
Beberapa menit, lima orang karyawan masuk dan berdiri secara berjejer menyamping.
"Kalian liat rekaman ini, apa ada dua orang di antara kalian yang berada di sana." Ucap Nissa mengarahkan laptop ke lima karyawannya, karyawan itu juga langsung melihat rekaman itu.
"Yang merasa bisa acungkan tangan." Dua orang karyawan itu mengacungkan tangannya, mereka berdua adalah Ali dan Andi.
"Selain Ali dan Andi kalian bertiga boleh keluar." Tiga karyawan itu keluar dari ruangan CCTV.
"Apa kalian mendengar percekcokan di antara mereka?" tanya Harun kepada Ali dan Andi.
"Iya Pak, saya mendengar dengan jelas." Sahut Ali, dia juga menceritakan apa yang dia dengar.
"Oke saya nanti akan minta kalian berdua bersaksi di polisi." Ucap Harun lagi.
"Saya nggak mau Pak." Jawab Andi merasa takut.
"Kalian nggak perlu khawatir, kalian cukup berbicara dengan jujur. Hanya itu saja, karena kalau tidak. Nona Indah akan masuk penjara." Ucap Harun menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
"APA? Bapak serius?" Sahut Nissa kaget. "Apa masalahnya sampai sepanjang ini?"
"Iya Bu, mangkanya saya minta untuk kerjasamanya,"
"Ya sudah mending sekarang kalian ikut pak Harun ke kantor polisi." Ucapnya menyuruh kedua karyawannya, Harun kemudian meminta Nissa untuk mengirimkan rekaman itu ke laptopnya, Harun kemudian pergi bersama Ali dan Andi ke kantor polisi.
***
Indah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk dan langsung memakai baju tidur celana pendek. Dia melihat jas Rendi yang masih ada di pinggir kursi, Indah tidak menghiraukannya, dia turun tangga untuk ke meja makan. Rendi juga ada di sana, rupanya Rendi sedari tadi belum makan dan menunggu Indah untuk makan bersama.
Kok ini orang belum pulang juga sih.
Gumamnya, dia duduk di depan Rendi dan mengambil beberapa nasi serta lauk di atas piring, Rendi juga mengikutinya.
Tiba-tiba suara bel berbunyi, tak lama bi Mia membuka pintu dan membawa beberapa paper bag di tangannya, "Pak ini dari mas Dion, mau taruh di mana?" tanya bi Mia menghampiri Rendi yang sedang makan.
"Kamar Indah." Sahutnya dengan makanan yang masih di mulut.
"Tadi apaan Mas?" tanya Indah.
"Bajuku, malam ini aku tidur di sini." Sahutnya menyelesaikan makan. Kemudian dia berjalan naik tangga dan masuk ke kamar Indah untuk mandi.
Sudah kuduga, tapi bagus deh. Malam ini aku bisa bicara masalah perceraian dengannya.
Selesai mandi dan memakai baju, Rendi melihat ponsel Indah berdering di atas meja. Dia langsung menjawabnya, "Hallo Indah, ini aku Rio." Ucapnya dari telepon.
Ngapain Rio telepon Indah?
Gumam Rendi terdiam, lalu Rio berkata lagi. "Indah gimana kabar lu? Kata mamah lu sudah keluar dari rumah sakit ya?"
__ADS_1
"Iya, Indah baik-baik saja." Jawab Rendi tiba-tiba.
"Eh kak Rendi."
"Ada apa Rio?"
"Indahnya di mana? Gue mau ngobrol sama dia."
Apa dia lupa kalau Indah adalah istriku.
Gumam Rendi sambil mengerutkan bibirnya,
"Indah lagi makan." Rendi langsung mematikan teleponnya.
Tok.. Tok.. Tok, suara ketukan pintu kamar.
"Mas apa aku boleh masuk?" tanya Indah dari balik pintu.
"Masuklah." Sahut Rendi sambil mencari-cari sesuatu di meja rias.
Indah membuka pintu. "Mas kamu cari apa?" tanya Indah menghampiri Rendi.
"Hair dryer kamu taruh di mana?" tanyanya dan membuka beberapa laci yang kebanyakan isinya kosong.
