Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 385


__ADS_3

Dara duduk di ruang tamu dan di hampiri oleh Vira yang datang membawakan segelas jus untuknya.


" Nih untuk kamu," ujar Vira yang memberikan Dara segelas jus yang sudah duduk di samping Dara.


" Makasih," sahut Dara tersenyum dan langsung meneguk orens jus tersebut.


" Sama-sama," sahut Vira. Tersenyum tipis. Senyum Vira selalu mengandung arti yang begitu membingungkan. Senyum yang tidak ikhlas yang seperti punya maksud tertentu.


" Oh, iya Dara aku perhatikan kamu belakangan ini suka aneh," ujar Vira tiba-tiba. Membuat Dara tersentak kaget mendengar pertanyaan itu dan sampai melihat kearah Vira.


" Maksud kamu?" tanya Dara panik. Vira tersenyum melihat ekspresi Dara yang dengan cepat berubah.


" Ya seperti sekarang ini. Kamu sangat aneh, suka kagetan dan wajah kamu suka panik," sahut Vira. Dara menelan salavinanya mendengar perkataan Vira.


" Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu," lanjut Vira dengan nada menyindir. Membuat Dara seakan gelisah mendengarnya.


" Hmmm, apa maksud kamu. Jelas aku tidak apa-apa," sahut Dara tampak gugup.


" Kamu santai aja kali, aku hanya menebak saja. Soalnya kamu tidak seperti biasanya sih," sahut Vira dengan santai.


" Hmmm, mungkin aku sedang banyak pikiran belakangan ini. Makanya kebawa-bawa sampai ke rumah," sahut Dara mencoba menjelaskan.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Vira mengangguk-angguk saja.


" Apa mungkin Vira sudah mencurigaiku, tapi tidak mungkin karena aku tidak begitu terlihat mencurigakan," batin Dara yang merasa tidak tenang.


" Hmmm, oh iya Dara. Ada yang ingin aku tanyakan pada kamu," ujar Vira.


" Tanya apa?" sahut Dara heran.


" Gini masalah Sony. Dan kamu pernah ketemu Tante Saski lagi?" tanya Vira tiba-tiba.


" Tante Saski, memang kenapa kok tumben-tumbennya kamu nanyain Tante Saski?" tanya Dara merasakan ada yang aneh.

__ADS_1


" Ya tidak apa-apa. Bukannya kemarin kamu sudah menyampaikan kabar pernikahan kepadalu. Kamu mengatakan jika orang tua Sony sudah setuju dan sekarang aku heran saja kenapa pernikahan itu belum ada pembahasan. Bukannya lebih cepat lebih baik aku menikah dengan Sony," sahut Vira tiba-tiba yang mendesak untuk menikah dengan Sony.


Hal itu membuat Dara kaget. Sebelumnya Vira tampak ragu dan tidak bersemangat saat dia menyampaikan kabar pernikahan itu. Tetapi sekarang malah mendesak dan ingin menikah buru-buru.


" Vira mengungkit pernikahannya," batin Dara merasa ada yang aneh di hatinya.


" Kamu kenapa diam. Memang harus kan aku menikah dengan Sony," sahut Vira membuat Dara kaget.


" Ha iya. Harus kamu harus menikah dengan Sony," sahut Dara mengangguk-angguk.


" Jadi aku minta tolong sama kamu. Kamu tolong ya bilangin sama keluarga Sony agar memperjelas tanggal pernikahannya. Kandungan aku sudah besar. Di masa-masa seperti ini aku membutuhkan Sony untuk kelahiran anak kami berdua," ujar Vira yang sepertinya sengaja memanas-manasi Dara.


" Hmmm, iya nanti aku akan bilang sama Tante Saski dan Om Roni," sahut Dara tampak tidak semangat. Vira tersenyum mendengarnya.


" Hmmm, makasih ya," sahut Vira. Dara mengangguk.


" Sayang, sebentar lagi kita akan hidup bahagia bersama papa kamu. Kamu yang sabar ya di dalam sana," ujar Dara menundukkan kepalanya mengusap-usap perutnya.


" Kenapa Vira tiba-tiba mendesak pernikahan itu. Bukannya biasanya dia seakan tidak peduli dan sekarang terlihat semangat," batin Dara yang tampak senduh, murung seperti tidak menyukai apa yang di katakan Vira.


