
"Kau tidak mau memaafkan, Om?" tanya Aji sekali lagi, ia melihat tak ada tanda-tanda Rio menggubris ucapannya. "Rio."
"Lupakan saja, Pak. Lagian itu sudah berlalu," sahut Rio dengan datar, ia bahkan sama sekali tak melihat pada Aji. Pandangan mata Rio fokus pada istrinya yang tengah makan.
Mau dimaafin juga percuma. Aku tidak yakin, dia dan Papah sama saja. Sama-sama orang jahat' batin Rio.
"Oya ... apa besok kau sibuk? Apa Om boleh datang ke kantormu?"
"Mau apa? Kita 'kan tidak pernah punya urusan," ketus Rio.
"Justru itu, Om ingin menjalin kerjasama denganmu. Om juga tau sekarang kinerjamu sama bagusnya seperti Reymond."
"Maaf, bukan aku menolak. Tapi untuk sekarang, aku ingin fokus sama rekan bisnisku yang sudah lama saja, Pak."
Susah sekali membujuknya, benar kata Pak Mawan waktu itu.
Aji kembali memutar ide, mencari pembahasan lain supaya bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Rio.
"Eemm ... apa kau tau Rio, apa saja yang dilakukan oleh mamahmu pada Mitha?"
"Iya."
"Kasihan dia, Om ikut pusing memikirkan masa depannya." Aji memperlihatkan wajah sedihnya, seakan meminta iba dari Rio. Tapi sayangnya pandangan Rio hanya fokus pada Wulan saja, tidak beralih sama sekali.
"Bapak di sini jangan hanya menyalahkan mamah. Aku tau mamah salah, tapi mulut Mitha juga sudah keterlaluan."
"Mitha melakukan itu karena mencintaimu, Rio."
"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Ucapan dari Aji sontak membuat Wulan tersendak nasi yang baru saja masuk.
"Hati-hati makannya, Wulan. Ini minum dulu." Rio memberikan minuman milik Wulan, ia segera menyedotnya secara perlahan.
"Rio, Wulan. Wah ... nggak nyangka kalian dateng, terima kasih." Sang pengantin laki-laki yang sedari tadi mereka mencari akhirnya datang sendiri menghampiri Rio dan Wulan.
Mereka berdua berdiri, Rio segera menjabat tangan Rizky.
"Selamat ya, Kak," ucap Rio.
"Iya."
"Semoga langgeng Pak Rizky, tapi Pak Rizky menikah dengan siapa?" Wulan menoleh ke kanan dan kiri seakan mencari pengantin wanitanya, tapi tidak berhasil menemukannya.
"Sama Nella."
Nella? Apa mungkin Mbak Nella? Ah tidak-tidak, aku rasa tidak mungkin dia' batin Wulan.
__ADS_1
"Ya sudah ya, Kak. Aku dan Wulan pulang dulu," pamit Rio.
"Lho, kok kamu pulang. Om belum selesai mengobrol denganmu," ucap Aji seraya berdiri, ia seakan tak rela Rio pulang begitu saja.
"Bagiku tidak ada yang musti kita obrolin, Pak," jawab Rio ketus. Ia menarik senyum pada Rizky, Wulan juga melakukan hal yang sama.
"Kalian hati-hati," ucap Rizky saat melihat mereka berdua berlalu pergi dari hadapannya.
***
Sore hari di kantor Hermawan.
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan dari balik ruangan Mawan terdengar begitu jelas. Mawan tengah sibuk menatap layar laptopnya.
"Masuk!" pekiknya.
Ceklek~
Ternyata yang datang adalah Jojo sang asisten, tapi Jojo datang tidak sendirian melainkan bersama beberapa top model di kantor Mawan. Memang Mawan yang menyuruh Jojo untuk membawa mereka semua kehadapannya.
"Sore Pak Mawan, maaf hanya sembilan wanita. Mitha sudah pulang duluan, jadi tidak sempat saya suruh kemari," kata Jojo memberitahu.
"Biarkan saja, dia tidak penting." Mawan melipat laptop dan memperhatikan beberapa wanita cantik dan seksi yang tengah berjejer dihadapannya. Mereka semua tersenyum manis padanya.
"Bagaimana, Pak? Apa Bapak ingin berkencan dengan salah satu dari mereka?" tanya Jojo.
Memang Jojo yang menyarankan pada bosnya untuk mencari kesibukan lain, dari pada mulutnya terus menerus mengoceh nama Santi. Bukan karena Jojo bosan mendengarnya, hanya saja ia merasa kasihan gara-gara keterpurukan sang bos.
