
" Dugaanku benar jika Nayra adalah anak kandung Pak David," ujar Raina menyimpulkan. Alex kaget mendengar ucapan dari Raina.
" Nayra, maksud kamu Nayra_ Nayra," Alex sepertinya mengerti Nayra yang mana.
Tetapi dia masih tidak percaya sehingga tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
" Iya Nayra, Sekretaris Raihan," ujar Raina membenarkan.
" Hahhhh," Alex menganga kaget. Merasa hal itu tidak mungkin.
" Kamu nggak salah, dari mana kamu bisa mengatakan itu?" sahut Alex masih bengong.
" Sebelum aku bertemu dengan Pak David. Aku terlebih dahulu menemukan bukti-bukti Nayra ada di kamar mama. Mama punya foto-foto Nayra sewaktu bayi. Dan nama belakang Nayra juga menggunakan nama Keluarga Wilson. Aku juga sudah menyelidiki. Jika Raina dan Pak David. Memiliki golongan darah yang sama. Bahkan banyak kesamaan," jelas Raina.
Alex yang mendengarnya masih bingung dan hanya bisa mencerna apa yang di katakan Raina.
" Tapi itu belum tentu Raina. Bukannya Nayra juga ada orang tua yang masih lengkap. Soal golongan darah. Bukannya banyak orang mempunyai golongan darah dan masalah alergi juga biasakan," sahut Alex yang belum bisa membenarkan pernyataan Raina.
" Tapi Nama Nayra yang aku temukan. Sama dengan nama di makam itu," sahut Raina berusaha meyakinkan Alex.
" Ya tapi belum tentu. Jika foto bayi itu adalah foto Nayra," sahut Alex masih tetap menyangkal.
" Ihhhhh, Alex aku itu capek bicara sama kamu. Kenapa sih kamu itu mendadak bodoh," sahut Raina kesal.
" Kok malah ngomel sih, kan benar yang aku katakan. Kamu jangan aneh-aneh. Nayra juga mempunyai orang tua," ujar Alex.
" Alex aku yakin. Itu bukan orang tua kandung Nayra," sahut Raina.
" Kamu juga belum bisa buktikan kalau orang tua Nayra bukan orang tuanya," ujar Alex.
" Alex aku akan tutup mulut kamu. Dengan semua bukti yang aku punya. Kamu tunggu saja aku akan menunjukkan semuanya. Jika dugaanku benar 99%," ujar Raina dengan yakin.
" Baiklah aku akan coba lihat bukti yang kamu punya. Lalu apa hubungannya semua ini dengan mama kamu?" tanya Alex.
" Aku tidak tau. Itu yang membuatku sampai sekarang bingung. Tetapi jika Tante Jihan pernah menikah dengan Pak David. Dan Nayra benar-benar anak Tante Jihan dan Pak David, mungkin itu salah satu alasan mama selama ini. Merawat Nayra sampai sekarang," ujar Raina menebak.
" Jika memang anak mereka. Jika tidak," sahut Alex.
" Aku sudah katakan sama kamu. Aku yakin 99%," sahut Raina menatap Alex serius.
" Bagaimana dengan 1 %nya?" tanya Alex Raina tidak bisa menjawab.
" Hmmmmm, apa Raihan tau masalah ini?" tanya Alex.
__ADS_1
" Belum, aku belum memberi tau kak Raihan. Aku takut jika aku memberi taunya. Dia pasti lebih gila dariku. Aku masih diam-diam menyelidikinya. Jika dia sampai tau aku yakin dia pasti langsung perang dengan mama dan malah akan menimbulkan masalah," jawab Raina sedikit menjelaskan.
" Ya memang itu lebih baik," sahut Alex sambil meneguk minumannya, " Raihan suka gegabah, jadi sebaiknya memang kamu harus membuktikan lebih detail lagi jika sudah mendekati baru beri tahu dia," ujar Alex memberi saran. Raina mengangguk.
" Kamu benar, aku harus lebih pelan-pelan dalam hal ini," ujar Raina.
" Ada lagi yang perlu aku bantu. Selain menunggu semua bukti yang kamu punya?" tanya Alex yang memang selama ini membantu Raina. Walau dia tidak tau alasannya tetapi dia tetap membantu Raina apapun itu.
" Kayaknya aku minta tolong sama kamu. Buat nyelidiki ke-2 orang tua Nayra," jawab Raina. Alex langsung membuang napasnya perlahan seakan menyesal bertanya.
" Kamu kan tau sendiri Alex. Amira baru keluar dari rumah sakit. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Aku harus banyakin waktu untuk Amira dan....."
" Mana alamatnya," sahut Alex memotong pembicaraan Raina yang banyak keluhan membuatnya bertambah pusing mendengarnya. Raina tersenyum mendengarnya dan membuka tasnya.
" Ini," Raina menggeserkan 2 kertas untuk Alex, " ini alamat mamanya dan ini alamat papanya," ujar Raina sedikit menjelaskan.
" Kenapa sih, hidup Nayra ribet banget," sahut Alex pusing melihat orang tua Nayra yang sudah berpisah dan memiliki keluarga masing-masing.
