Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 153.


__ADS_3

Hari berganti hari. Tidak terasa Raihan dan Nayra sudah 1 Minggu lebih menikah. Perkembangan kesehatan Nayra masih sama. Tetapi lumayan pelan-pelan ada perkembangan sedikit.


Nayra dan Raihan sudah tertidur. Nayra jika tidur pasti di peluk oleh suaminya. Tiba-tiba Nayra terbangun dan duduk.


Nayra memegang perutnya. Terdengar suara demo di dalam perutnya. Nayra melihat Raihan masih tertidur pulas.


Nayra sangat ingin ke luar dari kamar, mencari makanan untuk menghentikan kericuhan di dalam perutnya yang tidak bisa di ajak kompromi.


Tetapi Nayra sangat ragu jika ke luar kamar. Nayra ingin membangunkan Raihan. Tetapi dia tidak tega karena Raihan masih tertidur.


Nayra juga tau Raihan beberapa kali bangun saat dirinya muntah-muntah. Jadi tidur suaminya pasti tidak tenang.


Nayra pun memilih kembali berbaring di samping Raihan. Kembali meletakkan kepalanya di dada Raihan dan memeluk Raihan. Tetapi perutnya masih terus berbunyi.


Nayra mulai gelisah, susah untuk tidur. Ingin ke luar tapi dia takut. Tetapi perutnya juga tidak bisa di kondisikan.


Nayra mengangkat kepalanya, menggeserkan ke atas. Sehingga wajahnya sejajar dengan suaminya.


" Raihan," lirih Nayra pelan tepat di wajah Raihan. Meski suara Nayra begitu pelan.


Raihan membuka matanya perlahan dan melihat mata Nayra yang berada di depannya.


" Ada apa?" tanya Raihan dengan suara seraknya.


" Aku lapar, aku ingin kedapur mengambil makanan di kulkas," ujar mari terbata-bata.


Dia sebenarnya tidak ingin membangunkan Raihan. Karena tau Raihan sangat lelah. Raihan tersenyum.


" Ya sudah ayo," jawab Raihan tanpa menolak. Nayra mengangguk. Lalu bangkit dari atas tubuh Raihan.


Raihan pun menyusul bangkit. Menggenggam tangan Nayra dan membawanya ke dapur. Meski mengantuk. Tetapi demi istrinya dia rela bangun. Asal tidak melihat Nayra kelaparan.


" Kamu mau apa?" tanya Raihan saat mereka sudah sampai dapur.


" Apa aja yang ada," jawab Nayra.


Raihan membuka kulkas dan Nayra berdiri di belakang Raihan.


Mata Raihan membulat sempurna saat melihat kulkas Nayra. Hanya ada air mineral dan tidak ada makanan sama sekali.


Raihan memang tidak pernah memikirkan untuk mengisi kulkas tersebut. Karena dia dan Nayra. Jika makan akan memesan. Kalau tidak di kirim mamanya.


" Apa yang ada?" tanya Nayra mencoba melihat isi kulkas. Nayra melihat kulkas itu juga tidak ada isinya. Raihan menutup kulkas tersebut.


" Aku pesan makanan saja," ujar Raihan menghadap Nayra.


" Ini kan sudah malam. Apa ada driver yang mengantar," sahut Nayra.

__ADS_1


Raihan melihat jam yang dinding. Sudah jam 1 malam mana mungkin ada driver.


" Ya sudah kita cari ke luar saja, pasti banyak yang buka. Jualan 24 jam," sahut Raihan menemukan ide.


" Tapi ini sudah malam. Sebaiknya tidak usah, lagi pilah beberapa jam lagi akan pagi," ujar Nayra dengan suara lesunya.


Raihan melihat Nayra terus mengusap perutnya yang mungkin Nayra benar-benar lapar. Apa lagi beberapa kali Nayra muntah pasti menguras semua isi perut Nayra.


" Ya sudah aku akan memasak untuk mu," sahut Addrian melakukan berbagai cara.


" Memang kamu bisa masak?" tanya Nayra. Raihan menggaruk kepalanya dengan 1 jarinya. Sejak kapan pula dia bisa memasak.


" Ahhhhh, bisa pasti bisa," jawab Raihan ragu.


" Kamu mau masak apa. Bukannya tidak ada bahan makanan?" tanya Nayra. Raihan memejamkan matanya.


Dia lupa jika kulkas itu kosong. Mata Raihan mengarah pada dekat kompor. Raihan melihat beberapa telur di dalam keranjang.


" Aku akan masak telur," sahut Raihan tersenyum. " Ya sudah kamu duduk aja, tunggu sebentar, aku akan memasak untukmu," Raihan mendudukkan Nayra di kursi meja makan. Langsung beralih ke area permasakan.


Raihan bingung harus melakukan apa terlebih dahulu. Seumur hidupnya masalah perdapuran tidak pernah di pegangnya.


Raihan melihat kebelakang dan tersenyum pada Nayra. Seakan dia baik-baik saja dan bisa melakukannya.