Mawan menjawabnya dengan gelengan kepala, sembilan wanita itu tidak ada yang mampu menarik perhatiannya.
"Suruh mereka keluar," titah Mawan.
"Baik, Pak." Jojo mengangguk dan menyuruh mereka semua keluar dari ruangan Mawan.
Sepeninggal para model, Jojo mendekati sang bos. Ia memijit kedua bahunya, sedikit meredakan beban hidup pria tua itu.
"Bapak tidak datang ke acara Pak Rizky? Pak Rizky menikah dengan anaknya Pak Sofyan."
"Aku mau datang, tapi aku tidak punya pendamping, Jo. Aku sedih," lirihnya dengan sendu.
"Jangan seperti itulah, Pak. Saya yang akan menemani Bapak nanti," ucap Jojo menyemangati. "Apa Bapak mau dicarikan calon? Nanti saya akan cari yang seperti Bu Santi."
"Mana bisa kau dapatkan yang seperti Santi?" Mawan menoleh ke arah Jojo, ia sedikit mendongak dengan wajah tak percaya. "Tidak akan ada, Jo. Dia hanya satu di dunia," lirihnya.
__ADS_1
"Aku menyesal, hidupku sudah sia-sia sekarang," tambahnya lagi, ia makin terenyuh meratapi nasibnya.
"Eemm ... bagaimana nanti malam kita ke Bar saja? Semenjak Bapak menikah dengan Bu Santi, Bapak tidak pernah ke sana. Bapak bisa cari hiburan dan bersenang-senang." Jojo masih berupaya untuk memberikan solusi untuk masalah Mawan.
Benar juga, aku sudah lama tidak ke sana. Mungkin aku bisa bersenang-senang dan melupakan rasa rinduku pada Santi. Ya, walau sebentar.
"Yasudah, kita ke acara Rizky dulu. Habis itu kita ke Bar." Mawan langsung berdiri, ia mengambil ponselnya dan mengantonginya di dalam kantong celana bahan.
"Baik, Pak."
***
Beberapa bulan kemudian.
Kandungan Wulan sudah masuk usia sembilan bulan. Ia tak lagi merasakan mual saat berhubungan badan dengan Rio walau sang suami polos tanpa sehelai benang pun.
Rio dan Wulan masih melakukan aktivitas bercintanya di pagi hari yang cerah ini dengan posisi Rio memangku Wulan. Posisi yang sama seperti waktu di rumah sakit. Karena bagi Rio, posisi seperti itu membuat mereka masing-masing nyaman.
"Mas ... pelan-pelan mainnya," desah Wulan dengan nafas yang tersengal-sengal, ia merasakan guncangan hebat yang Rio lakukan dari belakang.
"Tentu, ini sudah main pelan-pelan, kok," jawab Rio seraya memperlambat permainannya, ia mengecupi bahu Wulan yang sudah basah terkena cucuran keringat.
"Apa enak rasanya?" Rio berbisik dan menjilati telinga sang istri, hingga membuat Wulan menggeliat.
"Ah, geli Mas!"
"Geli-geli enak, kan?" Rio kembali mengguncangnya dengan cepat sampai akhirnya ia dan Wulan sama-sama berada di puncak kenikmatan.
Rio segera menekan miliknya dan mendekap tubuh Wulan dari belakang, tak lupa ia meraba perut buncit istrinya.
"Aahhhh ...." Desa han panjang Rio terdengar begitu nyaring mengisi ruang kamar. "Ayah beri kamu vitamin, Sayang."
Mereka langsung lemas tak berdaya, Rio segera membantu Wulan untuk berbaring disebelahnya, ia juga tau kalau istrinya saat ini sudah kelelahan.
"Apa kau capek?" tanya Rio dengan deru nafas yang tersengal-sengal, ia menyeka keringat pada dahi istrinya.
Wulan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, ia sibuk mengatur nafasnya yang tersendat-sendat. Tadi dirinya juga mencapai pelepasan berbarengan dengan Rio.
"Tidak apa-apa, ini olahraga untukmu juga. Supaya si kembar cepat lahir ke dunia." Rio kembali meraba perut Wulan dan mendekatkan bibirnya seraya mengecup.
Cup~
Setelah mendapatkan kecupan dari Rio, tiba-tiba saja Wulan merasa perutnya kram dan langsung berubah menjadi sakit.
"Aaww!!" jerit Wulan seraya memegangi perutnya, ia sudah meringis kesakitan.
__ADS_1
Jangan lupa like 💕