
Rio segera menarik lengan Dido sampai pria itu tertarik keluar dari mobil, tubuhnya ia hentakkan secara paksa sampai tersungkur di jalan.
Brukk......
"Kurang ajar kau Dido!" pekik Rio dibarengi sebuah tonjokan yang mengarah pada pipi kiri pria didepannya.
Bugg........
Mata Dido terbelalak kaget, ia memegangi pipi yang sudah terasa nyeri. Rio menonjoknya begitu keras.
Pak Rio, dia menonjokku. Apa dia benar-benar marah padaku.
Batin Dido.
Nafas Rio sudah tersengal-sengal, bola matanya memerah karena begitu kesal. Dido segera bangun dan memeluk lutut Rio, bersimpuh padanya.
"Pak Rio ... maafkan saya, sa-saya ... saya hanya berkata jujur pada Bapak. Tapi ... saya mohon jangan pecat saya, Pak," lirihnya memohon.
"Kau benar-benar keterlaluan! Kau juga tidak tau diri! Sudah punya istri tapi mencintai istri orang!" Rio mendengkus kesal.
"Tapi saya sudah bercerai dengan istri saya, Pak. Saya ini seorang duda."
Rio menghentakkan salah satu kakinya supaya Dido melepaskan pelukannya dari bawah.
"Menyingkir kau bodoh! Aku tidak peduli akan statusmu!"
Segera ia masuk kedalam mobil dan menyetir, meninggalkan asistennya ditengah jalan sendirian.
Namun dalam perjalanan seketika Rio tersadar dengan apa yang dia lakukan pada Dido, merasa aneh pada dirinya sendiri. Tangannya mengusap-usap wajahnya dengan kasar dan masih berusaha fokus.
Apa yang aku lakukan padanya? Kenapa aku begitu emosi?
Bukankah seharusnya aku senang mendengar ucapan Dido?! Dia juga mengatakan sudah bercerai istrinya, otomatis dia bisa kembali dengan Wulan, kan?
Ya ... tepat sekali! Itu bagus. Lebih baik aku mendukung Dido untuk balikkan dengan Wulan. Dengan begitu aku bisa bercerai dengan wanita pembawa sial itu.
Batin Rio.
***
Sepeninggalan Rio berangkat kerja. Wulan mengajak Clara untuk pergi ke rumah Hermawan, tentunya ia ingin mengatakan hal pada Santi.
Kini mereka berdua sudah berada didepan halaman rumah. Terlihat Indah, Bayu dan Santi tengah duduk di kursi panjang taman, di samping rumah. Mereka berdua menghampiri.
"Mamah ... Indah," ucap Wulan.
"Wulan, kamu disini," ucap Indah dan Santi bersamaan.
Clara langsung menghampiri Bayu yang tengah duduk dalam pangkuan Indah, gadis kecil itu masih membawa boneka barbienya.
"Kaka Lala!" ujar Bayu sambil tersenyum.
"Dede Bayu ... lihat, Kakak punya mainan," ucapnya memperlihatkannya pada bocah kecil itu.
"Boneka?! Bayu ngga cuka boneka Kaka."
"Iya, ini mainan Kakak. Mainan buat perempuan, Kakak mau kasih tau aja sama kamu, Dede 'kan laki-laki ... jadi mainnya mobil-mobilan," sahut Clara.
__ADS_1
"Wah ... iya, bonekanya cantik sekali. Kamu beli kapan sayang?" tanya Indah seraya mengusap rambut Clara.
"Kemarin, Kak. Kak Wulan yang belikan," sahutnya.
"Oya?! Hhmm ... Kakak juga belikan kamu mainan lho ... boneka juga. Ayok ikut Kakak ke kamar, nanti Kakak tunjukkan," ajak Indah seraya bangun, mengendong Bayu.
"Memangnya aku boleh masuk ke kamar Kakak?" tanya Clara ragu-ragu.
"Boleh, kan tadi Kakak yang ajak kamu," ucap Indah.
Clara menoleh kearah Wulan. "Kak, apa aku boleh ikut Kak Indah?"
Wulan mengangguk dan tersenyum padanya.
Mereka bertiga langsung masuk kedalam rumah, meninggalkan Wulan dan Santi di taman.
Kesempatanku bicara berdua dengan Bu Santi, mumpung Clara dan Indah sedang bersama.
Batin Wulan.
"Ayok kita masuk kedalam juga," ajak Santi seraya bangun, namun tiba-tiba Wulan memegang lengannya.