Omelette itu yang ada di pikiran Raihan. Pernah sepintas di ingatannya mamanya pernah memasak itu didepan matanya.


Nayra melihat Raihan yang tampak kebingungan. Nayra memutuskan untuk berdiri mendekati Raihan. Nayra mengintip dari belakang Raihan dan melihat Raihan memecahkan banyak telur.


" Kamu mau masak apa?" tanya Nayra membuat Raihan kaget.


Sampai kulit telur masuk ke dalam mangkuk yang berisi telur.


" Nara, kamu bikin kaget aja," sahut Raihan masih dengan suana kaget.


" Aku ingin memasak omelette, kamu duduk aja sana," ujar Raihan.


" Kamu masak untuk berapa, orang kenapa banyak sekali telurnya?" tanya Nayra heran.


" Ohhhh, itu, oh_ iya_aku hanya_ hanya,.." ujar Raihan terbata-bata, " sudahlah kamu sebaiknya duduk biar aku memasakkanmu," ujar Raihan memegang ke-2 pundak belakang Nayra dan mengantarkannya kembali ke tempat duduk.


Raihan kembali melanjutkan aksinya, memasak bermodalkan ingatan yang di milikinya. Hanya memasak telur Raihan butuh waktu 1 jam. Sampai akhirnya omelette berpenampilan menarik itu sudah ada di atas piring.


" Makanlah!" ujar Raihan meletakkan di atas meja. Lalu Raihan duduk di samping Nayra.


Dengan mata berbinar Nayra mengangguk dan mulai memotong omelette itu menyendokkan kemulutnya.


Baru sampai di mulutnya. Mulut Nayra bahkan tidak bergerak untuk mengunyahnya.

__ADS_1


" Ada apa?" tanya Raihan penasaran melihat Nayra berhenti menelan masakannya.


" Asin," jawab Nayra jujur.


" Benarkah, masa sih," sahut Raihan lalu memotong omelette dan dengan pedenya memasukkan kedalam mulutnya.


Uhuk-uhuk Raihan langsung batuk ketika makanan itu sudah sampai di mulutnya. Bahkan Raihan langsung memuntahkannya. Bukan asin lagi. Raihan bukan memasak omelette tetapi memasak garam.


" Aku akan membuatnya lagi," ujar Raihan menarik piring. Tetapi Nayra menghentikannya.


" Aku sudah tidak lapar, aku mau tidur saja," ujar Nayra yang tidak ingin menyusahkan Raihan.


" Tidak Nara, kamu harus makan," sahut Raihan kekeh. Dia tau Nayra sebenarnya sangat lapar.


" Tidak aku mau tidur, ini juga hampir pagi, aku mengantuk," sahut Nayra yang terus menolak.


" Kamu yakin," tanya Raihan. Nayra mengangguk yakin. Raihan berdiri dan memeluk Nayra mengusap-usap pucuk kepala Nayra yang masih duduk di tempatnya semula. Nayra melingkarkan tangannya di pinggang Raihan.


" Maafkan aku, tidak bisa memasak untuk mu. Maafkan aku gara-gara aku kamu kelaparan," ujar Raihan merasa bersalah. Nayra mendongakkan kepalanya ke atas melihat Raihan.


" Tidak Raihan, memang aku tidak lapar," sahut Nayra.


" Ya sudah ayo kita tidur?" ajak Raihan. Nayra mengangguk dan meraih tangan Nayra, menggenggamnya erat.


Makan tidak jadi pasangan itu kembali berada di atas ranjang.


Nayra tertidur beralaskan bantal lengan Raihan. Raihan meraih Nayra ke dalam pelukannya.


" Kamu yakin sudah tidak lapar?" tanya Raihan.


" Hmmm," jawab Nayra dengan deheman.


" Raihan," lirih Nayra.


" Ada apa?" tanya Raihan.


" Kita pernah menanam bunga liliy, tapi aku tidak pernah Kesana. Apa tempat itu masih ada?" tanya Nayra. Tiba-tiba kepikiran tentang bunga liliy. Mungkin perkembangan kesehatan Nayra sudah semakin membaik.


" Iya kamu benar, sepertinya sudah mulai tumbuh," jawab Raihan, " kamu mau kesana?" tanya Raihan. Nayra mengangguk.


" Ya sudah besok pagi kita kesana. Kita akan melihatnya," ujar Raihan. Nayra tersenyum.


" Sekarang tidurlah!" ujar Raihan. Nayra mengangguk dan mulai memejamkan matanya secara perlahan.


" Aku bahagia, akhirnya sebentar lagi kamu bisa sembuh Nara. Aku akan terus di sisimu sampai kapanpun. Tetapi bagaimana dengan masalah Nayra dan orangtuanya. Kapan aku memberi tahunya. Aku harus melihat perkembangan Nayra dulu. Baru memberitahu masalah itu," batin Raihan yang masih belum tenang.


🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2