
" Lalu, istri Pak David kemana. Siapa istrinya?" tanya Raina bingung.
" Haaaaa ( Raina membuang napas perlahan). Pak David dan Nayra banyak kesamaan. Alergi yang sama. Sedangkan orang tua Nayra tidak memiliki itu. Orang tua Nayra bahkan tidak memperlakukannya dengan baik. Mana ada seorang ibu yang terus-menerus menyulitkan anaknya. Sementara Papa Nayra juga tidak terlalu dekat dengan Nayra. Bahkan tidak mama atau papanya seperti tidak menganggap Nayra," Raina terus bergerutu dengan pemikirannya sendiri.
" Apa Nayra bukan anak mereka ya. Banyak keluarga broken home. Tapi tidak seperti itu," tebak Raina yang mencoba menyimpulkan sendiri.
" Jika Nayra bukan anak mereka. Apa mungkin anak Pak David," ujarnya menerka-nerka.
" Pertemuaan mama dan Pak David, penuh misteri. Mama dari kecil sudah mengetahui Nayra. Pak David mempunyai anak yang sudah meninggal. Seusia dengan Nayra. Kenapa aku tidak tanya saja dengan Pak David siapa nama anaknya yang sudah tiada," ujarnya menemukan ide.
" Benar aku harus tanya jawaban itu sangat penting. Aku yakin mama tidak mungkin se- peduli itu kepada Nayra jika tidak ada sesuatu. Nayra bukan satu-satunya orang yang dapat beasiswa. Tetapi mama memperlakukannya dengan khusus,"
" Bahkan mama yang memasukkan Nayra ke Adverb tanpa ada interview dan proses seperti karyawan lainnya. Mama melakukan ini bukan karena Nayra pacaran dengan Raihan. Tetapi karena ada sesuatu," ujarnya lagi.
" Kuncinya Pak David, aku harus menemuinya, berbicara dengannya. Aku harus mengorek-ngorek informasi tentang anaknya yang meninggal. Termasuk nama anaknya," ujarnya mengambil kesimpulan setelah lama berpikir.
" Lalu bagaimana dengan kak Raihan. Apa aku kasih tau kak Raihan semua ini. Tidak sebaiknya jangan dulu. Semua masih dugaanku. Aku tahan dulu sampai aku memiliki bukti yang kuat," ujarnya menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jarinya. Menggoyang-goyangkan kursi kerjanya.
" Haaa, lelah sekali bila harus memikirkan itu, Astaga aku sudah terlalu lama di sini. Sampai tidak melihat waktu, ini sudah sangat malam," ujar Raina tiba-tiba, melihat arloji di tangannya.
" Huhhhh....Aku harus segera pulang," ujarnya merapikan mejanya. Menyatukan berkas-berkas penting itu menjadi satu.
Raina menyusun semua berkas di atas mejanya, mengambil tasnya dan buru-buru keluar dari ruangannya.
Karena kelamaan bekerja. Raina sampai tidak ingat waktu. Saat ke luar dari ruangannya. Kantor sangat sepi. Tidak ada orang sama sekali. Bahkan sangat gelap.
" Ya ampun ini pertama kali aku lembur sampai selarut ini," ujarnya dengan pelan.
" Bu Raina,"
" Aaaaaaa," teriak Raina ketika mendengar seseorang memanggilnya.
" Pergi kamu siapa kamu?" tanya Nayra menutup matanya dengan ke-2 tangannya.
" Maaf Bu, ini saya Raka," ujar Raka yang berdiri di depan Raina yang melihat Raina yang masih memejamkan matanya karena ketakutan. Mendengar suara Raka. Raina perlahan membuka matanya.
" Kamu," bentak Raina memukul Raka dengan spontan.
" Saya hampir jantungan, apa kamu sengaja hah!" ujar Raina terus memukul-mukul Raka.
" Maaf Bu saya tidak sengaja," Raka harus sabar dengan pukulan Raina.
__ADS_1
Raina terus memukul Raka. Sampai Rakan yang tidak tahan menangkap ke-2 tangan Raina. Raina menelan salavinanya ketika Raka menangkap tangannya. Membuat dan dia saling menatap dengan napas Nayra yang naik turun.
" Maaf," ujar Raka dengan lembut. Mendengar suara Raka. Seakan ada aliran listrik di dalam tubuh Raina membuatnya seketika bergetar.
" Ada apa denganku, kenapa jantungku berdebar tidak menentu, mungkin aku hanya kaget," batin Raina tidak mengerti dengan isi hatinya.
" Lepasin," Raina melepas kasar tangannya, ketika sudah kembali sadar.
" Sekali saya minta maaf," ujar Raka. Raina malah menjadi salah tinggkah dan memalingkan pandangannya. Entah mengapa Raina merasa tidak bisa menatap Raka.
