Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 357.


__ADS_3

Raihan Nayra terus berbahagia dengan kehadiran putri kecil mereka yang cantik seperti mamanya. Walau Raihan mengatakan tetap istrinya yang paling cantik.


Ceklek.


Pintu ruangan perawatan Nayra terbuka yang ternyata orang-orang yang sedari tadi tidak sabaran untuk melihat bayi mereka sudah berdatangan. Mereka memang tidak sabaran untuk melihat bayi cantik itu.


Zira, Addrian, Jihan, David, Raka, Raina, Carey, Dion, Amira, Sony, Dara, dan Andini memasuki ruangan itu untuk melihat bayi kecil itu.


Jihan langsung menghampiri Nayra dan Raihan dan langsung mengambil alih cucu pertamanya dari tangan anaknya.


" Ya ampun cantik benget cucu Oma," ujar Jihan yang kesenangan menggendong cucunya. Raihan dan Nayra saling melihat dengan tersenyum


" Gimana tidak cantik, mamanya saja sangat cantik," sahut Zira yang mengusap- ngusap lembut pipi cucu ke-3 nya itu.


" Iya benar, mama begitu cantik, jadi jelas anaknya juga sangat cantik," sahut Raihan yang tidak kalah memuji menantunya.


" Papa bisa aja. Lagian bayinya juga banyak kok mirip Raihan," sahut Nayra.


" Maka dari itu Nayra. Mama cantik, papanya tampan. Jadi anaknya sangat sempurna," sahut Andini.


" Bisa aja kamu Andini," sahut Nayra malu menerima pujian itu.


" Bye the way, sudah ada nama untuk bayi kecil ini?" tanya Dara.


" Benar, apa namanya sudah di siapkan," sahut Raina yang juga penasaran.


" Belum ada sih, tadi baru aja, kita bicarakan," sahut Nayra.


" Ya urusan nama itu. Utusan kalian berdua. Karena kalian yang paling tau," sahut David.


" Tapi kita juga pasti minta saran pa," sahut Raihan.


" Pasti, kita semua akan kasih masukan," sahut David.


" Benar, kata om David. Nanti kita akan tulis list namanya dan kalian yang memilih yang mana yang cocok," sahut Andini memberi saran.


" Iya deh," sahut Nayra.


" Mah, boleh Carey gendong," ujar Carey yang ternyata tidak sabaran untuk menggendong keponakannya itu.


" Boleh dong sayang," sahut Jihan langsung memberikan pada Carey.


" Belajar ya kan kak Carey," sahut Andini.


Carey hanya menanggapi dengan senyum biasa. Sementara Dion yang di sampingnya juga terlihat diam saja. Dion hanya memperhatikan istrinya yang menggendong bayi Nayra dan Raihan begitu bahagia.


Carey memang hamil. Tetapi Dion sebagai suami belum melakukan apa-apa kepadanya. Karena hubungan mereka yang sangat renggang. Apa lagi saat tadi Carey memberikan teguran pada Vira dan Dion mendengar semuanya.


" Apa Carey dan Dion masih marahan ya," batin Dara yang bisa memperhatikan hubungan itu begitu datar.


" Benar kata Dara, hubungan mereka benar-benar masih renggang. Ahhhh, kenapa jadi seperti ini," batin Sony yang merasa bersalah.

__ADS_1


" Jiwa ke ibuan Carey sudah sangat terlihat," sahut Zira.


" Tante bisa aja," sahut Carey.


" Semoga, kandungan kak Carey selalu sehat ya," sahut Nayra.


" Amin," sahut semua dengan serentak.


" Dion, apa Carey merepotkan kamu?" tanya Jihan.


" Maksud mama?" tanya Dion.


" Nayra saat hamil, dia suka bermanja dan maunya lengket terus sama suaminya. Di tinggal sebentar pasti rewel seperti anak kecil. Mama rasa Carey juga seperti itu," ucap Jihan dengan nada becandaan.


" Mama, kenapa buka kartu," sahut Nayra malu.


" Tidak apa-apa kok ma, kalau Nayra manja. Justru Raihan suka melihatnya. Memang itu tugas suami memberikan segalanya kepada istrinya dan bukan hanya perhatian tapi lebih dari itu, karena dia memperjuangkan segalanya untuk bayinya dari rahimnya sampai ke dunia ini," sahut Raihan sambil mengusap-usap pucuk kepala istrinya menatap istrinya dengan dalam.


" Raina juga seperti itu, saat hamil pengennya bermanja terus," sahut Raka, Raina pun mendengarnya menjadi malu seperti Nayra.


" Hmmm, benar banget, istri hamil memang harus di perhatikan degan bayi. Ya kalau punya istri. Jangan memperhatikan wanita yang bukan istri kita," sahut Dara penuh sindiran.


Mendengar semua omongan yang ada di dalam ruangan itu membuat Dion terdiam. Seakan tertampar dan di beri kesadaran. Jika istrinya yang diam selama ini dan hanya mengangguk apa yang di katakannya benar-benar merasa sakit hati.


Dan sekarang wajar jika Carey sangat marah dan cuek bebek pada Dion. Karena Carey benar-benar lelah dengan sikap Dion yang tidak mempedulikan perasaannya.


" Jadi Dion, kamu harus sabar-sabar ya menghadapi istri kamu," sahut Jihan lagi. Dion hanya mengangguk dengan tersenyum tipis melihat ke arah Carey yang diam dan hanya fokus pada apa yang di gendongnya.


