Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 6. Aku hanya butuh kamu


__ADS_3

...🍁 POV Indah🍁...


Aku memutuskan malam ini untuk tidur di rumah Papah Antoni. Sekarang aku lebih suka membagi waktu, karena bukan hanya Mamah Santi dan Papah Mawan yang ingin selalu dekat denganku dan juga Bayu. Tapi Mamah Sarah dan Papah Antoni juga, walau Papah Antoni adalah ayah baruku. Tapi aku sendiri sedari dulu sangat dekat dengannya, Papah Antoni juga menyayangiku seperti anaknya sendiri. Dia dulu menjadi seorang duda dan hanya mempunyai satu orang anak laki-laki yaitu Vinno Firdaus.


Tidak lain adalah teman kuliahku dulu, dunia memang sempit ya.... Apa aja bisa terjadi tanpa kita sadari.


Kasih sayang dari kedua orang tua yang dulunya hanya aku dapatkan dari seorang Ibu, sekarang berubah menjadi dua kali lipat. Aku dan Bayu mendapatkan banyak kasih sayang dan cinta, walau sekarang tanpa kehadiran seorang suami.


Aku tengah duduk di sofa bersama Mamah dan Bayu yang sedang berbaring dengan kepala yang menyangga di paha Mamah.


Bayu begitu serius nonton film favoritnya, si gundul Upin dan Ipin.


"Indah... Besok kata Papah kamu, kamu mau kerja jadi sekretarisnya, benar begitu?" tanya Mamah seraya membelai rambutku.


"Iya Mah."


"Kenapa kamu kerja? Nanti capek sayang."


"Tidak kok Mah, lagian aku kan jadi sekretaris keduanya Papah. Jadi tidak terlalu banyak pekerjaan."


"Ya sudah Bayu di titipin sama Mamah saja Ndah, selama kamu kerja. Bagaimana?"


Aku menggelengkan kepala, "Nanti ada baby sitter yang jagain Mah, Mamah Santi sudah mencari. Mungkin besok dia datang." Lagian aku nggak mau merepotkan Mamah, Mamah sudah capek mengurusku dari kecil. Masa iya sekarang harus ngurus Bayu juga.


"Tidak apa-apa sayang. Mamah seneng kok ngurus Bayu, Mamah malah kesepian sendirian di rumah."


Mamah mengenggam tanganku. "Kamu tidak usah merasa tidak enak. Bayu kan cucu Mamah satu-satunya, dan Mamah juga masih mampu mengurus dia." Mamah mengelus lembut rambut Bayu.


"Hahahaha...." Bayu hanya tertawa karena tingkah konyol Upin di televisi.


"Tapi Mah aku...."


"Sudah jangan ada tapi-tapi. Nanti Mamah yang akan ngomong sama mertua mu ya?" Mamah menyela ucapan ku.


"Rencananya sih aku kerja sekalian mau ajak Bayu juga Mah, nanti kalau aku kangen bagaimana?"


"Jangan! Bayu kan masih kecil nanti ngacak-ngacak berkas-berkas di kantor Papah." Tutur Mamah.


Terserah deh! Pusing aku jadinya, padahal aku hanya ingin dekat terus dengan anakku. Apa tidak boleh?


Aku mengerucutkan bibirku, "Ya sudah nggak apa-apa deh, kalau mau nyewa baby sitter." Bibirku langsung tersenyum, akhirnya Mamah mengalah juga.


Ting... Tong...

__ADS_1


Bunyi suara bel dari pintu, aku langsung bangun dan membukanya.


"Indah.... Lu di sini?" tanya Vinno dengan wajah lelahnya, dia habis pulang dari kerja dan dia bekerja di perusahaan Papah Mawan sebagai manager.


"Iya, aku menginap dengan Bayu malam ini." Jawabku, aku langsung berjalan meninggalkan pintu dan duduk lagi di sofa. Di sebelah Mamah.


"Bayu sayang..." Panggil Vinno pada Bayu. Bayu menoleh dan langsung bangun, dia berlari memeluk tubuh Vinno. Walau Vinno hanya Om tirinya, tapi aku tidak bisa bohong kalau Vinno juga sangat menyayangi Bayu.


"Om Inno... Om balu ulang kelja?" tanyanya dengan kepo. Hahaha, mengemaskan sekali.


