
Dara meninggalkan pesta begitu saja ketika mendengar perasaan yang diungkapkan oleh Sony mantan kekasihnya.
Sementara Sony masih berdiri di tempatnya dan melihat punggung itu semakin lama semakin jauh. Tetapi sepertinya Sony ingin menuntaskan perasaannya dan memilih mengejar Dara.
" Loh, kok kak Sony, pergi juga?" tanya Luci heran.
" Entahlah," sahut Celine yang juga heran dan bingung tidak mengerti apa yang terjadi. Yang ternyata Saski juga memperhatikan hal itu dan melihat kepergian Dara yang kemudian di susul oleh Sony.
" Aku berharap mereka memang bisa menyelesaikan masalah mereka," batin Saski yang sangat berharap anaknya bisa dewasa kali ini. Dia memang menyetujui pernikahan Vira dan Sony.
Tetapi di dalam hatinya yang terdalam. Dia masih menginginkan Dara dan Sony menjalin hubungan dengan baik yang mungkin Saski berharap banyak jika Dara dan Saski kembali bersama.
Dara langsung keparkiran dan membuka pintu mobilnya. Belum sempat dia masuk. Sony langsung menutup pintu mobil.
" Kita harus bicara Dara," ucap Sony dengan wajah seriusnya dan Dara sudah menghadap Sony.
" Apa maksud kamu. Kamu jangan main-main Sony. Kamu akan menikah dengan Vira. Jadi hentikan semua lelucon kamu," ujar Dara dengan menaikkan volume suaranya yang tampak marah dengan pengungkapan perasaan Sony kepadanya.
" Aku tidak main-main, aku memang serius dengan apa yang aku katakan. Jika aku mencintai kamu. Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu," ujar Sony yang menegaskan.
" Apa kamu gila," sahut Dara dengan menekan suaranya.
" Aku memang gila. Kamu yang membuatku gila Dara," tegas Sony.
" Cukup Sony. Aku tidak mau mendengar kata-kata yang tidak masuk akal dari kamu. Hubungan kita sudah lama berakhir dan kamu sebentar lagi akan menikah dengan Vira. Anak yang di kandung Vira adalah anak kamu. Jadi sadarlah Sony. Jika kamu harus memikirkan Vira bukan cinta yang kamu ucapkan itu," tegas Dara.
" Dara, kasih aku kesempatan. Aku benar-benar tidak mencintai Vira," ucap Sony.
" Kesempatan kamu bilang, apa kamu lupa ingatan Sony. Jika dulu aku sudah memberimu banyak kesempatan dan apa yang kamu lakukan. Kamu mengabaikannya dan sekarang kamu dengan mudahnya mengatakan mencintaiku. Apa kamu sadar cinta yang kamu ucapkan itu sangat menyakitkan," ucap dara dengan kemarahan hatinya.
" Kamu dulu beberapa kali menyakitiku dengan entengnya. Kamu tidak pernah mau berubah dan sampai detik ini kamu masih tetap seperti dulu dan kamu ingin aku memberimu kesempatan. Apa kamu gila. Aku harus memberi Pria kesempatan yang sekarang benihnya tumbuh di rahim wanita lain. Itu sama saja aku sama gilanya dengan dirimu yang akan membuat luka kembali di dalam hatiku," tegas Dara dengan matanya berkaca-kaca yang ternyata mengingat perbuatan Sony membuka luka yang sudah mengering.
" Tapi, Dara. Aku tidak mencintai Vira," sahut Sony memegang tangan Dara yang masih berharap banyak dari Dara. Tetapi Dara langsung menepisnya.
" Cukup Sony. Hentikan semua kegilaan kamu. Mau kamu mencintainya atau tidak aku tidak peduli," tegas Dara mendorong dada Sony dan langsung memasuki mobilnya.
" Dara!" buka pintunya, Dara, dengarkan aku dulu buka pintunya Dara, aku mohon," teriak Sony yang menggedor-gedor pintu mobil Dara dan Dara tidak peduli dan pergi begitu saja.
" Dara!" teriak Sony dengan suara sekencang-kencangnya.
" Sial," desis Sony mengacak rambutnya Frustasi yang tidak mendapatkan apa-apa dari Dara.
__ADS_1
" Kenapa semuanya begini. Kenapa? teriak Sony yang akhirnya berlutut dengan mengusap wajahnya kasar dan bahkan *******-***** rambutnya karena benar-benar sangat frustasi.
Dia akhirnya menyadari jika dia masih mencintai mantan kekasihnya itu dan pasti Dara tidak bisa menerima semuanya karena baginya Sony hanya masa lalunya.
Dia dan Sony sudah putus sejak 3 tahun lalu dan mungkin Dara merasa itu sudah cukup dengan mereka yang menjalani semuanya sebagai sahabat dan bukan sebagai kekasih.
Lagian Dara adalah wanita yang berhati malaikat. Mana mungkin dia menerima Sony begitu saja dengan apa yang sudah terjadi. Apalagi Sony harus bertanggung jawab dengan wanita yang ada di rumahnya.
*******
Acara dansa sudah selesai dan sekarang Angga dan Karen sudah tidak tau di mana. Sementara Luci sedang minta temani sang kakak untuk ke toilet. Paling tidak sang kakak bisa menjaga di depan pintu toilet walaupun hanya di kursi roda.
Luci sudah berada di dalam toilet dan Della duduk di kursi roda di depan toilet dengan memainkan ponselnya.
Della melihat tanaman yang cantik yang sekitar 7 meter darinya. Tanaman yang hanya daun itu mencuri perhatiannya dan akhirnya Della mendorong kursi rodanya menuju tanaman itu. Paling tidak hanya untuk menyentuhnya saja.
