
Naira yang tidak tahan dengan semua ucapan Raihan akhirnya berbalik badan. Nayra kaget saat berbalik badan. Raihan sudah ada di depannya.
Sehingga mereka sangat dekat. Nayra harus mendongakkan kepalanya agar melihat Pria yang sedari tadi terus mengoceh kepadanya.
Nayra mundur satu langkah agar merasa tenang saat berbicara dengan Raihan. sepertinya Raihan menikmati kegugupan Naira.
" Jika bapak penasaran dengan IPK saya, Bapak bisa cek data pribadi saya. Saya bekerja di perusahaan ini, berdasarkan otak dan kemampuan bukan bacot yang seperti bapak katakan," ucap Nayra dengan sinis, menatap bola mata biru itu dengan menantang.
Nayra ingin menunjukkan dirinya. Bahwa dia tidak takut dengan Raihan. Dia sudah menahan sabar sejak tadi. Raihan yang mencari gara-gara kepadanya.
" Cih," Raihan yang mendengarnya langsung mengendus kesamping, tersenyum miring dengan Naira yang sangat berani berbicara kepadanya.
" Otak kau bilang, apa dengan otak mu yang terlalu tinggi itu, sampai kau tidak punya etika terhadap atasannmu," sahut Raihan menatap tajam Nayra.
Naira mengembangkan kan bibirnya, mengukir senyum mengejek.
" Etika, Maaf Pak etika hanya ditunjukkan kepada orang yang memiliki etika juga, dan masalah atasan, maaf sekali lagi. Bapak bukan atasan saya , atasan saya adalah, Raina Arzetty Admaja Wijaya, bukan anda," ujar Nayra dengan tegas.
Jelas kata-kata Nayra membuat Raihan geram. Rahang kokoh Raihan bahkan mengeras saat mendengar keberanian Naira kepadanya.
Nayra hanya berusaha tenang. Dia bisa melihat Raihan sangat marah kepadanya. Terlihat dari sorot mata Raihan yang ingin menerkamnya.
" Sepertinya tugas saya sudah selesai, jadi saya permisi dulu," ucap Nayra menundukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
" Tunggu dulu," ujar Raihan menekan suaranya. Nayra memang membuatnya sangat marah.
" Kau, salah berurusan denganku," ujar Raihan. Nayra mengepal tangannya berbalik badan dan senyum palsu kepada Raihan.
" Sejak awal aku memang salah berhadapan dengan mu," sahut Nayra dengan lantang dan kembali membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan Raihan.
Raihan yang mendengarnya tidak percaya dengan kata-kata pedas dari Nayra. Mata Raihan memerah mendengar hal itu. Bahkan dia membuang kasar napasnya.
" Nara-nara, sekarang kamu sangat pintar berbicara, mulutmu itu memang selalu membuat orang berpikiran baik kepadamu, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa bertahan, jangan salahkan jika kau akan menerima semua imbas dari perbuatanmu," desis Raihan dengan penuh kemarahan.
***********
Nayra yang keluar dari ruangan Raihan sangat kesal dengan Raihan yang sembarangan mengatakannya memasuki perusahaan itu hanya modal bicara saja.
__ADS_1
" Tidak tau diri, bukannya ngaca, menurut dia, dia sendiri bisa berada di sini, bukan karena orang tuanya apa, seenaknya bicara, mengenai IPK, otak. Dia sendiri tidak punya semua itu," gerutunya dengan kekesalannya.
" Kenapa loe Nay?" tanya Anita yang melihat temannya sepertinya menyimpan kekesalan.
" Nggak apa-apa," jawab Nayra bohong.
" Yakin?" tanya Anita tidak percaya.
" Iya, gue nggak apa-apa," jawabnya lagi.
" Ya sudah sekarang kita makan siang," ajak Anita yang melihat jam tangannya memang sudah waktunya untuk makan siang.
" Iya Ayo," sahut Nayra.
Anita dan Nayra pun saling bergandengan pergi makan siang.
*********
Nayra begitu lelah hari ini. Pekerjaannya sangat banyak. Yang benar saja setelah selesai makan siang.
Sehingga membuat pekerjaannya dari Raina terbengkalai. Nayra tipekal yang harus mengenakan semuanya dulu baru pulang.
Dia pun harus lembur karena memang harus mengutamakan pekerjaan dari Raina yang sempat terbengkalai.
Dia tidak ingin atasannya itu kecewa karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya. Walau itu karena ulah Raihan yang sengaja mengganggunya.
