
"Aaaaahhhhh ... Yes! Goyanganmu begitu nikmat, Anna ... Lebih cepat lagi," suara racau keluar dengan lantang, terdengar seperti suara Rizky.
"Aaahhhh ... Kau juga begitu perkasa, Riz ....," sahut seorang wanita sambil mendesah.
Glek.....
Reymond menelan salivanya begitu kasar.
Dasar mesum! Ternyata si Rizky bego lagi mantap-mantap, didalam sana. Masih sore juga! Padahal aku mau meminjam kamarnya.
Gerutu Reymond.
Mata Bayu terbelalak. "Ayah. Om Iki agi apa di dalam?" tanya Bayu.
"Dia lagi olahraga, sayang. Kita nggak boleh mengganggunya," lirih Reymond berbisik.
Reymond mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, dia kembali turun tangga dan menemui Indah yang sedang meminum jus.
"Sayang, bagaimana kalau kamu rebahan di kamarku saja," ucap Reymond seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Indah langsung mengangkat bokongnya dan meletakkan gelas jus diatas meja.
"Lho kenapa? Aku tidak boleh rebahan disana? Tapi aku pengen, Mas," pinta Indah seraya mengusap-usap perut.
Aku kasih alasan apa? Tidak mungkin aku bilang si bodoh itu sedang tempur.
Batin Reymond.
"Dia sedang tidur sayang, tidak enak kalau di bangunin."
"Dengan Anna pacarnya?" tanya Indah.
Reymond mengerutkan dahi. "Anna? Aku tidak tau, memangnya ada dia juga?"
"Lho, kamu juga kenal sama dia?"
"Iya, dia pacarnya Rizky."
Jalangnya baru benar.
Batin Reymond.
"Bagaimana? Kita ke kamarku saja, disana juga sama kok. Nyaman sayang, ada aroma tubuhku juga, kamu bukannya suka dengan aroma tubuhku?" tanya Reymond seraya merangkul Indah, mengajaknya menaiki anak tangga.
"Yasudah deh, tak apa," sahut Indah dengan pasrah.
Kini mereka bertiga sudah masuk kedalam kamar Reymond. Jelas sekali kamarnya berbeda, ruangan kamar Rizky jauh lebih luas. Karena disana adalah kamar utama. Reymond hanya tinggal dikamar tamu, tapi barang-barang miliknya masih tertata dengan rapih.
__ADS_1
Bayu sudah lompat-lompat diatas kasur itu, Indah berjalan masuk kedalam kamar mandi. Yang berada di pojok ruangan itu.
"Mas aku mau mandi dulu, apa aku bisa minta tolong ambilkan pakaian gantiku didalam koper, Mas?" pinta Indah yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Bayu turun dari kasur dan berlari seraya memeluk lutut Indah. "Bayu uga mau mandi, Bunda!"
"Oke sayang. Kita mandi," sahut Indah seraya menutup pintu.
"Sama pakaian Bayu juga, Mas," pekik Indah.
"Iya, sayang."
Reymond langsung buru-buru turun dari tangga dan berjalan keluar, bukan hanya Bayu saja yang ingin ikut mandi. Dalam hatinya juga ingin mandi bersama dengan Indah.
Mending aku bawa kopernya saja sekalian, biar Indah langsung memilih sendiri.
Batin Reymond
Tangannya sudah mengambil satu koper pada bagasi mobil, bukan dia dorong itu koper. Melainkan diangkat, karena supaya cepat masuk lagi ke kamar.
Baru saja melepaskan jas dan melemparkannya pada kasur, tiba-tiba bunyi suara notifikasi pesan masuk.
Ting ....
💬
From : Mamah Malaikatku
Rey, tadi Mamah sudah melihat hasil tes DNA kamu dan Bayu. Tapi kenapa hasilnya semua TIDAK COCOK?! Kamu juga disana mempunyai golongan darah O. Sedangkan Rendi harusnya berdarah AB, sama dengan Ayahmu dan juga Bayu.
Apa ini?! Pasti ada yang merekayasa. Sepertinya memang benar kata Hersa, ada orang yang mengikuti aku, orang itu juga sudah tau aku Rendi.
Batin Reymond.
Reymond memencet layar ponsel untuk menelepon Harun.
"Halo, selamat sore. Pak," sapa Harun.
"Harun kau bisa tidak ke rumah Rizky? Ajak Hersa juga, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," perintah Reymond.
