
" Tapi papa yang datang sendiri. Karena Nayra tidak mau datang kerumah ini lagi," ujar Nayra dengan tegas membuat David kaget.
" Apa maksud kamu Nayra?" tanya David.
" Nayra kecewa dengan papa. Nayra berusaha untuk menunjukkan kebenaran. Tetapi papa dengan mudahnya melepaskan Dokter itu dan malah menyalahkan Nayra. Jadi untuk apa lagi Nayra datang kerumah ini," tegas Nayra mengusap air matanya dan langsung pergi.
Saat melewati Vira Nayra menghentikan langkahnya dan menatap wanita itu dengan tajam. Lalu Nayra kembali melanjutkan langkahnya.
" Nayra," panggil David yang sama sekali tidak di respon Nayra.
" Maaf pa, aku harus pergi. Meski papa mengampuni Ramon. Tapi tidak aku. Aku melanjutkan kasusnya. Karena aku tidak bisa melepaskan sesuatu yang sudah kudapatkan. Dan aku juga melakukannya demi istriku," tegas Raihan yang tidak main-main dengan omongannya.
Raihan menundukkan kepalanya dan pergi menyusul istrinya. Saat melewati Vira Raihan mengehentikan langkahnya.
" Aku berharap. Kamu jangan melewati batas kamu. Sampai aku harus turun tangan sendiri," ujar Raihan dengan penuh penegasan dan ancaman.
Raihan berlari mengejar istrinya yang sudah keluar rumah dan menangis di dekat mobil.
" Nara," ujar Raihan lembut memegang tangan istrinya yang membelakanginya.
" Sayang hey, jangan menagis," bujuk Raihan Nayra membalikkan tubuhnya dan memeluk Raihan menangis di pelukan Raihan.
" Shutt, tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja, kamu harus percaya kepadaku," Raihan terus mengusap punggung istrinya yang menangis di pelukannya. Nayra bahkan tidak tau mau bicara apa lagi.
Raihan melepas pelukannya dari istrinya. Melihat wajah istrinya yang benar-benar sudah kacau. Raihan mencium kening Nayra dengan lembut.
" Sudah ya! kita pulang, kamu harus istirahat, oke," bujuk Raihan. Nayra mengangguk-angguk. Raihan pun membawa sang istri yang sangat hancur memasuki mobilnya.
********
" Benar itu Vira apa yang di katakan Nayra?" tanya David bertanya kepada Vira yang sudah berdiri di sampingnya.
" Pa bagaimana Vira akan mengatakan itu benar. Jika itu sama sekali tidak mungkin. Vira tidak mengatakan hal itu. Apa lagi ingin merusak rumah tangga Nayra. Itu sangat memalukan pa," jawab Vira kembali berakting.
" Percayalah pada Vira pa. Vira tidak melakukan itu, sungguh pa," sahut Vira yang terus meyakinkan David.
__ADS_1
" Sialan si Nayra. Mulutnya lancar sekali bicara seperti itu," batin Vira lumayan cemas saat papanya diam dan memikirkan sesuatu.
" Papa istirahat ya," ujar Vira mendekatkan langkahnya pada David ingin menarik selimut David. Tetapi David manganhkat tanganya memberi tanda untuk stop. Jelas hal itu membuat Vira kaget.
" Kamu keluarlah!" usir David masih dengan nada lembut, " papa ingin sendiri, papa mau istrirahat," ujar David menegasakan.
" Tapi pa," sahut Vira.
" Keluar!" suruh David lagi.
" Sialan, ini pasti gara-gara omongan Nayra," batin Vira kesal. Namun dia tersenyum dan pergi.
**********
Raihan memasuki kamarnya dan tidak melihat istrinya ada di atas ranjang maupun di seluruh kamar.
Hiks Hiks hiks hiks.
Raihan mendengar suara tangisan sang istri yang berasal dari kamar mandi. Raihan langsung mendekati kamar mandi mendengar suara tangisan itu semakin kuat.
" Sayang kamu di dalam, ayo keluar," ujar Raihan memanggil lembut nama istri tetapi tidak di dengarkan Nayra.
Raihan memegang kenopi pintu yang kamar mandi tidak di kunci sama sekali. Raihan langsung memasuki kamar mandi melihat istrinya menangis Sengugukan yang duduk memeluk tubuhnya.
