
Jihan sudah sampai di hotel tempatnya menginap. Jihan meletakkan bunga Liliy tersebut di atas meja di samping tempat tidur.
" Anak itu, sepertinya sangat sedih saat aku tidak memberinya bunga ini," gumam Jihan duduk di pinggir ranjang melihat bunga Liliy tersebut.
" Nara, namanya tidak asing. Siapa dia dan kenapa dia ada sama Raihan?" Jihan seketika memikirkan pertemuannya dengan Nayra yang sangat singkat.
" Mama baru pulang?" tanya Carey yang ke luar dari kamar mandi memakai bathrobe dan handuk dililit di kepalanya.
" Iya," sahut Jihan.
" Kenapa tidak mengajak Carey jalan-jalan, Carey kan bisa temani mama ketempat-tempat yang asyik," ujar Carey yang berdiri sudah di depan cermin.
" Memang mama turis, kalau jalan-jalan harus di temani. Mama juga tinggal di Jakarta sangat lama. Jadi mama tidak akan ke sasar karena hanya pergi sendiri," sahut Jihan.
" Iya deh aku tau yang lebih tau Jakarta di bandingkan aku," sahut Carey mengeringkan rambutnya.
Jihan terus menatap bunga itu seperti ada sesuatu yang di rasakannya.
" Ada apa ma, kenapa melihat bunga itu terus?" tanya Carey yang sadar dengan ke anehan mamanya.
" Tadi di supermarket, mama rebutan bunga ini dengan seorang gadis cantik. Sepertinya dia sangat sedih. Karena mama tidak mengalah untuknya," jawab Jihan mengingat kembali ke jadian itu.
" Di kirain apaan," sahut Jihan tetap melanjutkan pekerjaannya.
" Hmmmm, mama baru pertama kali bertemu dengan wanita yang menyukai bunga yang sama," sahut Jihan.
" Apa bagusnya bunga itu," sahut Carey yang memang tidak menyukainya.
" Semua orang punya selera masing-masing. Buktinya ada juga yang menyukainya dan bahkan berebutan dengan mama. Tapi mama tidak mengalah untuknya. Dari matanya dia terlihat sedih," ujar Jihan kembali mengingat Nayra.
" Itu bagus ma," sahut Carey menoleh sebentar ke arah mamanya.
" Maksudnya?" tanya Jihan.
Carey pun mendekati mamanya dan duduk di sampingnya.
" Bagus jika mama tidak mengalah untuknya. Karena bisa saja di kemudian hari dia dengan mudah mengambil milik kita, karena sudah terbiasa," jawab Carey dengan serius.
" Mama tidak mengerti maksud kamu?" tanya Jihan.
" Aku juga pernah mengalami hal itu. Di supermarket Aku rebutan buah Ceri dengan wanita itu. Aku mengalah untuk wanita itu. Tapi ternyata dia malah ketagihan dan menginginkan aku mengalah lagi," ujar Carey membuat Jihan bingung.
" Carey teori kamu terlalu panjang. Mama tidak mengerti maksud kamu," ujar Jihan.
" Dia ingin mengambil Raihan dari ku," sahut Carey.
" Raihan?" sahut Jihan.
" Iya Raihan dia ingin aku mengalah kembali. Ceri bisa kuberikan kepadanya. Tetapi tidak Raihan," ujar Carey dengan tegas.
" Raihan, dia bersama gadis yang bernama Nara. Siapa dia kenapa Raihan bersamanya," batin Jihan bingung.
__ADS_1
" Apa Raihan punya pacar?" tanya Jihan.
" Sekalipun dia punya. Raihan tetap milikku," sahut Jihan percaya diri.
" Kenapa Carey aneh sekali. Seakan sangat marah dengan Raihan, aku masih kepikiran dengan gadis yang bersama Raihan tadi," ujar Jihan di dalam hatinya.
" Ma bagaimana jika kita tinggal di Indonesia saja," ujar Carey tiba-tiba.
" Kenapa harus tinggal di sini?" tanya Jihan bingung.
" Ini kan kampung halaman mama. Bukannya kita harus menetap di sini, lagi pulakan kita sudah terlalu lama tinggal di Luar Negri," ujar Carey seakan membujuk mamanya.
" Hanya karena itu. Bukan karena hal lain?" tanya Jihan menatap Carey curiga.
Carey langsung meletakkan kepalanya. Di atas paha Jihan dan memeluk pinggangnya.
" Aku ingin terus bersama Raihan ma, aku tidak ingin kehilangannya. Mama mengerti kan perasaanku," ujar Carey.
" Apa kamu benar-benar mencintainya?" tanya Jihan memastikan perasaan anaknya.
" Iya, mama tau itu. Dari dulu aku sangat mencintainya dan bukankah ini sudah waktunya," ujar Carey. Jihan hanya terdiam mendengar curhatan Carey.
" Lagi pula mama datang ke Indonesia untuk apa jika bukan untuk membahas masalah itu. Carey kan sudah dewasa ma. Atau mama datang ke Indonesia karena mengetahui Om David ada di sini?" ujar Carey tiba-tiba membuat Jihan kaget.
