
Raka benar-benar tidak menyangka jika, Saras bisa memasuki Villa dan mengambil Amira.
" Sara apa kamu masih di situ?" tanya Raka dengan lembut.
" Kau langsung merindukanku, ketika tidak mendengar suaraku," jawab Saras yang tersenyum bahagia di ujung sana sambil memutar-mutarkan ujung rambutnya.
" Jangan banyak bicara, langsung pada intinya saja," ujar Raka yang malas mendengar Saras berbasa-basi. Sementara perasaan Raka semakin tidak enak. Karena dia tau Amira pasti ketakutan berada di tangan Saras.
" Intinya apa Raka sayang," ujar Saras dengan manja.
" Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Raka mencoba sabar dan melembutkan suaranya, selembut-lembutnya.
" Bertanya kepadaku apa mau ku ketika mendengar bocah kecil itu ada di tanganku, sepertinya aku tidak salah menculiknya dia sangat berharga bagimu, sampai kau berbicara selembut itu kepadaku," jawab Saras dengan sinis yang terus berbasa-basi.
" Katakan apa maumu, jangan banyak cerita, aku tidak punya waktu untuk menghadapi mu, jadi bicara langsung saja," tegas Raka menekan suaranya, dia benar-benar geram dengan Saras yang mempermainkannya.
Sony yang di sampingnya mendengar sepertinya sangat serius melihat Raka yang tampak emosi. Belum lagi mendengar kata-kata mengenai Amira. Sony pun memilih meminggirkan mobil.
" Kenapa?" tanya Sony tanpa mengeluarkan suara.
Raka tidak menjawab, menghadap pada Sony dan langsung louspeker ponselnya agar Sony dapat mendengar pembicaraan Saras.
" Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Raka sekali lagi.
" Baiklah Raka, Temui aku kita akan bicara 4 mata," jawab Saras penuh rencana.
" Katakan di mana aku kan menemuimu," sahut Raka yang langsung setujum
" Hmmmm. Aku suka mendengar semangatmu, kenapa tidak seperti ini dari du," ujar Saras.
" Aku sudah katakan jangan banyak cerita, katakan di mana, aku akan menemuimu?" tanya Saras sekali lagi.
" Baiklah sayang, aku akan mengirim alamatnya. Ingat ya Raka. Jika kau berani memberitahu polisi, atau kau datang bersama orang lain, katakan say goodbye pada Amira," ujar Saras dengan penuh ancaman.
" Jika kau berani menyentuhnya, kau akan berakhir di tanganku," tegas Raka.
" Semua ada di tanganmu. Kalau kau ingkar janji, aku tidak main-main dengan ucapan ku. Aku pastikan bocah itu tidak akan menemui mamanya dan juga kau," tegas Saras.
" Awas saja, jika kau berani menyakiti Amira sedikitpun," sahut Raka.
__ADS_1
" Aku sudah mengatakan semua ada di tanganmu, dan semuanya akan berakhir. Jika kau berani melanggar janjimu," tegas Saras sekali lagi dan langsung mematikan ponselnya.
tut-tut-tut-tut-tut.
" Saras, sara," panggil Raka
" Sial," desis Raka mengepal tangannya, mengacak rambutnya frustasi.
" Siapa Saras, kenapa Amira ada bersamanya dan apa dia yang menculik Amira, apa tujuannya," tanya Sony dengan beberapa pertanyaan.
" Nyawa Amira dalam bahaya, Saras benar-benar memanfaatkan situasi, dia benar-benar gila mengaitkan Amira dalam masalah ini," ujar Raka memijat kepalanya. Membuat Sony semakin pusing.
" Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?" tanya Sony yang benar-benar bingung.
Raka pun akhirnya menceritakan semua kepada Sony dengan detail. Siapa Saras, Sony mendengarnya tampak shock. Pasti Sony tidak menyangka seorang wanita bisa melakukan semua itu, apalagi harus mengaitkan anak kecil yang benar-benar tidak tau apa-apa.
" Begitulah! dan aku yakin aku yang di inginkannya, makanya dia menculik Amira," ujar Raka menarik kesimpulan.
" Gila, benar-benar gila. Kenapa kita bisa ke colongan wanita itu menculik Amira, ini benar-benar parah," ujar Sony yang juga tidak habis pikir.
" Kamu benar, semua ini tidak pernah terpikirkan, seharusnya aku harus hati-hati dengannya," sahut Raka.
