
"Wu-Wulan ... Ayah akan jelaskan semuanya padamu, kamu ikut dengan Ayah dulu," sela Wahyu seraya menarik lengan anaknya, mengajaknya untuk masuk kedalam kamarnya.
Ia tak mau membiarkan kedua wanita itu memanas karena merebutkan siapa kakak kandung dari Clara.
Wulan menghempaskan bokongnya diatas tempat tidur, bersebelahan dengan Wahyu. Pria tua itu menatap lekat wajah Wulan, tangannya menyeka keringat pada dahi putrinya. Ia tau saat ini Wulan seperti emosi, tapi kalau bukan sekarang dia jujur, mau sampai kapan?
"Wulan, maafkan Ayah sebelumnya. Ayah telah berbohong padamu," ucapnya dengan hati-hati.
"Bohong? Bohong apa Ayah?"
"Yang dikatakan Nona Indah benar, Clara adiknya. Dia bukan adik kandungnya."
Wulan tersenyum miring dan geleng-geleng kepala. "Ayah ini bicara apa? Jelas-jelas dulu Ayah yang membawa Clara dari rumah sakit saat Bunda meninggal," bantahnya.
"Iya, tapi saat itu Ayah berbohong padamu. Sebenarnya bunda dan adikmu meninggal, Wulan." Wahyu mengedipkan matanya yang sudah berair, perlahan-lahan buliran air itu mengalir pada pipinya. "Adikmu meninggal bahkan saat didalam kandungnya, bunda belum berhasil melahirkan dan dia sudah kehilangan nyawa, Wulan. Mereka meninggal bersama."
Deg!
Netra Wulan membola sempurna, pandangan matanya gusar dan bibirnya ikut bergetar.
"Dan di hari dimana bunda dan adikmu meninggal, di hari yang sama juga Ayah datang ke panti asuhan." Wahyu bangun dari duduknya dan mengelus rambut Wulan pelan. "Sebentar ... Ayah akan ambil buktinya."
Pria tua itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Wulan. Selang beberapa menit ia kembali dengan membawa berkas yang sudah di sampul berwarna biru. Berkas itu adalah surat perjanjiannya pada pihak panti untuk mengadopsi Clara.
Wahyu kembali duduk disebelah anaknya, Wulan masih diam dengan tatapan kosong. Ia menaruh berkas itu diatas kedua paha putrinya. "Ini baca."
Dengan tangan yang sudah bergetar Wulan perlahan membuka satu halaman dari berkas itu. Ia membaca dengan hati-hati dan perlahan air matanya berjatuhan hingga membasahi kertas putih itu.
"Ja-jadi, benar ... Clara bukan adikku, Ayah?" Wulan menatap lekat wajah Wahyu dan seketika itupun, Wahyu memeluk dan mencium rambutnya.
"Iya ... itu benar, beberapa hari yang lalu juga Pak Mawan melakukan tes DNA dan ternyata memang benar dia adiknya Indah."
"Kok Papah Mawan? Bukannya Papahnya Indah itu Pak Antoni, Yah?"
"Bukan Sayang, dia Papah tiri. Papah kandungnya adalah Pak Hermawan."
Kalau Papah Mawan, Papahnya Indah ... lalu Mamah Santi itu ibunya? Tapi bukannya dia mertuanya? Mamah Santi ibunya Kak Reymond dan Mas Rio, kan? Entahlah, aku tidak peduli masalah itu.
"Tapi Ayah, aku tidak mau Indah mengambil Clara dariku. Walau dia bukan adik kandungku, tapi aku sangat menyayanginya."
__ADS_1
"Iya, Ayah tau itu ... Ayah juga sudah berpesan pada Pak Reymond untuk tidak mengambil Clara dan mengizinkannya tetap tinggal disini."
Wulan melepaskan pelukan dan menyeka air matanya. "Iya ... aku tidak mau berpisah dengan Clara. Papah Mawan juga bukan orang yang baik, Yah. Ayah tau 'kan saat Clara kekurangan darah ... dia sampai tidak mau menyumbangkan setetes darahnya?"
"Iya, Ayah tau itu. Kamu tenang saja." Wuhyu mengelus pundak Wulan sebentar dan menarik lengannya kembali. "Sampai kapanpun, Clara akan terus bersama kita."
"Iya, Ayah. Lalu kemana Clara sekarang? Aku tidak melihatnya dari tadi."
"Dia ada di kamar Ayah, tadi sempat menangis."
