
Acara kecil-kecilan mereka berjalan dengan lancar. Meski apa yang di tunjukkan Nayra dan Raihan hanya membuat yang lain iri. Jiwa jomblo mereka semakin meronta-ronta melihat kebucinan pasangan itu.
Sementara Angga masih saja fokus dengan alkoholnya. Entah sudah berapa gelas yang masuk ke dalam tenggorokannya.
" Aku tidak tau kalau kamu. Bisa minum sebanyak itu," ujar Carey yang akhirnya menghampiri Angga ketika melihat temannya minum Vodka terlalu banyak.
Angga tidak merespon Carey, dia tetap minum. Sambil melihat ke arah Nayra dan Raihan yang masih saja bermesraan. Care menyunggingkan senyumnya.
Duduk di depan Angga. Saat Angga ingin meneguk Vodka itu lagi. Cherry langsung meraih gelas tersebut dan meminumnya sampai habis.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Angga menatap Carey tajam.
" Apa dengan minum sebanyak ini, rasa suka mu akan hilang," ujar Carey sinis melihat ke arah Nayra dan Raihan.
" Apa maksudmu?" tanya Angga. Carey mengendus.
" Angga-Angga, aku tau kau menyukai wanita itu. Bukannya kalian juga hampir menikah. Tetapi lihatlah dia, hanya menjadikanmu pelarian saja," ujar Carey sinis.
" Jaga bicaramu," ujar Angga yang tidak suka dengan Carey menjelek-jelekkan Nayra.
" Apa yang aku katakan salah. Dulu dia berpacaran dengan Raihan. Ketika dia dan Raihan putus. Bukan. Tetapi wanita itu yang memutuskan Raihan dan menghancurkan hidup Raihan. Lalu dia bersamamu. Sampai bertahun-tahun. Ketika Raihan kembali. Dia bahkan tidak mempedulikanmu. Ketika mereka kembali bubar. Dengan mudahnya dia menerima lamaran mu. Tidak mendapatkan Raihan dia akan kembali kepadamu. Ketika mendapatkan dia akan mencampakkanmu," ujar Carey mencoba menggoyahkan perasaan Angga.
" Jangan sok tau," sahut Angga kembali ingin meneguk minuman itu. Carey kembali mengambilnya.
" Minuman ini, tidak akan membuatmu bersama wanita itu. Karena kamu hanya di anggap sebagai pelarian saja," ujar Carey sinis. Angga hanya terdiam dengan matanya yang sudah tidak fokus. Karena pengaruh alkohol yang di minumnya.
" Angga, aku tau kau mencintai dia. Aku tau kau marah kepadanya. Karena telah di permainkan. Lihat mereka Angga. Mereka bahkan bahagia di atas perasaanmu," ujar Carey memegang tangan Angga. Angga menepis kasar tangan Carey.
" Di atas perasaanku, atau perasaanmu, bukannya kau sangat menggilai Raihan," sahut Angga menyindir.
" Iya perasaanku juga. Wanita itu telah merebut Raihan dari ku. Aku yang ada bersamanya sejak dulu. Dan wanita itu sudah menghancurkannya. Apa aku harus melihat mereka bahagia? Bukan mereka, tapi Nayra. Apa aku harus melihatnya tersenyum bahagia bersama Raihan? itu tidak mungkin kan Angga?" ujar Carey.
" Itu urusanmu, bukan urusanku," ujar Angga merespon dengan dingin lalu berdiri. Dia hanya akan semakin emosi jika Carey terlalu banyak bicara yang membuatnya bertambah steres.
" Apa kau tidak ingin memilikinya?" tanya Carey. Membuat Angga menghentikan langkahnya.
" Raihan sudah memilikinya," ujar Angga tanpa berbalik.
" Raihan hanya milikku, dan aku tidak ingin Raihan menjadi miliknya. Dan kau pasti juga tidak ingin dia menjadi milik Raihan," ujar Carey lagi yang terus mengacaukan hati Angga.
" Urus saja dirimu," ujar Angga sinis.
__ADS_1
" Wanita yang menjadikanmu, pelarian, seharusnya kau tidak melepasnya. Seharusnya kau memberinya pelajaran agar dia berada di sisimu," ujar Carey lagi.
" Jangan terlalu banyak bicara. Aku tidak suka urusanku di campuri siapapun," sahut Angga lalu kembali melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Carey dia tidak ingin mendengar kan Carey yang terus membuatnya semakin panas.
" Angga-Angga, kamu bisa menyerah. Tapi aku tidak. Aku tidak akan membiarkan wanita itu tersenyum bahagia, tidak akan," batin Carey melihat ke arah Nayra dan Raihan yang sekarang saling menyuapi.
Nayra dan Raihan masih saja duduk berduaan sambil menikmati 1 buah jagung bakar untuk berdua. Mereka duduk di atas rumput bersilah kaki. Saling berhadapan.
" Bagaiman?" tanya Raihan sambil mengunyah makanannya
" Bagaimana apanya?" jawab Nayra masih sambil mengigit jagung yang di tangannya.
" Malam ini, apa kamu bahagia?" tanya Raihan.
" Hmmmm, aku suka, walau ada temanmu, yang tidak suka denganku," ujar Nayra nada berbisik.
" Oh iya, bukannya aku sudah mengatakan. Itu hanya perasaanmu saja," ujar Raihan.
