Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 66. Semoga berhasil, Mas


__ADS_3

Rizky dan Reymond masuk kedalam kantor Pratama Group A. Kantor yang dulu Rendi kembangkan hingga melahirkan kantor baru Pratama Group A1. Namun sayang, ketika dirinya sudah sukses dan mendapatkan semuanya, semua itu terhempas dan menjadi milik orang lain. Dua kantor itu dipegang oleh Andre dan Rio tanpa jerih payah apapun, hanya menikmati hasilnya. Sedangkan Rendi sendiri yang sekarang menjadi Reymond, dia bekerja di kantor orang lain.


Reymond melihat sekeliling kantor, dia merasa jadi pusat perhatian semua karyawan. Apa lagi para karyawati wanita, wajah asing yang baru mereka lihat dan terlihat begitu rupawan.


Ternyata semuanya masih sama, sama seperti dulu.


Batin Reymond.


Keduanya menghentikan langkah didepan penjaga resepsionis.


"Selamat siang Pak Rizky, apa Bapak sudah ada janji dengan Pak Rio?" tanya seorang wanita berkacamata.


"Iya, aku ada meeting sekarang," jawab Rizky.


Tak lama Melly datang menghampiri mereka berdua, kedua tangannya memeluk berkas. "Pak Reymond, Pak Rizky. Bapak sudah lama?" tanya Melly.


"Baru saja," sahut Rizky.


"Mari, Pak. Kita langsung saja ke ruang meeting."


Melly mengajak mereka berdua ke ruang yang dimaksud. Didalam sudah ada Dion tengah duduk, beberapa karyawan dan rekan bisnisnya yang lain ikut meramaikan meja dan kursi ruangan itu.


Reymond mencari keberadaan Rio, tapi tidak ada, dia berjalan menghampiri Dion.


"Rio kemana?" tanya Reymond seraya berbisik.


"Pak Rio izin, Pak. Dia menghadiri pernikahan Pak Andra," sahut Dion lirih.


Setelah semuanya selesai dalam berdiskusi dan membahas soal rencana kerjaan. Mereka berempat masuk kedalam ruangan Sekretaris.


Bukankah ini lebih bagus dan menguntungkan bagi mereka untuk mencari informasi tentang Haris? Tanpa adanya sang CEO di kantor?


Reymond dan Melly duduk secara berhadapan terhalang oleh meja. Melly membuka laptopnya untuk mengakses seluruh data dari perusahaan Andra.


"Tunggu ya, Pak Reymond. Semoga tidak terlalu lama," ucap Melly dengan tatapan mata yang sibuk melihat pada layar.


"Oke, tapi pastikan jangan sampai terlewatkan."


"Baik, Pak," sahut Melly.


Rizky dan Dion berdiri berdampingan, "Dion. lu nggak ada kerjaan, kan?" tanya Rizky.


"Maksud Bapak bagaimana?" tanya Dion.


"Pesankan kopi di Cafe untuk gue dan Reymond."


"Baik, Pak." Dion mengambil ponselnya dari saku jas dan segera memesan lewat online.


Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya berhasil semua. Data dari perusahaan Andra masuk kedalam laptop Melly, tidak perlu diragukan lagi. Melly benar-benar wanita sempurna dan pintar, tidak salah jika dulu dia menjadi rebutan Andra dan Rendi untuk mempekerjakannya sebagai sekretaris.


Melly menggeser laptopnya kearah wajah Reymond didepan. "Pak Haris Kurniawan yang Bapak maksud ini, bukan?"


Reymond memperhatikan dengan seksama layar itu. "Iya benar."


Tangannya mengetik keyboard dan mencari-cari informasi sendiri. Setelah ditemukan, memang benar. Andra menjalin kerjasama dengan beliau dan sudah hampir 3 tahunan. Berarti sudah mengenal cukup lama, ada besar kemungkinan dia juga diundang.

__ADS_1


"Bagaimana Rey?" tanya Rizky yang tengah berdiri di samping Reymond.


"Menurut gue sih dia diundang, Riz," sahut Reymond.


"Yasudah. Mending lu suruh orang untuk pantau rumahnya dan ikuti Haris hari ini," ucap Rizky memberikan ide.


Reymond mengambil ponselnya untuk segera menelepon Hersa.


"Selamat siang, Pak Reymond," sapa Hersa.