"Disini saja, Mah. Aku ... aku ingin bicara empat mata dengan Mamah," pinta Wulan.
"Bicara? Bicara apa?" tanya Santi binggung, ia kembali duduk.
Wulan mendudukkan bokongnya disebelah Santi, perlahan ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan-nya.
"Mah ... aku ingin membicarakan masalah rumah tanggaku dengan Mas Rio."
Deg.....
"Tidak, Mah. Kami baik-baik saja ... Hanya saja, sepertinya ... aku dan Mas Rio tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
Deg.....
Mata Santi terbelalak, dengan cepat ia memegang salah satu tangan menantunya itu.
"Apa maksudmu? Kau tidak boleh berkata seperti itu! Kalian bahkan menikah belum sampai satu bulan."
"Iya ... aku tau, Mah. Tapi ... sepertinya aku ... aku dan Mas Rio harus bercerai," ucapnya sambil menangis.
Bercerai?! Apa-apaan ini.
Batin Santi.
Ia segera memeluk tubuh Wulan dan mengusap-usap punggungnya.
"Kenapa? Kenapa kau ingin bercerai dengan Rio? Apa dia menyakitimu?"
"Itu karena ...."
"Karena Wulan masih mencintai pria lain, Mah," serbu Rio yang tiba-tiba datang.
Deg......
Kedua wanita itu sontak melepaskan pelukan dan melihat kearah Rio, dia datang tidak sendiri, melainkan bersama dengan Dido.
__ADS_1
Wulan menyeka air matanya dengan cepat seraya berdiri.
Kenapa Mas Rio datang kesini? Dan kenapa dia mengatakan hal itu. Siapa yang mencintai pria lain? Enak saja fitnah-fitnah.
Batin Wulan.
Santi juga ikut berdiri, kini Ibu dan anak itu sudah saling berhadapan.
"Apa maksudmu, Rio? Kenapa kamu mengatakan hal itu?" tanya Santi binggung.
Pria tampan itu tersenyum tipis menatap wajah ibunya, "Tadi bukannya Mamah tanya kenapa Wulan ingin bercerai denganku, kan?"
Santi mengangguk. "Iya ... alasannya adalah dia mencintai pria lain," sambung Rio.
Deg.....
"Mas ... apa yang Mas Rio katakan? Aku tidak mencintai pria lain," sahut Wulan tak terima.
"Rio. Kamu ini apa-apaan, sih? Wulan tidak mungkin seperti itu," ucap Santi membela.
"Mamah ... ini Dido." Rio menoleh sekilas pada asistennya yang berada disamping.
"Dia adalah mantan pacar, Wulan."
Deg......
Mata Wulan terbelalak kaget.
Kenapa Mas Rio bisa tau? Apa jangan-jangan Kak Dodi yang memberitahunya?
Batin Wulan dengan mata yang menatap tajam kearah Dido, pria itu hanya diam tanpa suara.
Santi menghela nafas. "Kalau memang mantan, yasudah ... lagian mereka ini hanya masa lalu, masa depannya sama kamu, Rio," ucapnya dengan santai.
"Tapi mereka ini saling mencintai, Mah," ujar Rio.
"Mas ... apa yang Mas Rio katakan? aku tidak mencintai Pak Dido!" bantah Wulan.
"Kau tidak perlu berpura-pura, Wulan. Dido bilang dia masih mencintaimu ... kau juga bahkan susah melupakannya, bukan?"
"Tidak! Aku sudah melupakannya, Mas!" bantah Wulan.
"Kau berbohong! Kau masih mencintainya, itu terbukti dengan sikapmu padanya!" pekik Rio tak mau kalah, matanya sudah melotot.
Santi menghela nafas, namun bukannya merasa kesal. Dia malah menarik senyum, melihat pertikaian antara anak dan menantunya itu.
Apa Rio sedang cemburu pada Wulan? Wah ... bagus sekali.
Batin Santi.
"Tidak, Mas. Aku bersikap seperti itu memang aku benar-benar membencinya!" sahut Wulan membela diri sendiri.
"Sudah-sudah ... kalian tidak perlu berantem begini!" seru Santi.
"Rio ... lebih baik kamu dan Wulan bicara baik-baik, jangan salah paham padanya, apalagi menuduhnya macam-macam," tegurnya.
Rio langsung memegang lengan Wulan, menariknya untuk sampai ke mobil, namun dengan cepat Santi mencegah mereka. Sebelum keduanya masuk kedalam mobil.
__ADS_1
^^^Kata: 1010^^^