Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 140. Bianca dan Bunga


__ADS_3

Mawan datang lagi ke rumah sakit, ia berlari kecil dari lobby menuju ruang UGD. Hanya ada Santi yang tengah duduk disana. Lantas, ia menghampirinya.


"Mah ... bagaimana Indah dan bayinya? Apa dia baik-baik saja? Apa operasinya lancar?" tanya Mawan dengan penuh kekhawatiran.


"Iya, alhamdulilah Pah."


"Lalu, dimana Reymond dan yang lain?" tanya Mawan seraya menoleh ke kanan dan kiri, melihat sekitarnya.


"Reymond sedang mangadzani cucu kita, Pah."


"Dimana?"


"Di ruangan khusus bayi, Papah mau kesana?"


"Iya, cucu kita laki-laki atau perempuan, Mah?"


"Mamah belum tau, Papah kesana saja. Cari nama 'Ruangan Khusus Bayi' nanti gantian dengan Antoni." Santi menunjuk lorong sebelah barat.


Mawan mengangguk ia berlalu pergi untuk mencari ruangan itu. Saat sudah ketemu, ia langsung masuk dan menyuruh Antoni untuk keluar. Karena hanya dua orang yang dianjurkan dokter untuk boleh melihat bayi mungil yang lahir prematur itu.


Selesai mengumandangkan adzan pada telinga kiri anaknya, Reymond tak ada henti-hentinya untuk menciumi bayi mungil itu. Bayi dengan berat 2,4 kg berjenis kelamin perempuan tampak masih merah. Begitu cantik, berhidung mancung, nyaris sempurna dan mirip sekali dengan ibunya. Tubuhnya sudah terselimuti kain bedong dan tengah tersenyum saat Mawan datang kesana.


Mawan mencium keningnya dengan lembut saat masih dalam gendongan Reymond. Reymond sampai terharu bahagia hingga meneteskan air matanya karena sudah memiliki sepasang anak, laki-laki dan perempuan.


"Bayinya cantik seperti Indah, Reymond," puji Mawan pelan.


"Iya, Pah. Indah pasti senang lihat bayi perempuan ini, aku sangat bahagia."


Mawan mengelus punggung Reymond. "Iya, itu pasti. Papah juga sangat bahagia."


Sebenarnya mereka belum cukup puas untuk melihatnya. Namun, suster sudah menyuruh mereka untuk keluar. Karena bayi itu masih butuh perawatan khusus.


"Reymond, Papah ingin memberi nama Bunga untuk anak kedua kamu," ucap Mawan saat berjalan bersebelahan dengan menantunya.


"Aku sudah siapkan nama untuk dia Pah, aku ingin memberikan nama Bianca," kata Reymond.


"Jangan, Bunga saja. Lebih bagus dan sesuai dengan kecantikannya."


"Nama Bunga memang bagus, tapi aku mau kasih dia nama Bianca, Bianca Alexander Pratama."


Mereka menghentikan langkah sejenak. Sepertinya Mawan tidak setuju dengan nama pemberian Reymond.


"Kenapa namanya berbeda dengan Bayu? Harusnya namanya Bunga Herma Pratama."


"Tidak, Pah. Aku ingin namanya itu saja. Lebih bagus itu, nanti panggilannya Caca."

__ADS_1


"Bunga saja, Reymond. Bunga Herma Pratama. Kau jangan bawa-bawa nama Alexander yang tidak ada hubungannya, itu 'kan nama pemberian Rizky."


"Tapi 'kan aku sekarang pakai nama itu, Pah."


Mawan menggelengkan kepalanya. "Ah tidak-tidak. Namanya harus sama dengan Bayu. Mereka itu kakak beradik, tidak bagus kalau namanya berbeda-beda."


"Yasudah, Bianca Herma Pratama." Reymond mengalah, tapi dia tetap ingin memberikan nama Bianca untuk anak perempuannya.


"Jangan Bianca, Bunga ... Bunga saja."


Mereka berlanjut memperdebatkan nama itu sambil berjalan, hingga didepan ruang UGD.


"Kalian ini sibuk debatin apa, sih?" Santi mendengus kesal. Tadi ia melihat Rio dan Mawan bertengkar, sekarang dengan Reymond.


"Ini Papah, aku ingin beri nama anakku Bianca, tapi Papah maunya Bunga, Mah," kata Reymond mengadu.


"Tapi Bunga bagus 'kan, Mah. Namanya cantik seperti anaknya," saran Mawan.


"Iya, iya. Nama Bianca dan Bunga sama-sama bagus. Tapi biar Reymond saja yang memberi nama, Pah. Dia 'kan ayahnya." Santi lebih menyetujui pendapat dari anaknya.


"Tapi dia 'kan cucu Papah juga! Mamah ini gimana, sih?" Mawan mendengus kesal.


"Dulu Bayu siapa yang memberi nama?" tanya Reymond setengah nyolot.


"Papah," sahut Mawan.


"Papah tidak setuju Reymond! Papah ingin cucu kedua Papah namanya Bunga!" protes Mawan.


