangi mereka berdua."
"Iya, aku tau itu. Tapi entah apa yang ada didalam pikiran mereka. Terlebih lagi Indah ingin meminta malam ini tidur bersama Clara, tapi ia ingin membawanya ke rumah Papah."
"Wulan pasti tidak mau, ya?"
"Iya. Pak Wahyu nya saja dulu sudah berpesan, meskipun Clara benar-benar adiknya Indah, tapi dia harus tetap tinggal dengannya. Lagian ... Papah sendiri juga tidak mau Clara tinggal bersama kita."
"Kok Papah tidak mau? Kenapa memangnya?"
"Entahlah." Reymond mengedikkan bahu. "Menurutku semakin kesini, Papah makin menyebalkan. Aku juga tidak tau kenapa Papah bisa berubah. Tapi dulu dia tidak seperti itu kan, Rio? Ah tunggu dulu ... Papah menyebalkan hanya padaku, tapi kalau padamu, tidak. Kau 'kan anak kesayangannya setelah Indah." Reymond menodongkan jari telunjuknya ke depan wajah adiknya. Ia mengingat Rio yang dulu berkomplot dengan Mawan hanya untuk memisahkannya dengan Indah.
"Itu dulu, Kak. Sekarang Papah sangat membuatku kesal."
"Memang apa yang Papah lakukan padamu?"
__ADS_1
"Kata Ayah, Papah meminta supaya Ayah bisa memisahkan aku dan Wulan. Sepertinya Papah ingin sekali aku bercerai dengan Wulan, Kak."
^^^Kata: 1074^^^