
Terlihat Mawan sudah membuka pintu ruangannya itu. Dengan cepat mereka melepaskan pelukan.
"Indah, ada apa kamu kesini? Kenapa tidak tidur?" tanya Mawan dengan tangan yang mengelus lembut rambut anaknya.
"Aku belum mengantuk. Oya, Papah dan Mas Reymond mau ngobrol, kan? Aku mau ikut dengar, ya?" pinta Indah seraya berjalan hendak masuk kedalam, namun dicegah oleh Mawan.
"Papah dan dia hanya bicara masalah pekerjaan, kamu tidak perlu dengar. Nanti bosan."
Indah menoleh kearah Reymond yang terdiam dengan wajah tertekan.
"Lalu apa salahnya? Aku juga mengerti masalah kerjaan Papah, aku bukannya pernah jadi sekretaris."
Indah langsung menerobos masuk kedalam ruang kerja dan duduk di sofa.
"Reymond, aku bukannya bilang ingin bicara berdua? Kenapa kau ajak Indah?" lirih Mawan pelan kearah Reymond sambil melotot.
"Indah yang mau, Pah. Aku tidak mengajaknya," sahut Reymond.
Akhirnya mereka bertiga duduk, Mawan duduk ditengah antara Indah dan Reymond. Diatas kedua pahanya sudah ada laptop, ia membahas masalah pekerjaan. Namun terkesan ngelantur dan tidak masuk diakal, seperti hanya asal bicara saja.
Apa sih yang Papah bahas?! Dia mungkin sengaja saja gara-gara Indah ikut. Sebenarnya apa ya yang ingin dia katakan jika berdua denganku.
Batin Reymond.
Reymond hanya mengangguk-angguk saja, Indah sampai tertidur sambil menyender pada bahu Mawan sangking bosannya.
***
Keesokan harinya. Santi, Wulan dan Rio sudah pergi menuju kediaman orang tua Wulan.
Sedangkan Mawan pergi ke kantor. Kini hanya Reymond, Bayu dan Indah. Tapi mereka bertiga memutuskan untuk ke rumah Rizky, karena sudah berniat melakukan tes DNA.
Terlihat didalam rumah Rizky sudah ada Hersa, Harun dan seorang Dokter dengan asistennya, mereka tengah berdiri menunggu kedatangan Reymond di ruang tamu.
Setelah sampai di rumah Rizky mereka bertiga langsung masuk untuk menemui empat pria itu.
"Selamat pagi Pak Reymond, Nona Indah," sapa Harun.
"Pagi," sahut Indah dan Reymond.
"Bapak, ini Dokter yang akan melakukan tes dengan Bapak dan Bayu."
"Oke, kita lakukan saja sekarang," ucap Reymond seraya duduk di sofa bersama Indah yang tengah memangku Bayu.
Dokter itu memulai proses pengambilan sempel tes DNA di bantu oleh Asistennya.
"Ayah. Bayu mau di cuntik bial cehat, ya?" tanya Bayu.
__ADS_1
Reymond mencium rambut Bayu dan mengelusnya, "Iya sayang, kamu benar. Di suntik biar sehat."
Kini dia melihat kearah Hersa yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Hersa, bagaimana Anton? Apa kau sudah membawanya ke Jakarta?"
Hersa langsung melihat pada Reymond dan menaruh ponselnya pada kantong celana.
"Iya Pak, semuanya sudah beres. Bapak malam ini bisa langsung menginterogasinya."
Reymond mengangguk, kini dia menoleh ke samping kiri. Pada Harun yang tengah berdiri sambil melihatnya.
"Bukti-buktinya bagaimana? Apa sudah kuat semua?"
"Sudah, Pak. Tinggal hasil tes DNA dan pernyataan dari Anton."
"Kalian harus urus semuanya dengan benar, jangan sampai terjadi yang sudah-sudah. Aku tidak sabar ingin tau siapa pelakunya," ucap Reymond dengan tangan yang sudah mengepal.
Indah mengelus bahu Reymond. "Kalau kau sudah tau pelakunya, apa yang akan kau lakukan, Mas? Tapi, aku berharap kamu jangan membunuhnya."
"Aku tidak tau sayang. Aku sudah sakit hati ... Dia sudah jahat padaku, pada kamu dan juga Bayu. Dia memisahkan kita bertiga."
"Tapi kalau kau membunuh dia, kau jadi sama jahatnya dengan dia. Penjarakan saja, Mas. Kalau bisa seumur hidup," usul Indah.