" Kamu bikin saya jantungan," sahut Raina gugup.
" Maaf Bu," sahut Raka terus mengulang permintaan maafnya.
" Saya tidak bermaksud mengagetkan Ibu. Tetapi kenapa Ibu masih ada di kantor?" tanya Raka.
" Kerjalalah ngapain lagi?" jawab Raina kesal.
" Sampai selarut ini?" tanya Raka
" Iya memang kenapa, kamu mau ngadu sama mama?" sahut Raina kesal.
" Kamu sendiri ngapain di sini, mematai- matai saya," ujar Raina langsung menuduh.
Raka tersenyum mendengar tuduhan Raina. Melihat Raka tersenyum Raina mengkerutkan keningnya.
" Saya tadi baru selesai meeting di luar. Ponsel saya ketinggalan di ruangan saya. Jadi saya kemari mengambilnya," jawab Raka.
" Ohhh," sahut Raina berusaha biasa saja.
" Ya sudah, apa Mari kita keluar," ajak Raka.
" Kamu mengusir saya?" tanya Raina.
" Bukan Bu. Tetapi apa ibu masih akan tetap di sini?" tanya Raka.
Raina melihat di sekelilingnya. Sudah tidak ada siapa-siapa dan kantor juga sangat gelap. Memang sedari tadi dia sendirian di kantor.
" Mari Bu," ujar Raka lagi mempersilahkan Raina dengan sopan. Dengan ketus Raina berjalan melewati Raka.
Raka hanya tersenyum yang terus-menerus mendapat perlakuan ketus dari Raina. Dia memang harus memakluminya.
__ADS_1
Raka dan Raina berada di depan pintu lift. Saat pintu Lift terbuka. Raina dan Raka memasukinya. Raina terlihat gelisah berada di samping Raka. Raina ingin memencet tombol lift dan ternyata Raka juga melakukan hal yang sama. Al hasil jari mereka saling menimpa.
Mereka bahkan kembali saling melihat. Tatapan mereka seakan membicarakan sesuatu. Raina seketika menjadi canggung dengan apa yang di lakukan Raka. Raina langsung menyinggirkan tangannya dari Raka. Karena tidak sanggup menahan tatapan Raka kepadanya.
" Maaf," ujar Raka. Raina diam saja dan kembali berdiri tegak. Beberapa kali Raina membuang napasnya ke depan. Sepertinya Raina sangat gugup berada di samping Raka.
" Apa lift ini bermasalah, kenapa lama sekali turunnya," batin Raina yang semakin salah tingkah di samping Raka.
Padahal sebelumnya dia sering ber-2 an dengan Raka. Tetapi dia merasa sangat aneh saat ini. Raina juga curi-curi pandang pada Raka yang berdiri tenang di sampingnya.
Ting pintu lift terbuka. Raina langsung bernapas lega. Raka juga mempersilahkan Raina ke luar terlebih dahulu.
Raka dan Raina sudah berada di depan Adverb.
" Aku lupa lagi, telpon Pak Yatno," gerutu Nayra yang tidak melihat supirnya. Sementara Raka juga melihat Raina sepertinya kebingungan.
" Mari saya antara Bu," ujar Raka dengan ramah.
" Tidak usah," jawab Raina ketus.
" Ibu pulang sama siapa, ini sudah sangat malam?" tanya Raka. Raina diam saja dan melihat ponselnya. Yang memang sudah jam 12 malam.
" Ibu tunggu di sini, saya akan ambil mobil dulu," ujar Raka langsung pergi. Raina diam saja tanpa melarang Raka.
" Ada apa sih, denganku kenapa aku malah diam bahkan tidak berani bicara," gumam Raina bingung melihat dirinya sendiri.
Tidak berapa lama. Akhirnya Raka pun datang dengan membawa mobilnya. Mobil itu sudah terparkir di depan Raina yang masih berdiri dengan gelisah.
Raka keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Raina.
" Mari Bu," ujar Raka kembali mempersilahkan. Raina sepertinya harus menghilangkan gengsinya yang tinggi. Dengan ketusnya Raina memasuki mobil itu.
Raka tersenyum. Menutup pintu mobil pelan. Dan mengelilingi mobil. Masuk kedalam duduk di kursi pengemudi. Sementara Raina berada di belakangnya.
" Kamu sengaja baik-baik saya?" tanya Raina. Raka melihat dari kaca spion dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
" Terserah ibu, mau berpikir apa. Bukannya memang itu tugas saya," jawab Raka dengan santai.
" Semakin lama, kamu semakin pintar bicara," sahut Raina dengan kesal. Raka tidak merespon dan kembali menyetir. Sementara Raina yang berada di belakang Raka. Terus merasa canggung.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung ๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1