
Setelah mendapat pesan dari Raihan. Nayra pun langsung menuju ke lokasi yang di berikan Raihan. Nayra turun dari taxi. Nayra bingung melihat tempat yang di berikan Raihan kepadanya.
Dari luar terlihat kelap-kelip lampu. Dan juga suara musik yang keras.
" Di mana ini, apa alamatnya tidak salah," gumamnya bingung dan melihat di sekitarnya. Nayra melihat mobil Raihan.
" Apa lagi yang di inginkannya," gumamnya kesal melangkahkan kakinya memasuki Club tersebut.
" Kak Raihan jangan minum terus," ujar Andini yang terus melarang Raihan yang sudah mabok berat.
" Biarin aja Andini," sahut Sony.
Nayra memasuki rumah tersebut, Nayra berdiri di depan pintu dan melihat kearah perkumpulan itu yang beberapa orang sangat di kenalnya.
Andini yang terus mencegah Raihan untuk tidak minum. Matanya tiba-tiba mengarah pada pintu dan melihat Nayra berdiri di depan pintu.
" Nayra," gumam Andini. Raihan dan Angga yang mendengar Andini menyebut nama Nayra. Langsung menoleh.
Raihan menyeriangi senyumnya melihat Nayra yang akhirnya datang. Angga langsung melihat ke arah Raihan.
Andini langsung berdiri dan menghampiri Nayra.
" Nay kamu ngapain di sini?" tanya Andini memegang lengan Nayra.
" Aku....,"
" Aku yang menyuruhnya datang," sahut Raihan langsung berdiri dan menghampiri Nayra dan Andini.
" Kak, Raihan untuk apa?" tanya Andini. Raihan tidak menjawab dan melempar kunci mobil pada Nayra. Dengan sigap Nayra langsung menangkap kunci mobil yang hampir mengenai wajahnya.
" Bawa mobil ku!" perintah Raihan.
Angga langsung berdiri dan menghampiri Raihan, Angga, Nayra, dan Andini. Della, Cecil, Luci Sony, dan dara saling melihat.
" Kau tidak bisa menyuruhnya seenaknya," ujar Angga langsung mencegah tindakan Raihan, " kembalikan kunci mobil itu kepadanya!" ujar Angga.
" Siapa kau, melarangnya, kau kekasihnya atau selingkuhannya," sahut Angga dengan sinis.
Nayra yang mendengarnya menjadi resah, lagi dan lagi Raihan terus saja mengatakan hal itu kepadanya. Sementara Andini sudah mulai merasa panik. Apalagi Raihan sedang mabok dan akan bicara jauh lebih buruk.
" Kak sudah cukup, Nayra sudah kamu pulang sama aku," ujar Andini mencegah keributan.
" Dia akan pulang bersama ku, aku yang menyuruhnya kemari," sahut Raihan.
" Ini bukan jam kantor, kau tidak bisa melakukan sesukamu," sahut Angga mencegah lagi.
" Kenapa sih, Angga harus terus menahan Nayra," batin Della yang mulai kesal.
" Apapun itu, itu bukan urusanmu," ujar Raihan.
__ADS_1
Nayra menarik napasnya, dia sungguh tidak ingin ribut.
" Ayo aku akan mengantarmu. Ini sudah malam," ujar Nayra mengambil keputusan langsung pergi terlebih dahulu. Raihan mendengus melihat suasana itu.
Raihan menepuk bahu Angga dan pergi menyusul Nayra. Angga mengepal ke-2 tangannya. Lagi dan lagi Raihan menang darinya.
Della yang melihat situasi itu langsung duduk, di sofa. Della menyisir rambutnya kebelakang dengan 5 jarinya. Dia bisa melihat bagaimana Raihan dan Angga yang sepertinya sama-sama menyukai wanita yang sama.
Langkah Nayra begitu cepat mendekati mobil Raihan. Dia sungguh lelah jika harus ribut terus dengan Raihan apalagi di depan Angga.
" Apa kau tidak bisa memelankan langkahmu," teriak Raihan di belakang Nayra berjalan. Nayra tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya langsung memasuki mobil Raihan.
Brakkk bantingan pintu cukup keras. Nayra langsung memakai seat beltnya. Raihan juga sudah memasuki mobilnya dan duduk di samping Nayra.
" Jika mobilku rusak. Seumur hidup kau kerja di Adverb tidak akan cukup untuk menggantinya," ujar Raihan sinis.
" Jika atasannya masih orang sepertimu mungkin itu benar," sahut Nayra tidak kalah sinis tanpa mengarah kepada Raihan.
" Kau benar-benar pintar melawan," ujar Raihan mulai kesal. Nayra tidak peduli langsung menarik gas dan menyetir dengan kelajuan sedang.
" Semoga saja Nayra dan kak Raihan tidak terjadi apa-apa," batin Andini melihat kepergian mobil kakak sepupunya dari depan Villa.
Nayra terus menyetir di jalan raya, sementara Raihan sudah tertidur di disampingnya. Mungkin Raihan benar-benar mabok.
" Kita mau kemana?" tanya Nayra yang fokus menyetir ke depan, Nayra menoleh kesamping karena tidak mendapat jawaban.