" Semoga saja Dion peka dan mengerti tentang Carey setelah ini," batin Dara penuh harapan.


************


Setelah menjenguk Nayra dan memastikan Nayra baik-baik saja. Carey dan Dion pun pulang kerumah. Lagian di rumah sakit juga banyak orang yang menjaga Nayra.


Jangan tanya sepanjang perjalanan mereka tetap Dion. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Sampai mobil itu sudah berhenti di depan rumah.


Carey tampak buru-buru melepas sabuk pengamannya dan yang benar saja langsung keluar tanpa berbicara apa-apa pada Dion. Dion dengan cepat membuka seat belt nya, keluar dari mobil dan dengan cepat mengejar Carey memasuki rumah.


Dion menahan tangan Carey saat sudah memasuki rumah membuat langkah Carey terhenti.


" Kita harus bicara," ucap Dion.


" Aku mau istirahat," sahut Carey mencoba melepas tangan itu. Tetapi Dion menahannya.


" Carey, kita harus bicara. Tidak mungkin kita seperti ini terus," ucap Dion dengan wajah seriusnya menegaskan pada Carey.


" Pembicaraan kita sudah selesai. Saat kamu benar-benar pergi menemuinya," sahut Carey menegaskan menatap Dion dengan tajam.


" Lalu sampai kapan kita seperti ini?" tanya Dion.


" Jangan tanya aku. Tapi kamu," sahut Carey.

__ADS_1


" Jangan seperti anak kecil Carey," ucap Dion.


" Aku tidak seperti anak kecil. Justru kedewasaan ku sudah datang. Kalau begitu aku ingin bertanya sama kamu. Jika aku memintamu untuk tidak menemui Vira lagi, sekali saja, apa kamu mau?" tanya Carey yang ingin jawaban itu.


" Apa maksud kamu?" tanya Dion.


" Aku rasa apa yang aku katakan jelas. Coba kamu memilih kamu memilih pernikahan ini atau Vira," sahut Carey lebih menegaskan membuat Dion harus memilih.


Dion mendengarnya kaget. Tidak percaya jika Carey akan menyuruhnya memilih. Sampai dia diam dan tidak bisa berbicara.


Carey tersenyum dan melepas tangannya dari Dion. Yang ternyata tidak di tahan Dion lagi.


" Bisa-bisanya kamu masih berpikir Dion. Saat aku menyuruh kamu memilih. Kamu benar-benar hebat. Kamu tidak bisa menjawab karena hati kamu benar-benar sudah terbagi. Tidak bukan terbagi. Hati kamu memang tidak ada untukku," sahut Carey dengan pelan bicara dengan menekan suaranya yang seperti menahan kan rasa sakit.


Bagaimana hatinya tidak semakin sakit. Saat Dion Dima tanpa bicara apa-apa. Saat Carey menyuruhnya untuk memilih.


" Jika merasa tersiksa Dion karena hanya status pernikahan. Kamu bisa mengakhirinya secepatnya," ujar Carey. Mendengarnya Dion semakin kaget dengan kata-kata Carey yang pasti sudah tau mengarah kemana. Air mata Carey pun jatuh. Walau bersusah payah menahannya.


Carey langsung menyekanya dan berbalik badan untuk pergi. Tetapi langkahnya terhenti. Ketika melihat ibu mertuanya yang ada diujung anak tangga yang bisa di pastikan sang mama pasti mendengar perkataannya.


" Mama," lirih Carey kaget, Dion juga kaget melihat sang mama.


" Ada apa ini?" tanya Erina. Carey tidak menjawab dan langsung pergi menaiki anak tangga.


" Carey!" panggil Erina yang tidak di respon Carey. Dan Erina harus menatap putranya.


" Dion, ada apa ini?" tanya Erina yang sudah memiliki perasaan buruk.


" Kamu bertengkar sama Carey?" tanya Erina. Dion diam tidak menjawab dan langsung pergi.


" Dion!" panggil Erina. Dion tidak merespon dan tetap pada langkah kakinya.


" Apa lagi sih mereka," ujar Erina kesal yang tidak tau apa-apa. Melihat menantu dan anaknya yang diam-diam tanpa memberitahu apa yang terjadi yang membuatnya kebingungan.


***********


Dion memasuki kamar dan melihat Carey sudah terbaring miring. Dion menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu perlahan mendekati ranjang, naik ke atas ranjang. Dion berbaring miring menghadap Carey, dengan sikunya yang menjadi penyanggah.


" Bicaralah, denganku Carey, aku tidak ingin kita seperti ini terus," ujar Dion dengan lembut.


" Kamu saja bisa diam saat aku menyuruhmu memilih. Lalu apa yang harus di bicarakan lagi. Kamu benar-benar tidak tau bagaimana perasaanku Dion," batin Carey dengan matanya terpejam.


" Maafkan aku Carey, aku sudah menyakitimu, aku tidak bermaksud melukaimu. Maafkan aku," ujar Dion yang baru meminta maaf sekarang.


Dion sepertinya mengakui kesalahannya dan mengalah untuk meminta maaf.


" Jika kamu masih tidak bisa memaafkanku. Aku tidak peduli Carey. Aku berusaha untuk memperbaiki semuanya Carey," ucap Dion dengan mengusap lembut Rambut Carey. Carey tetap diam tanpa bicara sedikitpun.


" Kamu jahat Dion, kamu sangat jagat," batin Carey dengan air matanya yang menetes.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2