Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 5. Sadis Men!


__ADS_3

"Pak. Kita ke rumah Mamah Sarah ya." Ucapku pada Pak Irwan yang tengah menyetir.


"Baik Nona."


🌸🌸🌸🌸


Di kantor polisi, Santi langsung membawa sang penculik untuk duduk di depan bangku yang sudah ada dua polisi tengah duduk.


"Selamat siang Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi itu dengan tegap berdiri.


Santi langsung duduk. "Duduk kamu!" Seru Santi pada penculik itu yang masih di pegang lengannya oleh kedua pria kekar.


Sang penculik langsung duduk di samping Santi. "Saya ingin memenjarakannya dengan kasus penculikan." Tuturnya.


"Bagaimana kejadiannya Bu?" tanya polisi yang berada di depan Santi.


"Saya bukan seorang penculik!" Bantahnya.


"Diam kau! Penjahat mana ngaku. Penjara bisa penuh!" Santi meliriknya dengan sinis.


"Jadi begini Pak. Saya kan sedang belanja dengan menantu saya. Lalu bla bla bla.................." Santi menceritakan secara detail. Atas hilangnya cucu semata wayangnya, dia mengira cucunya tadi hilang karena di culik oleh pria di sampingnya.


"Benar Anda berniat untuk menculiknya?" tanya Polisi itu menegaskan.


Pria itu menggelengkan kepala. "Tidak Pak. Saya bukan mau culik anak itu, justru anak itu tersesat di supermarket. Saya ingin mengantarnya kepada petugas keamanan, tapi belum sempat saya antar. Bundanya sudah datang dan mengira saya menculik anak dia." Tutur nya berkata sejujur-jujurnya.


"Apa maksudmu? Kau kira menantuku memfitnah mu. Hah?" Santi merasa tak percaya atas pengakuan dari pria itu.


"Apa Anda bisa kasih bukti pada Ibu ini, kalau benar Anda tidak ada niat untuk menculik cucunya?" tanya Polisi itu dengan sedikit mendesak.


"Saya akan telepon teman saya Pak, dia yang akan menjelaskan kalau saya bukan seorang penculik. Saya CEO di perusahaan, saya pria baik-baik, penyayang wanita dan anak kecil." Tuturnya membela diri, seraya mengambil ponsel di celana jeansnya.


Santi berdiri. "Tidak perlu kau memakai alasan!" Santi menatap tajam kepada pria itu.


"Pak Polisi! Tinggal langsung penjarakan dia saja susah amat. Bapak mau banyak kasus penculikan dimana-mana?" Santi berkata seperti berteriak.


"Bu maaf biarkan saya kasih bukti." Ucap pria yang di tuduh itu dengan memelas.


"Benar Bu, coba kasih dia kesempatan untuk memberikan bukti. Baik silahkan Anda hubungi teman Anda." Ucap Polisi.


Pria itu langsung menelepon teman yang di maksud untuk datang ke kantor polisi. Sekitar 30 menit temannya datang.


"Re..... Rey!" Ucap Rizky temannya yang baru datang.


Rizky langsung menatap wajah Santi, dan merasa mengenalnya, "Tante Santi apa kabar?" tanyanya dengan ramah.


"Kau kan?" tunjuk nya sambil mengingat-ingat.

__ADS_1


"Rizky Tante! Temen Rendi." Sahutnya sambil mengerakkan kedua alisnya.


"Oh iya iya... Tante lupa." Dia menepuk pundak Rizky, "Kamu ada apa perlu apa Riz kesini?"


"Ah itu." Dia menunjuk pria yang di sangka penculik. "Dia teman saya Tante, namanya Reymond. Katanya dia di tuduh menculik anak. Apa anak Tante? Tante memangnya punya anak kecil lagi?" wajah Rizky seperti tengah menggoda Santi.


"Tidaklah! Tante sudah tua Riz. Itu anaknya Rendi, cucu Tante yang teman kamu culik!" Tuturnya.


Mata Rizky membulat dan menatap wajah Reymond. "Hahahaha...." Dia tertawa terpingkal-pingkal.


"Ada apa kamu, kenapa tertawa? Memang ada yang lucu?" Santi merasa aneh dengan tingkah Rizky yang tiba-tiba saja tertawa.


"Riz!!!" Seru Reymond sambil melotot.


