Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 29. Buatan Wulan


__ADS_3

Wanita itu menoleh dan menjawabnya dengan anggukan kepala. Ia langsung keluar dari kamar itu dan kembali menuju meja makan.


"Lho ... kok dibawa lagi? Kenapa?" tanya Santi.


"Mas Rio tidak mau makan ini, Mah. Yang ini biar nanti buat aku saja," sahut Wulan.


Kepala Santi ikut memutar, melihat Wulan yang berjalan menuju dapur. Santi menyelesaikan makannya yang hanya beberapa sendok itu, lalu meminum air putih.


"Kau mau apa ke dapur?" Santi berjalan menghampiri Wulan.


Menantunya sedang membuka kulkas untuk mengambil beberapa bahan untuk membuat nasi goreng.


"Aku mau membuat nasi goreng, Mah."


"Buat siapa? Rio?" tebak Santi.


"Iya."


Segera Santi mengambil pisau yang dipegang oleh Wulan, padahal hendak memotong bawang merah.


"Biar Bibi saja yang buat."


"Jangan Mah, biar aku saja. Nanti ...."


Krukuk-krukuk.....


Cacing didalam perut Wulan sudah berdemo, meminta jatah makan malam. Bahkan keringat pada dahinya sudah mengalir, antara menahan rasa lapar dan rasa takut.


"Itu kamu sudah lapar, makan dulu," titah Santi.


Kalau nasi goreng ini bukan aku yang buat, nanti Mas Rio akan marah lagi padaku. Tidak, tidak. Aku tidak mau berantem lagi ... ini juga di rumah orang tuanya, aku malu.


Batin Wulan.


"Mas Rio bilang ...." Belum sempat selesai menjawab ucapan dari Santi, lengan Wulan sudah ditarik oleh mertuanya menuju meja makan dan duduk di kursi.


"Mamah tau kau melakukan ini karena mendengarkan perintah dari Rio. Mamah juga senang kamu menurut padanya. Tapi, jangan begini. Kau harus ingat kesehatanmu, biarkan Bibi yang buat. Kamu makan saja," jelas Santi memaksa.


Rasanya begitu dilema, antara menuruti omongan Santi atau tidak. Tapi memang perutnya begitu lapar.


Walau masih terngiang-ngiang suara Rio yang lantang, ia memutuskan untuk makan.


Sedari tadi Indah memperhatikan wajah Wulan. Ingin bertanya, tapi merasa tidak enak.


Apa sikap Rio pada Wulan, sama dengan sikap Mas Rendi padaku dulu? Kalau memang benar, kasihan Wulan.


Batin Indah sambil melihat kearah suaminya, Reymond juga ikut menoleh dan tersenyum padanya.


"Oya, Mah ... Pah, sayang ...," ucap Reymond. "Besok setelah sarapan kita kumpul di ruang tamu, ya ... ada hal yang ingin aku bicarakan pada kalian semua."


"Bicara apa, Mas?" tanya Indah.


"Besok aku beritahu sayang."


"Iya, Mas."


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Bibi pembantu sudah berada didepan kamar Rio, ia sudah membawa nampan yang berisi sepiring nasi goreng.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk!" pekik Rio.


Ceklek.......


Mata Rio mendelik kala melihat wanita yang ia kira adalah istrinya, tapi ternyata bukan.


"Pak Rio, ini nasi gorengnya," ucap Bibi dengan sopan seraya menaruh nampan itu diatas meja.


"Kok Bibi yang bawa?! Dimana istriku?" tanya Rio.


"Nona Wulan sedang makan, Pak."


"Makan?! Enak saja dia makan duluan. Aku saja belum makan!" gerutu Rio.


"Kalau begitu Bibi permisi du-"


"Ini nasi goreng siapa yang buat?" tanya Rio cepat, tangannya sudah memegang piring.


"Bibi, Pak."


"Ish ... aku tidak mau! Bawa lagi saja!" Tangan Rio terulur memberikan piring itu kearah pembantunya.


"Baik, Pak."


Baru saja keluar dan membuka pintu kamar Rio, ia melihat Santi tengah berdiri dengan tangan yang terlipat diatas dada.


"Bu Santi ...."


"Kenapa itu dibawa lagi?!" tanya Santi dengan nada lantang, sengaja supaya Rio mampu mendengar suaranya dari dalam.


"Pak Rio bilang tidak mau, Bu."


Rio ini menyebalkan sekali, apa sih maunya.


Batin Santi.