Seperti Dara tiba-tiba tidak rela dengan pernikahan itu. Tetapi dia mencoba bahwa dia mendukung pernikahan itu.


" Hmmm, aku melihat ada kesedihan di wajah kamu Dara. Bukannya kamu yang terlalu ngebet aku menikah dengan Sony. Lalu kenapa kamu sekarang tampak seperti tidak rela. Ada apa denganmu, apa kamu menyesal yang sudah mendukung pernikahanku," batin Vira yang melihat wajah Dara yang begitu murung.


***********


Angga berada di dalam ruangan kerjanya. Angga terlihat gelisah. Beberapa kali dia mengetik di keyboard lalu berhenti memutar-mutar polpen di jarinya. Lalu menyandarkan punggungnya di kursinya.


Mememjanka matanya dengan memija- mijat kepalanya yang terasa berat. Pikiran Angga sepertinya entah kemana-mana. Tidak menentu. Dia resah terus merasa gelisah.


" Mana mungkin Della akan menikah," batin Angga yang ternyata memikirkan Della. Kata-kata sang mama sepertinya membuatnya kepikiran dan sekarang dia yang kepanasan dengan kabar pernikahan itu seperti ada ketidak relaan di dalam dirinya yang tidak dapat di mengertinya.


Angga mengambil ponselnya dan menscroll kontak-kontak dan tiba-tiba jari itu berhenti pada kontak Della. Angga sepertinya ingin menghubungi Della untuk menanyakan apa yang di bicarakan mamanya. Saat tangannya sudah mulai menekannya tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.

__ADS_1


Ceklek.


Yang ternyata Karen yang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Membuat Angga kaget dan langsung meletakkan ponselnya di atas meja.


" Keren," ujar Angga. Karen tersenyum dan masuk kedalam ruangan Angga.


" Kamu sedang apa di sini?" tanya Angga.


" Tidak, aku hanya mampir," jawab Karen yang menghampiri Angga dan berdiri di belakang Angga membungkukkan tubuhnya agar memeluk Angga dari belakang dengan kedua tangannya yang menempel di dada Angga sembari mengusap-usapnya.


" Aku merindukanmu, makanya aku datang," bisik Karen yang menempelkan wajahnya di pipi Angga membuat Angga terlihat kurang nyaman.


" Ohhh, seperti itu," sahut Angga yang langsung menjatuhkan tangan Karen dadanya merasa risih.


" Apa teman-teman Angga menceritakan masalah kemarin," batin Karen yang tiba-tiba kepikiran dan mungkin kedatangannya ke kantor Angga karena ingin memastikan kejadian itu.


" Angga bagaimana jika kita makan siang bersama," ujar Karen mengajak Angga dengan tangannya tetap menempel walau sudah di Singgirkan Angga.


" Tapi aku masih banyak pekerjaan," sahut Angga menolak.


" Masa iya aku sudah jauh-jauh datang kemari tapi kamu menolak. Dan masa iya pekerjaan kamu sangat banyak. Apa kamu tidak akan makan siang dan hanya akan bekerja saja," ujar Karen dengan manjanya.


" Hmmm, aku tadi sudah makan sedikit. Jadi nanti kalau lapar baru makan lagi," sahut Angga yang terus mencari alasan.


" Kenapa Angga tidak mau. Tidak mungkin Angga sudah tau semuanya," batin Karen yang kepanikan.


" Hmmm, ya sudah kalau kamu tidak mau makan siang bersamaku. Bagaimana jika kita makan malam bersama," ajak Karen yang mengubah jadwal makan.


" Kamu mau kan Angga?" tanya Karen memastikan. Dia mencoba membujuk Angga. Angga terdiam dan tampak berpikir.


" Hmmm, ya sudahlah. Nanti kalau pekerjaan aku selesai. Kita akan makan bersama," sahut Angga membuat Karen tersenyum.


" Makasih," sahut Karen langsung memeluk erat Angga dengan mencium pipi Angga.

__ADS_1


" Aku tidak akan melepaskan mu Angga. Lihat saja. Aku akan mendapatkanmu sebelum semuanya terbongkar," batin Karen yang sepertinya punya masalah dan ada sesuatu rahasianya yang terbesar.


Bersambung


__ADS_2