
Nayra sudah tertidur di dalam pelukan Raihan. Raihan terus menenangkan istrinya. Meski Nayra memejamkan matanya. Tetapi air matanya terus mengalir, bahkan sekali-sekali Nayra mengendus karena hidungnya yang mampet.
Raihan juga bisa merasakan betapa terlukanya istrinya. Dia juga tidak tau harus melakukan apa-apa. Dia hanya memeluk erat Nayra dan mengusap-usap rambut Nayra untuk menenangkannya.
" Ma, katakan sekali saja mama menyayangi Nayra!" Nayra mengigau dalam tidurnya. Raihan melonggarkan pelukannya dan melihat wajah istrinya yang sedari tadi berada di dadanya.
" Hey, sayang," Raihan mengusap air mata Nayra dan mencium kening Nayra seraya kembali menenangkannya.
" Nayra mohon, Nayra mohon ma, Nayra tidak akan marah jika mama memukul Nayra. Tapi Nayra mohon katakan sekali saja," Nayra terus mengigau.
Raihan dengan matanya yang berkaca-kaca tidak sanggup melihat istrinya yang benar-benar tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Nayra hanya sering mengatakan jika dia bisa merasakan kasih sayang hanya dari Zira. Raihan kembali memeluk Nayra menenggelamkan di dadanya. Raihan terus menjaga Nayra sampai pagi datang. Karena Nayra terus mengingau.
Saat pagi tiba Raihan duduk di samping Nayra memegang tangan Nayra dengan erat. Dan terus melihat wajah Nayra yang tertidur. Nayra baru tidur tenang ketika jam 4 subuh. Jadi Raihan tidak berminat membangunkannya.
Raihan juga sudah membereskan kamar mereka yang berantakan. Raihan sudah memesan makanan untuk istrinya sarapan saat nanti bangun.
Mata Raihan tidak pernah lepas memandang iba pada wajah Nayra yang terlihat lelah. Kening Nayra sudah di beri kompresan karena tubuhnya yang memang panas. Jadi jangan tanya Raihan tidur atau tidak. Dia tidak tidur dia terus menjaga Nayra.
Perlahan Nayra membuka matanya yang terasa lengket. Mungkin karena terlalu banyak menangis. Nayra melihat Raihan duduk di sampingnya dengan senyuman di wajahnya.
" Jam berapa sekarang?" tanya Nayra dengan suara seraknya.
" Baru jam 8, tidurlah!" jawab Raihan.
" Bukannya kita harus pergi?" tanya Nayra yang mengingat kepergiannya.
" Hmmmm, kita akan pergi, nanti ya kamu kurang sehat," sahut Raihan mengusap pipi Nayra.
" Aku tidak apa-apa, aku enakan, kita harus pergi, aku ingin tau kemana ibu kandungku," ujar Nayra.
" Mengetahui wanita itu bukan ibumu kamu sudah seperti ini. Bagaimana jika papamu juga mengatakan kamu bukan anaknya. Apa lagi yang terjadi dengan kamu selanjutnya," batin Raihan yang tidak bisa membayangkan kehancuran istrinya selanjutnya.
" Raihan, ayo!" desak Nayra dengan suara seraknya. Raihan tersenyum.
" Kita tempat mama ya!" ajak Raihan.
Raihan membutuhkan Zira untuk mengatasi Nayra. Nayra memang membutuhkan Zira. Dan mungkin Nayra akan kuat jika Zira juga ada di sisinya.
" Iya," Nayra mengangguk tanpa menolak.
Raihan tersenyum. Raihan berdiri menuju lemari mengambil jaket untuk istrinya agar istrinya tidak kedinginan. Raihan membantu Nayra duduk dan memakaikan Nayra jaket tersebut.
************
Raina terus menangis di atas tempat tidurnya. Semenjak melihat Raka dengan wanita yang katanya sepupunya benar-benar membuat Raina hancur.
Bahkan dia tidak jadi meeting karena memang kondisi hatinya yang sangat buruk. Raina terus menangis dalam ringkupan selimut.
__ADS_1
" Kenapa kamu Setega itu Raka. Kenapa semuanya sama. Kenapa?" tanyanya dalam hati dengan tangisannya yang terisak.
Flass back.
4 tahun lalu Raina dan Amira yang masih 3 tahun berhenti di depan Apertemen milik keluarganya. Ibu dan anak itu turun dari mobil memasuki gedung Apartemen tersebut.
" Mama kita ngapain ke mari?" tanya Amira yang mendongakkan kepalanya melihat mamanya yang di sampingnya yang berjalan sambil menggenggam tangannya.
" Kita mau ketemu papa sayang?" jawab Raina tersenyum.
" Papa, bukannya papa di luar Negri?" tanya Amira.
" Iya, tapi papa sudah pulang dan papa sedang berada di Apertemen," jawab Raina.
" Kenapa tidak tunggu di rumah saja," sahut Amira.
" *Kita kasih Supraise untuk papa," jawab Raina tersenyum.
Dia memang mengetahui suaminya akan pulang tetapi tidak pulang langsung kerumah. Sebagai istri Raina ingin memberikan kejutan. Karena suaminya akan bahagia ketika lelah. Istri dan anaknya memberinya kejutan*.
Raina dan Amira sudah sampai Apartemen tersebut. Raina memencet kata sandi dan memasuki Apartemen itu. Raina heran melihat di ruang tamu selain ada koper juga ada tas wanita.
Ruang tamu terlihat berantakan, selain ada tas wanita ada minuman beralkohol di atas meja. Dan ada pakaian yang berserakan di lantai. Raina berjongkok dan mengambil jas suaminya.
Pikirannya mulai tidak tenang ketika melihat pakaian wanita dan juga heels yang ada di ruang tamu.
