
Pagi hari kembali tiba. Carey ternyata harus menginap 1 malam di rumah sakit dan sekarang dia sudah siap-siap yang di bantu Dara untuk keluar dari rumah sakit sementara Dion masih mengurus administrasi Carey. Sementara Nayra memang tidak bisa datang kerumah sakit lagi.
Karena kondisinya yang memang tidak stabil. Padahal belum waktunya melahirkan. Tetapi Nayra sering mengalami kontraksi. Jadi Raihana tidak mengijinkannya untuk pergi.
Tidak berapa lama, akhirnya Dion kembali dari mengurus administrasi dan langsung memasuki kamar perawatan Carey.
Ceklek.
Saat Dion masuk terlihat Carey yang duduk di pinggir ranjang dengan kakinya mengayun. Carey tau Dion datang. Tetapi Carey sama sekali tidak melihatnya. Dia benar-benar sangat cuek kepada suaminya.
Dari tadi malam sampai saat ini Carey dan Dion memang tidak saling bicara. Carey diam membisu, sementara Dion hanya memberikan Carey waktu yang tepat untuk berbicara.
" Dion sudah selesai?" tanya Dara.
" Hmm, sudah," jawab Dion.
" Oh bagus kalau begitu," ujar Dara.
" Ya sudah Dara, makasih ya, kamu sudah bangun Carey," ujar Dion.
" Nggak apa kali, orang nggak ngapain-ngapain juga," sahut Dara.
" Hmmm, ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu," ujar Dion pamit.
" Oh, iya," sahut Dara. Dion tersenyum tipis dan mendekati Carey yang duduk di pinggir ranjang.
" Ayo Carey," ujar Dion dengan lembut menadahkan tangannya agar di raih Carey. Tetapi Carey sama sekali cuek dan turun sendiri dari atas tempat tidur dan benar-benar mengangguri tangan Dion.
Dion harus membuang napasnya perlahan kedepan dengan Carey yang masih cuek kepadanya. Sementara Dara yang bisa melihat hal itu tersenyum tipis saja.
" Dara aku pulang dulu," ujar Carey pamit.
" Iya hati-hati," sahut Dara. Carey pun langsung pergi.
" Ya sudah aku juga pulang, sekali lagi terima kasih," ucap Dion yang juga pamitan.
" Iya sama-sama, hati-hati, jagain Carey," sahut Dara mengingatkan. Dion mengangguk dan langsung pergi.
" Hhhhhhhh, semoga saja hubungan mereka baik-baik saja. Carey kalau ngambek memang sedikit menyeramkan. Semoga Dion sabar menghadapinya. Mungkin karena hamil juga. Jadi mood jeleknya susah hilang," batin Dara yabg hanya bisa berdoa yang baik-baik untuk sahabatnya.
**********
Setelah mengurus Carey sahabatnya dan sekarang Dara harus kembali kekamar Vira. Dia memang super sibuk banyak orang yang di harus di urusnya.
__ADS_1
Dara langsung masuk kekamar Vira dan melihat Vira sudah bangun. Dara langsung menghampirinya.
" Bagaimana keadaan Carey?" tanya Vira.
" Dia baik-baik saja, dia juga sudah pulang," jawab Dara.
" Lalu Dion, bagaimana apa dia tidak singgah sebentar untuk melihatku," sahut Vira. Dara yang mendengarnya sedikit mengubah ekspresinya.
" Kamu ingin melihatmu?" tanya Dara. Vira mengangguk dengan entengnya.
" Untuk apa?" tanya Dara yang terlihat serius.
" Semenjak aku masuk rumah sakit, aku sama sekali tidak melihatnya dan dia juga tidak minta maaf kepadaku," sahut Vira. Dara mengkerutkan dahinya mendengar omongan Vira.
" Maksud kamu apa. Kenapa dia harus minta maaf," tanya Dara heran.
" Aku menyuruhnya menjemputku di panti. Tetapi tidak datang dan aku jadi seperti ini. Karena menunggunya," jawab Vira. Dara mendengus mendengarnya.
" Vira aku sudah bertanya kepadamu sebelumnya, kamu mau di jemput apa tidak. Dan kamu mengatakan tidak. Karena kamu menunggu Dion," sahut Dara.
" Aku hanya tidak ingin merepotkanmu Dara," ujar Vira.
" Lalu tidak apa-apa merepotkan Dion?" tanya Dara dengan serius melihat ke arah Vira.
" Vira kamu sadar tidak, orang yang tidak segan untuk kamu repotkan adalah suami orang lain," sahut Dara.
