
Tangan Wahyu mendarat pada rambut kepala anaknya, mengusapnya dengan lembut.
"Ayah sudah tau semuanya Wulan."
Deg~
Mata Wulan membelalak, ucapan Wahyu terdengar begitu ambigu.
"Tau ... tau apa, Ayah?"
"Tau semuanya, tau bagaimana rumah tanggamu, tau bagaimana dulu kamu bisa menikah dengan Rio dan tau kamu pergi meninggalkannya."
"Ayah tau darimana? Apa Mas Rio cerita?"
"Iya, Rio cerita. Tapi Ayah tau semua itu dari Dido awalnya, dia menceritakan segalanya."
'Kak Dido?! Kenapa dia cerita pada Ayah? Menyebalkan sekali' batin Wulan.
"Jujur pada Ayah, Wulan. Apa selama kamu menikah dengannya, sikap Rio selalu tidak baik padamu?" Wahyu menatap lekat-lekat mata anaknya, tapi Wulan seperti tengah melamun. Ia diam saja.
"Wulan, kenapa kamu tidak jawab pertanyaan Ayah?"
"Iya Ayah. Semuanya benar," lirihnya.
"Sebelumnya, apa kamu tau ... kamu sedang hamil?"
"Tidak, Ayah."
Wahyu menarik nafas dan perlahan membuangnya. Tangannya kini meraih tangan Wulan, mengenggamnya dengan lembut.
"Maafkan Ayah, karena Ayah belum jadi orang tua yang baik untukmu," lirihnya sambil menangis.
Tangan Wulan terangkat keatas, pada wajah Ayahnya. Ia menyeka air mata yang baru saja mengalir. "Ayah jangan pernah berkata seperti itu, Ayah adalah Ayah yang terbaik untukku."
Wahyu tersenyum manis. "Ayah juga tau, kalau Rio tidak pernah mencintaimu. Jadi sekarang kamu mau bagaimana, Wulan? Ayah disini akan selalu mendukungmu. Kamu berhak bahagia."
"Maksud Ayah apa? Bagaimana apanya?" wajah Wulan terlihat binggung.
"Ayah hanya menyarankan, kalau memang pernikahanmu tidak bahagia dan justru membuatmu tertekan bathin. Lebih baik kamu bercerai saja dengan Rio."
Deg~
Mata Wulan kembali membelalak. "Apa Mas Rio kesini sambil membawa surat cerai?"
"Tidak, dia justru bilang tidak ingin bercerai denganmu."
'Tidak ingin bercerai? Kenapa? Bukannya dia yang selama ini ngotot ingin kita berpisah. Apa Mas Rio diancam Mamah Santi?' Batin Wulan.
"Kamu tidak perlu memikirkan Rio. Kalau kamu sudah tidak tahan dengannya, kamu bisa menggugat cerai. Ayah akan ikut mendaftarkanmu ke pengadilan agama."
__ADS_1
Deg~
Wulan makin terkejut dengan apa yang Wahyu katakan. Wahyu begitu mendukungnya untuk bisa lepas dari Rio. Namun rasanya, Wulan sendiri masih binggung. Ia harus setuju atau tidak. Karena memang dari awal, ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup.
"Kamu bisa pikirkan dulu, Wulan. Semuanya ada di tanganmu. Termasuk kebahagiaanmu juga. Ayah yakin, diluar sana masih banyak pria yang lebih baik dari Rio dan mencintaimu apa adanya. Ingat terus pesan Ayah," tambahnya lagi.
'Semua yang dikatakan Ayah ada benarnya, aku sama sekali tidak bahagia menikah dengan Mas Rio. Apalagi dia tidak bisa menerimaku apa adanya. Apa aku setuju saja untuk bercerai?' batin Wulan.
Tak lama mereka mendengar suara ketukan pintu, seorang Suster datang sambil mendorong meja troli sampai kearah tempat tidur Wulan. Diatas meja tersebut ada semangkuk bubur ayam dan segelas susu putih.
"Mbak Wulan. Mbak Wulan harus makan dan minum obat, biar cepat sembuh," titahnya dengan nada lembut.
Wahyu membantu Wulan untuk mengangkat tubuh dan menyandarkan punggungnya disisi tempat tidur.
"Kamu mau Ayah suapi? Kepala kamu sakit, tidak?"
"Maaf Pak," kata Suster tiba-tiba. "Mbak Wulan biar saya saja yang menyuapinya, diluar ada dua orang pria ingin bertemu dengan Bapak."
"Dua pria?" Wahyu mengangkat alis matanya keatas. "Siapa, Sus?"