" Aku bisa melihatnya, apa lagi Carey. Dia sangat sinis kepadaku. Sama seperti Jesika. Kenapa aku harus memiliki pacar yang banyak di inginkan wanita-wanita lain," oceh Nayra. Raihan hanya tersenyum melihat kekasihnya yang terus merocos sangat menggemaskan.
" Bukannya itu wajar, kan aku tampan jadi jelas, banyak yang menyukaiku," sahut Raihan dengan percaya dirinya.
" Raihan, tegur Carey yang sudah berdiri di depan Nayra dan Raihan. Raihan dan Nayra sama-sama mendongakkan kepala melihat Carey.
" Kenapa tadi aku menyebut namanya, dia langsung datang," batin Nayra kesal melihat kehadiran Carey.
" Iya kenapa?" tanya Raihan.
" Aku tidak melihatmu, minum, aku mengambilkannya untukmu," ujar Carey memberikan Raihan segelas Vodka. Raihan langsung menoleh ke arah Nayra. Yang terlihat cuek. Dan fokus mengigit jagung seakan tidak peduli dengan Raihan dan Carey.
" Apa Nayra melarangmu untuk minum," tanya Carey sinis melihat ke arah Nayra. Karena tidak melihat Raihan meraih gelas di tangannya.
" Padahal dulu, kita sering minum bersama. Kau akan sangat marah jika aku mengambil minumanmu, apa lagi meminum dari gelas bekas bibirmu," ujar Carey lagi yang sengaja membuat Nayra kesal.
" Nih, perempuan kayak nggak punya harga diri banget ya, bisa dia bicara seperti itu. Apa menurutnya itu suatu kebanggaan," batin Nayra mulai jengkel terus makan tanpa melihat Carey.
" Tenggorokanku sedang bermasalah," sahut Raihan.
" Benarkah, bukannya jika minum lebih bagus. Tidak mungkinkan Raihan kau akan berhenti minum hanya karena..." Carey sengaja tidak melanjutkan kalimatnya dan melihat sinis kepada Nayra.
" Apa minumannya masih banyak," sahut Nayra tiba-tiba. Membalas tatapan Carey.
__ADS_1
" Kenapa kau juga ingin minum?" tanya Carey. Nayra tersenyum palsu.
" Tidak, aku hanya bertanya saja. Sepertinya jika Raihan tidak minum. Minuman itu tidak akan berkurang," ujar Nayra sinis.
" Apa kau akan marah, jika dia minum alkohol?" tanya Carey.
" Iya aku akan marah, akan sangat marah, kau tau Kenapa. Karena aku tidak ingin dia kenapa-napa. Aku tidak ingin tenggorokan kekasihku, akan sakit dengan minuman yang kau berikan," jawab Nayra yang tidak bisa menahan ucapannya. Carey mendengarnya meremas gelasnya dengan ucapan pedas Nayra.
" Apa maksudmu, apa kau pikir aku meracuninya?" sahut Carey dengan matanya melebar.
" Bukannya aku harus waspada. Karena manusia yang hatinya sedang tidak sehat bisa melakukan apapun," sahut Nayra sinis.
" kau," desis Carey ingin menyiram Nayra dengan Vodka di tangannya.
" Ada apa. Jika ingin minum, minumlah sendiri. Jangan mengajak orang lain untuk minum bersamamu," ujar Nayra tanpa takut dengan Carey.
" Orang lain katamu, aku dari kecil sahabat dengannya, dan selama 7 tahun tinggal 1...."
" Apertemen dengannya," sahut Nayra melanjutkan kata-kata Carey. Dia sudah sering mendengar kata-kata itu.
" Dari bayi, dia juga tinggal bersama orang tuanya. Tante Zira, Om Addrian dan Bu Raina tidak pernah menyuruhnya minum. Justru mereka akan marah ketika melihatnya melakukan itu, Lalu kenapa kau harus menyuruhnya minum hanya karena tinggal bersamamu," ujar Nayra sinis.
" Apa maksudmu, apa kau berpikir..."
" Iya aku berpikir jika Raihan suka dengan minuman itu. Karena pengaruh dari dirimu. Karena orang tuanya mendidiknya dengan benar. Aku juga hasil didikan dari orang tuanya," ujar Nayra dengan tajam. Sampai Carey tidak bisa berbicara sama sekali.
" Kau,"
" Apa aku harus berbicara dulu kepada Tante Zira dengan masalah ini. Atau aku harus Vidio call dengannya memperlihatkan bagaimana kau memaksanya untuk meminum itu," ujar Nayra dengan nada mengancam.
" Kau ingin mengadu. Apa kau merasa. Jika kau melakukannya Tante Zira akan memarahiku," ujar Carey.
" Baiklah kita liat," sahut Nayra mengambil ponselnya.
" Sudah stop Carey, kamu ini apa-apaan sih," ujar Raihan.
" Nara sudah," ujar Raihan menyimpan ponsel Nayra. Nayra tersenyum tipis melihat Carey
" Carey, aku tidak suka melihat sikapmu, aku selalu menghargaimu, jadi jangan buat rasa hormat dan peduliku berkurang kepadamu. Hanya karena sikapmu. Aku tidak ingin kau mencampuri urusanku. Jagalah sikap dan batasanmu," ujar Raihan dengan tegas.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1