
Zira menundukkan kepalanya di depan suaminya. Dia tau suaminya akan marah karena hal ini.
Addrian mendekati Zira. Memegang tangan Zira. Dan mengangkat dagu Zira agar istrinya melihatnya. Addrian melihat wajah istrinya yang di penuhi air mata.
" Kenapa harus menyimpan semua ini sendirian?" tanya Addrian dengan lembut.
Dia tidak mungkin marah atas apa yang di lakukan Zira. Dia bahkan tidak berhak untuk marah. Karena menjadi Zira pasti sangat sulit. Addrian hanya mencoba memahami Zira.
" Aku tidak bermaksud merahasiakan ini dari kamu. Aku pikir rahasia ini akan terbongkar setahun-2 tahun. Tetapi aku tidak menyangka jika rahasia ini bertahan lama," jelas Zira.
" Zira apa kamu tidak mempercayaiku?" tanya Addrian dengan nada sedikit kecewa.
Kecewa pasti. Suami mana yang tidak kecewa ketika istrinya yang merahasiakan hal besar di dalam rumah tangga mereka.
" Bukan begitu Addrian, Aku_ Aku hanya takut kalau kamu tidak setuju dengan apa yang aku lakukan," sahut Zira dengan bibirnya yang bergetar dengan alasannya kenapa tidak memberi tahu hal sebesar itu ke pada suaminya.
" Apa aku pernah, tidak setuju dengan apa yang kamu lakukan. Jika itu masuk akal, katakan Zira?" tanya Addrian.
" Maaf," lirih Zira hanya bisa mengatakan maaf kembali.
Dengan menyesali semuanya. Menyesali telah merahasiakan hal sebesar itu kepada suaminya.
Addrian menghembuskan napasnya perlahan ke depan dan meraih Zira ke dalam pelukannya.
" Sudahlah Zira.Tidak ada yang perlu di sesali, jika kamu tanya aku marah, aku kecewa. Pasti aku sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan. Tetapi sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk menyesali semuanya," ujar Addrian dengan bijak sana memberi tanggapan atas apa yang di lakukan istrinya
Zira melepas pelukannya dari suaminya.
" Apa kamu memaafkanku?" tanya Zira. Addrian tersenyum dan mengangguk.
" Iya aku memaafkanmu, sudah ya kamu jangan merasa bersalah lagi. Kamu harus tau jika kamu berhasil membesarkan Nayra dengan baik. Jadi kamu tidak perlu merasa teru bersalah," ujar Addrian yang memang tidak akan menyalahkan istrinya.
" Tapi aku tidak tau bagaimana harus mengatakannya kepada Nayra?" tanya Zira bingung.
" Kamu benar, Nayra pasti kecewa dengan hal ini. Apa lagi dia tau jika ibu kandungnya pernah ingin membunuhnya. Terlebih lagi dengan Carey yang telah menyiksanya. Di mana Carey adalah kakak kandungnya sendiri," sahut Addrian yang juga kepikiran dengan perasaan Nayra selanjutnya.
" Itu yang aku takutkan, andai saja aku memberi tahu Nayra dari awal, mungkin ini tidak akan terjadi," sahut Zira kembali menyesal.
" Sudahlah Zira. Aku sudah mengatakan tidak ada gunanya menyesal," ujar Addrian.
" Lalu bagaimana dengan mas David. Apa yang harus katakan, apa aku harus mengatakannya terlebih dahulu?" tanya Zira meminta saran.
__ADS_1
Seandainya dulu suaminya mengetahui hal itu. Mungkin Zira tidak akan se frustasi ini. Dia bisa kapan saja meminta saran dari suaminya. Jadi dia tidak perlu menanggung beban ini sendirian.
" Sayang, kamu jangan khawatir, kita pasti akan katakan kebenarannya. David berhak tau jika Nayra adalah Putri kandungnya, begitupun dengan Nayra. Dia berhak tau siapa orang tuanya sesungguhnya," ujar Raihan memberi saran.
" Tapi Nayra belum sembuh. Bagaimana kita akan mengatakannya. Aku ingin Nayra tau terlebih dahulu. Baru David dan Jihan. Walau aku yakin Jihan sudah mengetahui hal itu," ujar Zira.
" Jangan khawatir. Nayra sekarang sudah menikah dengan putramu. Nayra adalah menantumu. Jadi biarkan Raihan yang mengurusnya," sahut Addrian.
" Maksudnya?" tanya Zira tidak mengerti.
" Kita beri tahu Raihan semuanya. Agar Raihan yang memberi tahu Nayra. Dia punya cara sendiri mengatasi Nayra. Jadi kita serahkan semuanya ke pada Raihan," ujar Addrian memberi saran.
" Sayang, apa Raihan akan marah lagi ke padaku?" tanya Zira takut. Jika putranya akan marah atas kebohongannya.
