Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 343


__ADS_3

Nayra keluar dari kamar mandi sudah dengan kimono over size nya maklumlah dia sedang hamil besar. Jadi pakaiannya harus yang besar-besar juga. Karena tidak mungkin sempit bisa bahaya pada kandungannya.


Saat Nayra keluar dari kamar mandi. Raihan baru memakai kaos yang di pakainya untuk tidur. Nayra melihat suaminya sedang memakai pakaian.


Tetapi bukan itu yang langsung menjadi pokok perhatiannya. Nayra melihat luka di tubuh Raihan. Nayra mengetahui suaminya itu tertembak sebelumnya.


Tetapi tubuh suaminya bukan hanya terdapat luka tembak. Tetapi terdapat banyak luka. Bahkan seperti sayatan. Nayra melihatnya langsung cemas dia melangkah cepat kehadapan Raihan.


" Apa ini sudah sembuh?" tanya Nayra memegang luka itu. Raihan tidak jadi memakai bajunya. Karena istrinya sibuk melihat-lihat tubuhnya, dari depan sampai belakang dengan wajah istrinya yang penuh kepanikan.


" Ini belum sembuh, kenapa bisa sebanyak ini?" ujar Nayra semakin panik.


" Sayang sudah ya. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, ini juga sudah sembuh," ujar Raihan memegang tangan istrinya yang sedari tadi meraba-raba lukanya.


" Luka kecil bagaimana. Ini tidak luka kecil. Ini sangat besar. Ini pasti sakit," ujar Nayra sudah dengan matanya yang bergenang. Nayra memang sangat mudah untuk menangis.


" Sayang sudah ya. Aku sudah katakan aku tidak apa-apa. Lukanya juga tidak sakit. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Karena tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," ujar Raihan meyakinkan istrinya dengan memegang pipi istrinya menatap mata istrinya yang penuh kecemasan.


" Benar sudah tidak sakit?" tanya Nayra yang masih tidak percaya.


" Iya. Sudah tidak sakit, percayalah kepadaku," jawab Raihan meyakinkan istrinya.


" Sayang kamu jangan memikirkan apa-apa lagi. Kamu jangan menangis lagi. Aku sudah ada bersamamu. Aku tidak ingin kamu terus sedih. Semuanya sudah cukup. Aku ingin kita bahagia. Kamu jangan menangis lagi. Air mata kamu tidak boleh keluar lagi," ucap Raihan mengusap setetes air mata istrinya.


" Bagaimana air mataku tidak keluar. Aku sangat takut. Aku takut jika benar-benar kehilangan kamu. Kamu harus tau Raihan. Saat aku ikut untuk mencari kamu. Aku sangat takut melihat tim penyelamat membawa kantung. Aku takut jika mereka membawa kantung mayat. Aku tidak siap jika harus melihat kamu berada di dalamnya.


" Saat kamu di nyatakan meninggal tanpa ada jasat yang ketemu dan pencarian di berhentikan. Aku sangat bersyukur. Kamu tau kenapa. Supaya aku tidak pernah kantung mayat yang pada akhirnya adalah kamu isinya. Karena aku tidak siap dengan hal itu. Aku tidak siap. Jika benar-benar akan kehilangan kamu," ujar Nayra dengan air matanya kembali dan Raihan langsung mengusapnya dengan lembut.


" Maafkan aku Nara. Aku sudah membuatmu ketakutan. Maafkan aku," ujar Raihan yang terus merasa bersalah pada istrinya. Nayra memegang tangan Raihan dengan yang memegang pipinya.


" Berjanjilah padaku. Kamu tidak akan pergi lagi. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku ingin selalu sama-sama. Aku ingin kamu dan anak kita. Selalu ada bersamaku," ujar Nayra.


" Iya. Aku berjanji. Aku tidak akan pergi lagi. Aku tidak akan membiarkan istriku menangis lagi. Aku tidak akan biarkan dia menungguku terlalu lama. Aku tidak akan membiarkan dia kesepian. Aku berjanji padamu," ujar Raihan yang langsung menarik Nayra kedalam pelukannya.