"Salah satu dari mereka namanya Reymond, Pak."
"Oh Reymond." Ia bangun dari duduknya dan mencium pucuk rambut Wulan sekilas. "Kamu makan yang banyak dan minum obat setelah itu, biar cepat sembuh."
"Iya Ayah."
Wahyu tersenyum dan melangkahkan kakinya kearah pintu.
Ceklek~
"Wulan bagaimana keadaannya, Pak?" tanya Santi.
"Dia baik-baik saja kok, Bu."
"Apa saya boleh bertemu dengannya?" tanyanya sambil berdiri.
Rio langsung mendekati Wahyu. "Ayah, aku saja dulu. Aku ingin bertemu dengan Wulan," pintanya dengan wajah memelas.
"Bareng saja dengan Mamah, Rio," kata Santi mengajak.
"Kata Suster yang menjenguknya hanya boleh satu orang, Mah."
"Oh yasudah, kamu saja kalau begitu." Santi mengalah dan kembali duduk.
Baru saja Rio hendak membuka pintu, tiba-tiba lengannya dipegang oleh Wahyu. "Nanti saja kamu bertemu dengannya, sekarang Wulan sedang makan."
Deg~
Rio menoleh dan menatap manik mata Wahyu. Terbukti, hanya dilihat dari bola matanya saja, ia tau, ada rasa benci didalam sana.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengganggunya Ayah. Aku hanya ingin bertemu. Nanti aku akan diam saja."
Wahyu memalingkan wajah dan melepaskan lengan Rio, membiarkannya untuk masuk.
Ceklek~
Terlihat Wulan sedang mengunyah bubur. Namun secara mendadak, ia tersendak gara-gara melihat kehadiran Rio.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Entah karena kaget atau apa, tapi yakinlah ... kalau sebenarnya Wulan sangat tidak menyukai pemandangan matanya sekarang.
Suster itu mengambilkan air minum diatas meja, lalu memberikan dan langsung ditenggak habis olehnya.
'Mas Rio, kenapa dia kesini?! Aku tidak ingin bertemu dengannya. Wajahnya membuatku tidak selera makan' batin Wulan.
Rio tidak berbicara sepatah katapun, ia langsung duduk di sofa. Tapi kedua matanya memandangi Wulan, bahkan seperti tidak berkedip.
Maafkan aku, Wulan.
Wulan pura-pura tidak melihatnya, pandangannya ia pusatkan pada Suster disebelahnya. "Suster, aku sudah kenyang."
"Satu suap lagi ya, Mbak?" Suster itu menyendokkan bubur dan mengarahkan pada mulut Wulan. Namun wanita itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Sungguh Suster, aku sangat kenyang. Perutku enggap rasanya." Wulan memegangi perutnya, mencoba beralasan supaya tidak lagi makan.
"Apa perut dan kepalamu sakit?" suara Rio terdengar begitu pelan, tapi Wulan mampu mendengarnya. Sejujurnya ia ingin diam saja, tapi lidahnya terasa gatal.
Kenapa dia bertanya? Sudah jelas aku keguguran, sudah jelas kepalaku diperban. Harusnya itu sudah jelas menggambarkan kalau aku menderita sekarang.
Kamu puaskan, Mas?
Batinnya. Wulan pura-pura tidak mendengarnya, ia tidak menjawab pertanyaan Rio.
"Yasudah, Mbak minum obat dulu, ya?" Suster itu membuka dua botol kaca. Masing-masing satu butir. Ia memberikan pada Wulan, supaya wanita itu meminum obat.
Wulan menurutinya, ia mendorong obat itu dengan air hingga masuk kedalam perut.
"Yasudah, kalau begitu saya permisi, Mbak."
"Iya, terima kasih Sus."
Suster itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar inap Wulan sambil membawa meja troli tersebut. Sepeninggal Suster, Rio bangun dari duduknya, ia berpindah posisi duduk pada kursi kecil didekat Wulan.
Wanita itu langsung menurunkan pandangan, supaya tidak bertatapan dengan Rio. Ekspresi wajahnya tidak mengartikan apapun, sangat datar.
"Apa aku bisa bicara denganmu sebentar?" tanya Rio ragu-ragu.
Kenapa musti meminta izin? Apa yang ingin dia katakan? Memakiku? Mengatakan aku wanita pembawa sial lagi?
Wulan tidak menjawabnya, mengisyaratkan dengan gerakan tubuh pun tidak. Rasanya Rio ragu untuk berbicara, terasa canggung. Padahal biasanya mulutnya sering ceplas-ceplos.
__ADS_1
^^^Kata: 1039^^^