Akhirnya Della sampai pada tanaman itu. Della sangat mudah tersenyum. Hanya karena menyentuh tanaman itu dia langsung tersenyum lebar.
" Cantik sekali," ucapnya mengambil ponselnya dan langsung memotretnya. Mungkin Della ada niat untuk membelinya dan meletakkannya di kamarnya.
" Angga tunggu!" suara seorang wanita membuat Della tiba-tiba berhenti melakukan kegiatannya dan melihat suara yang memanggil Angga itu yang ternyata tidak jauh dari tempatnya.
" Karen lepas!" ucap Angga.
" Tidak akan, aku minta maaf, jika aku berlebihan. Tetapi aku hanya terbawa suasana dan aku tidak tau jika mamamu tidak menyukai hal itu," ucap Karen dengan lembut.
" Lupakan semuanya dan belajarlah dari kesalahan," sahut Angga.
" Aku tau Angga kamu marah. Tetapi aku mencintaimu dan aku mohon jangan marah padaku. Karena aku tidak bisa melihatmu marah," ucap Karen lembut. Meski lembut tetapi suara itu dapat di dengar Della.
Karena pun melepas pelukannya dari Angga dan berdiri di depan Angga memegang pipi Angga.
" Jangan marah padaku," ucap Karen. Angga diam mendengarnya dan tiba-tiba Karen tidak sengaja melihat Della yang sedang menonton mereka. Karen tersenyum yang sepertinya punya rencana yang terselubung.
" Aku mencintaimu Angga, jadi jangan marah," ucap Karen yang menguatkan Volume suaranya.
" Karen..Aku.. cup," belum sempat Angga bicara Karen langsung mengecup bibir Angga dan membuat Angga kaget dan pasti Della yang langsung mengalihkan pandangannya dan seakan panas dengan Karena mencium Angga.
Karen melangkah lebih dekat selang Angga dan memegang pipi Angga sembari mengusap-usapnya dengan lembut.
" Aku sudah katakan. Aku mencintaimu. Jadi jangan berbicara lagi," ucap Karen memegang ke-2 pipi Angga dan meraih bibir Angga. Bukan hanya mengecupnya tetapi menciumnya dan sepertinya sengaja melakukannya karena ada Della.
__ADS_1
Della menelan salavinanya melihat ciuman pasangan itu. Seperti ada sesak di hatinya.
" Kak Della!" tegur Luci membuat Della tersentak kaget dan Angga mendengar suara itu dan langsung mendorong Karen ketika melihat Della. Yang bisa di tebaknya jika Della melihat apa yang barusan terjadi.
" Kak Della ngapain?" tanya Luci.
" Tidak ada. Ayo kita pergi," sahut Della yang tampak tidak baik-baik saja.
" Ya sudah," sahut Luci yang langsung mendorong kursi roda kakaknya dan Angga hanya melihat kepergian Della, sementara Karen tersenyum bahagia dengan apa yang di lakukannya berhasil membakar hati Della.
" Tidak seharusnya kamu melakukan itu," ucap Angga yang langsung pergi.
" Angga!" panggil Karen yang kesal dengan kepergian Angga begitu saja.
" Ishhh, pasti gara-gara wanita sialan itu," batin Karen kesal.
*********
Akhirnya acara pernikahan itu itu selesai dari Ijab Kabul sampai resepsi dengan penuh kebahagian. Ada yang bahagia dan pastinya ada yang tidak bahagia. Mungkin Sony dan Dara yang galau dengan hubungan mereka yang tidak bisa di jelaskan.
Dan mungkin juga Della, Angga, dan Karen yang terlibat hubungan cinta segitiga dan akhirnya terbakar cemburu satu sama lain.
Tetapi tetap untuk pengantin baru Alex dan Andini itu tidak berpengaruh. Malam yang begitu indah di mana pasangan itu yang duduk di pinggir ranjang yang sudah memakai pakaian santai dan sekarang sedang saling menatap dengan tangan Alex yang memebelai-belai rambut Andini menyinggirkan anak rambut itu dari wajah cantik Andini.
" Aku sangat bahagia hari ini," ucap Alex yang terus tersenyum.
" Aku juga sangat bahagia," sahut Andini. Alex mencium kening Andini lembut dan Andini memejamkan matanya.
" Aku mencintaimu," ucap Alex melepas ciuman itu.
" Aku juga sangat mencintaimu," sahut Andini yang menatap dalam-dalam suaminya itu. Alex memegang pipi Andini dan langsung memiringkan wajahnya meraih bibir Andini dan Andini langsung memejamkan matanya saat mendapat ciuman dari suaminya itu.
Suasana yang romantis di kamar pengantin baru itu. Membuat ciuman Alex semakin dalam dan tangan Andini yang sudah mengalung di leher Alex yang juga membalas ciuman itu.
Sampai akhirnya mereka Andini sudah berada di atas ranjang dengan ciuman yang tidak berhenti dan bahkan ciuman Alex sudah sampai kemana-mana.
Layaknya sebagai pengantin baru. Pasangan itu menikmati malam mereka. Malam wajib yang memang harus dilakukan dengan penuh cinta dan kebahagian. Dengan rasa ikhlas tanpa ada paksaan yang bersemi di dalam kamar yang indah itu.
Yang mana mereka saling menerima, saling menikmati, dan pasti sangat bahagia. Karena menghabiskan malam yang begitu indah. Malam pertama yang pasti tidak pernah di pikirkan ke-2nya akan terjadi pada mereka.
Bersambung
__ADS_1