" Kalau begitu kita kabari polisi, biar polisi langsung bertindak," ujar Sony.
" Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Sony.
" Aku akan menemuinya, aku akan mencari cela agar bisa membawa Amira pergi darinya, kamu kembali lah, temui Pak Raihan, dan katakan kepadanya semuanya. Tapi jangan Raina, aku tidak mau Raina semakin panik. Jika mengetahui Amira ada bersama Saras," jawab Raka setelah memikirkan solusi yang terbaik.
" Tapi apa kamu yakin, kamu bisa lolos dari wanita itu?" tanya Sony ragu.
" Aku tidak tau, tapi jangan khawatir aku akan membebaskan Amira, aku akan mengabari kalian lagi nanti," jawab Raka hanya berusaha yakin.
" Ya sudah jika memang seperti itu, kamu naik mobil apa?" tanya Sony.
" Aku akan pulang menjemput mobil, baru menemui Saras, jadi aku harus cepat, sudah tidak ada waktu lagi," ujar Raka membuka seat beltnya.
" Iya kamu hati-hati dan terus beri kabar," sahut Sony.
" Iya, seperti yang aku katakan, jangan sampai Raina tau," ujar Raka mengingatkan sekali lagi. Sony mengangguk. Raka pun langsung ke luar dari mobil. Sony melihat dari kaca spion dan melihat Raka menaiki Taxi.
__ADS_1
" Kenapa sekarang cinta hanya membuat orang semakin gila, Rangga, Carey, dan sekarang wanita yang bernama Saras, mereka bahkan melakukan hal-hal yang bodoh hanya demi harus memiliki orang yang mereka ingin kan," batin Sony geleng-geleng.
Sony pun melajukan mobilnya, dia benar-benar pusing jika mengenai teori Cinta yang lebih pada kejahatan. Padahal dia juga lama berpacaran dengan Dara. Tapi nggak gitu-gitu amat bahkan putuspun mereka tetap baik-baik saja.
************
Di sisi lain Saras yang merasa menang ketika menelpon Raka. Dan Raka ingin menemuinya. Langsung tertawa terbahak-bahak.
" Raka akan menemuiku, aku harus menyiapkan semuanya. Ya memang seharusnya cara ini aku lakukan dari dulu, agar dia menjadi milikku," ujarnya tersenyum penuh kemenangan.
Saras berjalan menuju meja riasnya dan mengambil 1 botol farfum. Saras langsung menyemprotkan ke dalam kamar.
" Aromanya sangat indah, ini cocok untuk kami memadu kasih," ujarnya tersenyum seperti orang gila.
" Oh iya aku harus mengganti pakaian, aku harus terlihat, cantik, seksi, dan menarik, agar dia benar-benar bisa menjadi milikku," Saras langsung menuju lemarinya mencari pakaian yang ingin di gunakannya untuk menyambut Raka.
" Na, na, na, na," Saras bernyanyi-nyayi penuh ke bahagian memilih-milih pakaian. Entah apa yang di rencanakan nya. Tetapi dia sangat bahagia.
" Raka akan menjadi milikku, dan wanita itu say goodbye, kau hanya bermimpi bisa bersama Raka," gumamnya yang senyum-senyum.
" Anak, itu aku harus benar-benar hati-hati, tidak akan kubiarkan, rencanaku berantakan, tidak akan kubiarkan," ujarnya mengingat Amira.
Sementara Amira berada di dalam kamar yang berbeda, terus duduk dengan memeluk ke-2 lututunya, kepalanya menunduk. Amira sudah tidak menangis lagi. Karena menangis pun sudah tidak ada gunanya. Tidak ada yang menolongnya.
" Mama, apa yang harus Amira lakukan, supaya Amira bisa pulang?" hanya kalimat itu yang bolak-balik Amira keluarkan. Dia ingin pulang dan menemui mamanya.
Bersambung.......
Jangan lupa, Follow, like, komen, vote yang banyak, supaya aku semakin semangat untuk Up yang banyak setiap harinya.
Jangan lupa juga mampir ke novel-novel aku yang lainnya ya.
1 Sahabatku Menghancurkan Hidupku Dalam 1 Malam.
2. Istri Buta Sang Pengacara.
3. Raihan Si Pria Arrogant.
4. Detak Love Story' School.
__ADS_1
5. Ketika Cinta Menghancurkan Perbedaan.
Di tunggu Like, Koment, Vote, kalian di sana ya. Terimakasih.