" Dia malah tidur. Seenaknya sudah mengaganggu orang, sekarang malah tidur tanpa tau kemana," gerutunya mulai kesal.
Nayra tidak mungkin membawa Raihan pulang. Nayra tau Zira sangat tidak suka melihat Raihan mabok. Dari pada Nayra menyetir menunggu Raihan bangun. Lebih baik dia menghentikan mobilnya.
Raihan menggerakkan tubuhnya. Raihan memijat kepalanya yang sangat berat akibat terlalu banyak minum alkohol. Raihan membuka matanya perlahan dan melihat di mana keberadaannya.
Raihan melihat pantai, Raihan melihat Nayra yang masih duduk santai di tempat pengemudi.
" Kenapa kita ada di sini?" tanya Raihan.
" Lalu aku harus kemana, membawamu pulang," sahut Nayra dengan datar.
" Jam berapa sekarang?" tanya Raihan.
" Apa dia tidak bisa melihat sendiri," gumam Nayra.
" Apa susahnya menjawab," sahut Raihan kesal.
" Apa kau tidak bisa lihat sendiri, tanganmu memakai jam," sahut Nayra sedikit berteriak, dia sungguh lelah dengan hari ini. Raihan sedetik terdiam melihat kemarahan Nayra. Wajah itu memang menunjukkan lelah.
" Turun!" titah Raihan. Nayra langsung menoleh kearah Raihan.
" Kau akan meninggalkanku di sini?" tanya Nayra memastikan.
__ADS_1
" Aku bilang turun!" ujar Raihan sekali lagi. Nayra merapatkan giginya, dengan napasnya yang naik turun menahan amarah. Nayrapun langsung turun.
Brakkkk Nayra kembali membanting pintu mobil Raihan.
" Brengsek," umpat Nayra kesal.
Raihan pun turun dari mobilnya, Nayra akan berjalan melewatinya, Raihan menahan tangannya dan mendorongnya masuk kedalam mobilnya.
" He apa yang kau lakukan," teriak Nayra yang sudah berada di dalam mobil, dan melihat Raihan yang sudah duduk di kursi pengemudi, Yang adanya mereka bertukar posisi.
" Kau," desis Nayra.
" Sekali lagi kau berani, membanting pintu mobilku, jangan harap gajimu akan keluar," ancam Raihan. Nayra hanya diam Raihan memang selalu mengancamnya dengan sesuaknya.
Raihan langsung melajukan mobilnya. Nayra kembali meredakan napasnya yang masih naik turun akibat terlalu emosi dengan Raihan yang terus sesukanya.
Sekarang gantian Raihan yang menyetir mobil. Raihan masih pusing tetapi memaksakan menyetir. Karena dia juga tau sepertinya Nayra juga sangat lelah. Raihan melihat arlojinya ternyata sudah jam 1 pagi.
Raihan memberhentikan mobilnya di parkiran Apartemen Nayra. Nayra melihat di sekelilingnya dia mengetahui bahwa itu tempatnya. Raihan langsung turun tidak mempedulikan Nayra.
" He kau mau kemana?" teriak Nayra yang melihat Raihan mematikan mobilnya dan sudah berjalan cepat. Dengan cepat Nayra langsung keluar dari mobil dan berlari menyusul Raihan.
Nayra kalah cepat dengan Raihan. Raihan sudah berada di depan pintu Apartemen Nayra dan menekan tombol sandinya. Raihan tersenyum melihat sandi Apartemen itu masih tetap sama.
Nayra baru tiba ketika Apartemen itu sudah terbuka. Dan Raihan sudah masuk.
" Apa dia pikir ini rumahnya," gerutu Nayra kesal dan ikut masuk. Raihan langsung duduk di sofa.
" Apa yang kau lakukan, kenapa harus pulang kerumahku, apa kau tidak punya rumah," oceh Nayra yang kesal berdiri didepan Raihan. Raihan terus memijit kepalanya yang masih pusing.
" Apa kau tidak bisa diam," sahut Raihan dengan suara seraknya.
Raihan berdiri dan berjalan dengan sempoyongan Raihan hampir jatuh, Nayra langsung berdiri dan menahan tubuh Raihan yang membuat Raihan dan Nayra jatuh bersama ke sofa.
Nayra sekarang sudah berada di atas tubuh Raihan. Tidak sengaja Nayra memegang tangan Raihan yang begitu panas.
" Kau sakit?" tanya Nayra melihat ke arah Raihan yang sangat pucat.
" Aku juga akan mati, jika terus mendengar ocehanmu," sahut Raihan dengan sinis.
Nayra hanya bisa menelan ludahnya. Sudah dalam keadaan seperti itu Raihan masih terus berbicara sesukanya.
" Akan aku panggil Dokter," ujar Nayra mencoba berdiri. Raihan menahannya.
" Tidak perlu," sahut Raihan.
" Lalu?" tanya Nayra bingung.
" Kau diam saja itu sudah membuat lebih baik," ujar Raihan.
__ADS_1
" Kalau begitu lepaskan tanganmu, aku tidak mungkin berada di sini terus," ujar Nayra yang melihat posisinya masih berada di atas tubuh Raihan. Raihan pun melihat apa yang di lakukan ha dan melepaskan Nayra. Nayra pun beralih dari tempatnya.
...Bersambung..........