Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 171


__ADS_3

" Kamu hanya milikku Raka," gumam Sarah dengan menyilangkan ke-2 tangannya di dadanya.


Flass back.


Raka ke luar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Raka melihat map merah di atas nakas di samping tempat tidurnya.


" Astaga, bukannya Raina hari ini ada rapat," gumamnya memegang map itu, " ini bukannya laporan penting. Aku lupa memberinya kemarin. Sebaiknya aku antar ini kerumahnya dulu. Dia pasti belum kekantor," ujar Raka melihat jam yang menggantung di dingding.


Tanpa berpikir panjang Raka mengambil pakaiannya di lemari mengganti, setelah sudah memakai pakaian santai Raka mengambil map itu dan ke luar dari kamarnya.


" Raka, Raka!" panggil Sarah yang memasuki rumah Raka dan mencari-cari keberadaan penghuni Raka.


" Sarah," sahut Raka yang berada di ujung anak tangga.


" Hay, aku kira kamu sudah kekantor, nih aku bawa sarapan," ujar Sarah menunjukkan rantang yang di bawanya. Raka menuruni anak tangga menghampiri Sarah.


" Terima kasih! Aku kekantor agak siang," jawab Raka yang sudah berdiri di depan Sarah.


" Oh ya ampun kebetulan, kalau begitu kita sarapan, aku akan siapkan," ujar Sarah dengan senyum di wajahnya.


" Hmmmm, tapi aku harus pergi ketempat Raina mengantar ini. Hari ini dia ada rapat," ujar Raka. Hal itu membuat ekspresi Sarah tidak senang.


" Sebentar saja Raka, nanti buburnya dingin, kalau dingin sudah tidak enak, sarapan lah sebentar!" sahut Sarah memegang tangan Raka menghentikannya.


" Tapi....."


" Ayolah, masa iya kamu ninggalin aku, lagi pula ini baru jam berapa," bujuk Sarah agar Raka mau sarapan dengannya.


" Ya sudah baiklah," sahut Raka tidak enak menolak.


" Ya sudah kamu duduk biar aku siapin dulu," ujar Sarah tersenyum. Raka mengangguk dan duduk di meja makan. Sementara Sarah memindahkan bubur yang di bawanya ke dalam rantang.


" Kamu dekat sama Raina?" tanya Sarah sambil memindahkan bubur tersebut.


" Oh benar, aku dan dia akan menikah," sahut Raka. Membuat Sarah tiba-tiba menghentikan pekerjaannya. Kaget dengan apa yang di katakan Raka.


" Menikah," tanya tidak percaya.


" Iya menikah," jawab Raka memperjelas.


" Kamu yakin, bukannya dia sudah memiliki anak," sahut Sarah. Membuat Raka tersenyum.


" Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Aku menikah dengan Raina juga karena menyayangi Amira. Aku juga sudah membicarakan dengan keluarga dan mereka semua setuju. Orang tua Raina juga setuju. Jadi semoga saja semua berjalan dengan lancar," jelas Raka dengan tulus.


Membuat Sarah yang masih memindahkan makanan tersenyum palsu.


" Aku tidak akan membiarkan hal itu Raka, kamu hanya milikku," batin Sarah.

__ADS_1


Raka mengambil ponselnya dari sakunya. Dengan kesempatan itu Sarah membuka tasnya perlahan mengambil botol kecil dari tasnya.


Entah apa itu dan entah kapan dia memilikinya dan dengan cepat Sarah meneteskan 2 tetes kemakanan Raka. Sambil terus melihat ke arah Raka untuk mengawasinya.


" Benarkah, aku ikut bahagia," sahut Sarah selesai mengerjakan hal buruknya. Lalu dia menghampiri Raka dan meletakkan makanan itu di depan Raka.


" Makanlah!" ujar Sarah, Raka mengangguk dan langsung memakannya. Sarah tersenyum duduk di depannya.


" Dari cerita kamu, kamu sepertinya sangat mencintainya?" tanya Sarah. Raka tersenyum sambil mengunyah makanan itu.


Raka memakannya hanya beberapa sendok. Raka meneguk air putih melihat jam tangannya.


" Sarah kayaknya aku harus pergi," ujarnya berdiri.


" Tapi makanannya belum habis," ujar Sarah berdiri.


" Iya tapi..." Tiba-tiba Raka memegang kepalanya yang terasa berat. Pandangannya mulai tidak normal. Sarah mendekati Raka.


" Kamu kenapa?" tanya Sarah memegang lengan Raka.


" Kepala ku tiba-tiba pusing," jawab Raka terus memegang kepalanya. Sarah tersenyum.


" Ya sudah, aku antar kekamar ya," ujar Sarah meletakkan tangan Raka di pundaknya.


Raka tidak menjawab hanya kepalanya semakin sakit. Sarah pun tidak menghilangkan kesempatan dan membawa Raka kekamar. Map yang di pegang Raka terjatuh kelantai.


Sampai di kamar Raka sudah tidak sadarkan diri. Sarah membaringkannya di atas tempat tidur dengan senyum kemenangan di wajahnya.