Nayra memasuki Apertemennya menghidupkan lampu dan langsung merebahkan dirinya di sofa.
" Hhhhhhh," desahnya, " kenapa aku sial sekali hari ini, dia pasti sengaja melakukan semua itu kepadaku," gerutu Nayra yang sadar jika Raihan sengaja mengerjainya.
" Sudahlah biar kan saja dia ingin melakukan apapun. Dia tidak urusannya dengan ku. Lagi pula aku bekerja dengan Bu Raina bukan dia. Untung saja aku sudah menjadi Sekretaris Bu Raina jadi aku bisa sibuk dengan Bu Raina," gerutunya lagi tersenyum merasa dalam situasi ini masih merasa untung.
***********
Zira dan Addrian sedang duduk di ruang tamu. Zira sibuk melihat beberapa data-data yang membuat otaknya pusing.
" Kalau yang ini, terlalu bebas, yang ada Raihan akan semakin menjadi-jadi, yang ini terlihat tertutup tapi mulutnya kok pedas seperti tidak didik. Kalau yang ini tertutup semuanya. Bagaimana kalau ada cacat di wajahnya. Raihan bisa murka nanti. Seperti beli kucing dalam karung," gerutu Zira.
__ADS_1
Zira terus -menerus membandingkan foto yang satu dengan foto yang lain dengan semua data pribadi wanita-wanita itu.
Addrian yang duduk di sampingnya hanya bermain ponsel. Dia geleng-geleng dengan kelakukan istrinya yang bersusah paya mencarikan calon istri kepada Raihan.
Sudah hampir 3 jam Addrian menemani Zira dan jika di tanyak Addrian hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Istrinya memang sedang mencari wanita yang bisa jadi menantunya.
" Sayang apa kamu tidak cape dari tadi malam itu terus yang kamu lakukan," ujar Addrian.
" Sayang aku harus teliti mencari calon istri yang benar untuk Raihan. Jika tidak dia akan semakin terjerumus, aku tidak ingin itu terjadi," sahut Zira yang memang terus mewanti-waniti masa depan putranya yang tidak pernah terlihat ke arah mana.
" Lagi pula Raihan pasti tidak mau kamu jodohkan," sahut Addrian yang sudah tau. Jika anaknya itu pasti akan menolak.
" Dia akan menurutiku, kamu tenang saja bantu aku menjari wanita yang terbaik untuknya," ujar Zira dengan penuh keyakinan.
" Mana mungkin Raihan mendapat wanita yang terbaik, kalau dia saja kelakuannya kayak gitu," sahut Addrian.
" Sayang apapun itu kita harus berusaha, aku tidak ingin Raihan seperti ini terus," ujar Zira terus fokus pada pekerjaannya.
" Zira apa tidak sebaiknya kamu kasih kesempatan dia untuk memilih pasangan hidupnya sendiri. Lagi pula Raihan sudah memulai memasuki Perusahaan jika kamu juga mencarikan dia pasangan yang ada Raihan akan tidak fokus," ujar Addrian memberi saran.
" Sayang, itu bukan jalan yang terbaik. Jika dia tidak memiliki komitmen hidup dia tidak akan tau tujuan dia melakukan semua itu untuk apa. Dengan aku menikahkan dia, dia akan memiliki istri dan akan belajar bertanggung jawab. Jadi dia pasti akan serius mengurus Perusahaan," jelas Zira.
" Kamu yakin apa yang kamu lakukan itu baik?" tanya Addrian ragu.
" Iya aku yakin," sahut Zira melihat suaminya dan tersenyum lebar.
" Ya sudah terserah kamu saja. Tetapi jika Raihan memiliki wanita yang di cintainya kamu juga harus memberi dia kesempatan untuk itu," saran Addrian.
" Jika dia langsung menikahinya tidak ada masalah. Tetapi jika dia hanya main-main saja, aku tidak bisa membiarkannya," ujar Zira serius.
Addrian hanya mengangguk tersenyum. Walau dia tau ide istrinya pasti tidak di terima Raihan dan memang benar Raihan pasti belum menemukan wanita yang di cintainya.
Addrian juga tau putranya itu tidak pernah serius dengan wanita. Patah hati mampu membuat putranya menjadi sangat kacau. Dan Addrian juga tau siapa wanita masa lalu anaknya itu.
...Bersambung..........
Hay semuanya silahkan tinggalkan like Coment dan vote ya. Terima kasih para readers.
__ADS_1