" Kamu jangan berprasangka buruk dulu. Raihan tidak punya hak untuk marah," ujar Addrian menyakinkan Zira.
" Iya semoga saja, Raihan bisa mengerti," sahut Zira penuh harapan. Addrian tersenyum dan kembali meraih Zira ke dalam pelukannya.
Akhirnya Zira merasa lega sudah memberi tahukan suaminya rahasia yang di simpannya selama 22 tahun.
Dia juga sangat bahagia dengan tanggapan suaminya yang berfikir positif dan bahkan tidak mengintimidasinya atas apa yang di lakukannya.
Raina si penguping kembali mendengar percakapan mama dan papanya. Raina tersenyum mendengar mamanya yang sudah terbuka ke pada papanya.
Dia sudah tidak perlu ikut campur lagi. Biar orang tuanya yang menyelesaikan, bagaimana dengan selanjutnya.
**********
Pagi hari kembali. Raihan ke luar dari kamar mandi. Raihan melihat Nayra masih tertidur pulas. Raihan berdiri menatap istrinya. Mata Nayra bergerak-gerak.
Raihan melihat ke arah jendela dan melihat pancaran sinar matahari yang mengganggu mata istrinya. Raihan mendekati jendela dan menutupkan tirai. Agar Nayra bisa tidur dengan nyenyak.
Raihan kembali mendekati Nayra dan duduk di sampingnya. Raihan mengusap pipi Nayra dengan lembut. Raihan menundukkan kepalanya dan mencium kening Nayra.
" I love you," bisik Raihan di telinga Nayra. Lalu kembali mencium kening Nayra.
Tingnong
Suara bel berbunyi. Mendengar suara bel yang berbunyi Raihan pun beranjak dari tempat tidur. Memperbaiki selimut Nayra. Lalu ke luar dari kamar.
Raihan menuju pintu dan membuka pintu, siapa tamu yang datang. Saat membuka pintu. Raihan melihat mama, papa, Raina dan Alex, yang ternyata datang berkunjung.
__ADS_1
" Mama," ujar Raihan bingung kenapa tiba-tiba orang tuanya datang ketempatnya.
" Apa kita akan berdiri di sini," sahut Alex dengan nada menyindir. Yang melihat Raihan masih bengong.
" Hah, tidak ayo masuk," sahut Raihan yang malah gugup.
Orang tuanya, Raina dan Alex pun masuk dan menduduki ruang tamu. Zira dan Addrian memang memutuskan untuk memberi tahu Raihan secepatnya.
Zira dan Addrian juga memberi tau Raina sebelumnya. Meski Raina juga mengetahui. Raina juga meminta maaf ke pada Zira atas kelancangannya yang sudah ikut campur.
Raina juga mengatakan jika selama ini Alex yang membantunya. Mereka juga diam-diam melakukan tes DNA untuk menemukan kebenarannya.
Permasalahan selesai dengan Raina. Yang pada akhirnya, Addrian, Zira, Raina dan Alex pun sepakat memberi tahu Raihan masalah besar itu kepada Raihan terlebih dahulu.
" Bagaimana ke adaan Nayra?" tanya Zira yang sudah duduk di sofa.
" Dia masih tidur, obatnya memang membuatnya akan tidur lebih lama," jawab Raihan.
" Kamu sarapan dulu, kamu pasti belum sarapan," ujar Zira yang memang membawakan sarapan untuk anak dan menantunya.
" Iya ma, nanti saja kalau Nayra sudah bangun," jawab Raihan yang masih menunggu istrinya bangun baru akan sarapan bersama.
" Ya sudah, terserah kamu saja," sahut Zira.
" Mama sama papa ada perlu apa kemari?" tanya Raihan bingung. Raihan sedari tadi masih berdiri.
" Duduklah dulu Raihan, mama dan papa ingin membicarakan hal penting kepada kamu," ujar Zira dengan wajah serius.
Raihan yang merasa ada yang tidak beres pun duduk di samping mamanya. Melihat wajah semua orang yang tegang membuat Raihan ikut tegang.
" Ada apa ma?" tanya Raihan penasaran.
" Ini mengenai Nayra," ujar Zira membuat Raihan semakin bingung.
" Nara, ada apa lagi dengan Nara? tanya Raihan mulai cemas.
Addrian melihat ke arah Zira. Addrian menganggukkan matanya agar istrinya menyampaikan tujuannya. Addrian juga melihat. Raina dan Alex yang juga begitu serius.
" Kenapa ma?" tanya Addrian semakin penasaran.
Zira menarik napasnya dan membuangnya perlahan dia harus mengatakan kebenarannya kepada Raihan.
__ADS_1
" Raihan, Nayra istri kamu adalah anak kandung dari David dan Jihan," satu kalimat itu berhasil lolos dari mulut Zira dengan 1 tarik napas.
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