Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 119


__ADS_3

" Lalu Raihan sekarang keadaannya bagaimana. Pasti dia steres dengan hal ini. Dan pasti dia akan minum sana sini, mabok terus menerus," ujar Eyang Farah yang sudah tau tabiat buruk Raihan.


" Eyang tidak boleh seperti itu. Kak Raihan tidak pulang sudah 2 hari sama hari ini," sahut Andini.


" Kemana dia, kenapa dia juga tidak pulang?" tanya Eyang Farah.


" Kemarin sewaktu ribut dengan Tante Zira. Kak Raihan berbicara kasar. Al hasil kak Raihan mendapat tamparan panas. Saat itu kak Raihan pergi dan sampai sekarang sepertinya tidak pulang kerumah, dengar-dengar kak Raihan juga tidak kekantor," jelas Andini sepengetuannya.


" Kamu tau dia di mana?" tanya Farah. Andini mengangguk.


" Tapi Eyang jangan bilang-bilang ya," ujar Andini pelan. Eyang Farah mengangguk.


" Di rumah Nayra," bisik Andini.


" Hahhhh, itu pasti modus," sahut Eyang Farah yang sudah tau kelakuan cucu nakalnya.


" Oh iya Eyang. Andini mau nanya sama Eyang," ujar Andini.


" Tanya apa?" sahut Eyang Farah.


" Eyang setuju tidak dengan perjodohan itu?" tanya Andini.


" Jika Raihan dan Carey tidak memiliki perasaan apa-apa, seharunya bisa di batalkan," jawab Eyang Farah.


" Masalahnya kak Carey tidak mau," sahut Andini.


" Ada apa lagi dengan dia. Kenapa semua orang aneh. Sudah tau ananknya memiliki wanita yang di sukai sejak dulu. Sudah tau temannya mencintai wanita lain. Tetapi masih memaksakan diri dengan pernikahan yang hanya berdasarkan ke egoisan masing-masing," ujar Eyang Farah yang kesal dengan berita dari Andini.


Sudahlah dirinya tidak di beritahu. Padahal sudah sangat lama dan sekarang malah tau dari Andini.


" Itu lah Eyang, seakan-akan kak Raihan dan Nayra tidak boleh bersatu," ujar Andini dengan tidak bersemangat.


" Masalah ini tidak boleh di biarkan. Ini sudah kelewatan. Zira, Addrian dan yang lainnya sudah keterlaluan. Apa mereka tidak memikirkan Raihan apa," ujar Eyang Farah dengan serius.


Mendengarnya Andini tersenyum. Andini mengetahui jika Eyangnya pasti tidak menyetujui hal itu. Makanya mulutnya gatal jika tidak langsung bicara.


" Jadi apa rencana Eyang?" tanya Andini penasaran.


" Eyang akan menemui Zira dan Addrian dan juga yang lainnya. Eyang akan membicarakan masalah ini dengan serius," jawab Eyang Farah.


" Lalu jika tidak ada perubahan bagaimana Eyang?" tanya Andini yang was-was.


" Raihan punya hal memilih jalannya sendiri. Dan mereka tidak boleh memaksa Raihan melakukan semua ini," jawab Eyang Farah.


" Eyang kenapa Eyang tidak menikahkan kak Raihan dengan Nayra secepatnya?" ujar Andini yang tiba-tiba memiliki ide. Farah langsung melihat ke arah Andini dengan tatapan horor.


" Maksud Andini dulu kan Eyang pernah cerita. Di saat hubungan Om Addrian dan Tante Zira penuh masalah. Eyang mengambil jalan untuk menikahkan mereka dalam waktu beberapa menit dan dari situ hubungan mereka justru membaik," ujar Andini mengingat cerita Eyangnya. Farah juga mengingat hal itu.


" Jika memang tidak ada jalan lain sepertinya itu hal bagus," sahut Eyang Farah tersenyum seakan setuju. Andini langsung tersenyum seakan ikut bahagia.


" Apa Eyang yakin?" tanya Andini ragu.


" Yakin, kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Kamu makan lagi," ujar Eyang Farah.


" Syukurlah kalau ada sedikit harapan. Aku berharap kak Raihan dan Nayra bisa bersatu secepatnya dan kak Raihan juga bisa sembuh secepatnya," ujar Andin dengan wajah keceriannya.

__ADS_1


" Raihan sakit?" tanya Eyang Farah terkejut.


" Iya Eyang. Nayra menelpon kak Raihan terlalu steres sampai membiarkan dirinya terkena hujan. Jadi kak Raihan demam," jawab Andini setelah mendapat kabar dari Raina.


" Kenapa kamu tidak bilang dari awal. Kalau Raihan sakit," sahut Eyang Farah merasa khawatir.


" Tapi sudah membaik kok Eyang, kan Eyang tau sendiri Dokternya siapa," sahut Andini.


" Kamu yakin," ujar Eyang Farah masih tidak percaya.


" Iya Eyang," sahut Andini membuat Farah bernapas lega.


" Hhhhhh, cucuku yang malang," sahut Eyang Farah merasa kasihan dengan cucu kesayangannya yang harus menerima nasib seperti itu.


************


Nayra membawa segelas susu ke ruang tamu memberikan untuk Raihan. Nayra duduk di samping Raihan yang masih tertidur di sofa.


" Raihan bangun," ujar Nayra membangunkan dengan pelan.


Hanya sekali panggil saja Raihan langsung membuka matanya. Melihat Nayra yang sudah di depannya.


" Kamu minum dulu!" ujar Nayra masih memegang segelas susunya.