" Sayang," Raihan yang sangat khawatir langsung menghampiri istrinya, mengangkat wajah Nayra yang menunduk dengan memegang ke-2 pipinya
" Ada apa, kenapa kamu sampai seperti ini?" tanya Raihan melihat wajah itu yang sudah pucat karena kebanyakan menangis. Hal itu jelas membuatnya khawatir. Melihat istrinya yang begitu tertekan dan pasti gara-gara kejadian tadi pagi.
" Papa jahat, papa sangat jahat," 2 kata itu langsung keluar dari mulut Nayra dengan Senggukan menahan sesak di dadanya.
" Papa malah membelanya. Padahal dia yang salah, kenapa papa malah menyalahkan ku. Papa malah menyuruhku meminta maaf. Papa tidak memikirkan perasaanku," lanjut Nayra yang terisak-isak mengadukan semua apa yang di rasakannya begitu menyakitkan.
Raihan melihati wajah itu dengan rasa prihatin sambil terus mengusap air mata Nayra. Nayra memang pasti tidak menerima hal itu. Dia jelas tau bagaimana Nayra yang sangat mengkhawatirkan papa mertuanya itu.
" Aku benci sama papa, aku hanya khawatir tetapi papa malah melakukan itu, aku ngga mau ketemu papa lagi," lanjutnya.
__ADS_1
" Sayang sudah, kamu jangan menangis lagi. Jika kamu seperti ini. Vira akan jadi pemenangnya. Dia hanya akan menertawakan kamu," jelas Raihan.
" Tapi papa terus membelanya. Apa yang aku katakan tidak satupun di percayakan papa," jelas Nayra yang penuh kekecewaan.
Raihan langsung memeluk Nayra dengan mengusap-usap rambut istrinya. Memeluknya dengan erat agar Nayra bisa tenang.
" Shutttt," jangan menangis
" Nara, aku tau apa yang kamu rasakan. Tapi kamu juga harus ingat kamu sedang hamil. Ini akan berpengaruh pada kandungan kamu. Nara Kamu harus tau wanita itu sengaja melakukan ini agar kamu tertekan. Jangan terpancing dengan omongannya. Kamu harus jaga kondisi kamu," Raihan menjelaskan dengan lembut kepada istrinya.
Raihan sangat tidak tega melihat Nayra yang berusaha keras. Tapi malah sebaliknya di fitnah oleh Vira. Nayra tetap menangis terisak-isak di pelukan Raihan.
Mata Raihan turun pada belakang leher istrinya. Melihat luka di sana seperti luka cakaran.
" Dia melukaimu?" tanya Raihan melepas pelukannya dari Nayra dan melihat Nayra.
" Apa kamu terluka?" tanya Raihan. Nayra mengangguk.
" Kurang ajar," desis Raihan yang pasti tidak akan terima jika ada yang melukai istrinya.
Jelas memang pasti istrinya terluka. Karena dia juga melihat bagaiman Vira membalas perbuatan Nayra. Istrinya memang terlihat rapi dan tidak acak-acakan di bandingkan Vira. Karena tadi Raihan membantu istrinya merapikan rambut dan pakaiannya.
" Tetapi untuk apa luka itu. Luka ini tidak sakit di bandingkan luka di hatiku. Aku lebih sakit dengan keputusan papa di bandingkan hal ini," ucap Nayra terus merasa kecewa.
" Apa lagi yang harus aku lakukan. Aku sudah capek. Aku takut terjadi sesuatu sama papa. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku juga tidak mau ketemu papa," ujar Nayra.
" Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Biar aku yang melakukannya," sahut Raihan yakin.
" Sudah cukup kamu melakukan sejauh ini. Sekarang giliran aku yang akan bertindak. Jadi kamu jangan khawatir. Semuanya akan kembali seperti awal," ujar Raihan dengan tegas.
Dia memang harus turun tangan atas perbuatan Vira. Bukan hanya mencelakai papa mertuanya.
Tetapi juga istrinya selain mendapat luka fisik pasti mental Nayra yang kembali di rusak Vira. Jelas dia takut berpengaruh pada kandungan istrinya. Jadi dia harus turun tangan sendiri.
Raihan kembali memeluk istrinya dengan erat terus menenagkan istrinya.
__ADS_1