" Ma," tegur Amira memegang bahu Raina.
" Sayang kamu tunggu sini ya mama ke atas dulu," ujar Raina tersenyum tipis Amira langsung mengangguk.
Dengan langkah perlahan Raina melangkahkan kakinya ke kamar tempat dia dan suaminya biasa tertidur. Raina dan suaminya jarang tinggal di Apertemen karena memang mereka tinggal bersama orang tuanya.
Saat menaiki anak tangga, terlihat lagi kemeja suaminya dan bahkan melihat pakaian dalam wanita di anak tangga. Seketika matanya berkaca-kaca seakan mengetahui apa yang terjadi.
Raina sudah sampai di depan kamar mereka. Pintu terbuka sedikit dengan tangan bergetar Raina membuka pintu kamar dengan lebar.
Air matanya langsung jatuh saat melihat suaminya yang tanpa busana berada di atas wanita yang juga sudah polos. Pasangan itu melakukan penyatuan dengan suara menjijikkan.
" Kamu sudah pulang?" suara serak itu keluar dari mulut Raina, membuat suaminya langsung menengok kebelakang dan kaget melihat keberadaan istrinya.
" Raina!" sahut Pria tersebut. Raina langsung berlari tidak ingin melihat wajah suaminya yang sangat menjijikkan. Suaminya berhasil mengejarnya sebelum sampai ruang tamu.
Terjadi percekcokan di antara keduanya, Raina tidak henti-hentinya menangis sambil bertengkar dengan suaminya yang di hadapinya yang hanya memakai celana bokser dengan telanjang dada. Tubuh penuh merah-merah karya dari wanita itu.
Rumah tangga mereka renggang saat itu Raina langsung meminta cerai. Tapi mengingat Amira dia mengurungkan niatnya. Rumah tangga dalam perang dingin itu berlangsung sampai 2 bulan.
Tidak ada yang mengetahui bahwa Raina dan suaminya sedang tidak baik-baik saja. Meski tinggal 1 rumah Raina tidak pernah melayani suaminya karena sudah terlanjur membencinya.
Dia juga tidak peduli apa yang di lakukan suaminya. Suami istri hanya status untuk Amira dan tidak tau kapan akan berakhir.
__ADS_1
Ternyata semuanya berakhir ketika kematian. Kecelakaan yang menewaskan suaminya mengakhiri segalanya. Suaminya meninggal dalam tragedi kecelakaan yang mana Raina dan Amira juga ikut di dalamnya.
Dari perselingkuhan suaminya Raina tidak ingin menjalin hubungan dengan Pria lain. Karena hal itu di takutinya.
Mungkin orang berpikir Raina trauma karena suaminya yang meninggal tetapi tidak ada yang tau dia trauma karena perselingkuhan.
Flassaon
Raina terus menangis Sengugukan terbaring miring meringkuk seperti bayi. Dia tidak menyangka bisa jatuh cinta kepada Raka dan di hancurkan kembali. Dia harus melihat kembali perselingkuhan yang sangat menyakitkan.
" Mama," panggil Amira yang berdiri di depan pintu. Mendengar suara putrinya Raina membalikkan badannya dan melihat Amira. Raina menghapus air matanya dengan cepat.
" Sayang," sahut Raina. Amira yang berpakaian sekolah langsung menghampiri Raina. Raina menjulurkan tangannya meraih Amira ke dalam pelukannya.
" Mama kenapa?" tanya Amira yang sudah di pelukan mamanya.
" Tidak apa-apa sayang," jawab Raina bohong.
" Kenapa Om Raka belum datang, Amira akan terlambat sekolah, mama juga belum siap-siap," ujar Amira melihat mamanya. Raina tersenyum tipis.
" Mungkin Om Raka sedang sibuk, Amira kesekolah di antar supir saja ya," ujar Raihan dengan lembut.
" Memang kenapa?" tanya Amira yang harus tau jawabannya.
" Mama sakit?" tanya Amira lagi menempelkan punggung tangannya di kening mamanya.
" Kenapa tidak ke Dokter?" tanya Amira saat tanganganya ikut panas karena suhu tubuh mamanya.
" Tidak apa-apa, mama tidak apa-apa?" jawab Raina.
" Mama kenapa, mama marahan sama om Raka?" tanya Amira. Raina tersenyum dan memeluk erat Raina.
" Maafin mama ya," jawab Raina meneteskan air mata.
" Kenapa?" tanya Amira.
" Kita jangan ketemu lagi ya sama Om Raka. Om Raka punya kehidupan sendiri. Kita tidak boleh menggangunya terus, nanti om Raka marah," ujar Raina berusaha menjelaskan kepada Amira.
Amira melepas pelukannya dan melihat mamanya yang meneteskan air mata.
" Memang selama ini kita ganggu om Raka?" tanya Amira polos dengan wajahnya yang polos. Raina mengangguk.
" Bukannya Opa sama Oma bilang, kalau Om Raka, akan jadi papa Amira?" tanya Amira pernah mendengar ucapan itu. Hal itu hanya membuat Raina semakin sakit hati. Raina hanya berusaha tersenyum.
" Sayang, tapi semuanya tidak bisa," jawab Raina. Amira mengusap air mata Raina.
" Baiklah! Amira tidak akan ganggu Om Raka, kan mama lagi sakit, tapi nanti boleh ya kalau mama sudah sembuh," sahut Amira yang penuh harapan. Raina mengangguk tersenyum dan memeluk Amira erat.
" Maafin mama sayang, mama tidak bisa memberi kamu kebahagian, maafin mama?" batin Raina merasa bersalah pada Amira.
__ADS_1
Bersambung
Vote, like, komen, dan share ke teman-teman kalian terima kasih.