"Iya sayang." Vinno berjongkok dan mencium kening Bayu, "Kamu mau bobo di sini?"


Bayu mengangguk. "Ya sudah bobonya sama Om ya, di kamar Om mau nggak?"


Bayu menggelengkan kepala. "Ngga mau, Bayu mau bobo bayeng Bunda." Tuturnya.


"Lho padahal Om sudah beliin mainan baru untuk kamu Bayu. Ya sudah Om tidak jadi kasih deh."


"Ahhhhhh... Mau Om..." Bayu merengek seraya merentangkan tangannya, ingin segera di gendong.


Vinno langsung menggendongnya dan berdiri, "Ya mangkanya tidur bareng Om ya?" akhirnya Bayu mengangguk, bisa juga kamu merayu anak kecil Vinno-Vinno. Aku menggeleng-gelengkan kepala ku.


"Oke kita ke kamar Om.... Meluncurrrrrr...." Dia mengerakkan gaya-gaya Superman.


"Hahahaha...." Si bocil itu hanya bisa tertawa. Aku pun ikut tersenyum, andai saja Mas Rendi masih ada. Mungkin dia sama lebih konyolnya.


"Kamu kangen Rendi?" Aku mengangguk dan Mamah langsung memelukku.


"Kamu harus kuat sayang. Mamah tahu ini begitu menyakitkan."


"Hiks.... Hiks..." Iya Mah, hatiku benar-benar sakit. Tapi rasanya aku sudah capek untuk mengatakannya.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Aku berjalan di sebuah rumah tua, tempatnya begitu kumuh dan banyak ranting pohon dan dedaunan. Tapi aku binggung ngapain aku ke sini?


"Aawww.... Aawww..." Aku mendengar rintihan seorang pria yang sedang kesakitan. Aku berjalan cepat mengikuti sumber suara.


Sampainya di mana aku melihat, seorang pria tengah terkapar jatuh dengan luka di dadanya, Aku berlari menghampirinya, aku mengangkat kepalanya. Mataku membulat, dan ternyata dia adalah Mas Rendi ku.


"Mas... Kamu kenapa?" aku langsung memeluknya dengan erat, dia juga memelukku.


"Sayang aku rindu padamu." Lirihnya pelan.

__ADS_1


"Aku juga Mas... Sangat-sangat rindu." Aku melepaskan pelukan. Aku memegang dadanya dan membuka kemeja putih yang dia kenakan. Untuk ku lilit di bagian dada supaya menghentikan darah yang mengalir.


"Mas siapa yang tega melakukan ini padamu?" tanyaku. Namun Mas Rendi hanya terdiam


Aku memapahnya untuk bangun, "Kita ke rumah sakit Mas... Aku akan membantumu." Aku berkata dengan tetesan air mata.


Aku merangkulnya, kita berjalan sudah cukup jauh. Tapi terasa begitu berputar-putar. Bahkan kita seperti ada di hutan sekarang. "Sayang tunggu sebentar, aku haus...." Ucap Mas Rendi.


Aku mendudukkan dia di bawah dengan banyak daun-daun yang berhamburan. Aku senderkan punggungnya di dekat pohon.


"Kamu tunggu sebentar Mas... Aku-aku akan cari air minum untukmu."


Aku langsung berdiri dan celingak-celinguk, mataku berkeliling di sekitar hutan. Tapi di dalam hutang begini mana ada orang yang jual air minum? Dan tak ada sungai? Hanya ada pepohonan, mana pohonnya tidak ada buah.


Aku menatap wajah Mas Rendi dengan nanar. Dia begitu lusuh dan pucat.


Aku hendak berlari tapi lengan ku dia pegang. "Mas aku mau carikan air minum, kamu tunggu sebentar..." Dia langsung menarik lenganku, dan aku jatuh di atas tubuhnya.


"Aku hanya butuh kamu..." Ucapnya yang langsung mencium bibirku, dia menciumiku begitu dalam.


Apa maksudnya ini? Dia seperti meminum air saliva ku, terdengar menjijikan bukan? Tapi aku menikmatinya, mungkin dengan begini dia bisa menghilangkan rasa dahaga di tenggorokannya


Setelah beberapa lama dia melepaskan ciumannya dari bibirku, dan mengatur nafas. "Mas, apa kau baik-baik saja?" tanyaku cemas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak ❀️❀️^^^


__ADS_2