"Menangis kenapa?"
"Gara-gara Nona Indah memintanya untuk memanggil Pak Mawan dengan sebutan Papah. Tapi dia tidak mau dan malah menangis."
"Oh. Apa Indah memaksanya?"
"Tidak kok." Wahyu bangun dari duduknya. "Yasudah, kita keluar lagi. Tidak enak ada tamu, tapi kita malah ada didalam."
Wulan mengangguk pelan dan bangun. Ia mengikuti langkah kaki ayahnya yang keluar dari kamar.
Di ruang tamu hanya ada Indah, Reymond, Bayu dan Rio. Sedangkan Mawan dan Santi tidak ada.
Rio berjalan menghampiri Wulan, ia melihat wajah istrinya merah seperti habis menangis. "Kau tidak apa-apa?"
Wulan menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Tadi Papah dan Mamah pulang duluan, Pak. Mereka masih banyak pekerjaan. Maaf kalau tidak sempat pamit," ucap Reymond pada Wahyu.
"Iya, tidak masalah. Diminum dulu esnya. Sayang batu esnya sudah mencair."
"Iya." Reymond mengambil gelas teh manis itu dan memberikan pada Indah, supaya istrinya minum.
Tok ... tok ... tok.
"Clara! Bukan pintunya sayang. Sudah jangan menangis," ucap Wahyu seraya mengetuk pintu.
Ceklek~
Gadis kecil itu membuka pintu. Ia terkejut saat melihat Wulan sudah pulang dan sekarang sedang tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"Kak Wulan! Kakak sudah pulang!" serunya dengan girang. Ia berlari dan memeluk tubuh Kakaknya itu. Wulan juga menyambut pelukannya dan mencium kening Clara.
"Iya Sayang, Kakak sudah pulang. Kakak bawa oleh-oleh untuk kamu dan Ayah."
"Oleh-oleh? Apa itu Kak?"
Rio berjalan keluar rumah dan tak lama ia membawa beberapa paper bag berisi mainan dan makanan khas dari Bandung, ia juga sekalian membeli mainan dan membagi dua oleh-oleh itu untuk Indah.
"Wah ... apa ini, Kak? Boneka Barbie lagi?" tanya Clara dengan mata yang berbinar-binar, melihat isi didalam paper bag itu.
"Iya, biar boneka kamu tambah banyak."
Clara kembali memeluk Wulan dan berjingkrak-jingkrat, sepertinya ia benar-benar senang. "Terima kasih, Kak. Aku sayang Kakak."
"Kakak juga sayang, kamu."
Didepan mereka ada wanita yang tengah menatapnya dengan wajah sedih. Bahkan sekarang wanita itu sudah menangis, ia merasa iri. Ingin sekali merasakan apa yang Wulan rasakan saat ini.
Reymond yang mengetahui pipi istrinya basah, ia menyeka air matanya dan memeluk tubuh istrinya. "Kamu tidak usah sedih Sayang. Aku yakin ... Clara juga sayang padamu. Yang terpenting sekarang ... kamu sudah bertemu dengan adikmu. Kamu senang, kan?"
"Iya, Mas. Aku senang sekali. Tapi aku ingin dia bilang sayang juga padaku," lirihnya.
Reymond melepaskan pelukannya. "Clara, sini!" ia mengedikkan kepalanya kearah Clara. Gadis kecil itu menoleh saat tengah asyik bermain boneka dengan Wulan.
"Apa Om?"
"Duduk disini, kemarilah. Mulai sekarang jangan panggil aku Om, panggil Kakak," titah Reymond.
Clara berjalan ragu-ragu menghampiri mereka. "Kakak?"
"Iya, Kakak. Kak Indah, Kak Wulan dan Kak Rio. Aku juga Kakakmu. Masa hanya aku yang kau panggil Om?"
Rasanya terlalu tua untuk Clara memanggil dengan sebutan kakak. Tapi memang dari segi status, harusnya Clara memanggilnya dengan sebutan itu.
"Kak Remon," ucapnya pelan.
"Nah! Bagus." Reymond menarik lengan Clara dan mengajaknya untuk duduk disebelah Indah. "Apa kau sayang sama Kak Indah? Dia ini orang yang baik dan berhati malaikat." Reymond sambil menatap wajah Indah yang penuh dengan harapan.
Clara menoleh kearah Indah. "Sayang. Clara sayang sama Kak Indah."
__ADS_1
^^^Kata: 1024^^^