" David, dia ada di sini?" tanya Jihan masih kaget.
" Mama tidak tau jika dia ada di sini," ujar Care melihat ke arah mamanya. Jihan menggeleng.
" Mantan suami mama itu ada di sini," ujar Carey lagi.
" Ya ampun ma. Meski mama menikahi Pria itu saat aku masih 5 tahun. Aku Pasti tau dia. Walau hanya tinggal sebentar dengannya, dulu mama juga sering diam-diam mencari informasi tentangnya. Meski mama sudah bercerai dengannya," ujar Carey mengingat kembali bagaimana dia pernah memiliki Ayah tiri.
" Kamu tau dari mana dia ada di sini?" tanya Jihan.
" Adverb bekerja sama dengannya," jawab Carey.
" Berarti Zira juga sudah bertemu dengannya," lirih Jihan dengan pelan.
" Lalu apa dia mengenali kamu?" tanya Jihan.
" Ya tidak mungkin lah dia mengenaliku. Dia pasti sudah lupa. Tetapi mama pasti masih di kenalnya, iyakan," ujar Carey tersenyum.
" Mas David ada di sini," batin Jihan tidak percaya mantan suaminya berada di di Indonesia.
***********
Akhirnya Raina dan Raihan sampai ke Apartemen Nayra. Mereka sudah membongkar belanjaan mereka. Raihan sedari tadi memasukkan belanjaan ke dalam kulkas. Menyusun dengan rapi.
Sementara Nayra sudah mulai memasak. Nayra juga sudah mandi dan mengganti pakaiannya sementara Raihan hanya mengganti pakaiannya dengan kaos putih yang di belinya sebelum mereka pulang. Karena dia tidak mungkin menggunakan pakaiannya yang sudah kotor.
" Kamu membeli Cherry banyak sekali," ujar Raihan masih menyusun barang-barang belanjaan ke dalam kulkas.
__ADS_1
" Aku membelikan untukmu," sahut Nayra yang berada di depan kompor. Mulai mengaduk sayur sop yang di masaknya.
" Tetap saja ini kebanyakan. Memang ini untuk stok berapa lama, sampai sebanyak ini," ujar Raihan terus memperotes. Lalu Raihan berdiri dan menutup kulkas. Dia mengambil 1 cup Ceri.
" Kamu bawa pulang aja jika tidak habis. Jadi bisa makan kapan saja," sahut Nayra.
" Memang kamu pikir mamaku tidak sanggup membelinya," sahut Raihan sinis dan menghampiri Nayra berdiri di samping Nayra dan mencuci buah itu.
" Dasar sombong," sahut Nayra kesal. Raihan hanya mendengus tersenyum melihat Nayra yang serius memasak di sampingnya.
" Kamu akan memasak terus?" tanya Raihan masih tetap mencuci buah itu.
" Hmmm, jika senggang kenapa tidak dari pada kita makan di luar, makanya aku belanja banyak," jawab Nayra.
" Kamu mengatakan itu seakan-akan kita tinggal serumah," ujar Raihan.
" Tidak aku tidak mengatakan untukmu. Aku hanya menyiapkan untukku," jawab Nayra.
" Apa kita harus menikah?" tanya Raihan membuat Nayra berhenti mengaduk.
" Hey, kenapa diam," tegur Raihan menyenggol tangan Nayra.
" Pernikahan bukan becandaan Raihan. Kamu selalu becanda mengenai hal itu," sahut Nayra dengan datar.
Raihan mematikan keran air dan memengang ke-2 bahu Nayra. Agar Nayra menghadapnya.
" Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Raihan menatap Nayra dengan dalam. Nayra diam dan hanya menatap Raihan.
" Nara, kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah dewasa. Dan bukankah impian kita dari dulu adalah menikah," ujar Raihan tiba-tiba sangat serius.
" Bukannya kamu menganggapku masih bocah," sahut Nayra. Raihan tersenyum miring.
" Apa aku tidak boleh menikahi bocah," sahut Raihan.
" Apa sudah waktunya?" tanya Nayra kembali bertanya.
" Iya sudah waktunya. Aku ingin mewujudkan semua impianmu. Termasuk menikah denganku. Adalah impianmu," ujar Raihan.
" Percaya diri sekali," sahut Nayra kembali mengaduk sayur.
" Kenapa wanita itu gengsinya tinggi sekali," lirih Raihan meletakkan buah yang di cucunya di atas meja makan.
Nayra mendengarnya tersenyum.
" Sudah apa yang bisa ku bantu?" tanya Raihan yang sudah berdiri di belakang Nayra. Nayra membalikkan badannya melihat ke arah Raihan.
" Kamu serius mau membantu?" tanya Nayra tidak percaya. Raihan mengangguk.
" Sudah tidak perlu, biar aku saja yang memasak makan malam. Kamu duduk saja dan melihatku memasak," ujar Nayra.
" Kamu sangat suka di lihatin," sahut Raihan mencubit hidung Nayra. Nayra langsung menepis tangan Raihan.
__ADS_1
" Sakit tau," keluh Nayra memegang hidungnya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น