" Setelah ini, kamu tidak akan mungkin lari dari ku," gumam Sarah membuka satu-per satu kancing kemeja Raka sampai Raka tidak memakai pakaian.


Dengan gilakknya Sarah menciumi Raka dari bibir, leher sampai dadanya memberi tanda kemerahan di sana. Sarah berharap agar Raka bangun dan ikut bermain bersamanya.


Raka tersadar dari pingsannya dan melihat wajah wanita di hadapannya begitu tidak jelas.


" Raka, kamu sudah bangun," ujar Sarah meletakkan tangan Raka di wajahnya.


" Aku mencintaimu Raka. Kamu akan jadi milikku," ujar Sarah yang sudah membuka res dressnya bagian belakang.


Dia sengaja membuat tangan Raka untuk mengusap-usap punggungnya. Sarah kembali mencium bibir Raka. Berharap Raka membalas ciuman itu.


Falss on.


Raka masih mengacak rambutnya frustasi di halaman rumahnya. Raka ingin menegajar Raina. Tetapi dia baru menyadari jika dia tidak memakai pakaian hanya memakai celana panjang saja.


" Apa yang terjadi denganku, Sarah," geram Raka mengingat Sarah dan dengan cepat memasuki rumahnya.


" Sarah, Sarah," teriak Raka langsung menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya.

__ADS_1


Brukkk Raka membuka pintu kamar dengan kuat dan melihat Sarah duduk di pinggir ranjang dengan pakaian yang terbuka sedikit.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Raka dengan suara keras.


" Kamu bertanya, seharusnya aku yang bertanya, kamu memaksaku melakukannya," jawab Sarah dengan penuh sandiwara.


" Jangan asal bicara kamu. Apa kamu gila kita ini sepupu Sarah," ujar Raka dengan penuh emosi. Sarah berdiri dan menghadap Raka.


" Hanya sepupu. Kita bukan saudara kandung. Lagi semua sudah terlanjur. Aku memberikan diriku kepadamu. Karena aku mencintaimu. Jadi apa yang salah," jelas Sarah meyakinkan membuat Raka geleng-geleng.


" Jangan sembarangan kamu. Aku tidak melakukan apapun kepadamu," sahut Raka yakin dengan ucapannya.


" Ada apa Raka, apa karena wanita itu. Kamu baru saja menyentuhku dan wanita itu datang, kamu langsung melupakannya. Kenapa kamu jahat sekali," ujar Sarah dengan linangan air mata buayanya.


" Tutup mulutmu, aku tidak melakukannya, keluar kamu dari sini," usir Raka yang di penuhi amarah.


" Kamu mengusirku setelah puas menikmati ku," teriak Sarah.


" Jaga bicaramu, aku tidak pernah melakukannya, pergi kamu, pergi," Raka yang penuh kemarahan menarik tangan Sarah dan mengusir paksa.


" Keluar," usir Raka membuat tubuh Sarah melayang. Raka langsung menutup pintu kamarnya.


" Raka kamu sungguh jahat," teriak Sarah memukul-mukul pintu kamar Raka berharap di buka.


" Kamu mengusirku. Kamu pikir setelah mengusirku kamu akan lolos, kamu sudah dalam genggamanku Raka," batin Sarah tersenyum licik.


Raka duduk di pinggir ranjang, mengusap wajahnya sampai kerambutnya kasar dengan ke-2 tangannya. Ha ha ha. Deru napas Raka terdengar sesak.


" Aku harus menemui Raina," ujar Raka berdiri dan langsung menuju lemarinya.


Saat menuju lemarinya Raka berdiri di cermin dan melihat ada beberapa kemerahan di dada dan lehernya.


" Sial," teriak Raka jijik dengan tanda di tubuhnya.


Bagaimana Raina tidak berpikir yang aneh-aneh. Raka tidak menyadari hal itu. Raina pasti melihatnya karena dia tidak memakai baju sama sekali.


Raka kembali duduk di lantai dengan bersandar di pinggir ranjang, terus mengusap kasar wajahnya. Matanya yang bergenang menahan air matanya.


Dia benar-benar tidak tau bagaimana lagi membuat Raina percaya kepadanya. Seakan semuanya hancur seketika. Apa lagi mendengar kata-kata Raina tadi. Dia bisa melihat betapa sakitnya hati Raina.


**********


Di sisi lain Raina yang masih berada di dalam mobil. Masih saja menangis dengan sikutnya yang di letakkan di pinggir jendela dengan menopang pipinya.


Beberapa kali dia menghapus air matanya yang terus saja mengalir.


" Kenapa kamu jahat sekali Raka," lirihnya menangis Sengugukan. Supir di depannya sebentar-sebentar hanya melihat dari kaca mobil. Dia juga tidak mungkin bertanya. Karena itu privasi majikannya.

__ADS_1


" Seharusnya aku sadar dari awal. Kenapa aku tidak sadar dengan statusku, kenapa aku bodoh sekali?" Raina hanya menyalahkan kebodohannya yang menaruh hati pada Raka dan akhirnya membuatnya kecewa.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2