" Terima kasih Raihan sudah kembali untukku. Aku sangat bahagia. Terima kasih," ujar Nayra menangis di pelukan sang suami.


" Aku yang berterimakasih kepadamu. Karena kamu sudah menungguku. Makasih sayang. Terima kasih untuk kamu yang terus ada untukku. Aku sangat mencintaimu Nara. Sangat mencintai mu," ujar Raihan.

__ADS_1


" Aku jauh lebih mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," sahut Nayra yang tidak kalah ingin mengucapkan kata cinta.


**********


Setelah dari pesta ulang tahun Nayra. Dara pulang ke apartemennya. Dia merasa sudah lama meninggalkan Vira di sana dan takut Vira kesepian dia pun akhirnya pulang.


" Pestanya sudah selesai?" tanya Vira. Begitu melihat Dara sudah sampai.


Vira yang memakai piyama. Perutnya terlihat sudah mulai membuncit yang sepertinya usia kandungan Vira juga sudah mulai tua. Yang pasti tidak seperti Nayra yang memang sudah memasuki bulannya.


" Belum sih. Tapi aku langsung pulang. Takut kemalaman juga. Nggak enak sama kamu," jawab Dara.


" Kami ini apa-apaan sih. Lagian hanya pergi sebentar apa yang tidak enak," sahut Vira. Dara pun duduk di ruang tamu yang disusul oleh Vira.


" Lagi pula, aku capek makanya pulang juga di percepat," ujar Dara.


" Ya sudah kamu mau aku buatkan minum tida" tanya Vira menawarkan.


" Tidak usah, kamu jangan repot-repot," jawab Dara yang langsung menolak," Oh iya Vira aku tadi bicara sama Sony dan kata Sony. Kalau bisa besok dia akan ikut buat cek kandungan kamu," ujar Dara menyampaikan apa yang di bicarakannya pada Sony.


" Kamu mengajaknya?" tanya Vira. Dara mengangguk.


" Vira. Kamu jangan khawatir. Tante Saski tidak akan tau. Lagi pula aku ingin Sony tau bagaimana perkembangan kandungan kamu. Walau dia tidak bertanggung jawab atas kamu. Tetapi dia harus punya tanggung untuk anak kamu, jadi tenang saja. Tidak akan ada masalah," jelas Dara dengan yakin.


" Aku tau Dara. Tapi aku tidak mau mencari keributan. Dengan kamu yang sudah membantuku. Itu sudah cukup untukku. Aku tidak perlu apa-apa. Apa lagi perhatian Sony. Karena itu hanya akan menjadi masalah. Dara aku minta tolong sama kamu berhenti menyuruhnya untuk mengurus ku. Aku tidak ingin masalah semakin banyak. Aku hanya ingin anak ini lahir dengan selamat dan itu sudah cukup," ujar Vira yang memang tidak ingin membuat siapa-siapa repot karena dirinya.


" Ya ampun Vira. Aku hanya mengajak mengecek kandungan. Tidak akan menambah masalah," ujar Dara.


" Tidak akan masalah. Jika Tante Saski tidak membenciku. Dara, kamu tau sendiri. Bagaimana Tante Saski sangat tidak menyukaiku. Jadi tolong. Jangan libatkan Sony lagi dalam hal ini," ujar Vira dengan wajahnya yang serius.


" Ya sudah baiklah. Tapi kali ini aku hanya ingin dia menemani kamu. Dan kamu santai saja. Tidak akan ada masalah. Hanya kali ini saya. Percaya padaku," ucap Dara meyakinkan Vira kembali.


Dia hanya ingin Sony mengetahui keadaan kandungan Vira.


" Ya sudah. Tapi semoga saja dia tidak bisa," sahut Vira yang malah mengharapkan Sony tidak bisa datang. Membuat Dara mengkerutkan dahinya.