"Hersa. Sekarang kau kirim beberapa orang untuk ikuti Haris dan Siska, usahakan jangan sampai ada yang tahu. Dan kau harus informasi kemanapun dia pergi, dan satu lagi. Aku juga minta kau kirim beberapa orang menjaga didepan gedung Hotel acara Om Andra," tutur Reymond.


"Baik, Pak. Saya segera laksanakan perintah Bapak," sahut Hersa seraya menutup telepon.


"Kalau menurut gue, kita main cantik saja Rey," ucap Rizky memberikan ide lagi.


Reymond mengerutkan dahi, "Main cantik? Apa maksud lu?" wajahnya terlihat binggung.


"Kita nggak usah culik dia, disana acara pernikahan. Jangan sampai buat keributan, itu sangat berbahaya buat lu. Mending lu jebak Siska saja," jelas Rizky.


"Jebak? Jebak bagaimana?"


"Lu waktu itu dirayu juga, kan?" tanya Rizky.


Reymond menganggukkan kepalanya, "Lu juga bisa rayu dia. Ajak dia ke Hotel atau kemana, itu sangat bagus supaya dia bisa terlepas dari Haris."


"Nggak! Gue nggak mau! Gue jijik sama dia Riz!" umpat Reymond.


"Hanya pura-pura Rey, kalau dia sudah masuk dalam perangkap lu. Kita baru sekap dia!" sergah Rizky.


"Lu ngomong dululah. Bego amat jadi orang," celetuk Rizky.


"Oke deh."


Reymond kembali memegang ponsel dan menelepon Indah, setelah di telepon 4 kali akhirnya diangkat.


"Sayang!"


"Iya, Mas. Ada apa? Aku lagi kerja." Suaranya seperti tidak ingin diganggu.


"Kamu ini apaan sih, nggak penting! Ngapain fokus kerja, kamu sama siapa sekarang?" tanya Reymond.


"Aku sendiri, ada apa?" tanya Indah.


"Perut kamu sakit, nggak?"


Bukannya berbicara intinya, dia malah menanyakan keadaan. Tapi keadaan Indah jauh lebih penting dari apapun menurutnya.


"Nggak, Mas."


"Oya, aku sudah cari informasi tentang keberadaan Jalang sayang. Aku mau nyusun rencana, tapi menurut Rizky. Aku harus main cantik," tutur Reymond.


"Main cantik? Kamu mau main dengannya?" belum apa-apa dia sudah menuduh.


"Bukan sayang, itu tidak mungkin! Jadi aku akan ....," Reymond menceritakan semuanya, supaya Indah tidak merasa salah paham padanya.

__ADS_1


"Nanti kamunya ikut terhanyut," cicit Indah.


"Tidak akan sayang, aku berjanji padamu."


"Oke deh, terserah kamu. Asalkan jangan aneh-aneh saja, aku akan do'akan semoga berhasil, Mas."


"Amin sayang, yasudah. Aku tutup teleponnya, kamu jaga diri baik-baik dan jangan telat makan. Kalau ada waktu beli tespeck untuk mengecek kamu hamil atau nggak, ya?"


"Iya, Mas."


"Aku mencintaimu, sayang."


"Aku juga."


Mereka berdua memutuskan sambungan telepon, setelah semua urusan dengan Melly dan Dion selesai. Rizky dan Reymond pamit pulang.


***


Malam hari, hasil pencarian suruhan Reymond berhasil mendapatkan informasi, kalau Haris dan Siska datang memenuhi undangan pesta pernikahan Andra.


Tak ingin melewatkan semua kesempatan. Rizky dan Reymond ikut datang. Mereka berdua sama-sama sudah rapih dan tampan, setelan jas yang mereka pakai sama-sama berwarna hitam.


Mobil hitam milik Rizky sudah terparkir diarea depan Hotel. Acaranya begitu ramai dan ketat penjagaan.


Reymond dan Rizky berjalan masuk kearah pintu gedung. Namun dicegah oleh kedua pria kekar yang memakai setelan serba hitam, dengan kaca mata hitam dan earphone pada salah satu telinganya,


Keduanya sudah mirip seperti bodyguard, tangannya terlipat diatas dada.


"Maaf, Bapak tidak boleh langsung masuk dulu," ucap salah satu dari pria itu seraya mengerakkan tangan.


"Kenapa? Aku mau masuk. Aku diundang!" pekik Rizky dengan lantang.


"Kalau Bapak, diundang. Coba tunjukkan surat undangannya," pintanya seraya mengulurkan tangan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mau dilanjutin atau digantung aja? Aku nulisnya dadakan soalnya, sabar ya.


__ADS_2