Santi mengambil sepiring nasi goreng itu dan berjalan masuk kedalam kamar anaknya. Terlihat Rio sudah bercucuran keringat, entah karena kepanasan atau karena takut melihat wajah Santi yang sudah masam.


"Mamah ...."


Santi menarik nafas dan perlahan membuangnya, ia mengusap-usap dadanya sendiri. Mencoba untuk tidak marah-marah dan mengontrol emosi.


"Rio. Tadi kata Wulan kamu mau makan malam di kamar, benarkan?" tanya Santi seraya menaruh sepiring nasi goreng itu diatas meja.


"Iya, Mah." Nada suara Rio terdengar begitu lembut dan halus.


"Kau sebenarnya mau makan malam dengan apa?! Wulan sudah membawa nasi dan lauk! Tapi kau menolaknya, kau bilang ingin nasi goreng ...." Santi menunjuk nasi goreng yang sedari tadi diam itu, "Itu nasi goreng! Sudah ada didepan mata kepalamu! Tapi kau tadi bilang tidak mau ... jadi, apa maumu?!"


"Mamah ... aku ingin nasi goreng buatan Wulan, nasi goreng itu buatan Bibi, jadi wajar Rio nggak mau," elaknya.


"Memang apa bedanya?"

__ADS_1


Rio mulai berfikir dan mencari alasan, "Ya ... jelas beda, Mah. Kan yang buatnya saja orang yang berbeda ...."


"Oh jadi ... hanya karena itu? Bukan karena nasi goreng buatan Wulan jauh lebih enak?" tebak Santi sambil tersenyum sinis.


"Ya ... ya ...."


Tok ... tok ... tok.


Bunyi ketukan pintu menghentikan jawaban dari Rio.


"Masuk," ucap Santi.


Ceklek.......


Kali ini Wulan yang datang, dia membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan teh manis hangat. Dari kejauhan mata Rio sudah berbinar-binar menatap nampan itu. Namun ketika Wulan melihat kearahnya, Rio segera memalingkan wajah.


"Mah ... Mas, maaf aku menganggu kalian. Ini ... aku bawa nasi goreng."


"Kenapa kau bawa nasi goreng lagi? Itu saja belum di makan." Santi melirik nasi goreng diatas meja.


"Iya, Mah. Tapi ini nasi goreng buatanku. Siapa tau Mas Rio ingin ...."


"Bawa kesini cepat," ucap Rio dengan ketus, menyela ucapan Wulan.


"Iya, Mas." Wulan segera memberikan piring itu pada Rio.


Pria itu sudah melahap nasi goreng dengan fokus dan anteng. Wulan menaruh nampan yang masih berisi segelas teh manis hangat diatas meja.


"Nanti nasi goreng itu biar Bibi yang bawa ke dapur, Wulan," titah Santi.


"Iya, Mah," jawab Wulan.


"Dan kau Rio ... bersikaplah yang baik pada Wulan, dia ini istrimu ... lembutkan nada bicaramu padanya, dia wanita yang penurut dan baik," tegur Santi.


Rio pura-pura tidak mendengarkannya, ia masih fokus makan.


Kalau Mamah terus memujinya, dia makin terbang ke udara.


Batin Rio.


"Yasudah, Mamah mau istirahat," pamit Santi.


"Selamat malam, Mah," ucap Wulan.


"Malam." Santi mengelus rambut Wulan dan berjalan keluar dari kamar Rio.


Setelah Rio menyelesaikan makan dan minum, Wulan menaruh bekas makannya itu menuju dapur. Kemudian naik lagi ke lantai dua untuk masuk kedalam kamar Clara, ingin mengecek apakah Adiknya sudah tidur atau belum.


Ternyata gadis kecil itu tengah tertidur dengan pulas sambil memeluk boneka beruang berukuran sedang, dari Indah.


Wulan menarik selimut, untuk menyelimutinya sampai diatas dada. Kepalanya membungkuk mencium kening Clara.


Cup .......


"Kakak sayang Clara, cepat sembuh ya, sayang ... Kakak tidak mau kamu sakit-sakitan terus," lirih Wulan pelan.


Aku malam ini tidur dimana, ya? Ah lebih baik disini saja. Pasti Mas Rio juga tidak mau sekamar denganku.


Batin Wulan.


Ia ikut membaringkan tubuhnya, disamping Adiknya. Perlahan matanya terpejam dan mulai tertidur lelap.

__ADS_1


^^^Kata: 1034^^^


__ADS_2