" Kamu ini aneh-aneh saja ya. Orang berusaha untuk membujuknya. Tapi kamu malah doanya seperti itu," ujar Dara heran.

__ADS_1


" Ya itu lebih baik soalnya, aku tidak mau ada apa-apa," sahut Vira dengan santai.


" Ya sudahlah. Nggak usah di pikiran lagi. Sekarang ayo kita tidur. Ini sudah malam, besok kita akan pergi pagi-pagi. Jangan sampai telat," ujar Dara mengajak Vira untuk tidur.


" Iya. Oh iya bagaimana pesta Nayra. Apa lancar, apa dia sedih?' tanya Vira.


" Hmmm, lancar. Pak David juga tanya kabar kamu tadi. Dia mengatakan jangan suka mengabaikan telponnya," ujar Dara menyampaikan pesan papa angkat Vira.


" Kamu sengaja mengabaikannya?" tebak Dara.


" Aku hanya tidak ingin merepotkan papa. Nayra lebih membutuhkanya. Dia sangat kesepian. Karena suaminya tidak ada. Jadi dia lebih membutuhkan di bandingkan aku, jadi biarkan saja seperti itu," ujar Vira memberikan alasannya. Kenapa jarang mengangkat telpon David.


" Kami ini ya, Sony di larang memperhatikan kamu dan sekarang Om David juga kamu menghindarinya. Emang kamu bisa apa berdiri sendiri," ujar Dara.


" Aku hanya ingin perhatian papa untuk Nayra seutuhnya. Karena Nayra sudah kehilangan belahan jiwanya," ujar Vira. Dara tersenyum mendengarnya.


" Tapi sekarang Nayra sudah tidak kesepian lagi. Belahan jiwanya sudah kembali. Suami tercintanya sudah kembali kedalam pelukannya," ujar Dara. Mendengar kata kembali membuat Vira kaget.


" Apa maksud kamu?" tanya Vira dengan wajah terkejutnya.


" Iya. Suaminya kembali. Raihan sudah kembali. Dia datang di acara ulang tahun Nayra, aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba ada Raihan. Semua orang shock dengan kehadirannya yang tiba-tiba dan pasti suasana pesta menjadi sangat haru," jelas Dara dengan lengkap kepada Vira.


" Jadi maksud kamu Raihan masih hidup?" sahut Vira yang benar-benar tidak percaya.


" Raihan tidak pernah mati. Dia memang hidup. Dan sudah kembali lagi bersama Nayra," sahut Dara.


" Yah, ampun, aku tidak percaya dengan hal itu," Vira masih schok dengan kabar besar itu. Napasnya sangat berat mendengar Raihan masih hidup.


" Ya seperti itulah. Mungkin itu sudah takdir," sahut Dara.


" Syukurlah jika seperti itu. Aku tidak percaya. Kalau Raihan akhirnya kembali lagi. Jika melihat Raihan juga mendapat luka tembakan yang sama dengan kak Ramah. Tetapi kak Ramah malah tidak bertahan," ujar Vira yang malah sedih. Karen langsung mengingat kakaknya.


" Hmmmm, seperti yang aku bilang tadi itu takdir. Karena kematian. Hanya milik yang maha kuasa. Dan semuanya memang suatu keajaiban di mana Raihan. Akhirnya kembali bersama Nayra. Ya akhirnya doa-doa dari Nayra terkabul juga. Suaminya sudah kembali untuknya," ujar Dara.


" Iya kamu benar. Jika takdir sudah berkata. Kita sebagai manusia tidak bisa apa-apa. Aku ikut bahagia mendengarnya. Semoga saja. Tidak akan ada apa-apa lagi. Semoga mereka terus bersama," ujar Vira memberi doanya.


" Iya kita doakan saja apa yang terbaik. Ya sudah ayo kita tidur, kita kebanyakan cerita. Besok kita kesiangan lagi," ujar Dara lagi dan kembali mengajak Vira untuk tidur.

__ADS_1


Vira mengangguk dan mereka pun akhirnya kekamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Bersambung


__ADS_2