Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 115. Membuatkan susu ibu hamil


__ADS_3

Usai makan malam, Rio membukakan pintu untuk menemui kurir yang akan memberikannya paket kiriman dari ibunya.


Wahyu menghampiri Rio saat langkah menantunya terhenti didepan pintu kamar Wulan. Ia penasaran dengan apa yang ia bawa.


"Rio, kau bawa apa?" tanya Wahyu seraya melihat kardus berukuran sedang berada di tangan Rio.


"Ini susu ibu hamil kiriman dari Mamah, Ayah."


"Oh, benarkah? Sini biar Ayah yang buatkan susunya." Tangan Wahyu terulur ingin mengambil kardus tersebut. Tapi Rio menggeserkan tangannya sendiri. Seolah tidak mengizinkan ayah mertuanya mengambilnya.


"Jangan, biar aku saja yang membuatnya Ayah."


"Kau tidak mungkin bisa membuatnya, biar Ayah saja." Wahyu mencoba untuk mengambilnya lagi, tapi lagi-lagi Rio menggeserkan tangannya.


"Aku bisa kok!"


"Tidak, kau tidak akan bisa. Ayah sudah pengalaman, Rio!" tampik Wahyu.


"Ayah, Mas Rio. Kalian kenapa?" tanya Wulan yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar keributan, ia melihat suami dan ayahnya sedang meributkan kardus.


"Ini. Aku mau membuatkan susu ibu hamil untukmu. Tapi Ayah melarangku, Wulan," jawab Rio mengadu.


"Ayah tidak melarang. Cuma kau tidak mungkin bisa membuatnya Rio. Ayah tau itu," jelas Wahyu.


Rio menaruh kardus itu diatas meja dan membukanya. Ia mengambil satu box susu ibu hamil dengan varian coklat dan langsung menggenggamnya dengan erat.


"Ayah bilang seperti itu tandanya meremehkanku!" Rio memegangi dadanya. "Ayah pikir hanya membuat susu saja aku tidak bisa? Aku bisa Ayah!" tegas Rio dengan wajah kesal.


"Ayah hanya tidak ingin merepotkanmu, Rio. Tidak ada maksud meremehkan," balas Wahyu.


Rio berlalu pergi menuju dapur, meninggalkan Wahyu dan Wulan yang diam mematung.


"Merepotkan, merepotkan, apanya yang merepotkan? Aku bisa kok, aku 'kan Ayahnya. Masa buat susu saja tidak bisa!" gerutu Rio.


Rio membaca tulisan yang berada dibelakang box, melihat cara untuk membuatnya.


"Larutkan 3 sendok makan susu kedalam 180ml air hangat, aduk sampai larut dan siap untuk diminum," kata Rio bermonolog.


"Ah gampang itu, aku pasti bisa!" ucapnya dengan yakin.


Rio membuka rak piring kaca untuk mengambil gelas dan sendok. Kemudian, ia membuka box itu dan membuka kemasan plastik didalamnya.


Dengan hati-hati Rio memindahkan tiga sendok susu bubuk itu kedalam gelas. Setelah selesai, ia membawa gelas itu menuju dispenser. Ibu jarinya ingin menekan kran air panas, namun ia ragu, karena tidak tau takaran 180ml.

__ADS_1


Akan lebih baik jika ia bertanya pada asisten go*gle. Rio merogoh kantong celana boxernya untuk mengambil ponsel. Lalu ia tekan layar tengahnya dan mengucapkan.


"OK go*gle, berapa takaran air 180ml."


Dan muncullah beberapa video dalam pencarian itu, Rio langsung menonton salah satu video yang ia jadikan contoh. Lalu menuangkan air panas dan air biasa dengan perbandingan 1:1.


"Rio, mana susunya?" tanya Wahyu.


"Astaghfirullah!" Rio tersentak kaget, akibat kehadiran Wahyu yang tiba-tiba muncul disampingnya seperti hantu. Gelas susu yang ia pegang meleset dari tangannya. Alhasil jatuh, tumpah dan pecah di lantai.


Prang!!


"Astaghfirullah. Maaf-maaf Ayah tidak bermaksud mengangetkanmu," ucap Wahyu terperanjat. Ia langsung menggeser tubuh Rio untuk menjauh dari serpihan beling, lalu mengambil sapu dan pengki untuk membersihkannya.


"Susuku," keluh Rio dengan tangan yang ia arahkan ke lantai. Betapa sedih dan hancurnya, melihat susu itu tumpah. Padahal ia sudah berjuang membuatnya.


"Ayah ... Mas, ada apa ini?" tanya Wulan seraya menghampiri mereka berdua. Ia melihat Wahyu yang tengah berjongkok membersihkan beling di lantai dan Kini beralih melihat wajah Rio yang tengah bersedih.