"Baik, Pak. Saya segera kesana sekarang."
Reymond menutup sambungan teleponnya dan menaruh ponsel diatas kasur, tangannya perlahan membuka pintu lemari. Dia seperti mencari-cari sesuatu.
Ceklek.....
Indah dan Bayu sudah menyelesaikan mandinya, "Ayah! Bayu udah mandi!" seru Bayu dengan senang.
__ADS_1
"Iya, sayang. Kamu sudah wangi, ya," sahut Reymond sambil menoleh, tapi tangannya masih didalam lemari.
Bayu, Indah dudukkan diatas kasur. Tangannya meraih koper untuk mengambil pakaian ganti untuk dia dan anaknya.
"Mas, kamu cari apa? Kok kayak sibuk banget?" tanya Indah seraya berjalan mendekati dengan memakai lilitan handuk diatas dada.
Tangan Reymond melingkari pinggulnya, "Sayang, aku mau lihat data-dataku pas kecelakaan itu. Tapi kok tidak ada, ya? Apa aku lupa menaruhnya?"
"Lho ... Memang buat apa, Mas?"
"Tadi, Mamah bilang hasil tes DNA aku dan Bayu tidak cocok sayang. Aku juga disana bergolongan darah O, padahal aku AB. Aku ingat waktu dulu, sempat kekurangan darah. Ada datanya juga, tapi berkasnya aku lupa taruh dimana," keluh Reymond.
Lemari dari atas hingga bawah sudah acak-acakan, dia tidak berhasil menemukan apapun.
"Mungkin Pak Rizky yang menyimpan, coba kamu tanya dia, Mas."
Reymond mencium rambut Indah sekilas. Iya, kau benar, aku ke kamar Rizky dulu."
Baru juga melangkah, tapi kakinya terhenti kala mengingat sedang apa Rizky didalam sana.
Hah! Tapi si bodoh itu pasti belum selesai dengan aktivitasnya, aku juga ingin tempur, bodoh! Juniorku sudah sesak. Apalagi lihat Indah habis mandi begini. Nafsuku sudah ada di ubun-ubun, tapi aku ada perlu sama Harun dan Hersa dulu.
Batin Reymond.
"Aku mau mandi dulu, deh sayang. Kamu habis ini rebahan saja, katanya mau rebahan." Kaki Reymond sudah melangkah menuju pintu kamar mandi.
"Iya, Mas. Kamu mau di aku pilihkan pakaian, ganti?"
"Boleh, sayang."
Setelah beberapa menit berlalu, Harun dan Hersa sudah duduk diatas sofa ruang tamu. Reymond sudah menyelesaikan mandinya dan mengenakan celana jogger dengan kaos putih polos lengan pendek, pakaian tadi yang Indah pilihkan.
Dia menuruni anak tangga dan menemui mereka berdua, sedangkan Rizky sedari tadi belum keluar kamar sampai sekarang.
"Sore, Pak Reymond," sapa mereka berdua seraya berdiri.
"Sore." Reymond langsung duduk di sofa single.
Di atas meja sudah ada dua cangkir kopi panas dan laptop milik Harun, Reymond juga meminta Bibi untuk membuatkan dirinya kopi.
Reymond duduk menyilang kaki. "Hersa, jadi bagaimana? Kenapa sampai sekarang orang suruhanku belum berhasil menangkap Anton?! Bukannya itu hal yang mudah?"
"Semenjak Jalang terbunuh, Anton sudah mengundurkan diri jadi asisten Pak Andra dan dari kantornya juga. Saya tahu dari orang suruhan kita, kalau dia pergi ke luar kota. Dia seperti sudah tau kita akan menangkapnya, dan sekarang dia kabur," jelas Hersa.
"Bagaimana kalau kita laporkan kasus ini ke polisi saja, Pak. Kita juga bisa memasang foto Anton dimana-mana sebagai tersangka," ucap Harun memberikan usul.
"Berarti kalau begitu, aku juga harus jujur pada kantor polisi kalau aku Rendi, begitu?" tanya Reymond seraya mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Iya, Pak. Penjahatnya saja sudah tau keberadaan Bapak dan sudah tau siapa Bapak. Sekarang identitas Bapak yang asli harus dibuka saja, tidak perlu ditutup-tutupi lagi," tutur Hersa.
^^^Kata: 1018^^^