" Dara apa maksud kamu. Kenapa kamu bicara seperti itu," sahut Vira heran.
" Aku hanya bingung sama kamu, kamu menolak bantuan, Nayra, Om David, bahkan aku. Tetapi kamu malah meminta bantuan pada Dion yang seharusnya itu tidak wajar. Kamu sadar tidak. Jika Dion sudah menikah," sahut Dara yang benar-benar serius berbicara pada Vira.
" Dara, kamu kenapa. Aku tau Dion menikah. Aku bersahabat dengannya. Aku tidak melakukan apapun. Apa meminta pertolongannya salah?" tanya Vira.
" Salah, Vira. Karena dia tidak pantas melakukan itu. Kamu bisa dengan mudah meminta pertolongannya. Tetapi kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan istrinya," ujar Dara.
" Vira asal kamu tau saja, hubungan Carey dan Dion sedang tidak baik-baik saja dan bermula dari kamu," lanjut Dara yang bicara pedas.
" Aku pulang dulu, aku berharap kamu bisa mengerti siapa yang harus kamu repotkan dan siapa tidak perlu kamu repotkan," ujar Dara yang langsung pergi dengan wajahnya yang terlihat jelas sangat kecewa dengan Vira.
" Apa yang aku lakukan, aku tidak melakukan apapun kepada Dion. Tetapi kenapa Dara bicaranya sampai seperti itu," batin Vira yang langsung murung.
*******
Di sepanjang perjalanan Carey dan Dion yang berada di dalam mobil hanya diam saja tanpa ada obrolan. Carey terus melihat keluar jendela, sementara Dion fokus menyetir. Walau sesekali dia juga melihat Carey yang sama sekali tidak melihatnya.
__ADS_1
" Kamu mau makan Carey?" tanya Dion.
" Tidak perlu, aku tidak lapar," jawab Carey tanpa menoleh ke arah Dion.
" Baiklah, kita makan di rumah saja nanti," sahut Dion.
Tidak berapa lama akhirnya pasangan suami istri itu pulang kerumah mereka. Dengan cepat Carey langsung membuka pintu mobil dan langsung memasuki rumah.
Sementara Dion baru saja membuka sabuk pengamannya tetapi istrinya sudah menyelonong pergi saja dan meninggalkannya sendirian.
Dion menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Melihat punggung Carey yang memasuki rumah tanpa melihatnya sekali saja.
" Apa yang harus aku lakukan, agar Carey bisa memaafkanku, aku tidak ingin dia seperti itu dalam ke adaan hamil," batin Dion yang selalu mengusahakan untuk berbaikan pada istrinya.
Dion kembali membuang napasnya perlahan. Lalu langsung memasuki rumah untuk menyusul sang istri dan mungkin Dion harus menguatkan semua jurusnya untuk menaklukkan hati Carey istri tercintanya.
*************
Sementara di sisi lain Raihan memasuki kamar dengan membawakan nampan yang berisi makanan yang mungkin untuk istrinya yang masih berada di atas tempat tidur. Menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Raihan tersenyum lalu memasuki kamar itu dan melangkah menghampiri istrinya yang seperti menahan sakit.
" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Raihan yang sudah duduk di samping Nayra.
" Masih sakit," jawab Nayra yang memang apa adanya. Dia masih merasakan kasir di area pinggangnya.
Raihan meletakkan apa yang di bawanya tadi di atas dan meraih tangan Nayra memegangnya erat.
" Apa kita harus Kerumah sakit?" tanya Raihan.
" Nanti saja," jawab Nayra.
" Ya sudah, kamu makan dulu ya," ujar Raihan pelan. Nayra menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Aku tidak lapar," jawab Nayra yang tidak selera untuk makan.
" Sedikit saja," bujuk Raihan. Nayra tetap menggeleng dan merapatkan mulutnya yang benar-benar tidak ingin makan.
Raihan tersenyum tipis dan mendekatkan lagi pada istrinya. Raihana mengusap lembut pipi istrinya dan mengecup kening hanya dengan lembut.
" Makan ya, sedikit saja," bujuk Raihan dengan lembut menatap Nayra dalam-dalam. Nayra pun akhirnya menganggu pelan. Raihan tersenyum pada istrinya yang akhirnya mau makan.
Raihan pun tidak menunggu lama lagi. Dia langsung mengambil makanan dari atas nampan dan langsung menyuapi istrinya dengan lembut. Istrinya yang terus mengeluarkan keringat yang memang tampaknya sangat kesakitan.
__ADS_1
Bersambung.