Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 107.


__ADS_3

" Itu memang kenyataan, kamu sangat suka tebar pesona, agar aku memperhatikanmu," ujar Raihan.


" Bukan aku yang suka. Tapi kamu. Kamu sangat suka mencuri-curi pandang terhadapku," sahut Nayra dengan percaya diri Raihan langsung mengendus.


" Kepedean, kapan aku curi-curi pandang," sahut Raihan mengelak.


" Kamu masih aja tidak mau mengakui. Kamu bahkan menyukaiku saat pertama kali bertemu," ujar Nayra.


Raihan mengkerutkan dahinya melihat Nayra yang semakin percaya diri.


" Kapan aku mengatakannya?" tanya Raihan.


" Sudahlah Raihan. Jangan mengelak lagi. Saat pertama bertemu kamu memberiku nama. Berati saat itu kamu sedang memikirkan bagaimna caranya supaya mendapatkanku, kamu pasti memasang jampi-jampi agar aku tertarik kepadamu," oceh Nayra dengan mulutnya yang tidak berhenti berbicara.


" Kapan aku seperti itu?" sahut Raihan tidak terima di tuduh.


" Nggak mau ngaku lagi, dasar," ujar Nayra kesal.


" Bukannya memang kamu sudah tertarik denganku dari awal?" tanya Raihan.


" Tidak pernah, kamu yang duluan suka kepadaku. Dengan semua rayuan dan modusmu, akhirnya aku takluk kepadamu," tegas Nayra.


Raihan hanya tertawa kecil dengan Nayra yang terus mengoceh.


" Benarkan kamu menyukaiku dari pertama kali bertemu?" tanya Nayra menyipitkan matanya.


" Ayo katakan, kamu tidak boleh berbohong terus. Kamu menyukaiku kan," tanya nya lagi menunjuk Raihan memaksa Raihan.


" Iya aku menyukaimu saat pertama kali bertemu. Puas," jawab Raihan menaikkan alisnya. Nayra tersenyum lebar mendengarnya. Dengan santainya mengangguk.


" Lalu bagaimana denganmu, apa kamu menyukaiku saat pertama kali bertemu?" tanya Raihan.


" Tidak," jawab Nayra santai. Raihan mendengus mendengarnya.


" Aku masih bocah saat itu Raihan. Jadi aku tidak tau apa itu suka apa lagi cinta. Apa lagi saat bertemu denganmu. Aku bahkan menganggapmu, seperti pamanku," lanjut Nayra dengan entengnya.


" Paman, apa aku setua itu?" tanya Raihan kesal.


" Hmmmm, kamu sangat tua saat itu, jadi jangan berharap aku langsung menyukaimu," tegas Nayra dan kembali mengaduk sayurnya.


" Kamu benar-benar ya," Raihan langsung memeluk Nayra dari belakang. Memeluk pinggang Nayra dengan ke-2 tangannya.


" Raihan aku sedang memasak jangan di ganggu," ujar Nayra kesal merasa tidak nyaman karena kesulitan bergerak.


" Kamu yang selalu menggangguku," sahut Raihan mempererat pelukannya. Berbisik di telinga Nayra.


" Sudah lepas katanya mau membantu," ujar Nayra melepas tangan Raihan dan menghadap kembali.


" Baiklah, tuan Putri apa yang bisa aku bantu?" tanya Raihan membuat Nayra tersenyum lebar.


" Tu potongin," ujar Nayra menunjuk paprika yang di sampingnya.


" Baiklah aku akan melakukan untukmu," sahut Raihan menghormat.


Nayra geleng-geleng kembali mengerjakan pekerjaannya. Raihan akhirnya memotong paprika.


Raihan terus menoleh kesampingnya melihat Nayra yang memasak serius. Membuat Raihan tersenyum lebar. Karena tidak fokus pada apa yang di pegangnya.


" Auuhhhh," lirih Raihan memegang jarinya yang teriris pisau.


" Raihan," Nayra kaget melihat jari Raihan yang sudah meneteskan darah.

__ADS_1


" Ihhhh, kamu sih aku sudah katakan jangan ikut-ikutan malah keras kepala kan jadinya kayak gini," ujar Nayra mengomel.


Sambil mencuci darah di jari Raihan. Raihan hanya tersenyum melihat kepanikan di wajah Nayra.


" Kalau sedang memegang pisau, jangan memikirkan yang lain-lain harus fokus," ujar Nayra yang begitu panik. Lalu Nayra mengisap darah di jari Raihan. Raihan hanya memandang Nayra yang hanya karena jarinya Nayra sepanik itu.


" Aku akan ambil obat dulu," ujar Nayra pergi. Tetapi Raihan menangkap tangan Nayra. Sehingga Nayra menabrak dada Raihan.


" Aku tidak apa-apa," lirih Raihan.


" Biarkan aku mengobatinya sebentar," jawab Nayra gugup. Karena Raihan semakin dekat dengannya.


" Apa kamu sangat khawatir?" tanya Raihan menyelipkan rambut Nayra kebelakang telinganya.


" Iya aku sangat khawatir," jawab Nayra.


" Ini hanya luka kecil Nara dan rasanya tidak sakit," ujar Raihan membelai pipi Nayra.


" Tapi harus tetap di beri obat," ujar Nayra masih khawatir.


Raihan semakin mendekatkan dirinya pada Nayra. Memegang leher Nayra dengan ke -2 tangannya dan menempelkan bibirnya. Nayra memejamkan matanya saat Raihan mencium bibirnya.


Raihan yang mendapat izin semakin memperdalam ciumannya. Nayra meremas kaos Raihan. Raihan sudah berapa kali gagal mencium Nayra. Jadi wajar jika Raihan lumayan terbawa dengan hasrat yang berlebihan.


