Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 102


__ADS_3

Akhirnya Raina dan Raka sampai ke rumah. Meski di dalam mobil mereka hanya diam tanpa ada bicara sama sekali. Raka membuka seat beltnya dan turun dari mobil.


Raka berlari menuju pintu mobil Raina ingin membukakan pintu. Tetapi baru memegang pembuka pintu Raina sudah membuka terlebih dahulu.


" Kamu tidak perlu melakukan itu," ujar Raina sudah turun dari mobil. Raka hanya menundukkan kepala.


" Pulanglah, terima kasih," ujar Raina ketus.


" Baik Bu saya permisi," sahut Raka menundukkan kepalanya.


" Bu Raina," panggil Art yang berlari dari dalam rumah dengan tergesa-gesa. Seperti ada yang mengejar.


" Ada apa Bi?" tanya Raina yang melihat Artnya panik. Raka juga menghentikan langkahnya saat Art itu datang dengan wajah panik.


" Itu_ itu_ non Amira," ujar sang Art berbicara terbata-bata.


" Amira kenapa?" tanya Raina ikut panik.


" Non Amira, non Amira badannya panas sekali," jawab Art tersebut.


" Apa, lalu mama sama papa mana?" tanya Raina schok.


" Ibu sama bapak lagi ke luar kota," jawab Art.


" Ihhhh, kok bisa sih," Raina yang panik langsung berlari kedalam rumah. Mendengar Amira sakit Raka juga ikut berlari memasuki rumah menyusul Raina.


Raina langsung memasuki kamar Amira. Saat membuka pintu Raina melihat putri kecilnya yang sudah lemas berbaring.


" Amira, sayang," lirih Raina duduk di samping Amira memegang kening Amira dengan punggung tangannya.


" Ya ampun panasnya sangat tinggi," ujar Raina semakin panik saat merasa punggung tangannya terbakar.


" Sejak kapan seperti ini?" tanya Raina terus memegangi tubuh Amira.


" Tadi sore Bu, saya kira hanya demam biasa. Tetapi semakin lama makin panas, saya juga sudah kompres. Tetapi panasnya tidak turun," jawab Art gugup.


" Kenapa tidak menelpon saya," bentak Raina. Karena sangking paniknya.


" Kamu tidak lihat kondisinya separah ini, bukannya menelpon saya. Kak Raihan mana," Raina malah marah-marah dengan Artnya karena kepanikan.


" Pak Raihan lagi keluar, sejak sore," jawab Art gugup menunduk.


" Gimana sih, bukannya di telpon malah diam saja," ujar Raina semakin kesal. Terus memegang tubuh putrinya yang semakin panas.


Raka pun memasuki kamar, langsung mendekati tempat tidur Amira. Raka langsung memegang kening Amira. Tangan Raka seperti ingin kebakar.


" Panasnya tinggi sekali. Kita harus bawa Amira kerumah sakit," ujar Raka yang ikut panik.


Raina tidak menjawab dan masih sibuk memegangi tubuh putrinya. Raka yang tidak sabaran langsung membuka selimut Amira dan dengan buru-buru langsung menggendong Amira.


" Raka," ujar Raina.


" Kita kerumah sakit!" ujar Raka yang langsung berlari menggendong Amira ala bridal style. Raina yang linglung pun akhirnya berlari mengejar Raka.


Raka membuka pintu mobil bagian depan sambil terus menggendong Amira. Raina sudah berdiri di belakang Raka.

__ADS_1


" Sini biar saya yang pegang Amira," ujar Raina. Raka mengangguk. Raina memang terlihat lebih linglung, mungkin Raina terlalu panik.


Setelah Amira dan Raina memasuki mobil. Raka menutup pintu mobil dan bergegas lari menuju tempat pengemudi. Raka langsung memasang seat belt nya dan buru-buru menyetir karena sangat khawatir dengan Amira.


Perjalanan kerumah sakit sepertinya sangat lama. Raina yang memangku Amira. Yang tidak sadarkan diri. Memeluk Amira dengan erat. Dia sangat panik dengan putrinya yang sakit.


" Maafin mama sayang, seharusnya mama tidak pulang selarut ini," lirih Raina menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan air matanya menetes. Ketika merasakan panas di tubuh putrinya.


Raka yang menyetir dengan kelajuan tinggi. Hanya bisa menoleh kesamping. Dia bisa melihat ketakutan di wajah Raina. Melihat Amira yang sangat pucat.


********


Rumah sakit


Dokter sudah menangani Amira di ruang perawatan. Raina dan Raka. Masih tetap berada di dalam. Melihat Dokter pria dan 1 suster yang menangani Amira.


" Bagaimana keadaannya?" tanya Raina yang melihat Dokter selesai memeriksa Amira dengan stetoskop. Dokter mengalungkan steteskop itu di lehernya.


" Kondisinya sudah membaik. Panas juga sudah turun. Amira terkena demam berdarah. Tapi syukurlah kondisinya sudah lumaya. Jadi Ibu jangan khawatir Amira akan baik-baik saja," jawab Dokter.


" Huhhhhhh, syukurlah kalau begitu," jawab Amira merasa lega. Memegang tangan Amira yang juga dililit infus.


" Saya akan tuliskan resep. Silahkan tebus di apotik. Kalau Amira sudah bangun langsung minumkan obatnya. Sebelum itu beri Amira makan dulu," ujar Dokter menjelaskan.


" Baik Dok, terima kasih," sahut Raina mengusap rambut Amira.


" Ya sudah saya tinggal ya," ujar Dokter pamit.