"Maaf-maaf Tante, Rizky hanya merasa tidak habis pikir kalau Reymond di tuduh menculik anak."


Rizky menunjuk wajah Reymond yang masih duduk. "Lihat Tante. Dia tampan bukan? Dia benar-benar pria tampan!" Ucapnya, sambil mengisyaratkan supaya Santi menatap pria tak berdaya itu.


"Lalu?"


"Tidak mungkin pria setampan dia jadi seorang penculik." Rizky menggelengkan kepalanya.


"Kau gila Riz! Memangnya kalau tampangnya bagus, dia pasti jadi orang baik? Hah?" Santi menatap sinis Reymond.


"Jangan lihat orang hanya dari caver, buktinya banyak kok orang tampan di luar sana jadi penjahat. Ya contohnya pria ini nih." Sindirnya.


Namun justru Rizky terkekeh geli. "Tante..... Tapi Reymond itu pria baik-baik, dia temanku dan CEO di perusahaan ku. Rizky jamin dia bukan orang jahat." Rizky mencoba meyakinkan Santi.


"Aku tidak percaya." Santi memalingkan wajahnya, dia jadi sangat keki pada Reymond. Emak-emak emang selalu benar deh, susah di jelasin juga.


Rizky menghembuskan nafasnya, "Oke Tante gini aja deh, sekarang lepaskan Rey. Tante kasih kesempatan dia kalau dia bukan seorang penculik. Tante percaya deh sama Rizky, Rizky nggak mungkin kan bicara bohong pada Tante."


"Ya sudah deh. Terserah kamu saja, tapi awas saja kalau dia ketahuan menculik cucuku lagi. Ku penggal kepalanya!" Ancamnya dan berlalu pergi.


Sadis men!


Reymond seketika tersenyum dengan lebar. Matanya berbinar-binar, di hatinya begitu sangat bahagia.


"Re...."


"Reymond." Imbuhnya.


"Iya, maksud gue Reymond, ayok pulang! Ngapain lu masih duduk sambil senyum-senyum sendiri. Seneng banget nih kayaknya," ejek Rizky.


"Enak aja lu, gue kesel bego dari tadi. Cuma berusaha nahan aja." Rey bangun dan berpamitan pada polisi, rasanya begitu lega. Hampir saja dia beneran masuk penjara.


Rey masuk ke dalam mobil bersama dengan Rizky. "Rey... Bisa-bisanya tadi Tante Santi nggak sadar ya, parah-parah." Ucap Rizky sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Yang sabar ya Rey.... Hahahaha." Rizky kembali menertawakan temannya seraya menepuk pundak.


Seketika dia menjadi sendu dan air matanya mengalir, "Riz gue tadi ketemu istri gue..."


"Istri." Mata Rizky terbelalak.


"Di mana? Di supermarket tadi?" Reymond mengangguk.


Reymond menyeka air matanya, "Tapi dia nggak percaya gue suaminya, gara-gara wajah ini." Tunjuk Reymond pada wajah barunya, "Apa yang harus gue lakuin, gue rindu padanya,"


Rizky menghela nafas. "Gimana ya Rey, tapi bukannya lu sudah niat bales dendam dulu. Baru mau nemuin istri lu?"


Reymond mengangguk, "Iya memang bener. Tapi kayaknya gue nggak kuat. Gue nggak bisa jalanin hidup gue jadi orang lain, Gue kangen Indah dan tadi gue hanya sebentar memeluk Bayu, dia anak gue Riz...."


"Terus lu mau gimana? Si Jalang aja kita belum tahu keberadaannya, kalau misalkan komplotan Siska orang terdekat lu gimana Rey? Lu mau emang pisah lagi sama Indah?"


Mungkin ada benarnya yang di katakan Rizky, siapapun bisa saja menjadi musuh. Termasuk orang terdekat.


"Gue nggak mau." Sahutnya murung.


"Ah Ren...."


"Reymond. Lu jangan sebut nama itu lagi, dia udah mati!" Dengan cepat Reymond membungkam mulut temannya itu, seperti tengah memperingati.


"Iya-iya sorry bro. Gue punya cara supaya lu bisa kumpul lagi dengan anak dan Istri lu...." Tuturnya memberi ide brilian.


"Apa?"


"............." Reymond mengangguk-angguk.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2