Raihan dan Nayra terus berciuman. Bahkan ponsel Raihan yang sedari tadi berdering di atas meja tidak di pedulikanya. Dia semakin memperdalam ciumannya dan Nayra hanya pasrah dan mengikuti saja.


Setelah beberapa menit Raihan melepas ciuman itu, memberi Nayra oksigen untuk bernapas. Napas Nayra dan Raihan sama-sama naik turun. Nayra membuka matanya perlahan. Melihat Raihan tersenyum kepadanya.


" Jangan mengkhawatirkan ku," ujar Raihan dengan suara seraknya memebelai pipi Nayra yang memerah. Nayra mengangguk.


" Apa aku bisa melanjutkan memasak?" tanya Nayra. Raihan tersenyum. Mencium kening Nayra.


" Masaklah, aku sudah lapar," ujar Raihan.


" Untung saja nih kompor tidak meledak," ujar Nayra pelan.


Raihan dapat mendengarnya. Raihan hanya menyunggingkan senyumnya lalu duduk di meja makan.


Raihan duduk sambil memakan buah Cherry.


" Kamu mau?" tanya Raihan, Nayra menoleh kebelakang.


" Sejak kapan aku mau itu?" sahut Nayra.


" Makanlah lagi bukannya rasanya manis," sahut Raihan yang terus memakan Cherry.


" Walau bibirmu, lebih manis," goda Raihan. Membuat Nayra menatapnya horor.


Raihan kembali memakan buah Ceri itu. Dan mengambil ponselnya. Raihan membuka ponselnya.


" Mama," ujarnya melihat panggilan tidak terjawab sebanyak 4 kali. Raihan hanya tersenyum miring.


Karena terlalu menikmati berciuman dengan Nayra. Sampai dia tidak bisa mendengar telpon dari sang mama.


" Raihan pulang sebentar, ada yang ingin mama bicarakan,"


Raihan membuka pesan dari mamanya. Raihan melihat ke arah Nayra yang masih sibuk memasak. Raihan berdiri dan menghampiri Nayra.


" Nara," tegur Raihan.


" Iya kenapa?" tanya Nayra tanpa melihat Raihan yang sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


" Aku pulang sebentar ya," ujar Raihan. Nayra heran dan langsung berbalik badan.


" Loh, kenapa bukannya kamu mau makan malam di sini?" tanya Nayra heran.


" Ada urusan penting, mama kayaknya ada perlu. Sebentar saja aku akan kembali dan makan bersamamu," ujar Raihan memegang pipi Nayra.


" Benar kamu akan kembali?" tanya Nayra ragu.


" Iya aku akan makan malam denganmu. Kamu masak aja. Ingat jangan makan terlebih dahulu. Sebelum aku datang," ujar Raihan dengan tegas.


" Tergantung," sahut Nayra.


" Tergantung apa?" tanya Raihan.


" Kalau aku lapar bagaimana?" tanya Raihan.


" Tidak boleh, kau harus menungguku," tegas Raihan lagi.


" Bukannya kamu sangat khawatir jika aku kelaparan," tanya Nayra.


" Iya aku sangat Khawatir, kau bisa memakan yang lain. Tetapi tidak yang apa yang kamu masak. Karena itu untuk kita," ujar Raihan.


" Baiklah, pergilah aku akan menunggumu untuk makan bersama," ujar Nayra tersenyum.


" Makasih ya," sahut Raihan. Nayra mengangguk. Raihan mencium kening Nayra.


" Aku pergi dulu," ujar Raihan pamit. Nayra hanya mengangguk tersenyum dan melambaikan tangannya melihat Raihan pergi.


" Huhhhhhhh," Nayra membuang napasnya perlahan. Dan kembali melanjutkan masakannya.


********


" Jadi Pak David sama Tante Jihan pernah menikah," tanya Raina kaget. Ketika Alex memberi tahunya.


Raina dan Alex memang janjian ke temu di Cafe untuk membahas masalah itu.


" Iya Informasi yang aku ketahui. Pernikahan mereka hanya 1 tahun. Kalau tidak salah mereka bercerai setelah Tante Jihan melahirkan," jelas Alex yang duduk di depan Raina. Mendengar hal itu Raina semakin kaget.


" Melahirkan. Jadi maksud kamu. Carey punya adik?" tanya Raina masih tidak percaya.


" Mereka justru bercerai karena anak yang di lahirkan Tante Jihan meninggal," jelas Alex lagi.


" Meninggal, apa itu sama dengan putri Pak David yang juga meninggal," lirih Raina dengan jantungnya berdebar.


" Kenapa?" tanya Alex melihat Raina yang semakin pucat.


" Pak David berapa kali menikah?" tanya Raina.


" Hanya sekali dan itu cuma dengan Tante Jihan. Rumor yang menyebar dia tidak ingin menikah lagi karena takut gagal untuk yang ke-2 kalinya," jelas Alex.


" Astaga kenapa semuanya jadi semakin membingungkan," batin Raina.


" Oh iya Raina, ini foto makam anaknya Pak David yang kamu minta," ujar Alex mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto itu pada Raina.


Raina mengambil ponsel Alex dan melihat foto makam itu. Raina melebarkan matanya dan menutup mulutnya. Saat melihat makam kecil itu.


" Astaga," ujar Raina schok melihat apa yang di lihatnya.


" Ada apa?" tanya Alex heran melihat Raina.


" Nama anak di makam itu. Nara Raqilla Wilson," lirih Raina dengan matanya yang berkaca-kaca dan napasnya mulai sesak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.

__ADS_1


" Lalu?" tanya Raka.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2