"Nona Indah benar, Pak. Kita buat hukuman dia berat supaya tidak mampu menghirup udara segar. Biarkan saja dia membusuk di penjara, sampai ajal menjemputnya," sahut Harun mendukung.
"Baik, Pak," sahut Hersa dan Harun.
***
Mereka bertiga kini turun dari mobil, didepan rumah kontrakan yang sederhana. Di depannya ada sebuah gerobak dorong yang bertulisan nama Bakso.
Perlahan tapi pasti mereka berjalan masuk, terlihat pintu rumah terbuka dengan lebar. Ada seorang pria paruh baya tengah duduk lesehan di lantai bersama seorang gadis cantik dengan rambut di kuncir kuda. Mereka berdua sedang membuat adonan Bakso dengan kedua tangannya, untuk membentuk bulat-bulat. Kedua tangan mereka sudah memakai sarung tangan plastik.
"Permisi," ucap Santi berdiri di ambang pintu bersama Wulan dan Rio.
Gadis kecil itu menoleh pada sumber suara, bola mata beningnya langsung berbinar kala melihat Wulan datang. Dia langsung bangun dan lari untuk dapat memeluknya.
"Kak Wulan ... Kakak kenapa semalam tidak pulang?" tanya Clara mendongak, kearah wajah Wulan.
"Iya, semalam Kakak ada urusan." Wulan mengusap kepalanya sekilas.
"Siapa dia?" tanya Santi kearah Clara.
"Ini Clara, Bu. Adik saya."
Clara membuka kedua sarung tangan plastik yang ia kenakan, kemudian menciumi punggung tangan Santi dan Rio bergantian.
__ADS_1
Adiknya? Kenapa tidak mirip?
Batin Santi.
Aku masih heran. Kenapa adiknya jauh lebih cantik dibanding Kakaknya, sayangnya dia masih terlalu kecil.
Batin Rio.
Rio mengelus rambut Clara dengan lembut. "Berapa usiamu?"
"5 tahun, Om."
Rio tersenyum padanya. "Tidak perlu panggil Om, panggil Kakak saja."
Clara mengangguk. "Iya, Kak."
Pria paruh baya itu terkejut melihat kedatangan mereka, dia langsung berdiri dan membuka sarung tangannya.
"Ada tamu rupanya, silahkan masuk Bu, Pak."
Santi dan Rio langsung masuk kedalam, keadaan kontrakan itu begitu sumpek dan berantakan. Tercium aroma daging dan kuah bakso dimana-mana, hampir setiap sudut ruangan.
Wulan menggelar tikar terlebih dahulu untuk mereka duduk, karena memang tidak ada bangku apalagi sofa.
"Maaf, Pak Rio. Bu Santi, di rumahku tidak ada tempat untuk duduk," ucap Wulan sambil tersenyum.
"Tidak masalah," sahut Santi.
Pria paruh baya itu mengangkat bak adonan bakso.
"Clara, cuci tangan dulu. Tidak enak tanganmu bau." Dia berbicara dengan putri bungsunya yang tengah duduk bersama Santi, Wulan dan Rio diatas tikar.
"Iya Ayah." Gadis kecil itu bangun dan mengikuti langkah kaki sang Ayah menuju dapur.
"Sebentar Bu, Pak Rio. Saya buatkan minum." Kini Wulan juga ikut bangun dan berjalan menuju dapur.
Mata Santi berkeliling melihat sudut ruangan itu. Ada dua kamar disana, mungkin salah satunya adalah kamar pria tua itu, dan kamar Wulan bersama Clara.
Didepan mereka ada lemari kayu untuk tempat televisi berukuran 14 inchi diatasnya. Kipas angin baling-baling diatas kepala Santi dan Rio sampai tidak terasa angin apa-apa. Mereka benar-benar merasa enggap dan kepanasan.
Santi mengkibas-kibaskan kelima jari kearah wajahnya sendiri, sedangkan Rio membuka jas dan meregangkan dasi.
"Mah, kita jangan lama-lama disini ya, aku tidak kuat rasanya," lirih Rio berbisik dengan keringat hampir di seluruh wajahnya.
"Iya, Mamah juga."
Tak lama Wulan, Ayahnya dan Clara datang, ikut duduk bersama. Tangan Wulan memegang nampan yang sudah berisi lima gelas es teh manis, kemudian menaruhnya dibawah. Diantara mereka.
__ADS_1
^^^Kata: 1036^^^