Raihan langsung duduk dengan perlahan. Nayra pun menyodorkan gelas kemulut. Tangan Raihan dan Nayra saling menimpa saat memegang gelas.


" Bagaimana ke adaan kamu?" tanya Nayra meletakkan kembali gelas di atas meja.


" Aku sudah enakan," jawab Raihan, " kamu tidak kekantor?" tanya Raihan yang melihat Nayra belom siap-siap.


" Kenapa siang?" tanya Raihan.


" Tidak apa-apa aku sudah minta izin juga sama pak Alex," jawab Amira. " Kamu sendiri bagaimana akan bolos lagi?" tanya Nayra.


" Hmmm, entahlah, jika kekantor aku pasti akan tidak fokus jadi sama saja," sahut Raihan dengan tidak bersemangat.


" Raihan masalah tidak boleh didiamkan. Apapun yang terjadi kamu harus melakukan tanggung jawab kamu. Jangan sampai Bu Raina kembali mengambil alih dan akhirnya kamu tau apa yang terjadi Amira akan menjadi korban lagi. Bukannya kamu juga sudah berjanji untuk ikut menjaga Amira," ujar Nayra mencoba membuka pikiran Raihan.


" Aku Nara. Tetapi aku tidak bagaimana menghadapi mama. Aku belum siap bertemu mama," ujar Raihan.


" Ya sudah tidak apa-apa, semua tergantung kamu. Yang jelas aku tidak ingin kalau kamu terpuruk terus semakin kamu memikirkan masalah itu. Semakin kamu akan sulit untuk sembuh, aku tidak ingin sakit terus. Jadi pikiran kamu harus tenang," ujar Nayra tersenyum. Raihan memengang tangan Nayra.


" Terima kasih kamu selalu ada untukku," ujar Raihan menatap Nayra dalam. Sementara Nayra teringat sesuatu.


" Oh iya Raihan,"


" Kenapa?" tanya Raihan.


" Tadi malam ponsel kamu berdering dan aku angkat," ujar Nayra jujur.


" Siapa yang menelpon?" tanya Raihan penasaran.


" Carey," jawab Nayra jujur. Raihan berekspresi datar.


" Dia bilang apa?" tanya Raihan.

__ADS_1


" Dia minta maaf sama kamu. Ya segalanya lah. Dia juga bilang melakukan semua itu karena dia peduli sama kamu, dia juga bilang kalau dia adalah orang yang ada di saat kamu terpuruk. Dia juga bilang jika dia memang menyukaimu," jawab Nayra dengan santai.


Tetapi sedikit kesal mengingat semua perkataan Cherry. Raihan mendengarnya tersenyum tipis. Dan mengusap pipi Nayra dengan jarinya.


" Lalu apa yang kamu katakan?" tanya Raihan.


" Tidak ada, dia kesal karena mengetahui aku yang mengangkat. Terus dia memperingatkanku agar tidak mengganggu calon suami orang," jawab Nayra dengan wajah manyunya.


" Lalu kamu menjawab apa?" tanya Raihan yang suka memancing Nayra.


Karena melihat wajah Nayra yang di penuhi rasa cemburu membuat kebahagian untuknya.


" Aku bilang, dia juga tidak boleh menelpon pacar orang malam-malam," jawab Nayra polos. Raihan mendengus melihat Nayra yang menggemaskan.


" Apa dia marah?" tanya Raihan.


" Kenapa, kamu peduli dengan dia marah atau tidak sementara aku yang mengangkat telponnya. Kamu pikir telingaku tidak panas mendengar omongannya," oceh Nayra.


" Apa kamu cemburu?" tanya Raihan dengan senyum di wajahnya.


" Nggak," jawab Nayra kesal.


" Hey, aku senang kalau kamu mengangkat telponnya. Jadi dia bisa mengerti apapun yang terjadi aku pasti akan lari ke kamu," ujar Raihan.


" Tapi dia pasti akan mengatakan kepada Tante Zira kalau kamu sedang bersamaku," ujar Nyata cemas.


" Nara, itu jauh lebih baik. Jadi biarkan saja mereka tau sungguh aku sudah tidak peduli," ujar Raihan.


" Ya sudahlah, Aku sudah siapkan air hangat. Kamu sebaiknya mandi dulu. Supaya tubuh kamu terlihat lebih fress," ujar Nayra.


" Iya," jawab Raihan.


" Aku akan keluar sebentar," ujar Nayra.


" Mau ngapain?" tanya Raihan mengkerutkan keningnya.


" Aku ke apotik di dekat gedung. Aku ingin membeli obat Flu. Soalnya obat kamu sudah habis," jawab Nayra.


" Oh ya sudah, hati-hati ya,"


" Aku pergi ya," ujar Nayra pamit. Raihan mengangguk.


" Jadi Carey menelpon. Biarlah dia melakukan apa yang di inginkannya," batin Raihan.


" Sebaiknya aku mandi dulu," ujar Raihan berdiri. Raihan membuka kemejanya dan meletakkannya di sofa.


tinong-tinong. Bel Apertemen Nayra berbunyi.


" Kenapa dia cepat sekali kembali. Tumben banget mencet bel, ada-ada saja," gerutu Raihan menuju pintu.


Raihan langsung membuka pintu Apertemen dan betapa kagetnya Raihan melihat yang berada di depan pintu bukan Nayra melainkan Eyangnya dan Andini.


Eyang Farah dan Andini kaget melihat Raihan yang tanpa pakaian sama sekali. Andini dan Farah saling melihat penuh kecurigaan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2