"Aku nggak punya Mas."
"Ya keringkan pakai handuk lah."
Bukannya rambut Indah panjang ya, gimana bisa cepet kering.
"Kamu ini aneh, aku yang laki-laki saja punya. Masa kamu nggak." Ucap Rendi mengejek dan mengusap-usap rambutnya dengan handuk.
"Dulu aku punya, terus aku jual. Lagian nggak terlalu penting, nanti juga kering sendiri rambutnya," Indah kemudian duduk tepi ranjang.
"Oya Mas...."
Ah, aku kok jadi takut gini ngomongnya.
"Ada apa?" tanya Rendi duduk di dekat Indah. Dan membuat jantung Indah kembali berdebar-debar.
"Mas, geseran sedikit. Kayaknya kita terlalu dekat." Rendi menggeserkan satu jengkal bokongnya.
"Eemm..." Indah menggenggam jari tangannya, "Aku pengen kita cerai Mas."
"APA?" Ucap Rendi dengan mata terbelalak.
"Kamu ini lupa? Kamu nggak bisa minta cerai sama aku." Rendi kembali mendekat pada Indah, pipi Indah menjadi memerah dia langsung berdiri dan berkata. "Emang iya Mas, tapi kalau kamu yang ceraikan aku kan bisa."
__ADS_1
"Aku nggak mau." Ucapnya tegas.
"Tapi Mas, bukannya ini yang terbaik buat hubungan kita?" tanya Indah duduk di kursi.
"Aku bilang nggak ya. Nggak!"
Cih! Susah banget ngomong sama orang yang keras kepala.
"Aku nggak mau Mas gara-gara aku menganggu hubunganmu dengan Siska, aku jadi di penjara. Lebih baik kita bercerai saja," ucap Indah melanjutkan
"Kamu mabuk? Apa kepalamu sakit?" tanya Rendi kemudian menempelkan tangannya kening Indah. "Tapi kening kamu nggak panas?"
"Mas aku serius."
"Aku juga serius. Aku nggak mau kita bercerai." Ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
Haduh terus gimana? Apa besok aku ke restoran bersama Nella ya untuk cari bukti supaya aku nggak masuk penjara.
Gumam Indah melamun. Kemudian Rendi merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
"Kamu sampai kapan bengong terus, mending kamu tidur." Ucap Rendi tiba-tiba.
"Ah iya Mas." Indah berdiri dan melangkahkan kaki dan memegang gagang pintu lalu membukanya,
"Kamu mau kemana? Aku kan suruh kamu tidur." tanya Rendi menoleh ke arah Indah.
"Iya ini aku juga mau tidur di kamar mamah, selamat malam Mas."
"Eh tungg...." Indah langsung keluar dan menutup pintu. "Hah." Rendi mengela nafas, "Padahal kan aku mau tawarin dia tidur bareng di kasur." Ucap Rendi mengusap-usap seprei.
***
Keesokan harinya, Siska pagi-pagi mendapat telepon dari pengacaranya yang berkata kalau tuntutannya untuk Indah sudah di cabut oleh pihak polisi karena sudah ada saksi dan bukti kalau Siska melaporkan dengan cara berbohong. Jadi, pihak polisi menyuruh Siska untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan.
"AH BRENGSEK." Teriak Siska geram.
Apa lagi yang harus aku lakukan supaya bisa balikan dengan Rendi?
Siska membuka laptop dan searching lowongan pekerjaan menjadi model, dan dia mendapatkan beberapa perusahaan kosmetik yang membutuhkan brand ambassador. Lalu dia berencana untuk datang ke sana hari ini dan melamar.
***
Di waktu yang sama Rendi dan Indah sedang sarapan nasi goreng bersama. "Kamu hari ini pulang ke rumahku kan?" tanya Rendi, Indah mengangguk.
Setelah selesai sarapan Rendi menunggu Indah di dalam mobil, tak lama Indah datang dan masuk ke mobil dengan membawa tas di bahunya, tas itu terlihat sangat koyak dan ada sedikit lubang karena goresan di aspal pas dirinya kecelakaan.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
...💜Jangan Lupa Like💜...