"Kok tumpah?" Wulan memegangi lengan dan memperhatikan kaki suaminya, merasa cemas dan takut Rio terluka. "Mas Rio tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Wulan.


Rio memegangi dadanya dan menatap lekat wajah Wulan. "Hatiku yang terluka, Wulan."


Mata Wulan membulat sempurna, lantas ikut memegangi dada suaminya. "Kenapa hati Mas Rio bisa terluka? Apa Ayah menyakiti Mas Rio?"


"Tapi Ayah mengagetkanku tadi! Aku sudah berhasil membuatkan susu untuk Wulan. Tapi Ayah--"


"Bukannya tadi Ayah sudah minta maaf karena mengagetkanmu? Ayah tidak sengaja Rio, kok kamu menyalahkan Ayah?" sela Wahyu menatapnya dengan tajam.


Rio menurunkan pandangan dan membuang nafasnya dengan gusar, ia sangat kesal pada mertuanya, tapi tak berani untuk menunjukkannya. Nyali Rio terlalu menciut didepan Wahyu.


"Aku akan membuat susunya lagi," ucapnya kemudian mengambil gelas baru dan membuatkan susu untuk kedua kalinya.


"Kata Ayah juga kau tidak bisa. Kau malah keras kepala," cibir Wahyu.


Enak saja, aku bisa! Kata siapa tidak bisa!


"Ayok Wulan, kamu tunggu di kamar saja." Wahyu menarik lengan putrinya untuk meninggalkan Rio sendirian di dapur.


Wulan menyandarkan punggungnya disisi ranjang dengan kaki yang ia luruskan ke depan. Wahyu juga ikut duduk diatas kasur, bersebelahan dengannya. Perlahan tangannya menyentuh perut rata putrinya.


"Semoga kamu sehat didalam sana Sayang, Kakek tidak sabar ingin bertemu denganmu."


Raut wajahnya begitu bahagia, ia terus-menerus memandangi wajah Wulan dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Masih lama Ayah, kan baru empat Minggu."


"Iya, kamu benar. Tapi Ayah sudah tidak sabar."


"Tapi kata Dokter, nanti delapan atau dua belas Minggu, aku dan Mas Rio di suruh kontrol lagi Ayah, katanya ada kejutan buat kita."


"Kejutan? Kejutan apa itu?"


"Aku juga tidak tau."


"Nanti Ayah dan Clara ikut menemanimu, ya?"


"Iya, Ayah boleh ikut."


"Wulan, ini susu untukmu." Rio datang sambil membawa segelas susu di tangannya, perlahan ia memberikan kepada Wulan.


Wahyu ikut menyentuh gelas, disaat gelas itu berpindah ke tangan Wulan. Hanya ingin memastikan suhunya saja. Setelah menurutnya sesuai, Wahyu menarik kembali tangannya.


"Kenapa Ayah? Apa ada yang salah?" tanya Rio dengan tatapan curiga.


"Kenapa apanya? Ayah kan hanya memegangnya sebentar, kau ini sensi sekali pada Ayah, Rio!" Wahyu mendengus kesal.


"Aku tidak--"


"Mas ...." Wulan memegang lengan suaminya, ia mengedipkan kelopak matanya, seolah mengisyaratkan supaya ia tidak meneruskan ucapannya. Rio lantas terdiam dan hanya menganggukkan kepala.


"Aku minum, ya?"


"Iya," sahut Rio seraya senyuman lebar.


Mereka berdua melihat Wulan yang tengah meminum satu gelas susu itu sampai tandas tak tersisa. Ada rasa bangga yang menyeruak kedalam hati Rio.


"Bagaimana rasanya, Wulan?" tanya Rio.


"Rasanya?" Wulan mengerutkan kening, merasa binggung dengan pertanyaan suaminya. "Rasanya ya susu, Mas. Memang apa? Kopi?"


"Ah kau ini tambah tidak jelas saja, Rio," cibir Wahyu sambil tersenyum mengejek pada menantunya.


"Bukan itu maksudku, maksudku enak tidak rasanya? Kan aku yang membuatnya. Aku bahkan pertama kali membuat susu sendiri dan orang yang pertama kali meminumnya adalah kau, Wulan. Kau harusnya bangga padaku, kan?" tanya Rio dengan penuh harapan, ia benar-benar ingin di puji atas keberhasilannya.


Wahyu berdecak sambil geleng-geleng kepala, melihat tingkah Rio yang menurutnya konyol. Semakin terlihat saja kalau memang Rio adalah pria yang manja dan tidak bisa melakukan apa-apa dengan sendiri. Tapi sekarang ia mencoba sedikit berubah demi menyenangkan hati istrinya yang tengah hamil.


^^^Kata: 1082^^^

__ADS_1


__ADS_2