" Iya Dok, sekali lagi terima kasih," sahut Raina. Dokter tersenyum, lalu pergi.


Raina duduk di samping Amira. Dia mengusap lembut pipi Amira. Matanya terus bergenang melihat lemahnya putrinya. Raina sangat takut kehilangan Amira. Jika Amira berada di rumah sakit pikirannya pasti sudah melayang-layang.


" Maafin mama sayang, maafin mama," Raina hanya bisa menangis menyesali apa yang terjadi. Memegang tangan Amira erat.


Raina menghapus air matanya. Dan berdiri.


" Saya mau tebus obat Amira dulu," ujar Raina pada Raka.


" Biar saya saja Bu, ibu jaga Amira saja," sahut Raka.


" Hmmmm, baiklah," sahut Raina kembali duduk. Raka langsung berlari keluar dan menebus obatnya.


Setelah 20 menit Raka kembali. Memasuki ruangan perawatan Amira. Raka melihat Raina sudah duduk di sofa sedang menelpon.


...๐Ÿ“ž" Tidak apa-apa kak, Dokter bilang besok juga sudah bisa pulang," ujar Amira....


...๐Ÿ“ž" Baiklah, kamu jagain Amira terus. Besok pagi kakak kerumah sakit," sahut Raihan....


...Ketika pulang kerumah. Raihan langsung mendapat kabar keponakannya sakit. ...


...๐Ÿ“ž" Iya, kak," jawab Raina menutup telponnya. Raka yang masih berdiri di depan pintu. Akhirnya masuk kedalam. ...


Raka langsung meletakkan obat-obatan itu di atas nakas di samping Amira. Raina hanya diam melihat Raka yang sangat sibuk dengan urusan Amira.


" Ini Ibu makan dulu," ujar Raka meletakkan makanan yang di dalam kotak di atas meja.

__ADS_1


" Oh, iya," sahut Raina gugup. Dia malah merasa canggung dengan Raka.


" Raka," panggil Raina.


" Iya Bu," jawab Raka.


" Sebaiknya kamu pulang saja, saya saja yang jaga Amira,' ujar Raina merasa tidak enak.


" Baik Bu," jawab Raka.


" Terima kasih, ya kamu sudah membantu saya," ujar Amira ketika Raka ingin melangkahkan kakinya.


" Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Raka pamit. Raina mengangguk.


Ketika Raka sudah pergi. Raina melihat kotak nasi yang di letakkan di atas meja. Raina mengangkat kotak itu. Terukir senyum di wajahnya saat menyentuh kotak itu.


Raina membuka kotak itu dan mulai memakan isinya. Sebenarnya dia memang sangat lapar. Dia memang belum makan malam.


Paniknya membuatnya kelaparan. Untung ada Raka yang memberinya makanan jadi dia bisa mengisi perutnya.


*********


Mentari pagi kembali datang. Raihan yang akan ke rumah sakit. Tetapi sebelum itu Raihan menjemput Nayra terlebih dahulu. Raihan dan Nayra sudah berada di dalam mobil. Raihan fokus menyetir ke depan. Raina juga fokus melihat ke depan.


" Loh inikan bukan jalan kantor," ujar Nayra heran ketika melihat arah tujuan yang berbeda.


" Kita mau kemana?"tanya Nayra pada Raihan yang fokus menyetir.


" Sebelum kekantor kita kerumah sakit dulu," jawab Raihan.


" Rumah sakit, siapa yang sakit? tanya Nayra heran.


" Amira," jawab Raihan.


" Hah!! Amira, sakit apa? kapan? tanyanya kaget.


" Tadi malam dia demam tinggi. Kata Zetty demam berdarah. Bibi bilang dari sore sudah demam. Cuma sampai malam demamnya malah makin tinggi," jelas Raihan sebentar-sebentar melihat ke arah Raina.


" Kok, baru di Bawak ke rumah sakit?" tanya Nayra.


" Mama sama papa lagi di Luar Kota. Ini semua salahku sih, aku tau mama sama papa lagi pergi. Aku malah pergi saat Zetty belum pulang. Ternyata Zetty malah lembur," jelas Raihan merasa bersalah.


" Sudahlah yang penting, Amira sudah tidak apa-apa. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti itu," ujar Nayra.


" Iya, aku hanya kasian dengan Amira. Semenjak papanya meninggal dia selalu kesepian. Seharusnya sejak dulu aku sudah memegang Adverb. Agar Zetty lebih punya banyak waktu untuk Amira. Tetapi aku terlalu egois. Zetty sibuk dengan pekerjaannya dan juga perusahaan. Sampai Amira kurang perhatian," ujar Raihan kembali merasa bersalah.


" Raihan semuanya sudah terjadi. Sekarang yang terpenting, bagaimana kamu memperbaiki segalanya. Sekarang kamu harus punya banyak waktu untuk Amira, jangan cuma Bu Raina saja. Tapi kamu harus ambil alih juga," ujar Nayra memberi saran.


" Hmmmm, kamu benar, aku akan menjaganya terus. Seperti aku menjaga kamu," ujar Raihan dengan senyum di wajahnya.


" Memang aku anak kecil apa," sahut Raina. Raihan mengusap pipi Nayra.


" Bagiku kamu sama seperti Amira. Masih kecil dan suka ngambek," ujar Raihan mencubit pipi Nayra dengan gemas.


" Sakit tau," keluh Raina menjauhkan tangan Raihan dari pipinha, " sembarangan bilang aku masih kecil," ujarnya dengan bibir kerucutnya.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2