" Kamu benar, terkadang kita merasa paling susah, paling banyak masalah. Selalu mengeluh. Sementara Nayra. Dia harus menjadi anak broken home saat masih remaja. Dia harus mendapat tekanan dari sana-sini. Ahhhh aku nggak kebayang bagaimana dia bisa menjalani semua itu," sahut Raina yang sungguh kasihan dengan Nayra.
" Mungkin itu juga alasan Tante Zira menyayanginya seperti kamu dan Raihan," sahut Alex. Mendengarnya Raina mendengus dan tersenyum. Membuat Alex mengkerutkan dahinya.
" Jika mama memang menyayanginya berarti mama tau apa yang membuatnya bahagia. Mama tidak akan menyuruh Nayra memutuskan kak Raihan," ujar Raina.
" Aku tidak tau Alex apa yang di pikiran mama. Di sisi lain mama sangat marah jika ada yang menyakiti Nayra walaupun itu kak Raihan sekalipun. Seakan-akan mama merestui hubungan kak Raihan dan Nayra. Tetapi di sisi lain. Mama seperti tidak menginginkan kak Raihan dan Nayra menjalin hubungan," ujar Raina yang masih tidak bisa menebak jalan pikiran mamanya.
" Aku baru tau jika seperti itu. Sayang sekali Raihan sama Nayra padahal sangat cocok. Aku juga bisa melihat mereka saling mencintai," sahut Alex
" Ya begitulah, aku juga tidak mengerti. Mama yang tau semuanya," sahut Raina menggedikkan bahunya.
" Oh iya, aku balik dulu ya," ujar Raina melihat arloji di tangannya, " sudah hampir magrib," ujarnya pamit.
" Oke," sahut Alex.
" Thanks ya," ujar Raina berdiri. Alex tersenyum.
" Santai aja," jawab Alex.
" Bye," ujar Raina melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Alex. Alex juga melambaikan tangannya.
Raka sedari tadi menunggu Raina di dalam mobil. Raka sepertinya sangat resah melihat Alex dan Raina yang mengobrol akrab.
Raina dan Alex memang memilih tempat duduk di pinggir jendela kaca. Sehingga Raka bisa melihat dari dalam mobil. Raka hanya merasa sangat aneh melihat hal itu. Seperti ada rasa tidak suka.
__ADS_1
" Maaf ya Raka nungguin lama," ujar Raina yang sudah memasuki mobil.
" Tidak apa-apa Bu," jawab Raka, " Ibu mau langsung pulang?" tanya Raka.
" Iya saya langsung pulang saja, soalnya Oma dan Opa datang dari Surabaya," jawab Raina.
" Baiklah Bu," sahut Raka langsung melajukan mobil dengan kecepatan santai.
*************
Kediaman Addrian Admaja Wijaya
Mobil Raihan berhenti di depan rumahnya. Raihan masih bingung kenapa mamanya menelpon dan menyuruh pulang. Padahal ini baru jam 7 malam.
" Kenapa mama tiba-tiba ingin bicara?" gumamnya sambil membuka seat belt nya.
Raihan membuka pintu mobil, lalu ke luar dari dalam mobil. Raihan heran dengan 2 mobil yang terparkir di depan rumahnya. Seperti mobil yang tidak asing baginya.
" Ini kan mobilnya Opa sama Oma," gumam Raihan melihat mobil orang tua dari mamanya.
" Kapan mereka datang," ujarnya bingung. Dari pada bertanya-tanya Raihan memutuskan untuk memasuki rumah.
Saat memasuki rumah. Raihan melihat ruang tamu sepi. Raihan mendengar suara berbincang-bincang dari ruang makan. Raihan pun langsung menuju ruang makan.
Tebakan Raihan benar. Oma dan Opanya ternyata berkunjung kerumahnya. Bersama dengan tantenya. Bukan hanya itu Raihan juga melihat.
Carey dan mamanya yang sudah duduk di meja makan. Sementara Zira berdiri sambil menuang air ke dalam gelas. Zira menyadari ke datangan Raihan.
" Raihan kenapa berdiri di situ?" sahut Zira. Mendengar kata Raihan semua berbalik badan ke arah Raihan.
Carey tersenyum lebar ketika melihat ke datangan Raihan. Raihan mengangguk dan mendekati meja makan.
" Ada apa ma, kenapa tiba-tiba nyuruh Raihan pulang?" tanya Raihan tanpa basa-basi.
" Raihan apa kamu tidak ingin menyapa Oma dan Opa dulu," sahut Addrian. Raihan mengangguk dan menghampiri Oma dan Opanya. Lalu langsung menyalim, Oma dan opanya.
" Astaga ternyata cucuku ini sudah sangat besar," ujar Oma Widia mengacak rambut Raihan.
" Oma apa kabar?" tanya Raihan.
" Baik, kamu tambah keren," jawab Oma Widia.
Raihan merespon dengan senyuman. Lalu berpindah pada opanya yang juga mencium punggung tangan Opa Nugraha dan memeluknya.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น