"Terserah! Mau Papah setuju atau tidak, aku tidak peduli! cetus Reymond seraya duduk. Baru saja ia mendapat kebahagiaan, sekarang hatinya kesal hanya lantaran sebuah nama. Padahal nama itu sudah ia persiapkan lebih dulu, sebelum bayi itu lahir. Karena Indah sangat menginginkan bayi perempuan.


"Yasudah, begini saja. Kita tanya Indah kalau sudah sadar. Biarkan dia yang memilih." Santi mencoba untuk menengahinya. Dengan begitu, mereka menjadi diam dan saling mengangguk. Tanda kalau keduanya setuju.


Mereka duduk lagi di kursi panjang bersebelahan, menunggu Indah selesai operasi. Tapi ngomong-ngomong, mereka sejak tadi tidak melihat Bayu, Wulan dan Rio. Pasti Rio sampai lebih dulu dari Mawan. Tapi ia justru tidak ada.


"Dimana Bayu, Mah?" tanya Reymond.


"Bayu ikut dengan Wulan dan Rio pulang, tadi menangis minta pulang," jawab Santi.


"Kapan dia menangis?"


"Tadi, saat kamu ke ruangan bayi. Dia merengek mau pulang."


"Kok gitu? Aku jadi kasihan padanya." Reymond merasa tak enak hati, ia takut Bayu merasa iri kekurangan kasih sayang. Karena mereka disana dari pagi sibuk dengan kelahiran anak keduanya.


"Kenapa kasihan? Bayu baik-baik saja. Dia bilang ingin pulang karena ingin main dengan Clara." Santi mengelus bahu Reymond.

__ADS_1


"Apa aku harus jemput dia, Mah?"


"Tidak usah, biarkan Bayu disana. Dia 'kan senang kalau bermain dengan Clara."


"Jadi Wulan membawa Bayu ke rumah Wahyu?" Mawan baru berbicara, sedari tadi ia terus mengingat ucapan Rio.


"Iya. Oya, Pah. Bagaimana masala bunga? Apa sudah beres?" tanya Santi.


Dari pertanyaannya, sepertinya Santi belum tau. Tadi Rio tidak sempat memberitahunya, karena ia ingin segera mengajak Wulan pulang. Rio tak ingin bertemu dengan Mawan.


"Sudah."


"Terus siapa yang kirim bunga, bukan Papah, kan?"


Mawan menelan salivanya dengan kelat, ia binggung untuk menjawab apa. Kalau ia jujur, apakah Santi akan marah? Jawabnya pasti iya. Istrinya baru saja marah tadi pagi, ia tak ingin melihatnya kembali marah. Jurus jitunya adalah mengangguk pelan, tanda kalau bukan dirinya orang yang mengirim bunga.


Santi menghela nafas dengan lega. "Bagus, deh. Mamah tidak mau Papah dan Rio bertengkar, apalagi sampai adu jotos begitu. Tidak baik, Pah."


"Iya, Mah."


***


Malam hari di rumah Wahyu.


"Mas ... ini tidak apa-apa kalau Bayu menginap disini?" tanya Wulan saat melihat Bayu yang tengah tertidur lelap diatas kasurnya. Anak kecil itu sudah makan dan minum susu, ia kekenyangan lalu mengantuk.


"Tidak apa-apa, aku sudah bilang sama Mamah."


Rio yang meminta untuk Bayu menginap, ia juga jarang sekali menghabiskan waktunya bersama keponakan pertamanya itu.


"Wulan, tolong pijat kepala. Sakit sekali." Rio membaringkan tubuhnya dengan kepala yang menyangga pada kedua paha istrinya. Lantas, Wulan memijitnya dengan pelan.


"Tadi siang bagaimana, Mas? Bukan Papah 'kan yang mengirim bunga?" Wulan masih berprasangka baik pada mertuanya, walaupun ia tau betapa Mawan sangat membenci dirinya.


"Sudahlah, tidak usah dibahas. Aku benci orang itu. Mulai sekarang, jangan panggil dia Papah, Wulan. Dia bukanlah Papahku dan Papah mertuamu!" tegasnya.


"Mas Rio bertengkar dengan Papah? Apa itu berarti Papah yang kirim aku bunga?"


"Kataku jangan sebut dia Papah! Aku benci dengannya, jangan pernah bahas dia denganku juga!" Rio mengendus kesal, moodnya langsung berubah menjadi jelek. Ia memindahkan posisi berbaringnya disamping Bayu. Dadanya terasa sesak jika mengingat kejadian itu.


Wulan ikut berbaring disamping Rio yang berada ditengah-tengah. Ia melihat suaminya sudah memejamkan mata.


Maaf Mas, maafkan aku. Aku tau Mas Rio pasti kesal dengan ulah Papah. Aku tau, Papah membenciku pasti karena aku jelek dan miskin. Papah malu punya menantu seperti diriku, Mas.


Cairan bening itu langsung mengalir pada sudut matanya, Wulan segera menyekanya dan memejamkan mata.

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


Happy weekend 💕


__ADS_2